Belenggu Pernikahan

Belenggu Pernikahan
Kinara Pingsan


__ADS_3

...!Attention! ...


~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~


*


*


*


Kinara pun pulang kerumah dengan beban pikiran yang terus berputar di otaknya


"Sudah lah, itu bukan menjadi urusanku lagi" Gumam Kinara


Namun saat berusaha menepis pikirannya dengan kehamilan palsu Alina, tiba² saja ingatan Kinara kembali saat ia bertemu dengan Malvin di danau


"Betul juga, bukannya Malvin mau mengatakan sesuatu ya saat itu? Apa aku ajak Malvin bertemu saja?" Setelah bergelut dengan pikirannya, akhirnya Kinara memutuskan untuk mengirim pesan kepada Malvin


("Malvin, bisakah kita bertemu di cafe ×××?")


Pesan pun terkirim namun belum terbaca


"Sudahlah aku berangkat kesana dulu saja, kalaupun Malvin menolak bertemu yasudah, aku tidak akan memaksanya" Memang sebelumnya Kinara meminta bantuan Malvin untuk memasukkan para wartawan ke dalam ruang persidangan cerainya, namun ia tidak langsung bertatap muka dengan Malvin, melainkan hanya mengirimkan pesan


******


Ting


Suara pesan masuk berhasil mengusik ketenangan Malvin, ia pun melepaskan kacamatanya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan


"Kinara" Awalnya Malvin sedikit marah dengan orang yang berani mengganggu waktu kerjanya namun begitu melihat nama Kinara, dengan sigap Malvin langsung membuka dan membalas pesan Kinara


("Baik, tunggu aku disana") Dengan senang hati Malvin menyanggupi permintaan Kinara untuk bertemu, ia pun dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan kantornya, ia menyerahkan semua pekerjaannya kepada sekretarisnya


"Astagaaa.. ada² saja pak Malvin ini.


Gini nih kalau lagi bucin, mana yang di bucinin istri orang lagi" Gerutu Evan, sekertaris Malvin


******


Sekitar 18 menit akhirnya Malvin sampai di cafe tersebut, ia pun segera mencari Kinara

__ADS_1


Ternyata Kinara sudah menunggu di meja pojok dekat jendela, tanpa berpikir lama2 lagi, Malvin segera menghampiri Kinara


"Kinara" Sapa Malvin dengan menepuk bahu Kinara pelan


Kinara pun segera menoleh ke arah belakang, "Eoh, kamu sudah datang, silahkan duduk" Ucap Kinara dengan ramah


Malvin pun segera duduk di hadapan Kinara, setelah mendaratkan pantatnya, Malvin segera bertanya kepada Kinara perihal pertemuan ini, "Kinara? Kenapa kau mengajak aku bertemu di sini?"


"Eumm, sebenarnya ada satu hal yang mengganggu pikiranku saat ini" Lirih Kinara seraya menatap Malvin


"Memangnya hal apa yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Malvin 


"Sebelum terjadi tragedi penculikan kepada kita berdua, kita sempat berbincang kan?"


Malvin pun mengangguk, "Lalu?"


"Saat itu kau ingin mengatakan sesuatu bukan? Apa aku boleh mengetahuinya sekarang?" Lirih Kinara dengan ragu²


Malvin pun menghela napas dalam, tanpa ragu² ia menggenggam erat kedua tangan Kinara, "Kinara, maafkan aku karena dulu meninggalkan mu begitu saja, namun asal kamu tau, semua yang aku lakukan ada alasannya" Malvin menggantung ucapannya, ia ingin melihat respon Kinara


"Apa alasannya?" Tanpa sadar air mata Kinara sudah luruh begitu saja


"Tapi sepertinya takdir berkata lain, ternyata Vano juga menyukai mu, apa kau tau Vano bahkan sempat melakukan percobaan bunuh diri karena mengetahui kalau kau kekasih ku. Sebagai seorang sahabat, aku tidak tega melihat kondisi nya Kinara, ia tidak mau makan dan tidak mau berbicara kepadaku sama sekali, aku sudah berusaha melakukan segala cara untuk memberikan pengertian kepada Vano, namun semuanya sia². Aku tidak punya cara lain selain menyerahkan mu kepada Vano Kinara. Ini salahku, aku berpikir kau akan hidup bahagia dengannya Kinara" Malvin menjelaskan semuanya dengan suara lembut, agar tidak menyakiti hati Kinara


Setelah mendengar penjelasan Malvin, Kinara langsung menarik tangannya dengan kasar, "Apa kau pikir aku barang, yang bisa kau berikan kepada orang lain sesuka hatimu? Hah?!!" Kinara membentak Malvin dengan cukup keras, persetan dengan orang² yang berada di sana, Kinara hanya ingin meluapkan semua sakit hatinya


"Kinara tolong maafkan aku Kinara" Malvin berusaha menggapai kembali tangan Kinara, namun Kinara langsung menepis kasar tangan Malvin


"Kenapa saat itu kamu tidak memikirkan perasaanku?! Kenapa Malvin?! Apa hatiku ini cuman kau anggap mainan?!" Kinara bangkit dari duduknya dan berteriak kepada Malvin


Dengan gerakan sigap Malvin langsung merengkuh erat tubuh Kinara yang bergetar, entah mengapa Kinara menjadi sensitif seperti ini


"Maafkan aku Kinara, izinkan aku memperbaiki semuanya" Malvin mengusap lembut punggung Kinara untuk menenangkannya


"Semua sudah terlambat Malvin, hidupku sudah hancur saat ini" Suara Kinara semakin lirih saat mengatakan kalimat tersebut


Dan tiba² saja tubuh Kinara tumbang dalam pelukan Malvin


"Kinara?!!"


******

__ADS_1


Saat ini Malvin sedang duduk di samping tempat tidur Kinara


Sesaat setelah Kinara pingsan, Malvin segera membawanya kerumah sakit, dan Malvin pun segera menelpon Gio untuk memberitahukan keadaan adiknya


"Eunghh" Suara lenguhan berat yang berasal dari mulut Kinara, berhasil menyentak perhatian Malvin


"Kinara? Kau sudah bangun?" Tanya Malvin dengan sedikit panik


"Dimana aku?" Kinara bertanya dengan sangat lirih


"Kinara, tadi kau pingsan jadi aku membawa mu kerumah sakit. Aku juga sudah menelpon kakakmu, sebentar lagi dia datang" Malvin menggenggam tangan Kinara dan mengusapnya dengan lembut


"Kinara? Kau sedang ha-hamil?" Malvin bertanya dengan sedikit ragu


"Malvin kau sudah tau?" Tiba² saja air mata Kinara jatuh tanpa permisi


"Kinara? Kalau kau sedang hamil, kenapa kau memutuskan untuk bercerai dengan Vano? Apa Vano tidak tau kalau kau sedang hamil?" Tanya Malvin


"Dia tau Malvin, dia tau, tapi~" Suara Kinara tersenggal, lidahnya seperti terasa kelu untuk melanjutkan kalimatnya 


"Tapi apa Kinara?" Malvin berusaha mendesak Kinara untuk melanjutkan kalimatnya yang terputus


Kinara memejamkan matanya, ia memegang dadanya terasa sangat sesak, "Dia tidak mau mengakui anak ini Malvin" Lirih Kinara, seketika tangis Kinara pecah setelah meyelesaikan kalimat nya


"Dia mengatakan anak ini, anak haram Malvin" Kinara menangis cukup histeris


Malvin yang tidak tega pun langsung memeluk erat tubuh Kinara, Malvin juga mengelus lembut punggung Kinara untuk menenangkannya


"Sudah Kinara, tidak perlu menangis lagi, kondisi mu saat ini sedang tidak baik" Malvin berkata lembut


Ceklek


"Kinara!!!" Suara lantang yang berasal dari arah pintu kamar tempat Kinara dirawat, berhasil mengalihkan perhatian Malvin dan Kinara


*


*


*


Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2