Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 80 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.


Semenjak kejadian Rey yang membuktikan cintanya dengan cara menabrakkan dirinya di tengah jalan. Tepatnya empat hari yang lalu, membuat Zahila terus melihat tampang Rey setiap hari. Rey dan Zahila selalu jalan bersama. Tentu saja, bukan keinginan Zahila.


Itu semua keinginan Rey yang selalu mengikutinya kemana – mana seperti hantu. Memanggilnya dengan sebutan istriku. Panggilan itu sudah melekat dalam dirinya. Tentu saja ia sangat risih dengan tingkah Rey yang seperti itu. Meskipun Zahila mengusirnya dan marah – marah pada Rey. Rey tidak pernah mendengarnya bahkan semakin gila mendekati Zahila.


Seperti saat ini, Rey yang melihat Zahila masuk ke dalam kampus langsung meneriaki Zahila dengan keras. Ia tadi menjemput Zahila di rumah Aditya dan mengantarnya ke kampus.


“Istriku......belajar baik – baik ya. Suamimu akan datang menjemputmu nanti.” Teriaknya sampai membuat semua orang melihat ke arah mereka.


Zahila tidak melihatnya, karena ia sangat malu di tatap semua orang. Ia hanya membelakangi Rey dengan wajah kesalnya.


“Aku kesal sekali. Kenapa dia semakin hari semakin gila. Apa yang harus kulakukan pada pria itu. Rasanya aku ingin mencekik lehernya itu supaya tidak bisa bicara. Apa dia tidak punya malu berteriak seperti itu?” Gumamnya.


Ia masuk ke dalam kampus tanpa sekalipun menengok ke belakang sedangkan Rey lagi – lagi berteriak di sana.


“Istriku.....Kak Rey mencintaimu. I Love you.” Teriaknya dengan keras.


Zahila hanya menutup telinganya di sana sambil berjalan cepat ke dalam kampus.


“Aku bisa gila.” Gumam Zahila.


Zahila memang tidak bisa menghindar dari Rey. Jika Rey datang menjemputnya, ia tidak bisa menolak. Kalau ia menolak, Rey langsung menggendongnya masuk ke dalam mobil. Tubuhnya yang kecil membuat Rey dengan mudah menggendongnya. Jika Zahila bersembunyi, Rey selalu menemukannya. Bahkan Rey tidak pernah membiarkan ada pria mendekati Zahila. Itu karena Rey belum mendapatkan hatinya Zahila. Besar kemungkinan ada pria yang nantinya akan mendekatinya. Jadi sebelum itu terjadi, ia harus membuat Zahila terus melihatnya.


Satu bulan kemudian.


Tiba hari pernikahan Bagas dan Tania yang akan di adakan esok hari. Bagas dan Rey sudah terlihat di sebuah bar miliknya dulu yang sekarang berpindah tangan pada seorang kenalannya. Bagas tengah merayakan berakhirnya masa lajangnya di sana. Rey duduk di sofa mencoba menghubungi Aditya.


Suara Telfon.


“Halo...ada apa?” Tanya Aditya. Ia sekarang berada di kantornya. Ia duduk di kursi sambil sibuk menandatangi beberapa dokumen.


“Ayo cepat datang ke bar milik Bagas.”


“Hei...ini bukan barku lagi.” Sahut Bagas yang ada di samping Rey.


“Aku tidak pergi. Istriku bisa mengamuk kalau sampai dia tahu aku datang ke bar. Kamu tahu sendiri kan, sekarang itu dia lagi hamil dua minggu. Dia setiap hari marah – marah padaku kalau aku pulang terlambat.” Ucap Aditya.


“Jangan begitu lah. Besok Bagas akan menikah. Kakak ipar tidak akan tahu, apalagi kita di sini tidak macam – macam. Hanya menemani Bagas saja menghabiskan malamnya.” Ucap Rey di balik telfon.


“Aku tidak bisa pergi. Aku harus pulang. Jangan memaksaku. Kalau sampai tidak pulang tepat waktu, semua kartu kreditku akan di ambil Kyra. Setiap hari dia terus mengancamku, mana berani aku membantah wanita hamil.”


“Sebentar saja, satu jam cukup. Ini baru jam setengah tujuh. Kamu cari saja alasan kalau kita sedang rapat.”


Bagas langsung merebut HP Rey. “Hei...datanglah cepat ke sini. Kalau Kyra marah kamu pulang terlambat. Aku bisa membantumu menjelaskan padanya.”


“Baiklah....aku pergi. Tapi satu jam saja ya.”

__ADS_1


“Oke.”


Telfonnya pun di tutup.


Aditya lalu menenlfon istrinya.


“Halo sayang.” Dengan suara lembutnya.


“Mas Adit kok belum pulang sih.”


“Kan masih setengah tujuh. Aku masih sibuk bekerja sayang.”


“Terus kenapa tiba – tiba menelfon kalau kamu sibuk?”


“Aku mau bilang kalau aku tidak bisa pulang tepat waktu.”


“Kenapa?” Tanya Kyra


“Aku harus rapat sayang.”


“Sampai jam berapa?” Tanya Kyra di balik telfon


“Eem.......” Aditya berpikir. “Mungkin jam 9 malam.”


“Baiklah....aku tidur saja kalau begitu.”


“Terus bagaimana dengan makan malammu. Mau aku suruh orang membawakan makan malammu?” Tanya Kyra di balik telfon.


“Tidak usah. Aku sudah suruh May memesan di Restoran depan kantor.”


“Sayang....jangan terlalu lelah ya.” Ucap Kyra yang memberikan perhatian pada suaminya.


“Iya sayang...aku tutup ya sekarang.”


“Iya...”


“Emmuach.” Aditya mencium layar HP-nya di sana.


Ia lalu mematikan HP-nya.


Tiba – tiba Andi mengetuk pintu ruangan Aditya. Tok....tok....tok.


“Masuk.”


Andi masuk ke dalam ketika mendengar suara Aditya di dalam. Ia berjalan menghampiri Aditya yang tengah duduk di kursi kerjanya.


“Tuan....tadi ada Pak Manajer yang menelfon, katanya....

__ADS_1


“Aku tahu.” Aditya memotong ucapan Andi yang belum ia selesaikan itu.


“Apa kita akan pergi ke sana?” Tanya Andi.


“Kita pergi sekarang. Jangan beritahu istrimu kalau kita akan ke bar. Dia pasti akan memberitahu Kyra.”


“Iya tuan.”


“Biarpun tuan tidak mengingatkan saya, saya tetap tidak mengatakan pada Lea kalau kita ke bar. Dia pasti berpikir kalau aku bersenang – senang dengan wanita di sana.” Dalam hati Andi.


Aditya berdiri dari kursi kerja sambil merapikan jasnya.


“Ayo pergi.” Ajaknya dengan datar.


“Baik.” Sambil membungkuk hormat.


Aditya berjalan keluar kantornya bersama Andi yang mengikutinya dari belakang.


Mereka berdua menaiki lift menuju lantai bawah. Tak menunggu lama, mereka sampai di lantai bawah. Aditya berjalan seperti yang biasa ia lakukan begitu pun Andi yang terus mengikutinya dari belakang.


Saat di luar perusahaannya, mobil yang di kendarai Andi sudah terparkir di luar. Seorang pengawal yang mengeluarkan mobilnya dari parkiran hanya berdiri menunggu mereka. Andi dengan sigap membuka pintu mobil untuk Aditya lalu mengambil kunci mobil dari bawahannya itu.


Andi masuk ke dalam kursi pengemudi lalu melajukan mobilnya menuju bar yang dulu mereka tempati berkumpul bersama.


Selama beberapa menit, mobil Andi sampai di depan Bar. Ia memarkirkan mobilnya di parkiran yang ada depan bar. Aditya keluar dari mobil tanpa menunggu Andi membuka pintu mobil untuknya.


Aditya masuk ke dalam bar di ikuti Andi yang berjalan di belakangnya. Mereka masuk ke dalam bar dan mencari ruangan yang di kirimkan Rey lewat pesan pada Andi.


Aditya dan Andi sudah di sambut oleh kedua temannya itu. Dan tentu saja, di sana tidak ada wanita penghibur yang menemani mereka seperti yang selalu mereka lakukan ketika mereka masih kuliah dulu.


Mereka hanya berempat di sana dengan beberapa botol minuman yang sudah memenuhi meja panjang depan sofa yang mereka duduki. Aditya duduk di sofa yang sedikit jauh dari Bagas dan Rey. Ia hanya duduk bersandar tanpa menyentuh botol minuman yang ada di atas meja.


 


 


 


Bersambung.


.


.


.


.

__ADS_1


Ingat tekan LIKE di bawah ya. Berikan KOMEN dan VOTE kalian untuk mendukung author.


__ADS_2