
SELAMAT MEMBACA
Aditya masuk ke dalam Ruang Billiarnya untuk menemui kedua bawahannya itu. Ketika masuk ia langsung duduk di sofa panjang depan meja billiarnya. Andi dan Rey langsung mendatangi Aditya yang tengah duduk bersandar di sofa. Rey duduk di samping Aditya sedangkan Andi berdiri di depan Aditya.
“Ada masalah apa kalian bisa datang bersamaan kesini?” Tanya Aditya dengan wajahnya yang serius.
“Aku hanya datang melihatmu sekaligus melaporkan kalau proyek yang dari Prancis itu sudah berjalan lancar. Dalam beberapa hari Pak Delard berencana terbang ke Indonesia untuk mengadakan rapat dengan kita. Sepertinya bujukanmu itu bisa dengan mudah membuatnya datang langsung ke sini.”
“Kalau proyek yang kamu kerjakan itu sudah selesai. Kamu putuskan saja kerja sama dengan perusahaan mereka. Aku tidak ingin bekerja sama dengan orang seperti itu.”
“Baiklah.”
Aditya memang sering menyerahkan sebagian proyek untuk di kerjakan Rey karena Rey bisa menghandle semuanya dengan baik.
Aditya kemudian bicara pada Andi yang sejak tadi berdiri di depannya.
“Apa yang ingin kamu laporkan?”
“Ini masalah yang kemarin Anda perintahkan, tuan.”
“Apa perlu aku keluar?” Sahut Rey.
“Tidak perlu. Kalau masalah perusahaan waralaba itu katakan saja. Tidak perlu di sembunyikan.”
“Baik....” Balasnya sambil menganggukkan kepalanya. “Saat perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Tuan Hilman tahu kalau Anda memiliki 50 persen saham dari perusahaan itu. Mereka semua mengharapkan Anda untuk bisa menggantikan direktur yang sekarang yaitu Tuan Hilman. Mereka semua perusahaan yang tidak berhasil bekerja sama dengan perusahaan Sinatria. Mereka mengancam Tuan Hilman untuk memutuskan kerja sama mereka kalau bukan Anda yang menjadi direkturnya.”
“Huh.....dasar orang – orang tidak setia.”
“Kamu membeli saham perusahaan Tuan Hilman.” Sahut Rey dengan wajahnya yang sedikit kaget karena baru tahu tentang masalah itu.
“Ia...”
“Apa kamu berencana mengambil alih perusahaan mereka?” Tanya Rey dengan serius.
“Tidak...” Balasnya dengan datar.
“Lalu kenapa kamu melakukan itu?”
“Aku hanya memberikan si Bagas pelajaran. Sepertinya dia sangat hebat di sana sampai dia bisa menyembunyikan istriku dan mengganti identitasnya. Dia tidak pernah memikirkan perasaanku yang kehilangan. Dia malah hidup bahagia disana.”
“Terserahlah....yang penting kamu tidak menyentuh orang yang tidak bersalah.”
“Huh....memangnya aku seperti itu.”
“Terus yang kamu lakukan pada mantan pacar istrimu itu apa namanya?”
“Kamu tahu darimana?”
Tiba – tiba Rey tersadar kalau seharusnya ia tidak mengatakan itu. Tadi di kantor ia memaksa Andi untuk mengatakan tentang Ivan padanya.
“Itu saya tuan.” Sahut Andi.
“Jangan salahkan Andi. Dia hanya mengatakan tentang pertunangan istrimu dan mantan pacarnya.” Sahut Rey yang membela temannya itu.
Aditya hanya diam saja mendengar ucapan Rey itu. Rey yang melihat Aditya dan Andi diam tidak bicara kembali bicara untuk mengalihkan pembicaraan mereka tentang masalah Ivan.
“Oyah....kamu punya minuman kan disini.”
“Andi.”
“Ia tuan.”
“Ambilkan minuman yang ada di Ruan Kerjaku.”
__ADS_1
“Baik...tapi bagaimana dengan keputusan Anda tentang Tuan Hilman?”
“Jangan bertindak dulu. Tunggu sampai Bagas sampai disini. Katanya dia marah dan ingin menemuiku langsung.”
“Bagas kembali.” Ucap Rey dengan kaget.
“Eem..”
“Kenapa kalian tidak memberitahuku tentang Bagas?”
“Kamu sudah tahu kan sekarang.”
Rey hanya diam saja dengan wajahnya yang masih terkejut dengan yang di dengarnya itu.
“Tuan....saya pergi ambil minuman dulu.” Sahut Andi.
“Eem”
Andi keluar dari Ruang Billiar itu menuju Ruang Kerja Aditya . Ia melangkahkan kakinya ke lantai atas sedangkan Rey masih terlihat kaget mendengar Bagas akan kembali.
Tiba – tiba Kyra dan salah satu pelayannya masuk ke dalam Ruang Billiar suaminya dengan membawa minuman dan cemilan untuk mereka. Kyra masuk ke dalam sambil memegang gelas yang berisi susu almond untuk Aditya.
“Sayang....aku sudah datang.” Ucapnya sambil berjalan menghampiri Aditya diikuti pelayannya yang membawa minuman dan cemilan.
Aditya langsung berdiri melihat istrinya yang memegang gelas susu.
“Apa yang kamu bawa itu?” Tanya Aditya sambil mengerutkan keningnya.
“Susu Almond untukmu.” Ucapnya sambil menyodorkan susu almond di depan suaminya.
Aditya langsung menutup hidungnya dengan tangannya karena tidak suka dengan bau dari susu almond yang di pegang Kyra.
Sedangkan Pelayan yang tadi membawa minuman langsung meletakkan minuman yang ia bawa di meja depan mereka.
“Nyonya...apa ada lagi?” Tanya pelayannya itu.
“Baik..” Balasnya sambil membungkuk hormat.
Pelayan itu kemudian keluar dari ruangan itu sedangkan Kyra masih berdiri di depan suaminya. Ia melihat suaminya yang terus menatap susu yang dibawanya begitupun dengan Rey. Tapi Rey saat itu hanya bisa tersenyum senang melihat pemandangan itu.
“Aku tahu kalau kamu tidak suka minum susu tapi ini demi kesehatanmu sayang. Kamu harus biasakan minum ini setiap hari.”
“Apa...setiap hari?” Ucapnya dengan kaget. “Melihatnya saja membuatku mual. Aku tidak suka dengan baunya.”
“Selamat kawan. Akhirnya kamu bisa minum susu juga.”
“Diam kau.” Teriaknya.
“Apa sih teriak – teriak begitu. Aku susah payah membuatnya tapi kamu malah teriak – teriak hanya karena tidak suka.”
“Kamu yang bikin.”
“Memang siapa lagi. Kalau tidak mau minum aku buang saja?”
Aditya langsung merebut susu yang di pegang Kyra dan meneguknya sampai habis. Rey sampai tercengan melihat temannya itu langsung meneguk susu almond yang paling ia benci itu.
Setelah minum. Aditya berusaha menahan dirinya untuk tidak memuntahkan susunya itu di depan istrinya.
Kyra langsung mengusap – usap kedua pipi suaminya sambil tersenyum. Ia lalu mencium bibir suaminya tanpa malu pada Rey yang ada di samping mereka.
“Ini hadiah karena kamu sudah berusaha minum susu yang aku buatkan. Ini juga buat kesehatanmu sayang.” Ucap Kyra sambil tersenyum.
Karena masih merasa mual, Aditya hanya bisa mengangguk untuk menuruti keinginan istrinya itu.
__ADS_1
“Cinta buta. Tidak bisa di selamatkan lagi.” Dalam hati Rey yang menggeleng – gelengkan kepalanya melihat mereka berdua.
Kyra mengusap pinggir bibir suaminya yang masih ada bekas susunya.
“Hei...apa kalian sadar kalau aku masih disini?” sahut Rey yang kesal karena tidak tahan melihat kemesraan mereka.
Aditya berbalik kearah Rey. “Makanya nikah sana. Umurmu sudah tua begitu tapi masih suka bermain – main.” Ketusnya.
Kyra hanya tertawa kecil melihat Rey yang kesal dengan mereka berdua. Ia kemudian menghentikan tawa kecilnya dan bicara pada Rey.
“Apa aku perlu mencarikan Kak Rey calon istri?” Tanya Kyra sambil tersenyum.
“Cih...sombong sekali kalian.” Ucapnya sambil duduk kembali di sofa.
“Aku serius.”
“Tidak usah. Aku sudah menemukan jodohku hari ini.”
Kyra membantu suaminya duduk di sofa sambil mendengarkan ucapan Rey tadi.
Tiba – tiba Andi masuk ke dalam Ruangan itu membawa botol minuman. Ia langsung meletakkan botol alkoholnya itu di depan Rey. Kyra langsung kaget melihat botol alkohol di depannya itu.
“Apa ini...jadi kamu ingin minum lagi?” Tanya kyra dengan wajahnya yang marah pada suaminya.
“Tidak sayang.....aku tidak minum. Rey yang ingin minum.”
“Ia....aku yang ingin minum sedikit. Pikiranku stress hari ini karena pekerjaan.” Sahut Rey membela sahabatnya itu.
“Apa Kak Andi mengambil alkohol itu dari kardus?”
“Ia.”
Aditya langsung menengok pada istrinya. “Kardus..” dengan wajahnya yang sedikit kaget.
“Ia...aku berencana untuk menyingkirkan itu semua dari rumah ini. Tadi aku lupa memberitahumu.”
“Sayang.....itu semua minuman alkohol langkah yang aku dapatkan di luar negri yang harganya ratusan juta. Kamu mau membuangnya begitu saja.”
“Siapa bilang aku ingin membuangnya. Aku berencana untuk menjualnya?”
Aditya terkekeh mendengar ucapan istrinya. “Memangnya suamimu ini tidak bisa memberikanmu uang sampai kamu ingin jual semua minumanku.”
“Daripada aku buang.”
“Kalau begitu berikan saja padaku. Yang perak itu masih ada kan, yang kamu beli di pelelangan.” Sahut Rey.
“Bayar 500 juta.” Balas Aditya dengan datar.
Kyra langsung kaget mendegar harga yang disebut Aditya.
“Untung saja aku tidak membuangnya. Pantas saja dia melarang orang menyentuhnya.” Dalam hati Kyra.
“Pelit sekali.” Balas Rey.
“Itu cuma satu – satunya. Kamu beruntung bisa mendapatkannya dariku. Kalau tidak mau aku akan menjualnya pada orang lain.”
“Oke....bos.”
“Sudah...jangan bahas minuman lagi. Hari ini tidak di perbolehkan minum alkohol. Aku sudah membawakan kalian minuman sehat.”
“Haaaa....baiklah.” Balas Rey yang terlihat tak semangat.
Mereka duduk disana sambil menikmati minuman dan makanan yang sudah dibawakan tadi oleh pelayannya begitupun dengan Andi. Ia duduk di samping Rey setelah disuruh Aditya duduk di sofa sambil menikmati minumannya.
__ADS_1
Kyra mengobrol asyik dengan Andi dan Rey. Ia menanyakan tentang keadaan mereka selama delapan tahun ini. Itu pertama kalinya mereka bisa mengobrol santai setelah kepulangannya ke Indonesia. Sedangkan Aditya hanya diam saja mendengar mereka mengobrol tanpa mengganggu istrinya yang terlihat asyik bicara dengan kedua temannya itu. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Kyra sambil memegang tangan istrinya. Ia memainkan tangan cantik istrinya itu untuk mengusir rasa bosannya.
Bersambung.