
SELAMAT MEMBACA
Keesokan paginya....Aditya membuka matanya. Ia menengok ke samping melihat istrinya yang masih tidur lelap. Ia mencium kening Kyra lalu bangun dari tempat tidurnya sambil menggoyangkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.
Ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandinya. Di dalam sana ia membersihkan dirinya menggunakan shower. Setelah puas mandi, ia membalikkan badannya ke belakang dan meraih handuk di lemari kecil yang sudah tersusun rapi di dalam sana.
Ia memakai handuknya itu di pinggangnya kemudian meraih kembali handuk kecil dan mengusap rambutnya yang basah.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi sambil terus mengusap rambut basahnya itu. Disana ia masih melihat istrinya masih terbaring di kasur tanpa bergerak sekalipun. Ia mendatangi Kyra di sana sambil terus mengusap rambut basahnya dengan handuk kecilnya itu.
“Sayang....”Panggilnya sambil menyentuh bahu istrinya. “Kyra sayang.” Kembali memanggil.
“Eem...” suara Kyra yang masih memejamkan matanya.
“Ayo bangun. Hari ini aku mau ke kantor.”
Kyra membuka matanya sambil mengucek – ngucek matanya. Ia kemudian melihat suaminya yang tengah berdiri di sampingnya.
“Kamu sudah mau kerja lagi.”
“Ia...”
“Dit....kamu itu baru sembuh yah. Masa mau kerja lagi sih.”
“Aku cuma sebentar saja sayang. Jam 12 nanti aku akan pulang.”
“Tidak bisa. Kamu ambil cuti saja selama satu bulan.”
Aditya duduk di tepi tempat tidur tepat di samping istrinya.
“Tenang saja. Aku tidak akan sibuk. Ada sesuatu yang harus aku cek di sana.”
“Tapi kamu baru sembuh kemarin.”
“Bukannya kamu tidak ingin temanmu itu bangkrut. Aku pergi untuk mengurus itu sayang. Kalau aku tidak mengurus masalah itu secepatnya. Mungkin temanmu benar – benar akan jatuh miskin. Banyak perusahaan yang bekerja sama dengannya menghentikan kerja sama mereka.”
Kyra lalu bangun dan duduk di depan suaminya. “Baiklah....aku bantu kamu siap – siap ke kantor.” Ucapnya sambil memegang selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Tidak usah. Kamu urus saja Kaila. Hari ini dia sudah harus masuk sekolah.”
“Haaaa.....” menghela nafasnya dengan wajahnya yang terlihat lesu.
“Kenapa?”
“Mami tidak membiarkanku mengurus Kaila. Semuanya mami yang mau urus.”
Kembali berbaring. “Kalau begitu aku tidur saja lagi. Pinggangku masih sangat sakit, susah bergerak.” Memegang pinggangnya yang sakit.
“Pinggangmu sakit.” Jawabnya sedikit terkejut.
“Ia...sakit sekali.”
“Terus kenapa kamu masih bersikeras mau bangun tadi?”
“Itu karena kamu mau berangkat kerja dan baru sembuh kemarin.”
__ADS_1
“Maaf sayang. Semuanya gara – gara aku tadi malam.”
“Tidak masalah. Yang penting kamu tidak akan melakukannya lagi seperti tadi malam. Kalau kamu seperti itu lagi, aku bisa mati gara – gara sakit pinggang dan kelelahan.”
“Bagaimana aku bisa mengontrol diriku sendiri di depanmu. Aku ini pria normal sayang.”
“Apa kamu lupa tadi malam kamu melakukannya sampai berkali – kali. Nafsumu itu benar – benar hebat yah.”
Aditya tertawa kecil. “Oke....oke. Aku akan berusaha untuk tidak melakukannya seperti tadi malam.” Mengusap rambut istrinya. “Tunggu sebentar, aku carikan obat untukmu.”
“Eem.”
Aditya beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Ia turun dari lantai bawah menuju dapur untuk mencari kotak obat. Disana ia melihat ibunya tengah sibuk menyiapkan sandwich untuk cucunya dan beberapa pelayan yang sedang menyiapkan sarapan untuk majikannya itu.
Nyonya Sintya berbalik ke belakang ketika mendengar suara langkah kaki di belakangnya begitu pun dengan para pelayannya.
“Selamat pagi Tuan Muda.” Sapanya sambil membungkuk hormat.
Seperti biasa....Aditya hanya berwajah datar di depan mereka tanpa menjawab sapaan mereka. Ia kemudian berjalan ke arah lemari kecil yang menempel di dinding tepat di dekat meja makan.
Sedangkan Nyonya Sintya berjalan kearah meja makan sambil memegang piring yang berisi sandwich. Ia memasukkan sandwichnya di kotak makan kecil yang ada di atas meja makan sambil memperhatikan Aditya yang mencari obat.
“Kamu cari apa Dit?” Tanya Nyonya Sintya.
“Kotak obat mi.” Yang masih sibuk mencari kotak obatnya di dalam lemarinya itu.
“Kamu cari obat apa?”
“Kamu sakit pinggang.” Dengan wajahnya yang terlihat khawatir.
Aditya berbalik melihat ibunya. “Bukan aku tapi Kyra.”
“Astaga Aditya. Kamu benar – benar keterlaluan yah sampai membuat istrimu sampai sakit pinggang begitu. Dia itu masih lemah gara – gara kemarin dia berlutut di depan rumah tapi kamu langsung membuatnya seperti itu. Memangnya kamu tidak bisa menahan nafsumu itu beberapa hari.” Ucapnya yang terus mengomel pada anaknya.
“Aku hanya berusaha memberikanmu cucu lagi.” Jawabnya dengan santai.
“Tapi kamu sudah keterlaluan begitu.”
“Aah....mami cerewet sekali sih. Seperti tidak pernah merasakan jadi pengantin baru saja.” Sambil berjalan melewati ibunya.
“Berhenti dulu...mami masih mau bicara.”
Aditya menghentikan langkahnya membelakangi ibunya.
“Mulai lagi dramanya. Membuat pusing saja.” Dalam hati Aditya.
Nyonya Sintya melanjutkan kembali bicara pada anak laki – lakinya itu.
“Memangnya kamu masih menganggap dirimu sebagai pengantin baru. Anakmu saja sudah 7 tahun. Awas yah kalau kamu sampai menyakiti istrimu. Mami akan bawa Kyra ke rumah dan tidak membiarkanmu bertemu dengannya.” Ucapnya yang terus mengomel pada anaknya itu.
Aditya kemudian berbalik melihat ibunya. “Sebenarnya yang anak kandung mami itu aku atau istriku sih.”
Nyonya Sintya tidak menjawab pertanyaan anaknya dan hanya pura – pura tidak melihat Aditya yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
“Dasar pilih kasih.” Umpatnya
Nyonya Sintya hanya diam pura – pura tidak melihat anaknya itu sedangkan Aditya melanjutkan langkahnya meninggalkan ibunya yang selalu ia panggil ratu drama itu.
Ketika Aditya sudah berada di depan kamarnya. Ia langsung membuka pintu kamarnya dan mendatangi istrinya yang masih tengah berbaring di kasur.
Ia duduk di tepi tempat tidur melihat istrinya yang berbaring membelakanginya.
“Sayang....aku sudah bawa obatnya.”
Kyra membalikkan badannya menghadap suaminya.
“Mana...berikan padaku.” Mengulurkan tangannya.
“Ini krim oles sayang. Aku oleskan di pinggangmu yah.”
“Eem...tapi jangan macam – macam.” Tegasnya.
“Haaaa....” Menghela nafasnya. “Kenapa sih kamu selalu berpikiran kotor tentangku?”
“Kamu kan memang seperti itu. Aku hanya mengingatkanmu saja”
“Balikkan badanmu sana. Aku oleskan krimnya.”
“Ia...”
Aditya lalu mengoleskan krimnya tadi di pinggang istrinya sambil memijitnya dengan lembut.
“Apa kamu sudah merasa nyaman?” Tanya Aditya yang masih memijit pinggang istrinya.
“Eem.....”
Beberapa menit kemudian....rasa sakit di pinggang Kyra sudah mulai berkurang. Ia berbalik kearah suaminya.
“Sayang....”
“Eem.”
“Sebaiknya kamu siap – siap ke kantor saja.”
“Tidak bisa. Pinggangmu masih sakit, aku pijat pinggangmu dulu baru ke kantor.”
“Nanti kamu terlambat. Bagaimana nanti dengan Tania?”
“Tidak usah khawatirkan orang.”
“Aku baik – baik saja. Lagipula ada banyak pelayan disini.”
“Haaaa....” Aditya menghela nafasnya. “Baiklah....aku siap – siap dulu yah.”
“Ia...”
Aditya mencium kening istrinya lalu berjalan masuk ke dalam ruang gantinya
Bersambung.
__ADS_1