Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 43 Beautiful Romance 2


__ADS_3

****SELAMAT MEMBACA****


Kyra menggendong anaknya turun dari kasur. Ia menurunkan anaknya tepat disamping ibu mertuanya. Ia berjongkok didepan anaknya sambil memegang kedua bahu anaknya itu.


“Sayang...oma itu tidak jahat tapi mama yang nakal. Oma cuma menghukum mama karena mama nakal.”


“Memangnya mama nakal kenapa sampai oma menghukum mama?” Tanya Kaila dengan polosnya.


“Oma menghukum mama karena mama suka meninggalkan papa sendirian.”


“Jadi mama tidak akan meninggalkan papa sendirian lagi.”


“Ia...mulai sekarang kita akan tinggal sama papa dan oma.”


“Benarkah! Tapi kalau Kaila sama mama tinggal sama papa. Apa Kaila tidak akan bertemu lagi dengan papa Ivan?”


Kyra tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada anaknya yang tidak tahu apa – apa itu.


“Kaila...papa tidak suka yah kalau Kaila bertemu Om Ivan. Dia bukan siapa – siapa Kaila.” Sahut Aditya dengan tegas.


Kaila menunduk sedih mendengar ucapan ayahnya. Memang tidak mudah bagi anak kecil seumuran Kaila melupakan begitu saja kasih sayang yang diberikan Ivan selama 5 tahun ini. Meskipun ia tahu kalau Ivan itu bukan ayah kandungnya tapi kasih sayang yang diberikan Ivan padanya selalu membekas dihati anak kecil polos seperti Kaila.


Aditya sedih melihat anaknya seperti itu tapi ia harus memberikan ketegasan kepada Kaila supaya kedepannya ia tidak akan mengungkit untuk bertemu dengan Ivan.


Sementara Nyonya Sintya yang mendengar nama Ivan merasa penasaran dengan orang itu.


“Siapa Ivan...kenapa Kaila sangat suka pada orang itu?” Dalam hati Nyonya Sintya.


Nyonya Sintya ingin menanyakannya sekarang tapi waktunya yang tidak tepat membuatnya mengurungkan niatnya itu.


Kyra yang melihat anaknya menunduk sedih mencoba untuk membuat pengertian kepada Kaila.


“Sayang....Kaila tidak boleh lagi bertemu Om Ivan yah. Om Ivan sekarang punya kehidupan sendiri. Dia sekarang pindah ke Singapura. Memangnya Kaila tega meninggalkan papa sendirian lagi.”


Kaila menggelengkan kepalanya mendengar ucapan ibunya. Kyra kembali bicara pada anaknya.


“Mulai sekarang Kaila tidak boleh menyebut Om Ivan lagi yah. Papa sedih kalau Kaila Cuma sayang sama Om Ivan.”


Kaila melihat kearah ayahnya yang tengah memperhatikan mereka berdua. Ia kemudian berjalan kearah ayahnya.


“Papa....Kaila tidak akan bertemu dengan papa Ivan lagi. Kaila tidak mau meninggalkan papa sendirian.” Ucapnya yang sudah berdiri disamping ayahnya.


“Benar yah. Kaila tidak bertemu dengan Om Ivan. Papa sedih kalau Kaila cuma sayang sama orang lain.”


“Kaila sayang kok sama papa. Sayang sekali.” Ucapnya sambil memeluk ayahnya.


“Cium papa sayang.”


Kaila melepaskan pelukannya kemudian mencium pipi ayahnya. Setelah mencium ayahnya, ia melihat kearah ibu dan neneknya. Ia berjalan kearah neneknya. Nyonya Sintya langsung berjongkok saat melihat cucunya datang menghampirinya.


“Kaila tidak marah lagi sama oma.”


“Ia....maafkan Kaila karena sudah marah sama oma. Kaila salah sama oma.”


“Siapa yang mengajari Kaila bicara seperti itu sayang?”


“Mama.....mama bilang kita harus minta maaf kalau punya salah sama orang.”


Nyonya Sintya langsung memeluk erat cucunya itu. Tiba – tiba suara tangisan terdengar darinya. Sejak kemarin ia memang berusaha menahan untuk bisa memeluk cucunya itu tapi ia tahu kalau Kaila anak kecil tidak seharusnya ia desak. Ia menunggu sampai Kaila bisa menerimanya baru ia akan mengeluarkan semua isi hatinya yang sangat merindukan dan mendambakan cucunya itu.


Kyra yang melihat mereka hanya diam sambil berjalan kearah suaminya. Disana ia duduk disamping suaminya sambil memeluk lengannya melihat Nyonya Sintya melepaskan rindunya pada Kaila. Ia dan Aditya tersenyum bahagia melihat mereka berdua.


Nyonya Sintya melepaskan pelukannya dan menatap terus wajah cucunya itu.


“Ada bayangan Kyra dalam wajah cucuku. Pasti Kyra seimut ini ketika dia kecil. Hanya matanya saja yang mirip dengan anakku.” Dalam hati Nyonya Sintya sambil terus memegang pipi cucunya.


Kaila yang melihat omanya masih menangis langsung memegang kedua pipi omanya itu.


“Oma tidak boleh menangis. Oma kan tidak sakit seperti papa dan mama.” Ucap Kaila sambil menghapus air mata neneknya.

__ADS_1


“Oma menangis bukan karena sakit sayang. Tapi karena oma terlalu senang melihatmu sekarang.”


“Bukankah orang menangis karena dia sakit. Kaila jadi tidak mengerti.”


“Nanti kamu juga akan mengerti saat kamu dewasa seperti oma.”


Kaila hanya tersenyum sambil mengangguk.


“Apa oma boleh memelukmu lagi?”


“Boleh.”


Nyonya Sintya kembali memeluk Kaila dengan erat. Setelah puas memeluk Kaila, ia kemudian melepaskan pelukannya dan berbicara kembali dengan cucu perempuannya itu.


“Sayang....Kaila suka main apa. Mau tidak main sama oma?” Tanya Nyonya Sintya.


Kaila hanya diam saja sambil memperhatikan neneknya.


“Kenapa sayang. Kaila masih marah sama oma yah?”


“Kaila tidak marah sama oma.....Kaila cuma berpikir, permainan apa yang cocok sama oma.”


“Katakan saja apa yang Kaila suka. Oma akan menemani Kaila main.”


“Mi....Kaila itu suka main bola.” Sahut Aditya.


Nyonya Sintya langsung melihat kearah anaknya. “Hah....Kaila suka main bola.”


Kaila mengangguk. “Ia....kalau Kaila main bola sama oma. Oma pasti akan lelah.”


“Itu kan permainan untuk cowok sayang. Kaila tidak cocok main seperti itu.”


“Terus yang cocok untuk Kaila apa, oma?”


“Nanti oma kasih tahu permainan apa yang cocok untuk Kaila. Pertama kita turun dulu ke bawah untuk sarapan yah.”


“Baiklah....”


“Nanti mami suruh pelayan membawa sarapan kalian disini.”


“Ia mi.” Balas Kyra sambil tersenyum.


“Oyah....dimana adikmu?”


“Dia ada dikamar sebelah. Tadi waktu mau masuk ke sini bersamaku, tiba – tiba HP-nya berdering. Sepertinya tadi ia bicara dengan seseorang”


“Oh....biar mami yang panggil dia turun sarapan.”


“Ia mi...”


Kaila dan Nyonya Sintya pun keluar kamar meninggalkan Aditya bersama Kyra.


Setelah Nyonya Sintya dan Kaila pergi keluar. Kyra kembali bicara pada suaminya. Ia ingin menanyakan tentang keadaan keluarga Ivan. Sebenarnya ia merasa tidak enak kalau harus menanyakan keluarga Ivan dengan suaminya tapi ia harus meluruskan masalah yang terjadi apalagi Aditya sudah tidak emosi seperti kemarin.


“Sayang....apa aku boleh bicara sesuatu?”


“Kenapa kamu harus minta izin. Katakan saja yang ingin kamu katakan?”


“Kemarin kamu bilang kalau ada yang tidak kusukai aku boleh mengatakannya padamu kan.”


“Ia...aku memang mengatakan itu padamu. Apa ada yang tidak kamu sukai dariku?” Tanya Aditya sambil memegang rambut istrinya.


“Apa kamu bisa melepaskan keluarga Ivan. Aku tidak suka kalau kamu terlalu kejam sama orang. Lagipula itu bukan salah mereka, mereka tidak tahu masalah yang sebenarnya.”


“Aku sudah melepaskan keluarga mereka. Mungkin mereka sudah kembali ke Singapura.”


“Benarkah...jadi kamu tidak memenjarakan mereka.”


“Ia..”

__ADS_1


Kyra langsung memeluk suaminya. “Terima kasih sayang.”


“Apa hanya terima kasih saja. Tidak ada yang lain. Suamimu ini sudah berbaik hati loh?”


Kyra melepaskan pelukannya kemudian menatap Aditya. Ia memajukan kepalanya pelan - pelan untuk mencium suaminya begitupun dengan Aditya. Ia memajukan kepalanya dan memonyongkan bibirnya sambil memejamkan matanya untuk mencium istrinya. Tiba – tiba Kyra teringat sesuatu yang membuat ia menghentikan aksinya itu sebelum memulainya.


“Tunggu...aku masih ada sesuatu untuk dikatakan padamu.”


Aditya langsung membuka matanya dan melihat istrinya.


“Apa?”


“Apa kamu juga melepaskan perusahaan mereka?”


Aditya hanya diam saja mendengar ucapan istrinya.


“Dit....aku tidak suka loh kalau kamu terlalu berlebihan begini. Mereka itu tidak salah. Kenapa kamu harus menghancurkan perusahaan mereka?”


“Aku tidak menghancurkan perusahaan mereka. Perusahaannya sekarang masih berdiri kokoh disana.”


“Dit.....aku sedang tidak bercanda yah.”


“Aku serius. Aku tidak menghancurkan perusahaan mereka. Aku hanya mengambil sebagian kerja sama mereka di perusahaan lain. Kalau aku menghancurkan perusahaan mereka, mungkin sahamnya sudah beralih padaku. Aku cuma berbisnis sayang.”


“Itu sama saja kalau kamu membuat perusahaannya dalam masalah.”


“Kyra....dunia bisnis itu memang terlalu kejam. Siapa yang kuat dia yang akan bertahan. Kalau kamu lemah, kamu yang akan hancur duluan. Aku itu masih punya hati. Kalau aku ingin membuat mereka hidup seperti gelandangan, mungkin aku akan mengambil semua kerja sama mereka di perusahaan lain. Tapi aku hanya mengambil sebagian kerja sama mereka untuk membuat peringatan kecil pada mereka.”


Kyra hanya diam saja dengan wajah cemberut didepan suaminya.


“Hei....sudahlah. Aku tidak membuat mantan pacarmu itu jatuh miskin.” Ucapnya sambil tersenyum menggoda istrinya.


Kyra langsung menatap tajam suaminya. Aditya yang melihat istrinya begitu langsung memegang perutnya.


“Aah.....sayang, perutku sakit lagi.” Ucapnya sambil pura – pura meringis.


Kyra langsung panik melihat Aditya meringis kesakitan.


“Sayang....kamu kenapa. Kamu sakit lagi, mana yang sakit.” Ucapnya sambil meraba perut suaminya. “Aku panggil dokter yah.”


“Tidak usah kamu merepotkan orang.”


“Tapi kamu sedang kesakitan.”


“Kalau kamu cium mungkin sakitnya akan hilang.” Ucapnya sambil tersenyum memegang perutnya.


Kyra menarik nafasnya dengan pelan. Ia lalu menundukkan kepalanya dan mencium perut suaminya membuat wajah Aditya terlihat merah.


Kyra mengangkat kepalanya berhadapan dengan Aditya. “Aku sudah menciumnya. Kamu tidak usah pura – pura lagi. Aku tahu kalau kamu pura – pura”


Aditya langsung menarik kepala istrinya dengan tangannya yang masih terpasang selang infus. Ia mencium bibir istrinya dengan penuh gairah. Ia kemudian meraba paha Kyra dengan tangan satunya lalu memasukkan tangannya itu ke dalam baju Kyra. Disana ia meraba – raba dada istrinya.


Seketika Kyra melepaskan ciumannya dan menarik tangan Aditya dari tubuhnya. Ia memegang tangan Aditya sambil menatap tajam suaminya.


“Kamu mau apa sekarang?”


“Sayang...aku sangat merindukanmu.”


“Dit....kamu sadar tidak kalau kamu itu sedang sakit. Infusmu juga belum dilepas”


“Ini gampang dilepas." Sambil memperlihatkan tangannya yang sudah diinfus. "Ayolah sayang....sedikit saja.” rengeknya


“Tidak....kamu masih sakit.”


“Kalau begitu cium saja yah.”


“Cium juga tidak bisa. Bilangnya cium tapi tanganmu itu larinya kemana – mana.”


Aditya hanya berwajah kesal melihat istrinya yang tidak ingin menuruti kemauannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2