Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 60 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Ketika Aditya sudah berada di pinggir pantai. Ia langsung memukul wajah Bagas dengan keras sampai membuat Bagas hampir jatuh.


“Kau pikir aku takut padamu.” Ucap Bagas sambil mengusap darah di pinggir bibirnya.


“Huh....” sambil melipat lengan kemejanya yang belum ia ganti tadi. Ia melipatnya secara bergantian dan melonggarkan dasinya sambil menatap Bagas dengan dingin.


Bagas yang melihat itu juga ikut melipat lengan kemejanya di depan Aditya.


“Ayo maju sini....” Ucap Aditya dengan tangannya menyuruh Bagas maju.


Bagas langsung maju dan memukul wajah Aditya dengan keras. Aditya hanya menyeringai menerima pukulan Bagas. Dengan sigap, ia membalas pukulan Bagas dengan keras.


Mereka saling memukul di sana sampai wajah mereka babak belur karena pukulan yang masing – masing mereka berikan secara bergantian. Aditya tak hentinya memukul Bagas sampai wajahnya babak belur. Ia kemudian menghentikan pukulannya dan menatap Bagas yang berdiri di depannya.


“Ayo maju lagi. Aku tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita mati.” Ucap Bagas dengan suaranya yang keras.


Aditya meregangkan kedua tangannya lalu memukul kembali Bagas sampai Bagas terjatuh.


“Itu pukulan karena sudah menyembunyikan istriku.” Teriaknya.


Bagas tak berhenti sampai di sana. Ia berdiri kembali di depan Aditya sambil memegang perutnya yang habis di pukul Aditya.


Bagas langsung meninju wajah Aditya. “Itu juga pukulanku untuk pria sepertimu yang seenaknya menindas orang.” Teriaknya dengan marah.


Aditya hanya berwajah santai di pukul Bagas. “Hahahaha....” Aditya tertawa keras. Ia kemudian melihat Bagas dengan wajah kesalnya. “Ini pertama kalinya aku melihat seorang Bagas yang selalu terlihat santai menjadi pria yang kasar seperti ini.”


“Huh....ini memang sudah lama ingin kulakukan padamu. Kau begitu sombong, angkuh. Kau selalu menganggap dirimu paling benar. Bahkan kau sama sekali tak percaya dengan temanmu sendiri hanya karena seorang wanita seperti Aura.”


“Jadi kau sangat marah karena aku tidak pernah percaya padamu.”


“Ya....kau tahu kenapa aku tidak datang padamu delapan tahun lalu ketika istrimu datang meminta tolong padaku.” Ucapnya dengan marah.


“Itu karena aku sangat kecewa padamu Aditya. Kau bilang kita adalah sahabat. Tapi pernah kah kau menganggapku sebagai sahabatmu. Tidak pernah sama sekali, kau selalu menganggap dirimu paling benar. Aku selalu salah, kau bahkan menuduhku selingkuh dengan istrimu. Jadi buat apa aku menjelaskan padamu lagi tentang aku yang tak pernah selingkuh dengan Kyra. Waktu SMA, kau juga tidak pernah percaya dengan ucapanku tentang Aura. Kau hanya percaya padanya. Dan sekarang kau menghancurkan perusahaan Tante Rosa dan perusahaan Tania hanya karena ingin balas dendam. Kau benar – benar menyedihkan.”


“Huh....Tante Rosa pantas menerimanya karena dia sudah berbohong padaku. Dia menyembunyikan Kyra dariku.” Ucapnya dengan wajah dinginnya.


“Lalu apa hubungannya dengan Tania. Kenapa kau juga ingin membuatnya bangkrut?”


“Itu karena aku ingin membalas dendam padamu karena sudah membawa istriku.”

__ADS_1


Bagas langsung memukul Aditya dengan keras sampai Aditya tidak bisa menjaga keseimbangannya dan jatuh di sana.


“Itu pukulan untuk keegoisanmu. Dan perlu kamu tahu, aku tidak pernah memaksa istrimu untuk pergi tapi dia sendiri yang ingin pergi darimu. Kau tahu penderitaan apa yang dia lewatkan selama delapan tahun ini. Dia hampir menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa.” Ucapnya dengan marah.


Aditya langsung berdiri dari sana dan memegang kerah baju Bagas.


“Apa yang kau bilang tadi...hah?” Teriak Aditya dengan keras.


“Istrimu itu punya penyakit kejiwaan.” Teriak Bagas dengan matanya yang melotot melihat Aditya.


“Apa?” dengan wajahnya yang sangat terkejut. “Kau jangan berbohong padaku. Dia tidak pernah menunjukkan hal aneh dalam dirinya selama ini.”


“Huh....dia memang sudah sembuh tapi dokter yang merawatnya mengatakan kalau dia sampai merasakan sakit hati lagi maka dia akan langsung menjadi gila. Jadi jaga sikapmu itu di depan Kyra.” Tegasnya.


Aditya langsung melepaskan tangannya dari kerah baju Bagas. Ia menjatuhkan dirinya di sana. Ia menunduk lemas dengan wajahnya yang sudah babak belur. Sedangkan Bagas hanya berdiri di depannya sambil menatap temannya itu.


Bagas menghela nafasnya dengan kasar melihat Aditya yang menunduk lemas.


“Aku mengatakan ini padamu supaya kamu tahu kalau istrimu itu lemah. Dia memang terlihat kuat di luar, Aditya. Tapi yang sebenarnya adalah hatinya itu lemah. Tidak seperti yang kau pikirkan selama ini. Delapan tahun lalu ketika aku dan dia sampai di Amerika. Dia langsung pingsan dan di larikan ke Rumah Sakit. Dia di rawat satu bulan di Rumah Sakit karena kandungannya lemah. Bahkan selama beberapa bulan kehamilannya, dia hanya bisa berbaring di kasur tanpa melakukan aktivitas apapun. Tante Rosa selalu mendampingi dan merawatnya ketika aku tidak ada, makanya jangan salahkan Kyra kalau dia menuruti keinginan Tante Rosa. Kau pikir itu semua karena apa, itu karena dia terlalu stress memikirkan dirimu yang tidak bisa dia lupakan. Aku sudah berusaha untuk membuatnya kembali ke Indonesia, tapi dia tidak ingin kembali. Dia tidak mau membuat dirimu tidak bahagia dengan kehadirannya. Dia lebih memilih bersembunyi dan mengganti identitasnya. Apa kau mengerti?”


Aditya diam sejenak setelah mendengar ucapan Bagas. Ia kemudian berdiri dan berbicara pada temannya itu.


“Kau sangat marah padaku kan. Kalau begitu, kau bisa memukulku sekarang sampai kau puas. Aku tidak akan melawan.” Ucapnya dengan datar.


“Cih...kau pikir aku lemah sekarang.” Sambil meletakkan kedua tangannya di pinggangnya dengan wajah sombongnya. “Disini kau juga sangat salah karena memisahkan suami istri yang sangat mencintai bahkan kau memisahkan anak dari ayahnya.”


Bagas meregangkan kedua tangannya di depan Aditya. “Baiklah...karena kau pikir aku salah jadi kau maju sekarang. Aku masih kuat melawanmu.”


Aditya pun maju untuk memukul Bagas begitu pun dengan Bagas yang memukul Aditya. Mereka saling memukul di sana sampai mereka menunggu salah satu dari mereka kalah. Sementara Kyra yang berada di dalam rumahnya tepatnya di pinggir kolam renang terlihat sangat khawatir melihat pertengkaran mereka yang tidak kunjung selesai. Ia berdiri bersama Tania, Lea, Andi dan Rey di sana.


Mereka sejak tadi berdiri di sana melihat pertengkaran Aditya dan Bagas tapi mereka tidak bisa mendengar pembicaraan Aditya dan Bagas karena sangat jauh dari mereka. Kyra hanya bisa melihatnya dari kejauhan.


Sedangkan Bagas yang masih berkelahi dengan Aditya sudah terlihat lelah.


“Tunggu sebentar.” Ucap Bagas sambil menahan Aditya dengan tangannya.


Ia sampai membungkuk dengan memegang kedua lututnya. Ia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya bertumpu di lututnya itu.


Nafasnya terengah – engah karena kelelahan.


“Cih...segini saja kemampuanmu.” Ucap Aditya yang berdiri tegak sambil menatap temannya itu.

__ADS_1


“Ternyata aku masih belum bisa mengalahkanmu.” Jawab Bagas dengan nafasnya yang terengah – engah.


“Jadi kau masih bekerja keras untuk mengalahkanku.”


“Tentu saja. Aku ingin sekali merontokkan semua gigimu itu sampai kau tidak bisa bicara seenaknya.”


Aditya kemudian tertawa kecil melihat Bagas yang terlihat kelelahan.


“Kau menertawakanku.”


Aditya tidak menanggapi ucapan temannya. Ia hanya melemparkan dirinya di sana. Ia berbaring di tanah dengan keadaannya yang terlihat lelah karena berkelahi dengan Bagas.


Begitu pun dengan Bagas yang lelah. Ia ikut berbaring di sana sambil membentangkan kedua tangannya di samping kiri kanannya.


Kyra yang melihat mereka langsung berlari keluar rumahnya. Ia khawatir melihat mereka yang seperti itu.


Sedangkan Aditya yang berbaring tadi kembali bicara pada Bagas.


“Sungguh ironis. Kau belum menghasilkan benihmu sendiri tapi sudah terlihat lemah. Aku kasihan melihat tunanganmu itu.”


“Cih.....kau pikir aku lemah. Tania saja belum merasakan kehebatanku. Adikku yang seharusnya di kasihani. Menikah dengan pria sepertimu.”


“Apa maksudmu dengan pria sepertiku?” Sambil mengerutkan keningnya melihat Bagas yang berbaring di sampingnya.


“Pria penggila se.....


Dengan sigap, Aditya memotong ucapan Bagas.


“Hei...jaga ucapanmu itu.”


“Jadi kau takut kalau istrimu tahu kalau kau pria seperti itu. Setiap hari pura – pura jadi pria sok suci di depan Kyra.”


Aditya langsung bangun dari sana dan duduk menatap tajam Bagas. “Kau berani...”


Bagas langsung tertawa melihat Aditya yang seperti takut pada istrinya. Ia kemudian menghentikan tawanya karena Aditya terus menatapnya dengan tajam.


“Jadi kamu benar – benar takut dengan istrimu.”


“Hei...aku bukan pria seperti itu ya. Aku hanya meniduri mereka satu kali, tidak lebih.”


“Sama saja kan. Bahkan wanita yang kamu tiduri itu tidak terhitung jumlahnya.” Ejeknya pada Aditya yang terlihat kesal padanya.

__ADS_1


Kyra kemudian datang menghampiri mereka bersama Rey dan Andi.


Bersambung.


__ADS_2