
SELAMAT MEMBACA
Hari pernikahan Bagas dan Tania.
Semua orang sekarang sudah duduk di kursi tamu yang sudah di sediakan. Tempat pernikahan mereka di adakan di Hotel mewah milik Nyonya Sintya.
Nyonya Sintya memang sengaja menawarkan tempat pernikahan untuk Bagas dan Tania tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Semuanya di dekorasi dengan begitu mewah dan indah.
Terlihat Kyra bersama suami dan anaknya duduk di kursi tamu yang paling depan. Di sana juga ada Rey yang duduk di samping Zahila. Di samping mereka duduk Lea dan Andi.
Sementara Nyonya Sintya baru saja masuk ke dalam ruangan. Ia datang bersama dengan Tante Rosa beserta keluarga Tania.
Itu sudah menandakan bahwa pengantin yang sudah sah akan memasuki ruangan pesta.
Ketika Nyonya Sintya dan Tante Rosa duduk di kursi tamu dekat Aditya, tiba – tiba kedua mempelai yang baru saja sah menjadi suami istri masuk ke dalam ruangan. Para tamu berbalik melihat mereka berdua.
“Tania cantik sekali ya.” Gumam Kyra melihat Tania yang di balut gaun putih memanjang ke belakang.
“Kamu juga mau seperti itu.” Sahut Aditya yang melihat wajah senang istrinya.
“Tidak ah.”
“Kenapa?”
“Baju pengantin itu di pakai saat menikah, sedangkan kita sudah menikah.”
“Kalau begitu kita adakan acara pernikahan tahun depan ya.”
“Tidak usah, aku tidak suka. Kita buat acara sederhana saja bersama dengan mereka.”
“Baiklah. Itu terserah istriku saja.” Balas Aditya sambil memegang kepala istrinya dengan wajahnya yang tersenyum.
Bagas dan Tania berjalan melewati Aditya dan Kyra. Kyra pun kembali duduk menghadap ke depan melihat kedua mempelai berdiri di depan para tamunya. Para tamu menyalami mereka secara bergantian.
Selama satu jam, tiba saatnya acara sesi foto mereka berdua. Bagas dan Tania berfoto dengan keluarga mereka masing – masing, baru setelah itu mereka berdua berfoto dengan ketiga temannya. Aditya dan Andi berdiri bersama pasangan mereka. Mereka berdua juga membawa anak – anak mereka.
Di tengah – tengah acara foto terjadi sedikit kekacauan yang di sebabkan kelakuan Rey yang ingin berdiri di samping Zahila sedangkan Zahila ingin berdiri di samping Bagas. Dan tentu saja masalah cepat terselesaikan ketika Aditya menyuruh Rey untuk mengalah.
Mereka akhirnya berfoto bersama – sama dengan senyuman lebar yang mereka tunjukkan.
Tujuh bulan kemudian.
Aditya mengadakan pesta tujuh bulanan istrinya. Ia mengundang banyak orang datang ke pestanya yang di adakan di rumahnya di pinggir pantai.
Kyra duduk di sebuah sofa tunggal dengan gaun putih yang menempel di tubuhnya. Sedangkan Aditya duduk di sofa tepatnya di samping sofa yang di duduki istrinya. Ia duduk di sana bersama Kaila yang saat itu makan es krim strowberry.
Sementara Nyonya Sintya, Zahila dan Rey berada di luar menyambut para tamu yang tak hentinya datang ke rumahnya. Terlihat Bagas dan Tania yang baru saja sampai. Bagas memarkirkan mobilnya di parkiran depan rumah Aditya.
Ia turun dari mobil lalu membuka pintu mobil untuk istrinya yang tengah hamil lima bulan. Tania turun dari mobil sambil memegang tangan Bagas.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Saat di depan pintu, Bagas melihat ke arah Rey sedangkan Tania masuk ke dalam bersama Nyonya Sintya dan Zahila.
“Sedang apa kamu di sini?” Tanya Bagas.
“Kamu tidak lihat, kalau aku berdiri menyambut tamu.”
“Bukannya kamu itu tamu di sini bukan pemilik rumahnya.”
__ADS_1
“Aku juga bagian dari keluarga ini.”
“Sejak kapan?” Tanya Bagas.
“Sebentar lagi kan aku dan Zahila menikah.”
“Huh....memangnya Zahila sudah menerimamu.”
“Belum sih.”Memalingkan wajahnya ke samping karena malu pada temannya yang menanyakan hal yang belum ia dapatkan.
“Sadar dirilah. Itu akibat kenakalanmu sendiri.”
“Memangnya kamu tidak.”
“Tuhan menyanyangiku.” Ejeknya sambil tersenyum.
“Cih...sana masuk temani istrimu.”
“Tentu saja.”
Bagas lalu masuk ke dalam, dimana Kyra dan Aditya berada. Rey baru sadar kalau ia hanya sendirian di sana, ia pun mengikuti Bagas dari belakang. Ketika sampai di sana, acara tujuh bulanan Kyra pun sudah di mulai dengan meriah. Banyak yang memberikannya kado dan doa keselamatan untuknya. Selesai acaranya, para tamu sudah mulai menikmati makanan yang sudah di sediakan di sana.
***
Satu jam kemudian, Aditya, Bagas dan Andi duduk di teras belakang. Di sana mereka berkumpul sambil bercanda bersama dengan pasangan mereka. Di sana juga terlihat Zahila dan Kaila sedang duduk bersama.
Tiba – tiba Rey datang membawa bunga mawar merah 100 tangkai. Ia berjalan menghampiri Zahila yang sedang duduk di samping Kaila.
Ia berlutut di depan Zahila sambil menyodorkan bunga mawar merahnya, Zahila langsung berdiri dengan wajahnya yang syok.
Semua teman – temannya yang ada di sana juga ikut kaget melihat Rey yang tiba – tiba melamar Zahila.
Saat itu Zahila tak bisa berkata apa – apa karena Rey tak pernah mengajaknya pacaran. Bisa di katakan kalau selama ini Rey hanya mengikutinya kemana – mana tanpa ada hubungan yang jelas. Meskipun Rey selalu memanggilnya dengan sebutan istriku tapi menurutnya itu hanya lah candaan semata. Itu juga karena dirinya yang tidak mudah begitu saja menerima Rey.
Zahila lalu menatap Rey dengan serius yang terus berlutut di depannya.
“Kalau aku menikah dengan om, apa om akan memberikan semua harta om padaku?” Tanya Zahila dengan wajahnya yang serius.
“Tentu saja.” Balas Rey sambil tersenyum.
“Cepat sekali jawabnya.” Dalam hati Zahila.
Zahila kembali bicara.
“Kalau begitu, om berikan dulu semua harta om padaku, baru aku akan menikah.”
“Tentu saja nona cantik. Kak Rey akan langsung membalikkan semua harta Kak Rey menjadi namamu.” Dengan wajah senangnya.
Semua orang yang mendengarnya semakin terkejut.
“Om tidak takut kalau aku membawa semua harta om pergi jauh.”
Bagas ikut bicara pada Rey.
“Hei...kau tidak takut kalau adikku akan kabur dengan uangmu. Jangan gegabah begitu kawan. Adikku itu tidak suka padamu tapi suka uangmu.” Godanya sambil sesekali menaikkan alisnya pada Zahila. Ia seperti itu karena sengaja ingin membuat Rey takut.
“Aku tidak takut, selama Zahila bersedia menikah denganku. Akan kuberikan semua yang ku punya. Kalau Zahila kabur, aku kan bisa meminta ganti rugi pada Aditya.”
__ADS_1
“Hei....kenapa kau malah membawa – bawaku. Aku tidak akan melakukan itu, itu kan resikomu sendiri.” Sahut Aditya.
Kyra, Lea dan Tania hanya tertawa melihat mereka yang berdebat.
Sedangkan Zahila langsung mengambil bunga yang di pegang Rey dan berjalan masuk ke dalam tanpa mengatakan apa – apa.
Rey sangat kaget melihat bunganya yang di ambil Zahila.
“Maksudnya apa ini, aku di tolak atau di terima.” Menatap tangannya yang kosong.
“Kamu di gantung. Pindahkan dulu semua hartamu pada Zahila.” Sahut Andi.
Rey langsung berdiri dari sana. “Kalian bertiga benar – benar kelewatan, pasti di antara kalian ada yang mengajari Zahila begitu.”
“Buat apa kita mengajarinya, dia sudah dewasa kan?” Sahut Bagas.
Rey pun masuk ke dalam menyusul Zahila. Dan tentu saja Zahila belum memberikan kejelasan pada Rey. Tapi ia sama sekali tidak membuang bunga yang di berikan Rey, ia menyimpannya di kamar. Di hatinya sudah menerima cinta Rey padanya tapi ia masih perlu pembuktian dari orang yang selalu ia panggil om.
***
Pukul 5:00 sore.
Mereka berempat duduk di tepi pantai bersama pasangan mereka masing – masing menunggu matahari terbenam. Aditya duduk di samping istrinya sambil mengelus perut Kyra.
“Ky...bagaimana kalau kita menjodohkan anak kita. Kemarin aku baru USG dan ternyata anak yang aku kandung berjenis kelamin laki - laki?” sahut Tania yang duduk di samping suaminya. Ia menengok ke arah Kyra yang berada sedikit jauh darinya.
“Benarkah.” Balas Kyra
“Iya.”
Rey ikut menyahut. “Dit, aku ucapkan selamat ya. Karena sebentar lagi kamu akan menghadapi lima perempuan cerewet di rumahmu.” Ucap Rey sambil tersenyum. Ia sengaja menggoda Aditya.
Aditya hanya menatapnya tajam sambil terus mengelus – elus perut istrinya.
Sedangkan Kyra tersenyum mendengar ucapan Rey yang seperti mengejek suaminya.
“Jadi Om Rey mengataiku cerewet juga.” Sahut Zahila yang duduk di sampingnya.
“Eh...siapa bilang, kamu tidak termasuk kok sayang?”
“Huh...” Memalingkan wajahnya dengan kesal.
“Hai...jangan bertengkar terus, sebaiknya kita berdiri melihat mataharinya yang sudah mulai terbenam.” Sahut Andi.
Mereka semua pun berdiri dari tempat duduknya melihat keindahan alam yang ada di depan mereka. Aditya berdiri sambil membantu istrinya berdiri, ia melingkarkan tangannya di belakang, memeluk pinggang Kyra begitu pun dengan Kyra yang melingkarkan tangannya di belakang memeluk pinggang suaminya.
Pemandangan yang mereka lihat membuat mereka tersenyum bahagia.
Kyra menatap lurus ke depan melihat matahari yang terbenam di sana dengan wajahnya yang tersenyum.
“Suka duka yang selama ini kita lewati membuat kita sadar bahwa di dunia ini tidak ada kehidupan yang begitu sempurna. Jika ingin mendapatkan kehidupan yang seperti itu maka siap – siap lah untuk menahan penderitaan yang begitu hebat. Perjalanan kami tidak sampai di sini saja, masih banyak yang harus kita lalui ke depannya. Meskipun begitu, kami semua akan menghadapinya dengan sabar. Kepercayaan dan kesetiaan yang akan membuat kita bisa melewatinya jika suatu hari tuhan memberikan kita cobaan lagi.” Dalam hati Kyra.
Ia lalu mengangkat kepalanya melihat suaminya. “Seperti halnya cinta kami, kami bisa melewatinya dengan penuh penderitaan dan air mata. Bahkan kita berdua bisa melewati perpisahaan selama bertahun – tahun membuat cinta kami semakin kuat jika suatu hari kami di hadapkan suatu masalah.” Dalam hati Kyra.
Aditya menatap istrinya yang terus melihatnya itu. Ia kemudian mencium kening istrinya.
End.
__ADS_1