
SELAMAT MEMBACA
Pukul 1:00 siang.
Rey berencana menjemput Zahila di rumah Aditya. Ia ingin mengantar Zahila ke Universitas Treeya. Ia berjalan keluar dari ruangannya sambil memutar – mutar kunci mobil di jari telunjuknya.
Beberapa karyawan menyapanya ketika ia berjalan keluar. Ia menaiki mobil merahnya dengan wajahnya yang terlihat senang dan bersemangat. Ia melajukan mobilnya menuju kediaman Aditya yang ada di pinggir pantai.
Tak menunggu lama, ia sampai di rumah Aditya. Ia langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah Aditya.
Saat masuk, ia di sambut oleh Bu Marta.
“Selamat datang Tuan Rey. Anda cari Tuan Muda ya.” Bu Marta tersenyum menatap Rey.
“Tidak...aku tidak mencari Aditya.”
“Oh....Anda pasti mencari Nyonya Besar.”
“Aku juga tidak mencari tante Sintya.” Rey tersenyum di depan Bu Marta.
Ia kemudian mendekatkan kepalanya di samping Bu Marta.
“Aku sedang mencari calon istriku bu.” Bisiknya.
Ia kembali menegakkan kepalanya melihat Bu Marta sambil tersenyum.
“Anda bilang calon istri. Orang di rumah ini kan yang belum menikah nona kecil dan Nona Zahila. Anda tidak mungkin sama nona kecil kan.” Bu Marta menatap heran Rey yang terus tersenyum padanya.
Bu Marta langsung sadar dengan Zahila.
“Astaga....Anda mau menikah dengan Nona Zahila.” Kagetnya sambil menutup mulutnya.
“Jangan kaget begitu bu, saya cuma bercanda saja kok. Oh ya....tolong di panggilkan ya. Bilang padanya kalau aku datang untuk mengantarnya ke kampus.”
“Oh...baik.”
Bu Marta naik ke lantai atas memanggil Zahila sedangkan Rey duduk di Ruang Tamu menunggu Zahila turun.
Bu Marta memanggil Zahila keluar dan mengatakan pada Zahila kalau ada Rey yang menunggunya di bawah. Tapi Zahila tidak ingin menemui Rey.
Kyra yang ada di dalam kamarnya langsung keluar bersama Kaila. Ia melihat Bu Marta baru saja keluar dari kamar Zahila.
“Ada apa bu?” Tanya Kyra pada Bu Marta.
“Ini nyonya. Tuan Rey ada di bawah, dia menyuruh saya untuk memanggil Nona Zahila turun tapi nona tidak mau turun.”
“Memangnya ada urusan apa Kak Rey bertemu Zahila?”
“Katanya Tuan Rey mau mengantar Nona Zahila ke kampus, nyonya.”
__ADS_1
“Ooooo.....dia pasti mau bantu Zahila daftar di kampus. Sebentar, biar aku saja yang bicara pada Zahila. Bu Marta turun saja ke bawah buatkan minuman untuknya.”
“Baik nyonya.” Bu Marta membungkuk di depan Kyra.
Ia kembali turun ke bawah sedangkan Kyra berjalan menuju kamar Zahila bersama anaknya.
Saat di depan kamar Zahila, ia membungkuk melihat anaknya.
“Kaila sayang. Kaila masuk ke kamar dulu ya. Nanti mama nyusul, mama mau bicara dulu sama Tante Ila.” Kyra memegang kedua bahu anaknya, menatapnya sambil tersenyum.
“Iya ma. Cepat ya.”
“Iya sayang.” Kyra mengusap – usap atas kepala anaknya. Ia melihat Kaila yang berbalik membelakanginya.
Kaila melangkahkan kakinya menuju kamarnya sedangkan Kyra mengetuk – ngetuk pintu kamar adiknya.
Tok....tok......tok.....suara ketukan pintu kamar Zahila.
“Zahila....kamu di dalam kan. Ini kakak, buka pintunya dek.”
Zahila bangun mendengar kakaknya memanggil dari luar pintu. Ia berjalan ke arah pintu kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dengan wajahnya yang tak semangat karena ia tahu, itu pasti karena Rey.
“Ada apa kak?” Tanya Zahila. Ia berdiri di depan kakaknya sambil memegang gagang pintu kamarnya.
“Kak Rey ada di bawah dek. Dia tungguin kamu.” Kyra melingkarkan kedua tangannya di depan dadanya, menatap adiknya dengan lembut.
“Kenapa sih bukan kakak saja yang antarin aku, aku malas di antarin sama dia?”
Zahila berwajah cemberut tanpa melihat kakaknya. Ia tak suka jalan bersama orang yang sok dekat dengannya. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa mengantarnya sekarang. Ia baru pertama kali ke sana.
“Baiklah....aku pergi. Tapi, ini yang terakhir aku pergi bersama dengan om – om itu.” Ketusnya.
“Iya...kalau kamu sudah tahu kampusnya. Sopir yang akan mengantar jemput kamu ke kampus. Kamu juga bisa pakai mobil kakak iparmu.” Kyra memegang bahu adiknya, menatapnya sambil tersenyum.
“Cih...kakak ini bercandanya kelewatan. Sudah tahu aku tidak bisa menyetir.” Zahila memalingkan wajah cemberutnya.
Kyra melepaskan tangannya dari bahu adiknya dan kembali melingkarkan kedua tangannya di dadanya.
“Habis wajahmu cemberut begitu dari tadi.” Kyra tertawa kecil melihat wajah cemberut adiknya.
“Ya sudah aku turun. Aku ambil tas ku dulu.” Zahila berjalan kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil tasnya. Ia kembali berjalan keluar setelah mengambil tasnya.
“Aku pergi ya kak.” Zahila bejalan melewati kakaknya yang masih berdiri di depan kamarnya.
“Hati – hati dek.” sambil melambaikan tangannya pada Zahila.
“Iya.” Jawab Zahila tanpa menengok ke belakang.
Kyra berjalan masuk ke dalam kamar anaknya sedangkan Zahila berjalan menuruni tangga. Ia datang menghampiri Rey yang tengah duduk di Ruang Tamu.
__ADS_1
“Ayo om. Aku sudah siap.” Ajaknya ketika berada di samping sofa yang di duduki Rey.
Rey menengok mendengar suara Zahila.
“Eh....kamu sudah datang.” Rey berdiri tersenyum melihat Zahila di depannya.
“Iya...” Balas Zahila tanpa melihat Rey yang tersenyum kepadanya. Ia hanya memalingkan wajahnya ke samping.
“Ayo...kita jalan.” Ajak Rey dengan wajah senangnya.
Ia berjalan melewati Zahila sedangkan Zahila berjalan di belakang Rey dengan wajahnya yang tak semangat.
Mereka berdua berjalan keluar rumah Aditya. Saat di luar, Rey langsung membuka pintu mobilnya untuk Zahila.
“Silahkan nona cantik.” Rey mempersilahkan Zahila masuk ke dalam mobil sambil memegang pintu mobilnya.
“Huh...” Zahila memalingkan wajahnya sambil masuk ke dalam mobil tanpa melihat Rey. Ia begitu karena tak suka dengan tingkah Rey yang selalu tersenyum kepadanya apalagi memanggilnya nona cantik membuatnya risih.
Rey menutup pintu mobilnya ketika melihat Zahila sudah masuk ke dalam mobil kesayangannya itu.
Ia ikut masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju kampus Treeya.
Di dalam mobil.
Rey terus menatap Zahila dengan wajahnya yang tersenyum. Sedangkan Zahila sama sekali tidak pernah melihatnya.
“Kalau om terus melihatku, kita bisa ketabrakan. Fokuslah menyetir. Kalau tidak, aku akan turun di sini.” Zahila sadar dengan tatapan Rey ke padanya.
“Itu karena kamu cantik.” Ucap Rey sambil tersenyum.
“Cih.” Zahila memiringkan bibirnya ke samping kiri dengan wajah tak sukanya mendengar kalimat Rey.
Rey fokus ke depan. Ia tak menatap Zahila lagi tapi wajahnya terus tersenyum di sana. Hatinya sangat berbunga – bunga saat itu.
“Ya tuhan....apa ini yang namanya jatuh cinta. Selama 31 tahun aku hidup, baru kali ini aku merasakan yang namanya jatuh cinta. Cinta pertamaku. Aku malu sekali kalau sampai ketiga temanku itu tahu kalau aku baru jatuh cinta sekarang. Selama ini aku selalu berbohong pada mereka kalau jantungku deg....deg kan pada setiap wanita yang ku kencani. Apalagi cinta pertamaku gadis berusia 19 tahun. Tuhan benar – benar keterlaluan, bisa – bisanya membuatku jatuh cinta pada gadis ini di saat umurku sudah kepala tiga. Meskipun aku suka bermain wanita tapi tuhan tidak perlu sekejam ini padaku.”Dalam hati Rey yang terus menatap lurus ke depan.
Zahila menatap Rey dengan aneh yang senyum – senyum sendiri.
“Apa ada yang lucu di depan sana. Kenapa om – om ini senyum – senyum sendiri seperti orang gila. Dasar om – om aneh.....iiiiihhh.” Dalam hati Zahila.
Bersambung.
.
.
.
.
__ADS_1
.Ingat tekan LIKE. Berikan KOMENT, VOTE kalian. Supaya Author semangat nulis sampai tamat ya. Jangan sampai lupa.