
...!Attention!...
~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~
*
*
*
"Kau sudah dengar kan Vano? Sekarang pergilah dari sini!!" Gio mengusir Vano dari rumahnya
"Tidak!!! Kita tidak akan bercerai Kinara" Kinara tidak memperdulikan Vano, ia hendak melangkah masuk ke dalam rumahnya, namun kata² Vano selanjutnya membuat Kinara diam mematung
"Kalau kau bercerai dariku, maka anak yang ada di kandunganmu tidak akan memiliki seorang ayah Kinara" Ucap Vano
Deg..
Seketika itu juga Kinara menghentikan langkah nya, tangannya terulur untuk mengelus perutnya yang masih rata
"Apa kau mau anakmu menjadi bahan gunjingan temannya karena tidak memiliki seorang ayah? Apa kau tega melakukan itu pada anakmu Kinara?" Vano menyeringai melihat Kinara yang diam tak berkutik
"Pikirkan itu baik² Kinara, kau sendiri bisa saja merusak mental anakmu dengan sikap mu yang egois" Lanjut Vano
Kinara memejamkan matanya, tak terasa kini air matanya sudah membasahi pipinya yang mulus, ia pun menghela napas dalam, kemudian kembali melangkah untuk masuk ke dalam rumah
Gio mengepalkan tangannya, "Sudah puas? Sekarang aku mohon pergilah atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar Vano!!"
"Tidak perlu kakak ipar, aku bisa pergi sendiri. Sampai jumpa" Ucap Vano diakhiri dengan senyuman yang aneh
__ADS_1
******
Di sisi lain. Setelah sampai ke kamarnya, Kinara segera mengunci pintu kamar, ia menangis memikirkan nasib anaknya, "Bagaimana ini? Aku tidak mau anak ku akan mengalami pembully an tapi di sisi lain, aku juga sudah tidak tahan hidup bersama Vano" Kinara duduk sambil memeluk lutut, ia menenggelamkan kepalanya di antara lututnya
"Apa aku tidak pantas bahagia? Kenapa semua masalah selalu berdatangan sedangkan masalahku yang lainnya belum selesai" Lirih Kinara dengan suara serak
Kinara pun bangkit dari duduknya dan menghapus air matanya, ia berniat untuk membersihkan dirinya dan juga menenangkan pikirannya yang sedang kacau karena ulah Vano
******
Jika di rumah Kinara sedang menangis memikirkan nasibnya, disini justru Vano sedang bahagia karena telah membuat pikiran Kinara kacau, "Aku yakin Kinara pasti tidak jadi mengajukan gugatan cerai, apalagi dia sangat menginginkan seorang anak, dia pasti akan berpikir dua kali untuk bercerai dengan ku"
"Tidak apa jika hari ini aku belum bisa membawa mu pulang Kinara, karena pasti sebentar lagi kau sendiri yang akan pulang ke rumah Kita" Vano bahagia membayangkan Kinara yang akan selalu patuh kepadanya jika sudah membahas soal anak
Sekitar 25 menit Vano pun sampai di rumahnya
Ia masuk ke dalam rumah dan melihat Alina yang sedang menonton tv, Vano pun mendekat ke arah Alina
"Saat ini Kinara memang belum pulang, tapi suatu saat pasti dia kembali sendiri" Ucap Vano dengan bangga
Alina memutar bola matanya malas, ia jengah melihat kelakuan sang suami yang selalu mementingkan Kinara dari pada dirinya
"Oh" Jawab Alina hanya ber 'oh' ria saja
"Alina, sekarang sudah malam, kamu tidak memasak?" Tanya Vano
"Suruh saja mbak Kinara masak" Alina pun pergi meninggalkan Vano sendiri
Vano menghela napas, "Yasudahlah aku pesan saja" Vano pun mengeluarkan ponselnya dan memesan makanan lewat aplikasi ojek online
__ADS_1
Setelah makanan nya datang, Vano naik ke kamar Alina dan menghampiri Alina untuk mengajak makan malam bersama, "Alina, ayo makan" Ucap Vano
"Aku tidak lapar" Dingin Alina
Vano mendekat ke arah Alina, "Alina, aku tidak suka sikap mu yang keras kepala seperti ini" Tegas Vano
"Kenapa kamu pemaksa sekali sih mass!" Alina kesal Vano yang memaksanya
"Alina.. kau sedang mengandung anakku dan Kinara"
"Mungkin setelah kau melahirkan anak ku, kau bisa pergi sesuka hatimu" Vano berkata dengan lirih
Deg..
Alina memalingkan wajahnya, "Nanti aku makan sendiri, kamu pergilah makan terlebih dahulu" Lirih Alina
"Baiklah" Vano pun pergi meninggalkan kamar Alina dan menutup pintunya
"Aargghhh, aku benci pada mbak Kinara, aku benciiii" Alina menarik rambutnya dengan frustasi
"Kenapa harus mbak Kinara? Kenapaa?" Alina memukul dadanya yang sesak
"Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan mbak Kinara dari rumah ini, tapi kenapa masih ada mbak Kinara dalam hati mas Vano" . "Aku harus apa lagi, bahkan mbak Kinara saat ini tengah hamil anak Mas Vano, sedangkan aku? Jangankan hamil, aku bahkan belum ada tanda² hamil" Alina kembali menarik rambutnya seraya menangis
*
*
*
__ADS_1
****Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏****