Belenggu Pernikahan

Belenggu Pernikahan
Takdir Atau Karma?


__ADS_3

...!Attention! ...


~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~


*


*


*


Tiga hari telah berlalu, Alina sama sekali tidak mau berbicara dengan siapapun, ia hanya melamun seraya menatap lurus ke arah jendela rumah sakit, sesekali Alina meneteskan air matanya tanpa suara


Vano pun hanya bisa menghela napas berat saat melihat kondisi istrinya


Vano pun beralih menatap sang ibu, saat ini hanya ibu Vano yang mau menjenguk menantunya, sedangkan ayah Vano? Ia sama sekali tidak mau untuk sekedar menyapa Alina, ia sangat kecewa dengan menantunya setelah mendengar kabar bahwa menantunya kehilangan calon bayinya dan juga rahimnya


Bahkan ayah Vano tidak mau berbicara dengan Vano sekalipun, ia bermartabat kecewa dengan mereka berdua


"Mom, hari ini Alina sudah boleh pulang. Aku sudah berusaha berbicara dengannya, tapi ia sama sekali tidak merespon ucapan ku" Ucap Vano dengan nada sedikit kesal


"Sudahlah Vano biarkan dia menenangkan dirinya terlebih dahulu, jangan memaksanya atau dia akan membuat keributan lagi disini. Mommy akan sangat malu jika kejadian itu terulang kembali" Ucap Nyonya Indira seraya memainkan ponsel genggamnya


"Tapi aku tidak bisa Mom jika harus menemani Alina terus disini, keadaan kantor ku semakin kritis saat ini" Vano kembali merengek kepada sang Mommy


"Sudahlah Vano, toh kamu sendiri kan yang memilih untuk mempertahan Alina dibanding dengan Kinara. Yasudah ini konsekuensinya, kamu harus siap apapun yang terjadi pada Alina" Ucap Nyonya Indira dengan tegas

__ADS_1


"Apa Mommy tidak bisa membantu ku untuk menjaga Alina?" Lirih Vano. Ia berharap sang Mommy akan bersedia untuk menemani Alina


"Tidak bisa. Sudahlah daripada nanti kau terus memaksa Mommy, lebih baik Mommy pulang sekarang saja" Nyonya Indira pun meraih tasnya dan melenggang pergi dari ruangan Alina


Vano hanya bisa menatap sang ibu dengan wajah frutasinya


Akhirnya Vano pun memilih untuk membereskan barang² Alina


Setelah selesai membereskan barang Alina, Vano pun memutuskan untuk memanggil seorang perawat untuk membantunya berbicara dengan Alina


Sang suster pun masuk ke dalam ruangan tempat Alina


Dengan nada lembut sang suster pun mulai berbicara dengan Alina, "Ibu Alina, hari ini ibu sudah boleh pulang yaa" Namun lagi² Alina tidak merespon ucapan orang


Vano pun menghela napas kasar, "Apa tidak bisa sedikit di perpanjang pagi sus?" Tanya Vano


Akhirnya dengan rasa kesalnya Vano menyeret Alina untuk duduk di kursi roda, sedangkan Alina hanya bisa menatap Vano dengan amarah


"Kenapa?! Kenapa menatap ku seperti itu hah?! Kau ini dasar wanita menyusahkan!!" Dengan mulut pedasnya, Vano membawa barang² Alina dan mendorong kursi roda Alina keluar ruangan


Vano pun mendorong kursi roda Alina dengan sedikit kasar


Hingga akhirnya mereka telah sampai di perkiran, Vano pun membuka pintu mobilnya dan kembali menyeret Alina, kemudian ia menghempaskan Alina begitu saja


Alina pun merintih kesakitan pada arena bawah perutnya. Saat ini ia tidak bisa melakukan apapun selain menangisi nasibnya, ada rasa penyesalan dalam hati Alina karena telah menjebak Kinara

__ADS_1


"Maaf kan aku mbak Kinara, mungkin ini adalah karma yang harus ku terima karena telah mendzolimi mu" Batin Alina dengan di iringin sebuah tangisan pilu


******


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Vano pun telah sampai di rumahnya


Vano pun keluar dari mobilnya dan mengambil barang² Alina dari bagasi mobil


Alina pikir Vano akan membantunya, namun ternyata salah, Vano justru melenggang pergi meninggalkan Alina sendiri di dalam mobil


Akhirnya Alina pun terpaksa untuk berjalan sendiri menuju ke dalam rumah. Dengan langkah tertatih, dan sedikit membungkukkan badannya Alina pun berhasil masuk ke dalam rumah dengan menahan rasa sakit yang luar biasa di area bawah perut


Karena di rasa tidak sanggup untuk naik keatas, Alina pun memilih untuk mendudukan pantatnya di kursi sofa ruang tamu


Tangisan Alina tidak dapat dibendung lagi, "Kenapa nasib ku menjadi seperti ini Ya Allah" Alina bersandar pada sofa seraya merenungi nasib buruk


Alina menangis tanpa suara, ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak, ia tidak tau harus mengadu kepada siapa lagi selain pada tuhannya yang maha mengampun lagi maha penyayang


~Sungguh malang nasib Alina, ia harus kehilangan seorang anak yang sangat dinantinya. Tidak sampai disitu, ia juga harus rela kehilangan rahimnya, bagian yang sangat penting dalam hidup wanita,


Entah ini bagian dari takdir hidupnya atau sebuah karma dari perbuatannya~


*


*

__ADS_1


*


Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏


__ADS_2