
...!Attention! ...
~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~
*
*
*
( 6 hari kemudian)
Hari ini adalah hari sidang perceraian pertama Vano dan Kinara
Kinara memilih untuk tidak datang dalam persidangan cerai, karena ia tidak mau untuk bertemu dengan Vano walapun hanya sekedar tatap muka
( Dalam Peraturan Pemerintah 9/1975 dan Komplikasi Hukum Islam, pemeriksaan gugatan ceraian tetap bisa di jalankan atau dilaksanakan meskipun suami/istri tidak hadir asalkan telah di diwakilkan oleh kuasa hukumnya ) Cmiiw 😉
"Mas, kau akan berangkat sekarang?" Tanya Kinara pada Gio
"Iya, masih ada hal yang harus aku bicarakan dengan kuasa hukum kita" Jawab Gio
Kinara menghela napas pelan
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan Kinara?" Tanya Gio dengan nada mengintimidasi
"Nanti kau akan tahu sendiri Mas" Ucap Kinara dengan menyeringai tipis
"Baiklah, aku berangkat dulu" Ucap Gio pada Kinara
"Hmmm" Kinara mengangguk menanggapi ucapan Gio
"Rania, aku berangkat sayang" Pekik Gio
Rania pun keluar dari arah dapur, "Hati² di jalan Mas. Dan semoga masalahnya cepat selesai" Jawab Rania seraya tersenyum hangat kepada Gio
__ADS_1
Setelah bercengkrama dengan keluarganya, Gio segera berangkat menuju tempat pengadilan
******
Beberapa menit kemudian, Gio telah sampai di tempat pengadilan, ia menghela napas pelan, kemudian turun dan mencari keberadaan kuasa hukum yang telah ia sewa
"Pak Gio" Panggil seseorang
Gio pun menoleh ke arah sumber suara
"Apa benar ini Pak Gio?" Tanya laki2 tersebut
"Benar saya pak Gio, Apa ini Pak Ridwan?" Tanya Gio
"Benar bapak" Mereka berdua pun berjabat tangan setelah memastikan satu sama lain
"Bagaimana pak dengan bukti² yang sudah saya kirimkan? Apa itu cukup?" Gio memang belum bertemu dengan pak Ridwan sebelumnya, ia hanya berkontak² an dengan mengirimkan pesan
"Ini sudah sangat cukup pak untuk memberatkan yang tergugat"
Tiba² saja datang segerombolan para wartawan
Gio dan Ridwan pun saling pandang, karena penasaran mereka mendekat ke arah salah satu wartawan
"Ada apa ini? Kenapa banyak sekali wartawan disini?" Tanya Gio
"Bu Kinara mengundang kita untuk meliput acara persidangan cerai nya pak" Jawab salah seorang wartawan
"Apa? Ba-bagaimana bisa?" Tanya pak Ridwan
"Bu Kinara bilang, ia sudah mengizinkan kita untuk masuk ke dalam ruang persidangan pak"
"Permisi"
Setelah menjawab ucapan pak Ridwan, para wartawan pun di diperbolehkan masuk untuk mempersiapkan diri sebelum meliput persidangan cerai nanti
__ADS_1
Sedangkan diluar Gio diam mematung, ia tidak menyangka bahwa adiknya akan selicik ini untuk membuktikan ia tidak bersalah
Gio pun diam² menyeringai tipis dan memuji kepintaran Kinara
"Good job Kinara" Batin Gio dengan senang
( Memangnya boleh ya merekam sidang perceraian dan di publikasikan? Boleh saja asalkan kita sudah meminta izin kepada Kepala Pengadilan setempat, agar petugas pengadilan dapat membedakan mana yang wartawan dan mana yang pengunjung biasa ) Cmiiw😉
Ridwan yang menyadari Gio sedang senyum² sendiri pun segera menepuk bahu nya, "Ada apa pak Gio?"
Gio pun tersentak kaget, "Oh, itu.. saya tidak apa²" Ridwan pun hanya mengangguk, ia sampai bergidik ngeri melihat seringai Gio
Saat keduanya sedang larut dalam pikiran masing², tiba saja ada sebuah mobil mewah yang masuk ke dalam pekarangan pengadilan agama
Orang tersebut pun berjalan keluar dengan gayanya yang angkuh dan di dampingi oleh pengacara yang cukup terkenal di negeri ini
"Oh ternyata kakak iparku sudah disini ya?" Tanya orang tersebut dengan nada mengejek
"Kemana adik tersayang mu? Apa dia takut keluar?" Vano menaikkan salah satu alisnya
Gio mengepalkan tangannya kuat, ia hendak melayangkan pukulan kepada Vano, namun pak Ridwan menahannya
"Jangan bertengkar disini pak, ini pengadilan" Ucap pak Ridwan memperingati Gio
Gio pun menghela napas kasar, ia melihat Vano dengan mata tajamnya seraya berkata, "Kau lihat saja nanti Vano, adikku tidak sebodoh dirimu. Akan ada kejutan yang menantimu di dalam" Kemudian Gio dan pak Ridwan pun memilih pergi dari hadapan Vano daripada harus membuat keributan
Sedangkan Vano hanya mengendikkan bahunya acuh terhadap ucapan Gio, yang dianggapnya sebagai lelucon belaka
*
*
*
Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏
__ADS_1