Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 47 Beautiful Romance 2


__ADS_3

Setelah melihat Andi dan Rey pergi, Kyra berjalan menghampiri Bu Marta yang tengah sibuk di dapur bersama kedua pelayannya.


“Bu....pelayan yang lain mana?” Tanya Kyra yang sudah berdiri di belakang Bu Marta.


Bu Marta berbalik ke arah Kyra “Mereka ada di kamar belakang nyonya. Apa Anda butuh sesuatu?”


“Aku mau minta bantuan mereka untuk membantuku membuang semua minuman alkohol yang ada di rumah ini.”


“Baik nyonya. Saya akan memanggil mereka sebentar.”


“Ia...tolong yah bu. Suruh dia langsung naik ke ruang kerja Aditya.”


“Apa Anda sudah tahu ruang kerja Tuan Muda, nyonya?”


“Yang disamping kamarnya itu kan.”


“Ia...nyonya.”


“Baiklah....aku tunggu yah bu.”


“Ia nyonya.”


Bu Marta pergi memanggil para pelayan untuk membantu majikannya itu sedangkan Kyra naik ke lantai atas menuju ruang kerja Aditya. Ia masuk ke dalam dan melangkahkan kakinya menuju lemari kaca dekat meja kerja Aditya.


Disana banyak minuman beralkohol berjejer di lemari kaca. Itu bukan hanya minuman alkohol biasa tapi itu minuman alkohol dengan harga yang mahal.


Kyra meraih salah satu minuman alkohol milik suaminya yang berwarna perak keemasan.


“Harus aku apakan minuman beralkohol ini. Pasti semua ini harganya mahal. Dulu waktu masih kerja di Bar aku sering menjual alkohol yang harganya cuma sampai jutaan. Ini baru pertama kali aku melihat semua yang model begini, apa harganya sangat mahal yah.” Gumamnya sambil melihat botol alkohol perak yang dipegangnya.


“Aku keluarkan semua dulu lah. Kalau disimpan disini terus yang ada Aditya minum diam – diam lagi.” Gumamnya.


Kyra mengeluarkan satu – satu botol minuman Aditya di lemari kacanya itu. Baginya yang terpenting sekarang itu adalah ia harus menyingkirkan semua minuman yang ada disitu. Ia tidak akan membiarkan Aditya menyentuh minuman lagi. Meskipun hanya sedikit.


Empat pelayan yang tadi di panggil Bu Marta sudah tiba. Karena pintunya terbuka lebar, mereka langsung masuk ke dalam Ruang Kerja Aditya. Mereka berbaris ke samping sambil menunduk hormat di depan Kyra.


“Selamat siang nyonya.” Sapanya bersamaan.


Kyra langsung berbalik ke arah mereka.


“Kalian sudah datang.”


“Ia nyonya.”


“Tolong bantu aku mengeluarkan semua minuman ini.”


Para pelayannya hanya diam sambil saling melihat satu sama lain.


“Ada apa?” Tanya Kyra sambil melihat para pelayannya yang saling melihat.


“Maaf nyonya. Tuan Muda marah kalau kami menyentuh minumannya itu. Kami tidak berani sama sekali apalagi mau mengeluarkan semuanya.” sahut salah satu pelayannya.


“Bantu saja aku mengeluarkannya. Aku yang akan bertanggung jawab kalau tuan kalian marah.”


Keempat pelayannya itu masih diam kaku.


“Tenang. Aku jamin kalian tidak akan di pecat.”


“Baik....kami akan melakukan sesuai perintah Anda.”

__ADS_1


Para pelayanya itu mulai membantu Kyra mengeluarkan semua minuman Aditya.


“Kamu cari kardus yang besar untuk menyimpan ini semua.” Tunjuk Kyra pada salah satu pelayannya.


“Baik nyonya.”


Pelayan itu pun keluar mencari kardus – kardus untuk menyimpan semua minuman Aditya. Tak lama kemudian, pelayannya itu datang membawa beberapa kardus besar. Ia langsung memasukkan minuman yang sudah mereka keluarkan tadi.


Setelah semua minumannya di masukkan ke dalam kardus. Salah satu pelayannya bertanya dimana mereka harus membawa minumannya itu.


“Nyonya....ini semua di simpan dimana?”


“Simpan saja dulu disitu.”


“Baik nyonya.”


“Terima kasih. Kalian boleh keluar sekarang.”


“Baik nyonya.”


Keempat pelayannya itu keluar dari Ruang Kerja Aditya sedangkan Kyra masih berdiri menatap semua kardus yang sudah berisi minuman mahal milik suaminya.


“Harus kuapakan yah. Kalau di buang sayang. Kalau dijual, aku harus jual kemana. Aah....aku tanya Aditya saja dulu. Mungkin dia bisa berikan pada temannya, yang penting semua minuman ini tidak ada di sini.” Gumamnya dengan wajahnya yang terlihat bingung.


Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari Ruang Kerja suaminya menuju kamarnya.


Saat di dalam kamarnya, ia tidak melihat keberadaan Aditya di tempat tidurnya.


“Dit.....Aditya....Aditya.” Panggilnya dengan keras sambil berjalan menuju kamar mandinya mencari suaminya.


Aditya langsung keluar dari ruang gantinya yang hanya memakai celana dalam.


Kyra sangat terkejut melihat penampilan Aditya yang hanya memakai celana dalam.


“Aditya....apa – apaan kamu keluar begitu tidak berpakaian?”


“Aku pakai celana sayang.” Balasnya dengan wajahnya yang terlihat santai.


“Kamu habis mandi?”


 “Ia....aku sekarang mau pakai baju. Terus aku dengar kamu teriak – teriak diluar, karena khawatir mendengar suaramu. Ya.....mau tidak mau aku harus keluar. Lagipula apa masalahnya kalau aku begini di kamarku sendiri dan di depan istriku.” Jelasnya dengan santai.


“Ya sudah. Pakai bajumu sana. Di bawah ada Andi dan Rey.” Ucapnya sambil memalingkan wajahnya karena merasa malu melihat Aditya dengan celana dalamnya.


“Cium dulu dong baru aku masuk pakai baju.” Sambil menyodorkan pipinya.


Kyra membalikkan kembali wajahnya sambil menarik nafasnya melihat Aditya yang sudah menyodorkan pipinya.


Ia memejamkan matanya sambil memajukan wajahnya untuk mencium suaminya. Tiba – tiba Aditya membalikkan wajahnya dan mencium bibir istrinya. “Emmuach.”


Kyra langsung membuka matanya. “Aditya...”


Aditya kemudian memegang belakang kepala istrinya dan menariknya. Ia langsung mencium bibir istrinya sambil menarik pinggang Kyra untuk lebih mendekatkan tubuhnya. Ia terus mencium bibir Kyra sambil memainkan lidahnya di bibir istrinya itu. Ia mencium bibir Kyra dengan lama. Sesekali ia mengigit bibir Kyra karena tak bisa menahan nafsunya.


Setelah puas mencium Kyra, ia melepaskan ciumannya. Ia mengusap pinggir bibirnya dengan ibu jarinya kemudian mencium ibu jarinya sambil melihat istrinya dengan tatapan menggoda.


Sedangkan Kyra memegang bibirnya yang habis di cium Aditya.


“Kamu mau membuat bibirku bengkak yah.” Ucap Kyra sambil memegang bibirnya.

__ADS_1


Aditya hanya bisa tersenyum puas karena sudah memuaskan dirinya yang ingin sekali mencium Kyra meskipun semua hasrat lelakinya yang ingin sekali menikmati tubuh wanita yang sangat dicintainya itu masih belum terpenuhi tapi setidaknya itu bisa membuatnya sedikit tenang.


Aditya yang terus melihat Kyra memegang bibirnya merasa bersalah. Ia kemudian mendekatkan tubuhnya kembali melihat wajah Kyra.


“Sini....aku lihat.” Ucapnya sambil memegang dagu Kyra. “Sakit yah....maaf sayang. Aku terlalu bersemangat tadi.” Ucapnya sambil mengusap bibir istrinya dengan lembut.


Kyra menarik tangan suaminya dari bibirnya. “Sudahlah. Kamu pakai baju saja. Andi dan Rey sudah menunggu di bawah.”


“Ada masalah apa sih mereka datang ke sini. Mengganggu saja.” Ketusnya.


“Mereka bilang sih mau melihat keadaanmu. Tapi menurutku mereka ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu.”


“Baiklah....aku pakai baju dulu.”


“Ia...”


Aditya kemudian berjalan menuju ruang gantinya untuk berpakaian. Selama beberapa menit, ia keluar dari ruang gantinya dengan pakaian santainya. Ia melihat Kyra tengah merapikan tempat tidurnya. Ia langsung mendatangi istrinya dan memeluknya dari belakang.


“Kenapa kamu tidak suruh pelayan saja yang melakukannya.” Ucap Aditya sambil meletakkan dagunya di bahu Kyra.


“Ini hanya masalah kecil. Tidak perlu merepotkan orang.”


“Mereka di gaji untuk mengerjakan hal seperti ini sayang.”


“Ia...ia aku tahu. Aku hanya merapikan kasurnya saja.” Balasnya sambil melihat ke samping wajah Aditya.


Ia kemudian memegang pipi suaminya. “Perutmu sudah tidak sakit lagi.”


“Aku sudah merasa baikan sekarang.”


Kyra melepaskan tangan Aditya yang tengah melingkar di perutnya. Ia memegang kedua tangan Aditya sambil berhadapan dengannya.


“Mulai sekarang kamu tidak boleh menyentuh minuman atau minum kopi lagi yah.”


“Ia..” Balasnya sambil tersenyum.


“Harus makan tepat waktu. Kamu tidak boleh lupa makan”


“Ia...sayang. Kan ada kamu yang mengingatkanku.”


“Ya sudah. Kamu temui Rey dan Andi dulu sana.”


“Aku masih mau bersamamu sayang.”


“Nanti aku menemanimu disana. Kamu pergi dulu temui mereka.”


“Haaaa.....” menghela nafas dengan kasar. “Memangnya sekarang mereka dimana?” dengan wajahnya yang serius.


“Tadi mereka bilang mau ke Ruang Billiar.”


“Baiklah! Karena istriku yang minta jadi aku akan kesana. Tapi kamu kesana yah nanti.”


“Ia....”


Aditya mencium kening istrinya lalu berjalan keluar kamarnya. Sementara Kyra masih berada di kamarnya.


Tiba – tiba ia baru teringat masalah minuman Aditya yang ia keluarkan tadi.


“Astaga....aku tadi membahas minuman dengannya tapi lupa memberitahunya tentang botol – botol minuman yang sudah aku simpan di kardus.” Gumamnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2