
SELAMAT MEMBACA
Kyra sekarang tengah berbaring santai di kasurnya sambil menonton Tv. Wajahnya terlihat jelas kalau ia sangat bosan disana. Ia tak bisa kemana – mana dan hanya bisa menonton Tv.
Tiba – tiba Bu Marta mengetuk pintu kamarnya. Tok.....tok....tok.....
“Nyonya Muda.” Panggilnya dari luar.
Kyra turun dari tempat tidurnya dan berjalan kearah pintu. Ia membuka pintu kamarnya dan sudah melihat Bu Marta berdiri di depannya.
“Ada apa bu?” Tanya Kyra serius.
“Di bawah ada beberapa orang yang membawa banyak barang yang Anda pesan tadi.” Jawabnya sopan.
“Saya tidak pernah pesan barang bu.” Ucapnya sambil mengerutkan keningnya
“Silahkan turun dulu nyonya. Mereka semua menunggu di bawah.” pinta Bu Marta.
“Oke....saya akan turun.”
“Ia nyonya.”
Kyra turun ke bawah bersama Bu Marta. Ia menuruni tangga sambil melihat orang – orang yang ada di bawah. Terlihat ramai di bawah sana.
Ketika mereka melihat Kyra turun. Mereka semua berdiri berjejer menyambutnya.
“Selamat pagi nyonya.” Sapanya bersamaan.
“Siapa kalian?” Tanya Kyra yang terlihat bingung melihat mereka.
“Kenalkan, nyonya. Saya Amira.” Mengulurkan tangannya di depan Kyra.
Kyra membalas uluran tangannya dengan wajahnya yang terlihat bingung.
“Saya pemilik butik AM Fhasion yang sudah tuan pesan. Saya sudah membawa beberapa rancangan baju musim ini, nyonya.” Jelasnya dengan sopan.
“Halo nyonya.” Sahut salah satu orang yang berdiri di samping Amira. Kyra langsung melihat kearahnya. “Kenalkan nyonya. Saya Will.” Sapanya sambil mengulurkan tangannya.
Kyra langsung membalas uluran tangan Will.
“Saya pemilik JW Fhasion. Saya di suruh tuan membawa beberapa desain sepatu dan tas musim ini, nyonya.”
Kyra hanya bisa tersenyum paksa dengan wajahnya yang terlihat risih karena melihat mereka semua.
“Halo nyonya.” Sahut orang yang berdiri di samping Will.
Kyra melihat kearah Ridwan. “Kenalkan saya Ridwan, nyonya.” Mengulurkan tangan di depan Kyra.
Kyra membalas uluran tangan Ridwan dengan wajahnya yang semakin pusing melihat mereka memperkenalkan dirinya satu persatu.
“Saya bawa beberapa model Handphone terbaru tahun ini.”
Kyra langsung memegang kepalanya sambil memejamkan matanya di depan mereka. Ia sampai menghela nafasnya karena pusing melihat mereka semua.
“Aditya kurang ajar. Dia benar – benar membawa mereka datang ke rumah. Berlebihan sekali sih dia.” Dalam hati Kyra yang kesal dengan suaminya.
“Nyonya...” Sapa Ridwan membuyarkan lamunannya.
“Ah...ya.” Kembali fokus pada mereka.
“Silahkan di pilih nyonya.” Ucapnya sambil memperlihatkan barangnya.
“Berikan saja satu.” Ucap Kyra dengan wajahnya yang terlihat tak semangat.
__ADS_1
“Mau model yang mana nyonya.”
“Terserah....yang mana saja yang penting bisa menelfon”
“Ini...kami punya model terbaru tahun ini....memiliki...
Pak Ridwan belum menyelesaikan penjelasannya, tapi langsung di potong Kyra.
“Tidak usah di jelaskan. Berikan saja padaku.”
“Baik.”
Ia kemudian menyuruh salah satu bawahannya yang membawa semua barangnya. Ia mengambil salah satu Handphone terbaru dan memberikannya pada Kyra.
“Ini nyonya.” Menyodorkan HP di depan Kyra.
“Terima kasih.” Kyra menerima HP dan nomor baru yang sudah Andi pesankan tadi atas suruhan Aditya.
“Berapa harganya?” Tanya Kyra serius.
“Tagihannya semua di tanggung tuan, nyonya.”
“Oke...terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang.”
“Baik.”
Melihat kearah kedua pemilik butik tadi. “Kalian juga boleh pergi sekarang. Maaf karena sudah mengganggu waktu kalian.”
“Baik nyonya. Saya akan tinggalkan semua pakaian yang saya bawa tadi disini.” Sahut Amira pemilik butik AM Fhasion.
“Tidak usah. Bawa saja pergi.”
“Tuan menyuruh kami untuk meninggalkan semua barangnya kalau Anda tidak memilih."
"Oke...aku pilih satu."
“Bikin pusing saja sih, Aditya.” Dalam hati Kyra yang kesal.
“Oke...” Jawabnya.
Kyra menuruti semua ucapan kedua orang tadi dengan wajahnya yang terlihat tidak senang karena kelakuan suaminya itu. Meskipun begitu ia tetap menikmati kesibukannya memilih barang – barang yang cocok untuknya.
Selama satu jam.....
Kyra selesai memilih. Ia lalu menyuruh semua orang itu pergi dari rumahnya. Ia kembali ke kamarnya setelah melihat kepergian mereka.
Kyra langsung melempar tubuhnya di kasur karena lelah dengan kesibukannya tadi.
Kedua pelayannya mengetuk pintu kamarnya. Tok....tok....tok.....
Kyra mengangkat tubuhnya dan membuka pintu kamarnya. Disana ia melihat pelayannya membawa semua barang – barang yang ia pilih tadi di bawah.
“Nyonya...ini semua disimpan dimana?” Tanya salah satu pelayannya.
“Bawa saja masuk ke dalam.” Tunjuknya pada Ruang Gantinya.
“Baik.” Membungkuk hormat.
Kedua pelayannya itu masuk ke dalam Ruang Ganti majikannya itu. Mereka menyimpan semua barangnya disana lalu keluar kembali.
“Nyonya...kami sudah menyimpan semua barang Anda. Kami permisi dulu.” Sambil membungkuk hormat di depan majikannya itu.
“Ia...terima kasih.” Balas Kyra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ia nyonya."
Kedua pelayannya itu pun pergi. Kyra kembali berbaring terlentang di tempat tidurnya.
“Ah....bosan sekali. Aditya benar – benar keterlaluan. Dia mengurungku disini.” Gumamnya.
Ia kemudian melihat HP barunya tadi.
“Aku harus menelfon Lea.” Sambil mengetik nomor Lea. "Untung aku bisa dengan mudah menghafal nomor orang. Hehehe."
Ia meletakkan HP-nya tadi di telinganya menunggu Lea mengangkat telfonnya. Tak menunggu lama....Lea pun mengangkat telfonnya.
Suara Telfon.
“Halo Lea.”
“Siapa?” Suara Lea di balik telfon.
“Kyra.”
“Kenapa kamu susah sekali di hubungi sih, Kyra?” dengan suaranya yang sedikit keras.
“Maaf...”
“Oh..ya. Bagaimana keadaan Kakak ipar sekarang?” Tanya Lea.
“Sudah baikan. Dia ada di kantor sekarang.”
“Maaf ya karena tidak sempat menjenguk kakak ipar. Aku baru pulang. Ini sementara perjalanan ke rumah.”
“Tidak apa – apa?”
“Oh...ya. Kita ketemuan ya sekarang.”
“Kamu mau ketemuan dimana?”
“Kita ketemuannya di cafe dekat kampus kita yang dulu. Kangen benget sama kamu.”
“Kenapa ketemuannya disana. Di tempat lain saja?”
“Soalnya dekat dari Apartemenku yang sekarang. Sekalian kita jalan – jalan di sana.”
“Oke...tapi aku minta izin Aditya dulu ya.”
“Kenapa?”
“Aditya sekarang menjadikanku tahanan rumah. Kalau aku langsung pergi begitu saja tanpa beritahu dia. Nanti dia ngamuk lagi.”
“Oke...selamat berjuang ya.” sambil tertawa kecil.
“Cih....”
"Jangan marah...aku hanya bercanda."
"Oke...nanti aku hubungi lagi kalau kita jadi ketemuan."
"Baiklah..."
Telfonnya pun di tutup.
Kyra langsung bangun dan duduk di tepi tempat tidurnya. Ia lagi - lagi menghela nafasnya karena memikirkan harus minta izin apa pada suaminya.
“Gimana caranya aku buat Adit luluh ya. Supaya dia biarin aku keluar dan ketemuan sama Lea. Aku juga harus ketemu sama Tania di rumahnya. Pasti hari ini Mas Bagas sampai di Indonesia. Kalau bukan sore pasti malam.” Gumamnya.
__ADS_1
Kyra berdiri dari tempat duduknya sambil mondar – mandir memikirkan apa yang akan ia katakan pada suaminya supaya membiarkannya keluar rumah.
Bersambung.