
SELAMAT MEMBACA
Bagas yang melihat Aditya menunduk sedih kembali bicara padanya.
“Jangan sedih begitu. Istrimu baik – baik saja sekarang. Tapi....kalau kamu menemukan hal aneh dalam dirinya. Kamu langsung menghubungiku. Aku bisa menghubungi dokter yang merawatnya di Amerika.”
“Ini semua karena keegoisanku. Aku tidak pernah mementingkan perasaan orang. Aku terlalu egois sampai istriku menderita seperti itu.”
“Makanya kamu ubahlah sifat egoismu. Wajah dinginmu itu juga kau harus ubah.”
Aditya langsung menatap Bagas. “Aku bisa merubah sifat egoisku tapi apa kamu pikir gampang merubah wajahku yang seperti ini. Memang apa salahnya dengan wajahku kalau begini, yang penting aku tidak egosi kan.”
“Terserah kamu lah. Tapi kamu harus perhatikan istrimu. Dia lama – lama stress kalau kamu memasang wajah dingin terus.” Ucap Bagas.
“Aku tidak pernah melakukan itu padanya. Aku selalu tersenyum di depannya.” Dengan wajah datarnya.
“Itu kalau kalian berdua. Kalau kamu melihat orang juga harus tersenyum. Perlihatkan pada istrimu.”
“Cih...aku susah melakukannya. Kamu pikir gampang.” Ketusnya.
“Ya sudah lah. Jangan membahas itu lagi. Mending bahas tentang hadiah pernikahan yang akan kamu berikan padaku dan Tania.”
“Kamu mau menikah.” Tanya Aditya sambil menatap Bagas.
“Tante Rosa ingin mempercepat pernikahannya jadi bulan depan.”
“Selamat...” Ucapnya dengan wajah datarnya.
“Benar – benar Aditya yang kukenal. Kamu cuma mengatakan seperti itu, kamu tidak bahagia gitu atau tersenyum melihatku mau menikah. Hanya berwajah datar begitu.” Sambil menatap sahabatnya dengan kesal.
“Memangnya aku harus mengatakan apa lagi?”
“Setidaknya kamu mengatakan seperti ini, Sahabatku yang tercinta, selamat ya karena kamu akan menikah. Aku turut bahagia mendengarnya.” Sambil memberikan contoh ekspresi wajahnya yang ceria di depan Aditya. “Apaan tadi ekspresimu, cuma bilang selamat saja bahkan hadiah pun tidak ada?” Kesalnya.
“Aku sudah memberikan hadiah pernikahan untukmu.”
“Mana...?”
“Itu...saham Tania. Aku kembalikan padamu. Andi sudah membalikkan namanya menjadi namamu.” Seriusnya.
“Wah....hebat. Memang benar – benar Aditya Sinatria yang terkenal kejam.” Sambil bertepuk tangan di depan Aditya dengan wajahnya yang sedikit kesal.
“Ada apa dengan ekspresimu itu. Aku salah lagi?”
“Kamu mau membuatku terlihat licik di depan keluarga Tania ya.” Sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“Kamu maunya apa sih. Aku sudah mengembalikan sahamnya tapi kamu tidak suka. Lagipula kan kamu akan menikah dengannya. Apa masalahnya?” Dengan ekspresinya yang terlihat tak bersalah.
__ADS_1
“Baru saja meminta maaf. Sekarang mau membuatku terlihat licik di depan Tania.”
“Mendengarmu yang sangat menjaga nama baikmu sepertinya kamu mencintai tunanganmu itu.”
Bagas yang mendengar itu hanya terdiam sejenak sambil menatap ke depan.
“Kenapa diam saja?” Tanya Aditya sambil melihat Bagas.
“Aku sama sekali tidak mencintainya.”
“Lalu kenapa kamu ingin menikahinya?” Tanya Aditya.
“Bisnis.....”
“Kalau begitu kamu tidak usah menikah dengannya kalau kamu tidak cinta. Kamu hanya akan membuatnya sakit hati.”
“Tidak usah sok mengajariku. Kamu sendiri menikahi Kyra karena terpaksa.”
“Huh...biarpun terpaksa tapi aku bertanggung jawab padanya sebagai suami. Aku tidak pernah bermain perempuan di luar sana.”
“Aku juga sudah tidak melakukan hal itu lagi.”
Aditya menatapnya dengan tatapan meremehkan.
“Kamu pikir aku berbohong. Aku benar – benar sudah tidak melakukan hal itu lagi. Aku sudah bertobat saat Kaila lahir.” Dengan wajah seriusnya.
“Aku yang pertama kali menggendongnya ketika dia lahir. Pertama kali mendengar tangisannya membuatku sangat bahagia. Meskipun aku bukan ayahnya. Tapi, melihat tangan mungilnya menggenggam jari telunjukku membuatku sadar. Kalau suatu hari aku di berikan anak perempuan dan tuhan memberikan karmanya pada anakku, aku tidak bisa membayangkannya. Aku juga takut kalau Kaila yang ku gendong itu bernasib sama dengan wanita – wanita murahan itu.”
“Hei...kamu jangan menyumpahi anakku seperti itu. Dia tidak akan menjadi seperti mereka. Dia akan tumbuh menjadi perempuan terhormat.”
“Iya...aku tahu. Tapi karma itu tidak bisa di hindari kan.”
“Huh...aku tidak akan membiarkan anakku dekat dengan siapapun.” Ucap Aditya dengan wajah dinginnya.
“Kamu posesif sekali jadi ayah. Kalau kamu seperti itu, Kaila pasti tidak suka. Kasihan sekali Kaila kalau sudah dewasa nanti harus kamu batasi pergaulannya.” Jelasnya.
“Itu terserah padaku sebagai ayahnya. Kalau perlu, aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan pilihannya sendiri.”
Bagas hanya menggeleng – gelengkan kepalanya mendengar ucapan Aditya. Aditya kemudian berdiri dari sana.
“Sebaiknya kita masuk saja. Istriku pasti sekarang lagi menangisiku.” Dengan bangganya ia mengatakan hal itu di depan Bagas.
“Cih...kamu percaya diri sekali.” Ucapnya yang masih duduk di sana.
Aditya kemudian berjalan meninggalkan Bagas.
“Hei....tunggu sebentar.”
__ADS_1
“Ada apa?” Sambil menengok ke arah Bagas.
“Bantu aku berdiri. Pinggangku sakit semua.”
Aditya kemudian berjalan ke arah Bagas. Ia mengulurkan tangannya di depan Bagas. Bagas meraih tangan Aditya dengan tubuhnya yang sempoyongan.
“Ahh....brengsek. Kamu memukulku dengan keras. Apa kamu tidak bisa pelan – pelan tadi?” Sambil memegang perut dan pinggangnya yang kesakitan.
“Berhentilah mengomel.” Ketusnya.
Aditya kemudian memegang tangan Bagas dan melingkarkannya di belakang lehernya lalu memegang bagian belakang tubuh Bagas membantunya berjalan.
“Kamu pikir pukulanmu itu tidak sakit. Aku memukulmu dengan keras karena kamu juga memukulku dengan keras. Tapi kamu malah mengomel terus.” Dengan wajahnya yang kesal.
“Kamu niat tidak sih, bantu orang. Wajahmu itu marah – marah terus dari tadi.”
Aditya kemudian diam dan hanya berjalan meninggalkan pantai sambil memegang Bagas. Mereka berdua berjalan dengan keadaan sedikit sempoyongan.
“Kamu juga harus menahan tubuhmu itu. Aku tidak bisa menahannya terus. Kamu pikir aku tidak kesakitan.” Ketusnya melihat Bagas yang terlihat santai.
Ketika sampai di depan rumahnya, Kyra langsung berjalan cepat menghampiri mereka bersama Tania, Andi dan Rey.
Aditya yang melihat istrinya berjalan ke arahnya langsung kaget.
“Gawat....kalau Kyra
melihat Bagas begini. Aku pasti yang di marah – marahi.” Dalam hati Aditya.
Ia kemudian melepaskan Bagas dan mendorongnya ke samping. Ia lalu memegang perutnya dan pura – pura lemah dan kesakitan.
Kyra langsung berlari ke arah suaminya. “Sayang....kamu baik – baik saja kan.” Ucap Kyra melihat suaminya yang seperti itu.
“Hah....” Bagas terlihat kaget melihat kelakuan Aditya yang pura – pura lemah bahkan mendorong dirinya tadi.
Tania datang memegang Bagas yang terus memegang perutnya yang kesakitan.
“Kak Bagas tidak apa – apa?” Tanya Tania dengan wajahnya yang khawatir.
“Aku baik – baik saja.” Balasnya sambil tersenyum dan memegang pipi Tania.
Mereka pun masuk ke dalam bersama – sama. Ketika mereka sudah ada di dalam rumah. Kyra menyuruh salah satu pelayannya mengambil kotak obat untuk mereka berdua.
Kyra membantu suaminya duduk di Ruang Keluarga begitu pun dengan Tania yang membantu Bagas duduk di sana.
Bersambung.
Jangan Lupa Like And Vote ya.
__ADS_1