
Rey menaiki lift menuju lantai atas bersama dengan seorang laki – laki yang membawa tas berisi bola dan mainan yang dipesan Aditya tadi.
Ketika sampai dilantai atas, Rey langsung keluar dari lift. Ia melihat Andi dan Kyra berjalan dari ruangan tempat Aditya berada.
Rey datang menghampiri Kyra dan Andi yang berjalan menuju ruangan kerja May.
“Kyra....ternyata kamu benar disini. Aku pikir Aditya sedang bercanda denganku.” Ucap Rey yang sudah berdiri didepan Andi dan Kyra.
“Halo kak.” Sapa Kyra sambil tersenyum.
“Kapan kamu sampai disini?” Tanya Rey penasaran.
“Aku baru datang kemarin.”
Rey masih ingin bicara pada Kyra tapi Andi menahannya.
“Maaf Tuan Manajer, ini jam kerja. Kalau Anda ingin mengobrol setelah jam kerja saja.” Tegasnya.
“Cih....kamu seperti Aditya saja, terlalu serius bekerja.”
“Saya harus memperlihatkan meja kerja untuk Nona Kyra. Kalau Anda menghalangi disini, Tuan Aditya bisa marah.” Ucapnya dengan serius.
“Anak ini....benar – benar yah, dia terlalu menghayati perannya. Bikin kesal saja.” Dalam hati Rey.
Ia kemudian membalas ucapan Andi.
“Baiklah.....lanjutkan saja pekerjaanmu itu.” Ucapnya sambil menatap Andi.
Rey kemudian beralih menatap Kyra yang tengah berdiri disamping Andi.
“Kyra....aku pergi yah. Obrolannya kita lanjutkan nanti.” Ucapnya sambil tersenyum.
Kyra mengangguk. “Ia...silahkan.”
Rey berjalan menuju ruangan dimana Aditya berada sedangkan Andi dan Kyra berjalan kearah May.
Rey masuk ke dalam ruangan yang disebutkan Aditya ketika menelfonnya tadi. Ia langsung masuk ke dalam ruangan dan melihat Aditya tengah duduk disofa sambil memperlihatkan kembali foto – fotonya dengan Kyra kepada Kaila yang tengah duduk dipangkuannya.
Rey datang menghampirinya bersama dengan pria yang membawa mainan untuk Kaila.
“Aku sudah membawakan bola yang kamu inginkan itu.”
“Simpan saja disitu.”
Rey memberikan kode dengan tangannya kepada orang yang membawa mainannya untuk diletakkan dilantai.
Ia kembali bicara pada Aditya yang tengah sibuk dengan anaknya.
“Aku pikir anakmu seorang laki – laki karena kamu tiba – tiba meminta membawakan bola kesini.” Ucapnya yang tengah berdiri didepan Aditya.
Aditya tidak menghiraukan Rey, ia hanya sibuk dengan anaknya. Rey kemudian berjongkok didepan Kaila dan mengajaknya bicara.
“Hai....sayang.” Sapanya sambil tersenyum.
Kaila tidak mengubrisnya dan hanya sibuk dengan HP ayahnya yang ia pegang.
“Sebaiknya kau kembali sana pada pekerjaanmu, jangan mengganggu anakku. Aku susah payah membuat dia tenang.” Ucapnya dengan serius.
__ADS_1
“Wajahnya benar – benar mirip istrimu yah, cantik sekali.” Ucapnya sambil tersenyum melihat Kaila.
Aditya mulai tidak suka dengan tatapan Rey pada anaknya.
“Apa kamu sudah bosan dengan pekerjaanmu?”
“Baiklah....aku pergi, aku tidak akan mengganggu kesenangan kalian.”
Rey kemudian berdiri sambil melihat Kaila yang tidak mempedulikannya.
“Anak sama ayah, sama saja kelakuannya. Wajahnya mirip ibunya tapi kelakuannya itu kenapa harus mirip ayahnya sih. Tapi aku senang bisa melihat Aditya dan anaknya bersama berarti masa suramnya sudah berakhir.” Dalam hati Rey.
Tiba – tiba Kyra masuk ke dalam bersama dengan Andi. Wajahnya terlihat sangat kesal karena ia dijadikan seorang sekertarisnya bahkan bekerja dibawah May. Seharusnya ia bekerja sebagai Manajer Pemasaran seperti yang dijanjikan sebelumnya.
“Dit....aku ingin bicara sekarang.” Ucapnya dengan wajahnya yang kesal.
“Kamu tidak lihat kalau aku sedang bermain dengan anakku.”
Kyra menghela nafasnya didepan Aditya karena rasa kesalnya pada Aditya. Ia kembali bicara pada Aditya.
“Kenapa kamu menjadikanku seorang sekertaris?” Tanya Kyra dengan serius.
“Tadi malam kan kamu sudah menandatangani kontrak sebagai sekertarisku. Kamu lupa.”
“Kamu sudah gila yah Dit. Kamu menjadikanku sekertaris yang tidak pernah kulakukan. Apa kamu tidak tahu kalau aku tidak pernah bekerja sebagai sekertaris, aku itu Manajer Pemasaran bukan sekertaris, bagaimana bisa aku bekerja sebagai sekertaris yang tidak pernah kulakukan.”
“Pelankan suaramu didepan Kaila.”
Rey yang masih berdiri melihat mereka hanya menggeleng – geleng kepalanya, ia kemudian meninggalkan tempat itu bersama dengan orang yang bersamanya tadi sedangkan Andi hanya menatapnya dengan santai melihat Kyra yang marah.
Kyra kembali bicara pada Aditya dengan wajahnya yang kesal dengan suara sedikit rendah.
Tiba – tiba Kaila berbicara karena melihat wajah ibunya yang terlihat kesal pada Aditya.
“Mama marah sama papa lagi.” Ucapnya sambil menatap ibunya dengan wajah polosnya.
Aditya yang mendengar ucapan anaknya langsung menatapnya dengan tersenyum.
“Mama tidak marah sama papa sayang, mama begitu karena terlalu cinta sama papa.” Ucapnya dengan wajahnya yang tersenyum.
Kyra terlihat kesal melihat Aditya yang mengabaikannya dan hanya berbicara pada Kaila tentangnya. Ia berpikir kalau Aditya sedang mempermainkan dirinya.
“Dit....kamu sengaja mempermainkan aku yah.”
Aditya tidak menghiraukan Kyra dan hanya berbicara kepada anaknya.
“Lihat....mama bicara lagi pada papa. Itu karena dia semakin cinta sama papa.”
Kaila hanya tertawa kecil disusul Aditya yang tertawa melihat anaknya tanpa peduli Kyra yang ada didepannya.
Kyra yang merasa diabaikan sudah tak bisa menahan amarahnya didepan mereka.
“Aditya....” Teriaknya yang sangat kesal melihat Aditya yang masih asyik tertawa bersama anaknya.
Seketika wajah Aditya berubah serius setelah mendengar teriakan Kyra padanya sedangkan Kaila hanya biasa saja menatap kedua orang tuanya. Ia mengira kalau ibunya marah karena ibunya cinta pada ayahnya, seperti yang dikatakan ayahnya tadi.
Aditya kemudian memanggil Andi yang berada tak jauh didepannya.
__ADS_1
“Andi...”
Dengan sigap, Andi berjalan kearahnya.
“Kamu temani Kaila main bola dulu.”
“Baik...”
Aditya lalu bicara pada anaknya.
“Kaila main bersama Om Andi dulu yah, Kaila suka main bola kan.”
“Katanya mau temani Kaila main bola.”
“Papa mau bicara dulu sama mama. Kaila tidak lihat kalau mama sudah tidak sabar ingin bicara pada papa.”
“Kenapa tidak bicara disini saja?” Tanya Kaila dengan polosnya.
“Mama itu.....ingin sekali bicara berdua sama papa.” Bisiknya kepada Kaila.
“Baiklah....karena mama mau berdua sama papa. Kaila akan main sama Om Andi.”
“Kaila baik sekali. Cium papa dulu dong.” Ucapnya sambil memajukan pipi kirinya.
“Mama bilang kalau Kaila tidak boleh sembarang cium laki – laki.”
“Kaila lupa yah kalau papa ini papa kandung Kaila, jadi Kaila boleh mencium papa.”
“Baiklah....Kaila cium.”
Kaila langsung mencium pipi kiri ayahnya.
“Kok Cuma satu sih...yang sebelah juga dong sayang.”
“Itu bagian mama.”
“Bagian mama.” Tanya Aditya yang kaget.
“Ia....Kaila kan sudah mencium pipi kiri papa sekarang papa minta sama mama untuk mencium yang satunya.”
Aditya merasa canggung karena malu mendengar ucapan anaknya. Sekilas ia melirik Kyra yang ada didepannya sedangkan Kyra langsung memalingkan wajahnya ketika Aditya meliriknya.
Kaila kembali bicara pada ayahnya.
“Papa kenapa diam saja, sana minta cium sama mama. Katanya mau dicium lagi.”
Karena malu dengan ucapan Kaila, Kyra langsung menarik anaknya dari pangkuan Aditya.
“Sayang....Kaila main dulu yah sama Om Andi, boleh kan.” Ucap Kyra sambil tersenyum kepada anaknya.
“Baiklah.....karena mama sudah tidak sabar ingin bicara sama papa, Kaila mengalah saja.” Balasnya.
"Ya tuhan....Kaila. Apa kamu bisa berhenti membuat mama malu. Aditya brengsek....dia sampai mengajari Kaila seperti ini?" Dalam hati Kyra.
Andi kemudian berjalan kearah Kaila dan mengajaknya bermain sedangkan Aditya langsung menarik tangan Kyra menuju ruang kerjanya.
Aditya dan Kyra meninggalkan Andi yang tengah mengajak Kaila bermain.
__ADS_1
Bersambung.