Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 42 Beautiful Romance 2


__ADS_3

Author sudah masukin foto2 Kyra dan Aditya di Bab pengumumannya. Silahkan dilihat kembali. Tapi seadanya saja, ngga ada foto mesra and kissnya yang pernah author masukin karena pihak manga ngga mau terima waktu itu. Maaf yah.🙏🏻


SELAMAT MEMBACA


Setelah melihat kepergian Andi, Nyonya Sintya berjalan ke dapur melihat makanan yang disiapkan para pelayannya itu.


“Apa makanannya sudah siap semua?” Tanya Nyonya Sintya kepada para pelayannya itu.


“Sudah nyonya.” Jawab salah satu pelayannya.


“Baiklah...angkat semua makanannya ke meja makan.”


“Baik nyonya.”


Pelayannya itu mengangkat makanan yang sudah mereka masak tadi. Mereka letakkan makanannya di meja makan sampai meja makannya itu dipenuhi dengan berbagai jenis makanan. Nyonya Sintya memang sengaja memasak banyak makanan pagi untuk semua orang apalagi anak dan menantunya sekarang terbaring lemah di kasur.


Setelah makanannya siap semua di meja makan, Nyonya Sintya naik ke lantai atas. Ia berjalan menuju kamar Kyra untuk melihat keadaannya sekaligus bertemu dengan cucu perempuannya.


Ketika ia sudah berada didepan pintu kamar Kyra, ia mencoba untuk mengatur nafasnya supaya lebih tenang saat berhadapan dengan Kaila.


Ia tidak boleh terlalu antusias didepan Kaila yang membuat Kaila merasa tidak nyaman dengannya.


Ketika ia sudah merasa lebih tenang, ia langsung membuka pintu kamar Kyra.


Ia sudah melihat Kaila yang masih duduk disamping ibunya. Nyonya Sintya datang menghampiri mereka.


Saat sudah berdiri disamping tempat tidur Kyra, ia langsung melihat Kaila sambil tersenyum didepan cucunya itu. Kaila hanya berwajah biasa saat melihat omanya tersenyum kepadanya.


Nyonya Sintya kemudian duduk ditepi tempat tidur Kyra sambil menatap Kaila dengan wajahnya yang tersenyum. Ia mencoba bicara kepada cucunya itu.


“Sayang....namamu Kaila kan.”


“Ia...nenek siapa?” Tanya Kaila dengan wajahnya yang tak suka dengan Nyonya Sintya.


“Saya ini oma kamu sayang.” Jawab Nyonya Sintya sambil tersenyum pada Kaila.


“Oma darimana?” Tanya Kaila dengan polosnya.


“Oma ini ibu dari papa kamu sayang. Jadi oma ini oma kandung Kaila.”


Kaila hanya diamnmelihat neneknya tanpa membalas ucapan neneknya itu. Nyonya Sintya kembali bicara pada cucunya itu.


“Apa oma boleh memeluk kamu sayang?”


“Tidak boleh.” Tegasnya dengan wajahnya yang cemberut.


“Kenapa....?”


“Karena oma sudah mengganggu mamaku. Kaila tidak suka ada orang yang mengganggu mama.”


Nyonya Sintya terdiam sejenak mendengar ucapan cucunya itu yang terlihat tidak suka kepadanya. Zahila yang melihat Kaila begitu ikut berbicara kepada keponakan kecilnya itu.


“Kaila...Oma Sintya itu tidak mengganggu mama. Oma sangat sayang sama mama. Kaila jangan begitu yah sama oma.” Ucapnya sambil memegang bahu Kaila.


“Pokoknya Kaila tidak suka dengan oma. Kaila tadi lihat oma sedang memarahi mama terus mama tidur sampai jatuh gara – gara oma itu.” Ucap Kaila dengan wajah polosnya sambil melihat Zahila.


Nyonya Sintya berwajah sedih mendengar ucapan cucu perempuannya itu sedangkan Zahila merasa tidak enak pada Nyonya Sintya setelah mendengar ucapan Kaila. Ia kemudian berbicara kepada Nyonya Sintya.


“Maaf tante...Kaila memang seperti itu saat pertama kali melihat seseorang.”


“Tidak apa – apa Zahila. Tante mengerti dengan pemikiran Kaila. Wajar kalau dia tidak suka dengan tante. Pertama kali bertemu dengan tante, dia langsung melihat kejadian tadi diluar rumah.” Balasnya sambil tersenyum melihat Zahila.


Nyonya Sintya kembali bicara didepan Kaila yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua bicara.


“Kaila mau tidak lihat papa.”


“Papa disini.” Balasnya sambil tersenyum senang.


“Ia....papa ada dikamar sebelah. Papa juga sakit sama seperti mama. Kaila mau bertemu papa.”


“Ia....mau.” Balasnya sambil tersenyum senang.


“Ayo....ikut oma bertemu papa. Biar Tante Zahila yang jaga mama yah.”


“Ia...” Balasnya.

__ADS_1


Kaila kemudian berbicara kepada ibunya yang masih tidak sadarkan diri.


“Mama....Kaila lihat


papa dulu yah. Kaila akan bilang sama papa kalau ibunya papa mengganggu mama.


Mama tenang saja, papa pasti akan membela mama.”


“Astaga....siapa yang mengajari cucuku bicara begitu. Wajahnya polos tapi pemikirannya seperti orang dewasa. Dia ingin memberitahu ayahnya kalau aku sudah mengganggu ibunya.” Dalam hati Nyonya Sintya yang tercengan dengan cucu perempuannya yang pintar bicara.


Kaila berdiri dan melompat turun dari tempat tidur ibunya.


“Hati – hati sayang.” Ucap Nyonya Sintya yang melihat cucunya lompat dari tempat tidur.


“Ayo oma....” ajaknya sambil memegang tangan Nyonya Sintya.


“Hah.....” Balas Nyonya Sintya sambil tertawa kecil dengan wajahnya yang semakin terkejut melihat tingkah Kaila kepadanya.


“Anak ini....barusan dia tidak suka denganku tapi sekarang malah menarik tanganku  untuk bertemu ayahnya.” Dalam hati Nyonya Sintya.


Nyonya Sintya tidak menyangka kalau Kaila terlihat santai dengannya setelah berbicara kepada ibunya tentang ia yang ingin memberitahu kelakuannya kepada Aditya.


Seharusnya Kaila pergi menemui ayahnya tanpa mengajaknya ataupun memegang tangannya seperti sekarang. Kaila benar – benar polos, begitu pikirnya.


 “Oma....ayo.” ajaknya yang terus menarik tangan omanya.


“Oh....ia sayang.”


Kaila berjalan keluar kamar ibunya sambil menarik tangan omanya. Ia menuju kamar ayahnya yang bersebalahan kamar ibunya.


Ketika Kaila sudah ada didepan pintu kamar ayahnya. Ia langsung berlari masuk ke dalam, karena pada saat itu memang pintu kamar ayahnya terbuka lebar.


“Papa....” Panggil Kaila sambil berlari kearah ayahnya yang tengah memegang telfon genggamnya.


Aditya langsung meletakkan HP-nya dikasur dan melihat kearah anaknya dengan wajahnya yang tersenyum senang.


Kaila naik ke kasur dan duduk disamping ayahnya yang tengah duduk bersandar di tempat tidurnya. Sedangkan Nyonya Sintya berdiri disamping tempat tidur anaknya.


“Kaila....ayo peluk papa. Papa sangat merindukanmu sayang.”


“Kaila tidak boleh peluk papa.”


“Mama selalu melarang Kaila memeluk mama kalau mama sedang sakit. Karena papa juga sakit, Kaila tidak boleh peluk papa.”


“Mama sering sakit.”


“Ia....mama sering sakit – sakitan. Badannya selalu panas. Mama selalu melarang Kaila memeluk mama kalau badan mama panas.”


“Kalau mama sakit. Siapa yang menjaganya?”


“Tante Zahila sama Om Bagas. Kalau mama tidak bisa bangun, Om Bagas bermalam di rumah sama Kaila.” Jelasnya dengan polos.


“Memang mama sakit apa sayang sampai mama tidak bisa bangun?” Tanya Aditya yang semakin penasaran.


“Papa tanya saja sama Om Bagas. Kaila tidak tahu, Kaila cuma tahu kalau mama selalu menangis keras kalau mama sedang tidur.”


“Istriku sakit apa sampai dia bisa menangis dalam tidurnya.” Dalam hati Aditya yang terlihat bingung dan khawatir.


“Papa..” Panggil Kaila membuyarkan lamunannya.


“Ia sayang.”


“Nenek yang berdiri disamping papa itu siapa?” Tanya Kaila sambil menunjuk Nyonya Sintya.


Nyonya Sintya langsung duduk di tepi tempat tidur tepat disamping Aditya.


“Oma kan tadi bilang sayang. Kalau oma ini ibunya papa Kaila. Jadi oma ini omanya Kaila.” Sahut Nyonya Sintya sambil tersenyum pada Kaila.


“Kaila tidak suka sama oma.”


Aditya kaget mendengar ucapan anaknya itu.


“Kenapa?” Tanya Aditya sambil mengerutkan keningnya didepan anaknya.


“Oma sudah jahat sama mama.”

__ADS_1


“Jahat...” Balas Aditya dengan wajahnya yang kaget.


Ia kemudian melihat kearah ibunya.


“Kenapa Kaila sampai bilang begitu mi. Mami berbuat apa pada Kyra?” Tanya Aditya pada ibunya.


“Mami tadi malam menghukum istrimu. Terus tadi pagi....


Tiba – tiba Kyra datang, Nyonya Sintya sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya tadi.


“Sayang....” panggil Kyra yang berjalan masuk ke dalam kamar suaminya dengan keadaannya yang masih lemah.


Saat ia sadar tadi, ia langsung menanyakan keadaan suaminya pada Zahila. Ketika tahu kalau Aditya sudah sadar, ia langsung bangun dan keluar kamarnya menuju kamar sebelah.


Nyonya Sintya berdiri dari tempat duduknya ketika Kyra berjalan kearah suaminya.


Kyra langsung memeluk suaminya sambil menangis keras. Aditya langsung membalas pelukan istrinya sambil mengelus kepala istrinya yang sudah berada diatas dadanya itu.


“Dit....hiks....hiks.....hiks....” sambil memeluk erat suaminya.


“Hei....kenapa kamu menangis seperti anak kecil begini?”


“Aku takut sekali melihatmu kemarin jatuh pingsan. Aku pikir kamu sakit parah.”


“Sudah jangan menangis lagi. Aku baik – baik saja. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu begitu saja?” ucapnya sambil mencium kepala istrinya.


Ia kembali bicara kepada istrinya itu.


“Hei...angkat kepalamu.” Ucapnya sambil mengangkat kepala istrinya berhadapan dengannya. “Lihatlah wajahmu yang jelek ini. Kamu seperti anak kecil saja.”


Kyra masih terus menangis melihat suaminya.


“Sudah....hentikan tangisanmu. Kaila ada disampingmu sekarang.” Ucapnya dengan suara lembut sambil megusap air mata istrinya.


Kyra berbalik kearah anaknya yang masih duduk disamping ayahnya. Ia baru sadar kalau sejak tadi anaknya memperhatikannya menangis.


“Kaila mengerti kok kalau mama menangis. Mama pasti sedih gara – gara oma.” Sahut Kaila sambil melihat ibunya.


Kyra langsung berbalik kearah ibu mertuanya yang tengah berdiri disampingnya.


“Kenapa....kamu baru sadar sekarang kalau mami berdiri disini terus seperti orang bodoh?” Ucapnya yang cemberut melihat menantunya.


Kyra berdiri dan berjalan kearah ibu mertuanya.


“Mami sudah memaafkan aku.”


“Eem....” Jawab Nyonya Sintya sambil memalingkan wajahnya didepan menantunya itu.


Kyra tersenyum melihat ibu mertuanya yang seperti itu. Ia mengerti kalau ibu mertuanya sudah memaafkannya.


Kyra langsung memeluk erat ibu mertuanya dengan wajahnya yang tersenyum lebar.


“Hei...lepaskan aku. Kamu membuatku tidak bisa bernafas.” Pekiknya.


Kyra tidak menghiraukan ibu mertuanya, ia semakin memeluk erat ibu mertuanya dengan wajah senangnya. Sedangkan Aditya terlihat bingung melihat mereka berdua.


Ia kemudian berbisik ke telinga anaknya.


“Sayang....ada apa dengan mereka. Apa mereka lagi main drama lagi?”


“Drama...” Balas Kaila yang tak tahu maksud ayahnya.


“Ia....apa tadi mereka bertengkar didepan Kaila?”


“Tidak....mama tidak bertengkar. Oma yang salah.” Ucapnya dengan keras membuat Kyra dan Nyonya Sintya mendengar mereka.


“Oma...” Balas Aditya dengan wajah bingungnya.


“Ia...”


Kyra dan ibu mertuanya saling bertatapan. Kyra kemudian melepaskan pelukannya dan kembali duduk di tepi tempat tidur sambil berhadapan dengan anaknya.


Ia ingin menjelaskan kepada anaknya kalau omanya itu hanya marah padanya agar tidak membuat Kaila salah paham pada ibu mertuanya.


Bersambung.

__ADS_1


Sedikit Informasi nih....KEKASIH GELAP TUAN JENDRAL sudah mulai up date lagi yah.


Silahkan dibaca.


__ADS_2