
Kyra sudah berada di lantai 5, ia berjalan menuju toilet yang ada di lantai 5.
Ketika sampai di toilet, ia langsung masuk ke dalam salah satu toilet dengan tergesa – gesa. Wajahnya terlihat sedih, matanya berkaca – kaca karena memikirkan kejadian tadi di kantor Aditya.
Didalam, ia langsung berjongkok sambil menundukkan kepalanya sampai menyentuh kedua lututnya. Ia menangis disana tanpa mengeluarkan suaranya karena tidak tahan dengan perasaannya pada Aditya. Memang sudah dari tadi ia ingin menangis tapi ia menahan tangisannya itu.
Ia kemudian berbicara dalam hatinya dengan perasaannya yang terluka.
“Bagaimana bisa aku masih mengharapkan dia. Sadarlah Kyra, dia sudah menjadi suami orang. Mengingat diriku tadi, aku sungguh malu. Aku sudah menjadi wanita yang murahan, sejenak aku luluh dengannya tadi sampai aku tidak sadar kalau dia sudah menikah. Aku sungguh tidak tahan. Melihatnya saja sudah membuat hatiku sakit. Kenapa aku tidak bisa melupakannya. Dan kenapa tadi dia memperlakukanku sampai seperti itu, apa dia ingin menghancurkan harga diriku. Apa dia ingin membalas dendam padaku karena memisahkannya dari Kaila?” Dalam hati Kyra sambil menangis sedih.
Tiba – tiba telfonnya berdering, ia ambillah HP-nya itu didalam tasnya. Ia lihat layar HP-nya, disitu terlihat nama Ivan dilayar HP-nya. Ia kemudian menghapus air matanya dan mengangkat panggilan Ivan.
“Halo”
“Kya....katanya kamu ada di Indonesia.”
“Ia....kemarin aku baru datang, kantor memindahkanku kesini. Ada apa?”
“Tidak apa – apa, aku hanya menghawatirkanmu. Kamu datang bersama siapa ke Indonesia?”
“Aku datang bersama Kaila.”
“Kenapa tidak menghubungiku kalau kalian kembali ke Indonesia?”
“Aku tidak ingin mengganggumu.”
“Kenapa kamu bilang begitu, kamu sama sekali bukan gangguan untukku. Oyah....setelah pekerjaanku disini selesai aku akan terbang ke sana untuk membicarakan pertunangan kita.”
“Pertunangan.” Balas Kyra dengan kaget.
“Ia....Tante Meri bilang kalau kamu setuju bertunangan denganku. Aku sangat senang mendengarnya, akhirnya kita bisa bersama kembali.”
“Apa Mas Bagas pernah bicara padamu?”
“Mas Bagas pernah menghubungiku, dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tiba – tiba telfonnya diambil Tante Rosa dan dia bicara padaku tentang dirimu. Tante Rosa bilang kalau kamu ada di Indonesia dan menyuruhku untuk menyusulmu kesana. Dia sudah merencanakan pernikahan kita tapi aku bilang untuk bertunangan dulu karena aku tahu kalau kamu masih trauma dengan pernikahan.”
“Ternyata Mas Bagas tidak membatalkan pertunangannya, pasti dia berdebat lagi dengan Tante Rosa karena aku. Aku sudah menyusahkannya lagi, apa lebih baik aku memang harus menikah dengan Ivan supaya aku bisa lebih mudah melupakan Aditya.” Dalam hati Kyra.
Ivan kembali bicara dibalik telfon.
“Kya....kamu masih disana kan.”
“Ia...”
“Kalau pekerjaan disini selesai, aku akan terbang kesana. Aku sangat merindukan kalian. Aku sudah buat baju bola couple untuk Kaila dan untuk kita.”
Kyra hanya menghela nafasnya dengan panjang sambil memejamkan matanya.
“Baiklah.....terserah padamu.” Ucapnya dengan suaranya yang lemah.
“Ada apa....kamu baik – baik saja kan.”
“Aku baik...”
“Aku pikir kamu sakit karena suaramu yang terdengar lemah.”
“Aku baik – baik saja.”
“Baiklah...kalau begitu aku tutup yah.”
“Ia...”
Telfonnya pun ditutup, Kyra berdiri dan keluar dari toilet setelah dirinya sudah merasa tenang.
__ADS_1
Ia berjalan menuju sebuah kantor yang ada dilantai 5, disana sudah terlihat puluhan karyawan yang tengah duduk dimeja kerja mereka masing – masing. Ketika sampai disana, ia bertanya kepada salah seorang karyawan yang berjalan melewatinya.
“Permisi.....nona.”
“Ia....” Balasnya sambil berbalik.
“Ruang kerja Tuan Rey dimana yah?”
“Oh.....Pak Manajer....”
“Ia....”
“Nona lurus saja terus, disamping kiri ada ruangan besar, ada namanya kok. Cuma ruangannya pak manajer saja yang ada disebelah kiri tidak ada yang lain.”
“Terima kasih nona.”
“Ia....”
Kyra pun berjalan lurus seperti yang dikatakan wanita tadi. Ketika sampai disebuah ruangan yang ada disebelah kiri, ia langsung mengetuk pintu ruangan Rey.
Tok.....tok.....tok.....suara ketukan pintu.
“Masuk....”
Kyra masuk ke dalam setelah mendengar suara Rey dari dalam. Ia sudah melihat Rey yang tengah sibuk bekerja.
Rey berdiri dari tempat duduknya saat melihat Kyra masuk ke ruangannya.
“Kamu sudah datang.”
“Ia...”
“Aku sudah menyiapkan satu ruangan untukmu. Tapi sebelum itu, aku akan memperkenalkanmu pada karyawan disini. Ayo....” Ucapnya.
Rey keluar ruangannya bersama dengan Kyra. Ia berdiri didepan para karyawannya yang tengah sibuk bekerja.
“Perhatian semuanya...” Teriaknya.
Seketika semua karyawan menghentikan kesibukannya dan berdiri dari tempat duduk mereka sambil melihat Rey.
“Hari ini kita punya manajer pemasaran baru yang akan membantu kita. Namanya Nona Kya Carolin, dia datang dari Amerika. Kalau kalian punya masalah silahkan melapor padanya, dia bisa membantu kalian.” Ucapnya dengan keras.
“Silahkan Nona Kya, perkenalkan dirimu pada mereka.” Ucap Rey sambil melihat kearah Kyra yang ada disampingnya.
Kyra hanya mengangguk pelan didepan Rey. Ia kemudian berbicara didepan para karyawannya.
“Halo semuanya....saya Carolin, manajer pemasaran baru kalian. Mohon bantuannya kedepan. Terima kasih.” Ucapnya dengan serius.
Para karyawan hanya mengangguk hormat didepan mereka berdua. Rey kembali berbicara kepada mereka.
“Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian.”
Mereka semua kembali duduk setelah mendengar ucapan Rey.
Rey membawa Kyra ke ruangan yang sudah ia siapkan. Tepatnya didepan para karyawannya itu. Ia masuk ke dalam bersama dengan Kyra. Saat didalam, ia menunjukkan meja kerja yang akan ditempati Kyra.
“Ini meja kerjamu, aku sudah menyiapkan tim untuk kamu handle.”
“Terima kasih kak...eh pak manajer.”
“Santai saja, panggil seperti biasa saja. Aku tidak seperti mereka berdua yang terlalu serius bekerja.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Baiklah..”
__ADS_1
“Oyah....apa ada pekerjaan khusus yang diberikan Aditya padamu?” Tanya Rey serius.
“Tuan Aditya menyuruh saya meningkatkan penjualan mobil dalam dua hari.”
“Hah.....kenapa Aditya menyuruh istrinya meningkatkan penjualan mobil. Bukannya penjualannya baik – baik saja dan tidak ada masalah.” Dalam hati Rey.
Rey kembali bicara pada Kyra.
“Apa ada jumlah khusus yang disebutkan Aditya?”
“Dia menyuruh saya menjual 150 buah dalam dua hari.”
“150 buah...diperusahaan ini.” Balasnya dengan kaget.
“Ia.....apa ada masalah?”
“Dia tidak bilang kalau seluruh cabangnya.”
“Dia bilang di perusahaan ini.”
“Apa Aditya sudah gila....masa istrinya sendiri disuruh meningkatkan penjualan diperusahaan ini sampai 150 buah. Bukannya 150 buah itu penjualan dari seluruh cabang di Asia.” Dalam hati Rey.
“Kak Rey....” Panggil Kyra membuyarkan lamunannya.
“Ia...”
“Kak Rey pernah jual mobil sampai 500 buah dalam dua hari kan.”
“Apa...500 buah dalam dua hari.” Ucapnya yang semakin kaget.
“Ia..”
“Apa Aditya yang bilang begitu?”
“Ia....”
“Astaga.....sebenarnya apa sih yang ada diotak Aditya. Kenapa dia bilang aku pernah menjual 500 buah dalam dua hari. Itu kan dulu waktu kita berdua buat bisnis sendiri itupun kita bisnis sampai diberbagai negara dan jangka waktu 10 hari. Dia benar – benar gila, mana bisa jual 150 buah dalam dua hari hanya diperusahaan ini. Kalau Kyra jual di cabangnya yang ada di luar negri mungkin saja. Tapi kalau disini, itu tidak mungkin. Aku harus bicara sendiri padanya.” Dalam hati Rey.
“Kak Rey....ada apa?”
“Oh...tidak apa – apa. Kamu mulai saja pekerjaanmu, aku sudah menyiapkan berkas – berkas penjualan perusahaan di mejamu, kamu lihatlah dulu. Aku ingin naik ke atas dulu.”
“Baiklah...”
Rey pergi meninggalkan Kyra yang masih berdiri di ruangannya. Ia menaiki lift menuju lantai paling atas. Ketika sampai diatas, ia sudah disambut oleh May.
“Selamat datang Tuan Manajer.”
“Mana Tuan Aditya.”
“Tuan Muda ada didalam.”
“Baiklah....aku masuk yah.”
“Baik...”Balasnya sambil mengangguk.
Tok....tok.....tok.....Rey mengetuk pintu ruangan Aditya.
“Masuk”
Rey masuk ke dalam ruangan Aditya, setelah ia mendengar suara Aditya dari dalam ruangannya.
Bersambung.
__ADS_1