Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 41 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA, VOTE AND LIKE YA


Nyonya Sintya masuk ke dalam kamar Aditya bersama dengan Andi dan Dr. Robert.


Mereka bertiga sudah melihat perawatnya yang membantu Aditya bersandar di tempat tidurnya. Aditya bersandar dengan alas bantal dibelakang punggungnya yang sudah diberikan perawatnya tadi sambil memegang perutnya yang masih terasa sakit.


“Aditya....kenapa kamu langsung bangun dan duduk begitu?” Tanya Nyonya Sintya yang berjalan kearah anaknya itu.


“Aku sudah tidak apa – apa mi.” Balasnya sambil menatap ibunya.


“Tapi kan kamu baru sadarkan diri nak. Kalau kamu langsung duduk begitu, sakit perutmu akan kambuh lagi.”


“Mami tidak lihat kalau aku hanya menyandarkan tubuhku saja.”


“Baiklah....terserah kamu tapi biarkan Dr. Robert memeriksa keadaanmu dulu. Kalau keadaanmu masih seperti kemarin. Kamu sebaiknya menuruti perkataan mami.”


“Baiklah....”


“Dok...cepat periksa dia kembali.”


“Baik nyonya. Saya akan periksa keadaan Tuan Muda dulu.” Sahut Dr. Robert.


Nyonya Sintya berjalan mundur ke belakang dan membiarkan Dr. Robert memeriksa keadaan Aditya. Ia memeriksa tubuh Aditya sambil menekan dengan pelan perut Aditya yang masih terasa sakit.


“Apa masih sakit kalau saya tekan begini, tuan?” Tanya Dr. Robert sambil melihat wajah tuannya itu.


“Sedikit....tapi tidak terlalu sakit seperti kemarin.”


“Syukurlah....” Ucap Dr. Robert dengan wajahnya yang terlihat lega.


Ia berhenti menekan perut Aditya kemudian berdiri tegak didepan mereka semua.


“Bagaimana dok. Apa penyakit Aditya baik – baik saja?” Tanya Nyonya Sintya yang melihat Dr. Robert berdiri didepannya.


“Tuan Muda baik – baik saja, nyonya. Saya bersyukur karena Tuan Muda sadar lebih cepat dari perkiraan saya.”


“Benarkan....aku tidak apa – apa. Mami tidak usah terlalu khawatir begitu.” Sahut Aditya membenarkan dirinya yang merasa baik – baik saja.


Nyonya Sintya tidak menanggapi ucapan anaknya, ia hanya bertanya kembali pada Dr. Robert.


“Jadi penyakit Aditya tidak parah kan dok.”


“Ia nyonya. Kita bersyukur karena penyakitnya tidak sampai parah dan masih bisa ditangani di rumah tanpa harus ke rumah sakit. Tapi mulai sekarang, Tuan Muda harus menjaga pola makannya dengan baik. Saya sudah menjelaskan pada Nyonya Muda tadi malam.” Jelasnya.


“Baiklah....terima kasih banyak dok. Anda sudah bekerja keras, Anda boleh istirahat sekarang.”


“Baik nyonya, terima kasih. Kalau begitu saya permisi keluar. Saya akan tetap berjaga diluar.”


“Ia...”


Dr. Robert dan perawatnya keluar dari kamar Aditya sementara Nyonya Sintya dan Andi masih berada didalam kamar Aditya.


“Kyra mana mi?” Tanya Aditya sambil melihat ibunya yang sudah duduk ditepi tempat tidurnya tepat didepannya.

__ADS_1


“Dia sedang istirahat di kamar sebelah bersama Zahila dan Kaila.”


“Oh....aku pikir dia kemana?”


“Tenang saja. Istrimu tidak akan pergi lagi. Dia hanya butuh istirahat karena menjagamu tadi malam.”


“Sebaiknya aku jangan beritahu Aditya dulu kalau Kyra pingsan gara – gara aku hukum berlutut di luar. Kalau tidak, dia pasti berlari ke kamar sebelah tanpa peduli dengan keadaannya sekarang.” Dalam hati Nyonya Sintya.


Aditya kemudian berbicara kepada ibunya yang tengah duduk diam di sampingnya.


“Mi....” Panggilnya membuyarkan lamunannya.


“Aahh....apa?”


“Aku ingin bicara dulu dengan Andi.”


“Lupakan masalah pekerjaan dulu Dit. Kamu kan masih sakit sekarang. Lagipula perusahaan tidak akan bangkrut kalau kamu libur sebulan.” Ucap Nyonya Sintya dengan wajahnya yang serius.


“Ia...aku hanya ingin berbicara sebentar dengannya. Tidak akan lama.”


“Baiklah! Kalau kamu bersikeras ingin bicara dengan Andi. Tapi jangan terlalu banyak memikirkan pekerjaan.”


“Ia mi.”


“Kalau begitu mami ke bawah dulu. Mau suruh Bu Marta masak makanan untuk kalian.”


“Oke....”


Setelah Nyonya Sintya keluar, Aditya kemudian melihat kearah Andi yang sejak tadi berdiri didepannya.


“Andi...”


“Ia tuan...”


“Bagaimana dengan masalah keluarga Nyonya Mery yang kau tangani itu?” Tanya Aditya dengan serius.


“Saya sudah melakukan sesuai perintah Anda, tuan. Tapi Nyonya Mery terus memohon agar Anda mencabut gugatan Anda. Kalau Anda mencabut gugatan Anda pada keluarganya, mereka akan kembali ke Singapura.”


Aditya menarik nafasnya sambil memejamkan matanya. Ia kemudian berbicara kepada Andi.


“Baiklah....lakukan saja seperti yang dia minta.”


Andi langsung kaget mendengar ucapan tuannya itu.


“Kenapa kakak tiba – tiba melepaskan keluarga mereka?” Dalam hati Andi yang bingung dengan permintaan Aditya.


Andi kembali bicara kepada tuannya itu.


“Kenapa Anda ingin mencabut tuntutan Anda kepada keluarga mereka?”


“Aku tidak ingin membuat istriku memohon untuk keluarga mereka. Dengan sifatnya itu, pasti dia akan memohon padaku untuk melepaskan mereka. Aku tidak sanggup melihatnya memohon hanya untuk orang lain. Asalkan mereka pergi dari negara ini, itu sudah cukup. Aku hanya ingin hidup damai dengan istri dan anakku.” Jelasnya dengan serius.


“Lalu bagaimana dengan perusahaan mereka. Anda bilang kemarin untuk membuat bisnisnya hancur.”

__ADS_1


“Lakukan saja seperti yang aku perintahkan kemarin. Itu peringatan kecil untuk mereka karena sudah berurusan denganku. Kalau mereka berhasil lolos dari semua itu. Itu berarti mereka beruntung.”


“Baik tuan. Terus mengenai perusahaan keluarga Tania. Saya sudah mendapatkan 50 persen saham mereka. Apa Anda akan berencana mengambil alih perusahaan mereka juga?” Tanya Andi kembali.


“Lakukan saja seperti yang aku perintahkan diawal. Rencana tidak boleh berubah sampai tunangan Tania kembali membantu mereka. Aku ingin lihat, apa yang bisa dia lakukan untuk tunangannya itu.”


“Baik....akan saya lakukan.” Balasnya sambil membungkuk hormat. “Apa ada lagi tuan?”


“Tidak ada.....keluarlah.”


“Baik.....kalau begitu saya kembali ke perusahaan dulu.”


“Eem...”


Andi berjalan keluar meninggalkan Aditya yang sendirian di kamarnya. Ia menuruni tangga menuju lantai bawah. Ketika ia sudah berada di bawah dan ingin berjalan keluar. Tiba – tiba ia dipanggil oleh Nyonya Sintya yang tengah berada di dapur.


“Andi...” Panggilnya sambil berjalan menghampiri keponakannya itu.


“Ia tante...” Balasnya sambil menengok melihat Nyonya Sintya. “Ada apa?”


“Tante ingin tanya padamu?”


“Tanya apa tante?”


“Kenapa Aditya tiba – tiba mengalami Gastritis. Bukannya tante sudah memberitahumu untuk mengingatkan dia untuk makan?”


“Saya sudah beberapa kali mengingatkan dia untuk makan tapi dia tidak pernah menanggapi saya. Apalagi kemarin waktu kakak ada di Prancis, dia hanya makan sedikit. Saat pulang dari Prancis dia tidak makan di pesawat dan hanya minum alkohol. Itu kesalahan saya karena tidak menasehatinya untuk tidak banyak minum. Maafkan atas kelalaian saya.”


“Haaaa....harusnya tante tidak menyalahkanmu juga karena masalah itu. Tante mengerti situasimu, biarpun kamu menasehatinya pasti dia tidak akan mendengarmu.”


Andi hanya diam mendengar ucapan tantenya itu dengan wajahnya yang terlihat bersalah dengan keadaan Aditya sekarang.


Nyonya Sintya kembali bicara kepada keponakannya itu.


“Sudahlah....jangan memasang tampang begitu. Itu bukan kesalahanmu. Memang Aditya yang sangat keras kepala dan tidak ingin mendengarkan nasehat orang.”


Andi hanya diam saja mendengar ucapan tantenya. Nyonya Sintya kembali bicara pada keponakannya itu.


"Oyah....kamu makan dulu baru pergi."


"Maaf tante. Saya harus kembali ke perusahaan dulu. Ada sesuatu yang harus saya tangani."


"Baiklah! Kamu juga jangan lupa makan yah, jangan seperti Aditya. Biarpun sibuk harus tetap makan."


"Ia tante"


"Pergilah..."


“Baik tante.” Balasnya sambil membungkuk hormat.


Andi membungkuk hormat pada tantenya itu kemudian berjalan keluar rumah. Ia menaiki mobilnya dan mengendarai mobilnya itu menuju perusahaan Sinatria.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2