Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 63 Beautiful Romance 2


__ADS_3

Jangan lupa like and koment kalian ya.


SELAMAT MEMBACA


Saat Aditya dan Bagas duduk di sofa, Rey langsung duduk di tengah – tengah mereka berdua dan melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Bagas dan Aditya. Ia memeluk kedua sahabatnya itu.


“Hei....lepaskan aku brengsek.” Teriak Aditya yang risih dengan tingkah Rey.


Rey tidak peduli dengan Aditya. Ia semakin mempererat pelukannya di sana.


“Akhirnya kakak pertama dan kakak kedua sudah baikan ya.” Rey tersenyum melihat Aditya dan Bagas secara bergantian.


“Berhenti memanggilku seperti itu. Aku jijik mendengarnya.” Kesal Aditya dengan panggilan Rey kepadanya.


Kyra, Andi dan Tania hanya tersenyum melihat Aditya yang kesal dengan Rey begitu pun dengan Bagas yang hanya bisa tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.


Dulu waktu mereka mulai berteman sampai mereka kuliah, Aditya memang sering kesal saat Rey memanggilnya kakak pertama, karena ia tidak suka dengan panggilan itu. Tapi Rey tetap bersikeras memanggilnya dengan panggilan yang menurut Aditya sangat menjijikkan.


***


Saat kotak obatnya sudah di bawa oleh pelayannya, Kyra langsung mengambilnya dan meletakkannya di depan mereka berdua. Ia dan Tania duduk di samping pasangan mereka masing – masing sambil mengobati wajah mereka yang babak belur. Sedangkan Rey kembali berdiri di depan mereka tepatnya di samping Andi.


“Ssssttt....A...a...a. Sakit sayang.” Dengan manjanya pada Kyra yang tengah memberikan salep di wajahnya yang terluka.


“Kenapa kamu manja sekali sih. Lihat Mas Bagas, dari tadi dia tidak mengeluh?” Tanya Kyra yang terus mengobati semua luka di wajah suaminya.


“Huh....itu karena aku memukulnya dengan pelan. Jadi dia tidak merasakan sakit sama sekali?” Dengan wajah cemberut melihat istrinya.


Bagas yang banyak menderita karena pukulan Aditya hanya santai – santai saja saat Tania mengobatinya tapi Aditya seakan menderita luka yang sangat parah. Ia terus memasang wajah kesakitan di depan Kyra.


Rey yang melihat mereka berdua kemudian bertanya kepada Bagas dan Aditya.


“Jadi siapa nih yang kalah di antara kalian berdua?”


Secara bersamaan. “Aku.”


Andi dan Rey kaget mendengar jawaban mereka berdua.


“Ini bagaimana sih. Biasanya orang berkelahi itu, membanggakan dirinya kalau dia menang. Lah....kenapa kalian malah suka kalau kalian kalah?” Sambil mengerutkan keningnya.


Bagas dan Aditya hanya diam saja mendengar Rey mengatakan itu. Bagas diam karena ia memang berkata jujur sedangkan Aditya ingin memperlihatkan pada istrinya dan yang lainnya kalau dia adalah korban.


Rey kembali bicara pada mereka berdua.


“Terus siapa yang paling banyak menerima pukulan?”


“Dia.” Secara bersamaan saling menunjuk satu sama lain.


Rey langsung memegang kepalanya melihat tingkah mereka berdua.


“Aku pusing melihat kalian. Di tanya siapa yang kalah, kalian sama – sama bilang kalah. Di tanya siapa yang banyak menerima pukulan, kalian sama – sama saling tunjuk. Haaaaaa.....” Menghela nafasnya dengan kasar.


“Kalau pusing. Pulang sana, kenapa kamu di rumahku terus?” Teriaknya dengan kesal melihat Rey.


Kyra langsung memukul lengan suaminya.


Aditya langsung melihat Kyra dengan wajahnya yang kaget.


“Sakit sayang.” Sambil mengusap – usap lengannya.


“Kamu kenapa sih dari tadi marah – marah terus?”


“Egehm.” Suara Bagas sambil melirik Aditya.


Aditya langsung diam ketika mendengar suara Bagas di sampingnya.

__ADS_1


“Tahan Aditya.....tahan emosi. Tersenyum.” Dalam hati Aditya.


Ia kemudian tersenyum lebar pada Rey. Rey dan Andi sampai kaget melihatnya.


“Kenapa dia?” Dalam hati Rey dengan ekspresi kagetnya.


“Astaga.....kalau aku melihat kakak begini. Perasaanku jadi tidak enak. Apa ini tanda kiamat ya.” Dalam hati Andi.


Sedangkan Bagas hanya tertawa kecil sambil memalingkan wajahnya karena tak ingin memperlihatkan pada mereka.


Tiba – tiba Zahila berlari dari lantai atas bersama dengan Lea. Ia berlari menuruni tangga untuk datang menghampiri Bagas sedangkan Lea hanya berjalan santai ke arah mereka semua. Rey yang melihat itu langsung datang menghampirinya.


“Zahila....kamu jangan lari – lari begitu.”


Zahila langsung berhenti sambil memegang jantungnya. Ia kemudian melihat Rey yang sudah ada di depannya itu.


“Apaan sih. Kenapa teman Kak Adit sok dekat begini. Dari kemarin dia terus seperti ini?” Dalam hati Zahila yang melihat Rey.


Ia kemudian melanjutkan langkahnya menghampiri mereka. Ketika sudah ada di depan mereka semua, Zahila langsung memeluk Bagas.


“Pelan – pelan dek. Badanku sakit semua.” Sambil meringis kesakitan.


Zahila langsung melepaskan pelukannya dari Bagas.


“Maaf....habis aku kangen sekali sama Mas Bagas. Tadi waktu Mas Bagas datang, tidak bisa peluk begini.” Manjanya.


“Sini duduk.” Sambil menepuk – nepuk di samping kanannya tepatnya di tengah – tengah ia dan Aditya.


Zahila duduk di sana sambil memegang lengan Bagas. Ia bersandar di sana.


Rey langsung menarik tangan zahila sampai Zahila berdiri. Bagas terlihat kaget dan bingung melihat tingkah Rey itu.


“Ada apa sih om?” Tanya Zahila dengan ekspresi bingung.


“Om...” Ucap Rey dengan wajah kagetnya.


“Kalian berdua bermesraan seperti pasangan saja. Kamu tidak kasihan dengan tunanganmu yang duduk di sampingmu itu.” Ucap Rey pada Bagas.


“Tidak apa – apa kok. Zahila memang sudah biasa seperti itu. Apalagi dia adiknya Kak Bagas. Aku sama sekali tidak masalah.” Sahut Tania dengan santainya.


“Kalian kan tidak ada hubungan darah.” Ucap Rey.


Zahila kembali duduk di samping Bagas dan Aditya. Sedangkan Aditya langsung menatap Rey dengan tatapan tajam.


Rey tak sadar kalau masih ada Aditya duduk di sana. Ia refleks melakukan hal tadi tanpa memikirkan hal lain.


“Andi..” Tegasnya yang tak pernah melepaskan tatapannya pada Rey.


“Ya...”


Rey langsung kaget. Ia baru sadar dengan tatapan Aditya kepadanya.


“Gawat.” Dalam hati Rey sambil memalingkan wajahnya karena tak ingin di tatap Aditya.


Aditya kembali bicara pada Andi.


“Bagaimana dengan penjualan


bulan ini?” Tanya Aditya yang masih menatap Rey.


“Sama seperti bulan lalu.”


“Suruh si Manajer tidak becus itu untuk meningkatkan penjualan bulan ini sampai 20 persen.”


“Apa?” Rey berbalik melihat Aditya.

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya Aditya dengan datarnya.


“Hei....kamu sudah gila ya. Empat hari lagi sudah pergantian bulan. Sama saja kamu menyuruhku membuat keajaiban.”


“Kalau kamu tidak bisa melakukannya. Kamu tidak di ijinkan datang ke sini selamanya.”


“Cih....tidak datang kesini selamanya. Ya sudah, aku masih punya cara lain. Huh.....kamu pikir aku akan menyerah begitu saja.” Dalam hati Rey.


“Sayang....kenapa kamu tiba – tiba membicarakan pekerjaan sekarang?” sahut Kyra melihat suaminya.


Aditya langsung berbalik ke samping melihat istrinya. “Haaaa.....aku pikir kamu sudah dewasa sayang. Tapi ternyata kamu masih polos, kamu tidak bisa melihat serigala berkepala tiga di depanmu ini yang sebentar lagi akan memakan adikmu.” Dalam hati Aditya.


“Kenapa kamu cuma menatapku begitu?”


“Tidak apa – apa.” Sambil mengusap pipi istrinya.


Bagas yang masih duduk di samping Aditya kemudian berdiri dari tempat duduknya diikuti Tania yang juga ikut berdiri sambil memegang lengan Bagas membantu menahan tubuhnya.


“Sebaiknya aku pulang bersama Tania. Aku langsung ke sini tadi saat sampai di bandara.” Ucap Bagas kepada mereka semua.


Kyra berdiri mendengar Bagas yang sudah ingin pulang bersama Tania.


“Mas Bagas di sini dulu. Kita makan malam sama – sama.”


“Lain kali saja Ky. Aku belum bertemu sama orang tua Tania. Apalagi mereka tahu kalau aku datang.”


“Oh....baiklah.”


Bagas kemudian melihat Zahila yang juga berdiri di depannya.


“Ila....aku pergi dulu ya. Besok aku suruh orang bawa berkasmu ke sini. Masih ada di dalam koper. Aku tidak bisa membongkarnya sekarang. Kamu belum memerlukannya kan.”


“Iya mas.”


Ia kemudian melihat ke arah Aditya. “Hei...jangan lupa yang ku minta.”


“Eem.” Sambil melihat Bagas yang berdiri di sampingnya.


“Aku pergi ya.”


“Pergilah.” Dengan wajah datarnya.


Bagas hanya menggeleng – gelengkan kepalanya melihat Aditya seperti itu. Ia lalu meninggalkan mereka semua bersama Tania.


Saat Bagas dan Tania berjalan keluar, Aditya kemudian melihat Andi.


“Hei....kamu juga pergilah.”


“Ini kan masih jam kerja.”


“Kamu libur saja. Istrimu itu sudah menunggumu dari tadi.”


“Baiklah.”


Aditya kemudian melihat ke arah Rey yang terus menatap Zahila di sofa.


Aditya langsung menendang kaki sahabatnya itu.


Rey sangat kaget.“Ada apa sih?”


“Kamu kenapa tidak pulang, apa lagi yang kamu tunggu. Sana pergi?”


“Cih....” sambil melihat Aditya dengan kesal.


Ia ikut pergi bersama Andi dan Lea yang masih tak begitu jauh dari mereka.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2