Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 38 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA, LIKE AND VOTE YAH😊😚😘


Ketika Dr. Robert sudah ada didalam kamar Aditya, ia langsung memeriksa keadaan Aditya sedangkan Kyra hanya bisa memperhatikan Dr. Robert memeriksa suaminya.


Ia berdiri bersama dengan pelayannya tadi dengan wajahnya yang terlihat sangat gelisah.


“Dok...bagaimana keadaan suami saya?” Tanya Kyra dengan khawatir.


Dr. Robert langsung berdiri didepan Kyra sambil menatapnya dengan heran.


“Maaf nona. Anda ini siapa?” Tanya Dr. Robert.


“Saya istrinya. Bagaimana keadaan suami saya dok?” Tanya Kyra kembali.


“Jadi Tuan Muda benar – benar punya istri. Kenapa baru muncul sekarang?” Dalam hati Dr. Robert.


“Dok...suami saya baik – baik saja kan.”


“Oh....Tuan Muda baik – baik saja nyonya. Hanya perlu istrirahat beberapa hari dan menjaga pola makannya dengan baik.” Jelasnya


“Memang apa yang terjadi padanya sampai dia pingsan tadi?”


“Dia terkena Gastritis nona. Tapi tidak terlalu parah. Dia pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakit dilambungnya”


“Apa....Gastritis?” dengan wajahnya yang kaget.


“Mungkin gara – gara alkohol dan stress nyonya. Apalagi Tuan Muda punya penyakit Insomnia. Tuan Muda selalu minum obat tidur setiap malam supaya dia bisa tidur nyenyak. Karena Anda sudah disini, Anda harus menjaga pola makan Tuan Muda. Kurangi minum alkohol, kalau bisa Anda harus melarang Tuan Muda untuk minum alkohol. Saya dan pelayan disini sudah sering mengingatkan Tuan Muda untuk mengurangi minum alkohol tapi beliau tidak pernah mendengarkan kami. Mungkin Tuan Muda bisa mendengarkan Anda, nyonya. Kalau ke depannya Tuan Muda tidak bisa menjaga kesehatannya dengan baik, Gastritisnya mungkin akan semakin parah. Kita bersyukur karena penyakitnya tidak terlalu parah masih bisa ditangani dengan obat – obatan.”


“Ya tuhan....kenapa dia bisa jadi seperti ini?” Ucapnya dengan wajahnya yang terlihat sedih.


“Tenang nyonya. Saya sudah memberikan antibiotik untuk mengurangi rasa sakitnya. Saya juga akan meresepkan obat untuk Tuan Muda. Perawat saya juga akan memasang infus selama beliau tidak sadarkan diri.”


“Terima kasih banyak. Tapi apa dia tidak dibawa ke rumah sakit saja dok."


"Tidak perlu nyonya. Saya akan disini berjaga. Semua peralatan sudah saya bawa apalagi Tuan Muda tidak suka dibawa ke rumah sakit. Kalau besok sakitnya kambuh lagi, baru kita akan bawa ke rumah sakit."


"Terima kasih dok."


“Ia nyonya. Saya dan perawat saya akan berjaga diluar. Kalau ada apa – apa panggil saya saja.”


"Baik dok."


"Kalau begitu kami permisi nyonya.”


“Ia...”


Dokter Robert dan kedua perawatnya pun keluar dari kamar Aditya.


Dr. Robert dan para pelayan di rumahnya memang tahu kalau Aditya suka minum – minum dan sering lupa makan kalau sudah sibuk bekerja. Mereka juga sering mengingatkan tuannya itu tapi Aditya tidak pernah mendengarkan mereka, yang penting kegelisahannya hilang dan pikirannya bisa tenang. Ia tidak akan peduli dengan yang lainnya.


Setelah Dr. Robert keluar......Kyra kembali duduk disamping Aditya sambil memegang tangannya. Ia kemudian berbicara kepada pelayannya tadi yang masih berdiri didekatnya.


“Bu...apa saya boleh minta tolong untuk mengambilkan air hangat di baskom kecil. Saya ingin membersihkan tubuh suami saya. Dia sangat suka kebersihan pasti dia akan merasa tidak nyaman kalau dia bangun nanti dan mendapati tubuhnya yang lengket karena keringat.”


“Baik nyonya.” Balasnya sambil membungkuk hormat.


“Terima kasih bu.”


“Ia nyonya. Ini memang sudah tugas kami.”


Pelayannya itu pun pergi mengambilkan air hangat untuk Aditya sedangkan Kyra masih memegang tangan suaminya sambil menatapnya dengan sedih.


“Ini semua salahku sampai kamu seperti ini. Maaf Dit....aku minta maaf.” Ucapnya sambil menangis.


Ia kemudian mengangkat tangan Aditya dijidatnya sambil terus memegangnya dan menundukkan kepalanya.


Tiba – tiba pelayannya tadi masuk sambil membawa air hangat dibaskom kecil yang ia pegang.

__ADS_1


“Nyonya...."


Kyra langsung berdiri ketika melihat pelayan itu yang bernama Bu Marta.


“Bu......


“Panggil saya Bu Marta saja nyonya.”


“Oh...ia bu. Apa itu air hangat yang tadi saya suruh Bu Marta bawakan?” Tanya Kyra sambil menunjuk air yang dipegang Bu Marta.


“Ia nyonya”


“Terima kasih....biar saya saja yang melakukannya.”


“Baik nyonya.” Balasnya sambil meletakkan air hangatnya dimeja dekat tempat tidurnya.


Kyra mulai membuka kanci baju suaminya. Ia kemudian mengompres tubuh Aditya dengan handuk yang sudah ia basahi dengan air hangat sedangkan Bu Marta berdiri disamping Kyra sambil memperhatikannya.


Ia kemudian berbicara kepada Kyra yang tengah sibuk mengompres tubuh Aditya.


“Saya bersyukur akhirnya Tuan Muda membawa nyonya kemari. Tuan Muda pernah bilang kalau dia membangun rumah ini untuk keluarga kecilnya. Sekarang rumah ini tidak akan sunyi lagi dengan kehadiran nyonya disini.”


Kyra menghentikan kesibukannya dan menatap Bu Marta.


“Rumah ini dia bangun sendiri.”


“Ia nyonya. Tiga tahun yang lalu Tuan Muda membangun rumah ini. Setiap Tuan Muda pulang kesini saya selalu melihatnya termenung dibelakang rumah sambil menatap laut. Tuan Muda bilang kalau istrinya sangat suka laut, jadi beliau membangun rumah di pinggir pantai." Ucapnya sambil melihat Kyra yang menunduk sambil memegang tangan suaminya.


Bu Marta melanjutkan kembali ucapannya.


"Ruang Kerja Tuan Muda dipenuhi alkohol, kami tidak berani menyentuhnya. Tuan Muda juga jarang menyentuh makanan kalau pelayan disini memasak untuknya, dia hanya menyibukkan dirinya dengan bekerja. Kalau tidak minum kopi, Tuan Muda pasti minum alkohol. Mungkin karena itu Tuan Muda bisa jatuh sakit sekarang. Apalagi Tuan Muda tidak pernah mendengarkan kami disini. Kalau dia sudah bekerja pasti akan melupakan waktu makannya. Kami tidak berani menasehatinya kalau Tuan Muda sudah sibuk bekerja. Kami hanya bisa menyiapkan makanannya saja setiap saat.” Jelasnya


Tanpa sadar....Kyra menangis mendengar ucapan Bu Marta.


“Semuanya salahku. Hiks....hiks.....hiks....dia seperti ini karena aku. Kalau aku tidak meninggalkannya dulu, dia tidak akan seperti ini. Semuanya salahku. Aku memang wanita yang bodoh.”


Kyra langsung berdiri dan membungkuk didepan Bu Marta.


“Terima kasih karena sudah menjaganya selama ini. Terima kasih banyak.”


“Nyonya Muda...apa yang Anda lakukan?” Ucapnya sambil memegang kedua bahu Kyra dan mengangkatnya agar Kyra tidak membungkuk kepadanya.


“Itu sudah menjadi tugas kami disini. Anda tidak perlu berterima kasih kepada kami, nyonya.”


“Biarpun itu tugas kalian, saya tetap berterima kasih. Saya juga minta maaf karena sudah membentak Bu Marta tadi.”


“Ia..nyonya, tidak masalah. Saya mengerti kalau Anda sangat khawatir tadi.” Balasnya sambil tersenyum.


“Terima kasih. Bu Marta boleh istirahat sekarang, biar saya yang menjaga disini”


“Baik nyonya.”


Kyra kembali duduk disamping Aditya sambil mengelus kepala suaminya dengan lembut sedangkan Bu Marta masih berdiri memandang Kyra yang begitu perhatian kepada Tuan Mudanya.


“Nyonya Muda benar – benar orang yang baik. Pantas saja Tuan Muda selalu menunggunya selama bertahun – tahun. Aku baru pertama kali bertemu dengannya tapi sudah menyukai sikapnya yang sopan.” Dalam hati Bu Marta.


Ia kemudian pamit kepada Kyra.


“Kalau begitu saya permisi nyonya.”


“Ia...terima kasih bu.”


Bu Marta hanya tersenyum mengangguk didepan Kyra. Ia kemudian pergi meninggalkan Kyra yang masih berdiri didalam kamarnya.


Ketika Bu Marta keluar, ia menghubungi Nyonya Sintya lewat telfon rumah untuk memberitahu kalau Aditya sekarang jatuh sakit.


Suara Telfon.

__ADS_1


“Halo nyonya.”


“Ada kabar apa?”


“Tuan Muda tadi pingsan nyonya.”


“Apa....pingsan. Kenapa Aditya bisa pingsan?”


“Tuan Muda kena Gastritis nyonya.”


“Bagaimana keadaannya sekarang. Apa penyakitnya parah?” Tanya Nyonya Sintya dengan suaranya yang terdengar khawatir.


“Tuan Muda baik – baik saja nyonya. Disini ada Nyonya Muda yang menjaganya. Anda tidak perlu khawatir.”


“Kamu bilang apa tadi. Nyonya Muda, apa kamu sedang pikun sekarang.”


“Benar nyonya. Tuan Muda yang membawanya sendiri kesini. Walaupun saya tidak pernah melihat Nyonya Muda tapi saya sering melihat fotonya di ruang kerja Tuan Muda. Itu benar – benar Nyonya Muda.”


“Sudahlah...aku kesana sendiri untuk membuktikan ucapanmu itu.”


“Baik nyonya.”


Telfonnya pun ditutup.


Semenjak rumah baru Aditya ditempati, Nyonya Sintya memang sengaja menyewa Bu Marta untuk menjaga Aditya dan melaporkan kalau terjadi apa – apa pada anaknya itu seperti sekarang ini.


***


Rumah Keluarga Sinatria.


Wajah Nyonya Sintya terlihat syok saat Bu Marta tadi mengatakan padanya kalau Kyra ada bersama dengan Aditya di rumahnya yang ada dipinggir pantai.


“Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau anak kurang ajar itu kembali. Apa Aditya sengaja menyembunyikannya dariku?” Gumamnya dengan wajahnya yang terlihat marah dan kaget.


Ia kemudian memanggil Pak Mustang.


“Pak Mus.....Pak Mus.” Teriaknya dengan keras. Pak Mustang tak kunjung datang. “Dimana sih orang itu, apa dia sudah pulang?” Gumamnya.


Ia keluar kamarnya dan memanggil kembali Pak Mustang sambil melihat ke lantai bawah.


“Pak Mus....Pak Mus. Kau masih dibawah kan.” Teriaknya yang semakin keras.


Pak Mus langsung berlari naik ke lantai atas.


“Maaf nyonya. Saya tadi ketiduran di kamar bawah. Ada apa nyonya?” Tanya Pak Mustang yang sudah berdiri didepan Nyonya Sintya.


“Kita ke rumah Aditya sekarang.”


“Ini kan sudah jam setengah 12 malam nyonya”


“Kita pergi sekarang.” Tegasnya.


“Ada masalah apa nyonya sampai nyonya ingin pergi tengah malam begini?” Tanya Pak Mustang yang semakin penasaran.


“Kyra sudah kembali. Dia sekarang berada di rumahnya Aditya. Anak kurang ajar itu akhirnya kembali bahkan dia tidak pernah mengunjungiku selama dia kembali.”


“Nona Muda sudah kembali, nyonya. Akhirnya Nona Muda kembali, nyonya. Tuan Muda sekarang pasti akan baik – baik saja.” Balasnya dengan wajahnya yang terlihat sangat senang.


“Aku akan memberikan pelajaran pada anak sialan itu. Berani sekali dia tidak menganggapku orang tuanya.”


“Haaaaa....saya mengerti perasaan nyonya yang kecewa pada Nona Muda. Dia pergi tanpa bertemu langsung dengan nyonya dan hanya mengirim pesan saja. Aku tidak tahu hukuman apa yang akan diberikan nyonya pada Nona Muda. Semoga saja Nona Muda bisa mengerti kemarahan nyonya kepadanya.” Dalam hati Pak Mustang.


“Kenapa kau diam saja. Ayo kita pergi.”


“Oh...baik nyonya.”


Nyonya Sintya pun pergi menuju rumah Aditya bersama dengan Pak Mustang asistennya. Wajahnya terlihat sangat marah mendengar kabar Kyra yang kembali tanpa ia tahu sama sekali.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2