
Aditya sudah berada didalam ruangannya bersama dengan Andi. Ia duduk dikursi kerjanya sambil mengerjakan pekerjaan kantornya sedangkan Andi sedang berdiri didepannya. Ia tiba – tiba teringat tentang sekolah anaknya. Ia menghentikan aktivitasnya itu dan berbicara kepada Andi untuk mencari sekolah bagus untuk anaknya.
“Andi...” Panggilnya.
“Ia...tuan.”
“Carikan sekolah terbaik untuk Kaila di sini. Tahun ini dia seharusnya sudah bisa masuk SD.”
“Baik tuan...”
“Carikan juga pengawal pribadi untuknya.”
“Baik tuan...tapi apa ada kriteria khusus untuk pengawal pribadi Nona Kaila?”
“Pertama, dia harus terlatih sebagai seorang pengawal. Kedua, dia harus menyukai anak – anak supaya anakku merasa nyaman dengannya. Ketiga, wajahnya yang biasa – biasa saja jangan sampai wajahnya membuat anakku takut. Dan terakhir, dia harus siap siaga jika sewaktu – waktu Kaila membutuhkannya. Carilah orang yang seperti itu.” Jelasnya dengan tegas.
“Baik....apa tidak ada lagi?”
“Eem....pergilah.”
“Baik....”
Tiba – tiba Aditya teringat satu hal yang belum ia katakan pada asistennya itu.
“Tunggu..”
Andi berhenti dan berbalik kearah Aditya.
“Ia Tuan.”
“Pengawalnya harus wanita dan sudah menikah.”
“Tapi tuan....pengawal wanita yang sudah menikah sepertinya jarang sekali yang mau bekerja tanpa ada jam kerja yang ditentukan.”
“Pokoknya kamu harus mencari pengawal wanita. Berapapun bayarannya kamu penuhi saja. Aku tidak mau menyewa pengawal pria yang seenaknya berkeliaran disekitar istriku. Zaman sekarang itu banyak sekali orang yang ingin menghancurkan kita.”
“Apa Anda tidak mempercayai Nyonya Kyra?”
“Bukan tidak mempercayainya tapi aku harus hati – hati kan. Istriku itu cantik dan gampang percaya pada orang.”
“Haaaa....kakak ipar memang cantik tapi tidak semua pria juga menyukainya kan. Kakak sangat berlebihan, dimana aku bisa mencari pengawal yang seperti itu untuk Kaila apalagi persyaratannya banyak sekali. Ya tuhan....ini tugasku yang sangat berat.” Dalam hati Andi.
“Kenapa diam saja, sana pergi?”
“Baik....”
Andi pun pergi meninggalkan Aditya yang masih duduk di ruang kerjanya. Sedangkan Aditya melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda tadi.
Selama 30 menit ia duduk disana sambil memeriksa dokumennya. Tiba – tiba Rey mengetuk pintu ruang kerjanya.
“Masuk...”
Rey masuk ke dalam ruangan kerja Aditya setelah menekan tombol otomatis yang ada digagang pintu ruang kerja Aditya.
Ia berjalan kearah Aditya sambil memegang sebuah dokumen. Ia langsung meletakkan dokumennya didepan Aditya.
“Ini dokumen apa?” Tanya Aditya sambil meraih dokumennya yang Rey letakkan di meja kerjanya.
“Proyek kita yang ada di Prancis.”
“Apa ada masalah?” Tanya Aditya sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Pak Delard ingin bertemu denganmu sebelum menyetujui proyeknya.”
“Kapan?”
“Lusa...”
“Aku tidak bisa pergi, kamu saja yang pergi.”
“Ini proyek yang senilai 25 miliar. Kalau kamu tidak pergi, dia tidak akan bersedia melakukannya.”
“Kalau begitu batalkan saja proyeknya, hanya rugi 25 miliar kan. Sekarang aku tidak bisa meninggalkan istri dan anakku hanya karena masalah begitu.”
“Ini bukan masalah uangnya. Bukankah kamu sendiri yang menginginkan proyek ini berjalan sesuai keinginan Tuan Agung. Proyek yang belum diselesaikan Tuan Agung sebelum meninggal. Tentang Kyra dan Kaila, kamu tenang saja. Aku akan menjaga mereka berdua, lagipula mereka tidak akan bisa kemana – mana kan.” Ucap Rey dengan serius.
Aditya menghela nafasnya setelah mendengar nama ayahnya. Ia kembali bicara pada Rey.
“Baiklah....aku akan pergi. Besok kamu harus memindahkan istriku di sini sebagai sekertaris.”
“Tenang saja, aku akan melakukan semuanya.”
“Pergilah....aku akan menunggu Andi sebentar.”
“Oke....”
Rey pergi dari ruangan Aditya setelah mengatakan masalah pekerjaannya itu.
Tak lama kemudian, Andi kembali dari tugasnya. Ia langsung masuk ke dalam ruangan kerja Aditya.
“Bagaimana....apa tugasmu sudah selesai?”
“Saya baru mendaftarkan sekolah baru untuk Nona Kaila dan masalah pengawal pribadinya baru bisa datang dua hari lagi tuan. Saya menghubungi pusat pengawal pribadi, mereka akan memberikan pengawal pribadi dalam dua hari lagi seperti yang Anda minta.”
“Apa terjadi sesuatu dengan proyeknya tuan?”
“Dia ingin bertemu denganku sebelum menyetujui proyeknya. Kalau bukan karena proyek papi, aku tidak akan bekerja sama dengan orang seperti itu.”
“Baik....akan saya urus secepatnya.”
“Eem.....lebih cepat lebih baik.”
“Baik...”
Andi pergi meninggalkan Aditya di ruangannya dan mempersiapkan penerbangannya ke Prancis. Sedangkan Aditya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.
***
Pukul 11:00 siang, Kyra masih bekerja diruangannya bersama 4 bawahannya. Ia terkejut ketika tahu dari salah satu bawahannya kalau mereka berempat akan dipindahkan ke kantor cabang besok karena tidak bisa menyelesaikan penjualan seperti yang diinginkan Aditya.
Karena marah dengan keputusan Aditya itu, akhirnya ia naik ke lantai atas untuk menolak keputusan Aditya.
Ketika sampai diatas ia langsung mendatangi May yang tengah sibuk bekerja.
“May...apa Tuan Aditya ada didalam?”
“Tuan Muda baru selesai rapat nona, mungkin sedang istirahat didalam.”
“Terima kasih...kalau begitu aku masuk yah.”
“Baik nona.”
Kyra mengetuk pintu ruang kerja Aditya.
__ADS_1
“Masuk..”
Kyra menekan tombol pintu ruang kerja Aditya dan secara otomatis pintunya pun terbuka. Ia langsung masuk ke dalam dan berjalan menghampiri Aditya yang tengah sibuk memeriksa dokumen – dokumennya.
Ia menghentikan kesibukannya saat Kyra sudah berada tepat didepannya.
“Kamu ada masalah apa?”
Tanpa bertele – tele, Kyra mengatakan tentang keputusan Aditya.
“Bukankah cuma aku yang akan dipindahkan besok. Kenapa semua karyawan yang menjadi timku dipindahkan ke kantor cabang dan diturunkan jabatannya.”
“Ini adalah bisnis, mereka tidak bisa membantumu menyelesaikan pekerjaannya, tentu saja harus dipindahkan. Masih untung aku menurunkan mereka dan memindahkannya dikantor cabang daripada harus kupecat.”
“Tapi ini tidak adil untuk mereka.”
“Aku tidak peduli. Satu hal yang kamu tahu, aku disini berbisnis bukan melakukan amal. Kalau mereka tidak menguntungkan bagi perusahaan, maka harus terima resikonya. Mereka sudah menerima gaji yang tinggi di perusahaan ini dan tugas mereka hanya mengeluarkan ide – ide mereka bukan menerima gaji buta.” Jelasnya dengan tegas.
“Tapi aku dan mereka sudah meningkatkan penjualan perusahaan ini meskipun tidak mencapai target yang kamu inginkan. Itu sudah merupakan pencapaian yang besar bagi mereka.”
“Aku tidak sembarangan memindahkan mereka hanya karena tugas yang tidak bisa kamu selesaikan. Kamu pikir aku tidak mengetahui semua kemampuan karyawanku disini. Kalau kamu tidak setuju, kamu tinggal berhenti kerja bersama mereka. Keputusanku tidak akan pernah kuubah.”
Mendengar Aditya mengatakan itu membuat Kyra tidak bisa mengatakan apa – apa lagi. Ia takut kalau ia membantah keputusan Aditya membuat timmnya dipecat. Ia hanya bisa pasrah menerima keputusan Aditya itu.
“Baiklah.....terserah padamu. Aku memang cuma karyawan disini, tidak punya hak sama sekali. Maaf karena sudah mengganggu.”
Aditya hanya bisa memejamkan matanya mendengar ucapan istrinya. Sedangkan Kyra berbalik dan berjalan menuju depan pintu keluar setelah mengatakan itu pada Aditya.
Tiba – tiba Aditya berdiri dan memanggilnya.
“Tunggu...”
Kyra berbalik ke belakang melihat Aditya.
“Apa ada masalah lagi Tuan Aditya?” Tanya Kyra dengan wajahnya yang serius.
“Malam ini aku akan berangkat ke Prancis. Tolong katakan pada Kaila kalau aku tidak bisa menemaninya bermain.”
“Baiklah...”
“Hanya itu jawabanmu.”
“Memangnya saya harus mengatakan apa lagi, tuan.”
“Bicaralah seperti biasanya.”
“Ini masih jam kerja, saya harus bersikap sopan didepan atasan saya kan.”
“Terserahlah.....tapi kamu tidak ingin mengatakan apa – apa sebelum aku pergi.”
“Semoga Anda sampai dengan selamat.”
“Keluarlah...” Perintahnya dengan wajahnya yang terlihat kesal karena ucapan Kyra.
“Baik....”
“Dasar wanita tidak perhatian.” Gumamnya dengan kesal karena ia berharap kalau Kyra bisa mengatakan lebih dari itu padanya.
Kyra pun pergi meninggalkan ruang kerja Aditya dengan perasaannya yang kecewa dan kesal dengan keputusan Aditya. Tapi itu lebih baik menurutnya daripada Aditya memecat mereka. Meskipun ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya kepada para karyawan yang bekerja dibawahnya tapi mau bagaimana lagi. Menurutnya ia tidak punya hak untuk mengatur Aditya yang menjadi atasannya sekarang.
Bersambung.
__ADS_1