Belenggu Pernikahan

Belenggu Pernikahan
Tidak Mau Bertanggung Jawab


__ADS_3

...!Attention! ...


~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~


*


*


*


Fajar mulai menyingsing, cahaya lemah yang bertambah kuat menjelang matahari terbit, terdapat sepasang laki² dan perempuan yang masih terlelap di sebuah kamar, karena pergulatan panas mereka semalam


"Eunghh" Terdengar suara lenguhan seorang laki² dari kamar tersebut 


"Arghh kepalaku kenapa sakit" Laki² tersebut memegangi kepalanya yang terasa berdenyut


Ia menoleh ke arah samping, terdapat seorang wanita yang cukup ia kenal sedang tidur tanpa menggunakan sehelai benang pun, kemudian ia beralih pada dirinya sendiri yang ternyata juga tidak menggunakan pakaian sehelai pun


Ia terkejut dan berusaha mengingat kejadian semalam, saat ingatannya mulai kembali tentang kejadian semalam yang panas, ia merasakan ada yang aneh, "Kenapa kebetulan sekali? Dan minuman itu? Sebenarnya apa minuman yang diberikan oleh pelayan itu?" Gumam Vano seraya mengerutkan kedua alisnya


Ia pun kembali menatap ke arah sampingnya, "Apa aku mengeluarkannya di dalam?" Gumam Vano lagi


Saat Vano sedang berusaha mengembalikan ingatannya, Ghea pun turut terbangun dari tidurnya, berbeda dengan Vano, Ghea justru tersenyum saat menatap Vano, tidak ada sedikitpun gurat wajah sedih ataupun terkejut dari wanita ini

__ADS_1


Vano mengernyitkan alisnya saat melihat ekspresi Ghea yang tampak bahagia, "Kenapa kamu malah tersenyum?" Tanya Vano dengan nada dingin


"Memangnya aku harus apa? Sedih? Menangis? Toh semuanya juga sudah terjadi kan?" Ucap sang wanita dengan cuek


Vano hanya diam termangu, ia tidak bisa menjawab apa², mau menyalahkan pun menyalahkan siapa? Mereka melakukan hal tersebut tanpa adanya paksaan dari salah satu pihak dan itu terjadi juga atas keinginan mereka masing- masing


"Lalu sekarang bagaimana? Aku tidak bisa bertanggung jawab" Lirih Vano


"Apa?" Ghea membulatkan matanya sempurna


"Tidak bisa Vano, kamu harus bertanggung jawab, kamu harus menikahi aku Vano" Ghea menjalankan aktingnya dengan berpura-pura menangis


"Aku tidak bisa menikahi kamu Ghea, maaf.. aku sudah mempunyai dua istri" Vano mengambil selimut baru disamping tempat tidurnya dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut, ia mengambil pakaian² nya yang berserakan dan menuju ke kamar mandi


Sedangkan Ghea, ia menggerutu seraya mengeluarkan kata² kasar, "Vano sialan, pokoknya dia harus menikahi aku bagaimana pun caranya" Gumam Ghea dengan wajah sinisnya


"Vano? Kamu mau kemana Vano?" Ghea berteriak saat Vano hendak membuka pintu kamar


Vano pun menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap Ghea dan mnegeluarkan sebuah amplop, ia melemparkan amplop tersebut kepada Ghea


"Amplop itu berisi sekitar 6 juta, aku rasa itu cukup untuk membayarmu" Setelah mengatakan kalimat tersebut Vano segera pergi meninggalkan Ghea sendiri di kamar tersebut


Sedangkan di dalam kamar, Ghea meraung- raung tidak terima dengan perlakuan Vano

__ADS_1


"Vano, aku bukan jal*ng Vano!!" Teriak Ghea


"Arghh kurang ajar kamu Vano!!"


"Kamu lihat saja nanti, aku akan buat kamu dengan sukarela bertanggung jawab atas tindakan mu" Ucap Ghea dengan tangan terkepal, ia melempar amplop pemberian Vano ke lantai


******


Vano pun pulang dalam keadaan yang bisa dibilang kacau, ia berjalan masuk ke rumah dengan langkah gontai


Alina yang melihat Vano pun senang karena akhirnya sang suami pulang, "Mas, akhirnya kamu pulang, dari semalam aku nunggu kamu, aku telpon nggak diangkat, aku sms juga nggak di bales" Lirih Alina seraya memeluk Vano


Namun Vano mendorong tubuh Alina agar menjauh darinya, "Aku capek, mau istirahat" Vano melenggang pergi meninggalkan Alina begitu saja


Alina pun mengernyitkan alisnya, saat tadi ia memeluk Vano, ia mencium bau alkohol yang cukup kuat dari baju Vano


"Apa semalam mas Vano pergi ke ke sebuah club?" Lirih Alina, pikirannya kembali berkelana kemana- mana memikirkan apa saja yang Vano lakukan sampai baru pulang pada pagi hari ini


Alina menghirup udara dalam², "Aku harus secepatnya hamil, aku tidak mau ada wanita lain yang menggantikan posisiku" Gumam Alina seraya menggigit bibirnya


*


*

__ADS_1


*


****Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏****


__ADS_2