Belenggu Pernikahan

Belenggu Pernikahan
Kehilangan Rahim?


__ADS_3

...!Attention! ...


~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~


*


*


*


Ke-esokkan harinya, setelah berita tentang Vano dan Alina viral, para investor di perusahaan Vano pun mulai menarik kembali saham mereka. Lara investor merasa di permainan oleh Vano, bahkan kali ini, amarah mereka sudah memuncak, Vano sudah mencoba menghubungi para investor untuk melakukan rapat terlebih dahulu agar tidak terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan, tapi para investor menolak rapat yang diadakan oleh Vano dan mereka tetap kekeh untuk menarik kembali saham² mereka


Sedangkan Vano, dia benar² merasa frustasi dengan keadaannya saat ini, ia sudah tidak tau harus melakukan apa lagi saat ini


"Sialan!!! Ini semua salah Kinara. Dasar wanita jal*ng tidak tau diri" Vano meraung-raung bak orang kehilangan akal. Ia meraung-raung sambil menyalahkan Kinara. Padahal jika dilihat dari awal, semua kesalahan ini terletak pada Alina yang lebih dulu menyebarkan berita hoax tentang Kinara


"Arghhhhh" Vano membanting semua barang² seperti guci dan Vas yang ada di sekitarnya


"Si*lan.. bagaimana ini?!" Vano berteriak dengan mengeluarkan sedikit air mata. Tidak bisa dibayangkan seberapa frustasinya Vano


Akhirnya Vano pun memilih untuk memanggil sekertarisnya yang bernama Kenzo, "Kenzo, tolong carikan investor lain untuk mendanai dan mengiklankan produk yang akan kita luncurkan, dan jangan lupa, promosikan sebaik mungkin produk terbaru kita agar menarik perhatian para investor" Ucap Vano pada Kenzo, setelah mengiyakan ucapan Vano, Kenzo pun kembali ke ruangannya. Dan Vano pun kembali berkutat dengan laptop nya


********


( Dua bulan kemudian)


Sudah dua bulan lamanya Vano dan Kenzo berusaha untuk meyakinkan para investor atau perusahaan lain untuk bekerja sama dengan Vano, namun hasilnya nihil. Tidak ada satu pun yang mau bekerja sama dengan perusahaan Vano


Dan 2 bulan ini juga Alina sering merasakan kram pada perutnya, ia sudah sering memeriksakan ke dokter, dan tetap saja dokter menyarankan Alina untuk jangan hamil terlebih dahulu karena itu dapat membahayakan dirinya dan janinnya, tapi mau bagaimana lagi, Vano selalu melarang Alina untuk melakukan ab0rsi pada anak yang ada di kandungannya 


Saat ini Alina tengah menuruni anak tangga karena mertuanya sedang berkunjung untuk menengok kondisi Alina


Alina pun menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan sedikit berlari. Saat sedang fokus pada jalannya, tiba² Alina terpeleset dan


Bruk....


Alina terpeleset dari tangga dan menggelinding hingga ke lantai dasar


Seketika semua orang di ruang tamu langsung berteriak, dan menghampiri Alina


Vano pun menjadi sangat panik saat melihat darah segar yang mengalir di paha Alina, tanpa basa-basi ia segera membopong Alina dan memasukkannya ke dalam mobil. Vano meminta ibunya untuk menemani Alina, walaupun nyonya Indira tidak menyukai Alina, tapi dalam situasi seperti ini, tidak sempat untuk memikirkan rasa benci tersebut


Dengan kecepatan tinggi, akhirnya dalam waktu 15 menit saja, Vano dan nyonya Indira telah sampai di rumah sakit


Vano segera memanggil para perawat disana, dan para perawat tersebut dengan cepat segera membawa Alina ke ruang ICU dengan bed rumah sakit


Vano dan nyonya Indira pun duduk di depan ruang ICU dengan segala kecemasannya


"Mom, bagaimana kalau sampai Alina kenapa²" Lirih Vano. Tak sadar, air mata Vano pun sudah mulai membasahi pipinya


"Sabar Vano kita doakan saja, semoga Alina baik² saja" Jawab nyonya Indira dengan mengelus lembut rambut Vano

__ADS_1


1 jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruang ICU, tempat Alina di rawat


"Permisi suami ibu Alina?"


"Benar dok, dengan saya sendiri. Bagaimana kondisi istri saya dok?"


"Mari silahkan masuk, saya mau berbicara serius dengan anda. Ibunya juga boleh masuk jika mau"


"Baik dok" Vano dan nyonya Indira pun mengikuti sang dokter untuk masuk ke dalam ruangan di samping ruang ICU, karena memang selain dokter dan perawat, tidak boleh sembarangan orang masuk kedalam ruang ICU


"Kita langsung to the point saja ya pak, karena ibu Alina mengalami pendarahan hebat, kita terpaksa harus melakukan kuretase pada bayi nya. Yaitu mengambil janin dari rahim ibu Alina, karena memang janinnya sudah tidak bisa diselamatkan" Seperti menggantung, sang dokter tidak melanjutkan ucapannya, melainkan ia menunggu reaksi Vano, kira² apakah ia siap menerima berita selanjutnya


Vano yang tidak percaya langsung menutup mulutnya, ia menangis mendengar kabar ini, "Lalu istri saya bagaimana dok? Apa dia baik² saja"


"Seperti yang saya peringatkan kepada bapak, istri bapak tidak boleh hamil sebelum masuk bulan ke-dua pasca operasi, karena itu dapat membahayakan keselamatan janinnya, dan sekarang benar terjadi kan. Selain itu saya dengan berat hati juga harus menyampaikan bahwa kita terpaksa mengangkat rahim ibu Alina karena pendarahan nya tidak berhenti-berhenti walau janinnya sudah diambil dan jika tidak segera di angkat maka rahimnya bisa membusuk di dalam, karena rahim ibu Alina sudah tidak dapat berfungsi lagi, ini bisa terjadi karena ibu Alina belum sepenuhnya memulihkan rahimnya, sehingga jaringan² yang terdapat di sekitar rahim ibu Alina menjadi terputus saat ibu Alina mengalami keguguran dan pendarahan yang hebat "


Vano semakin bertambah shock mendengar penjelasan sang dokter, "Berarti saat ini istri saya sudah tidak memiliki rahim dok?"


"Dengan berat hati saya mengatakan, 'Iya Pak' "


Vano terdiam sesaat, bukannya sedih ataupun terkejut, Vano justru memasang wajah dinginnya


"Baiklah, saya keluar dulu. Ayo Mom" Sesampainya di luar ruangan, Vano langsung memukul dinding di depannya


"Aarghhh, sialan..." Vano berteriak frustasi


Nyonya Indira pun langsung mendekat ke arah Vano, "Sudah nak, sudah, jangan seperti ini. Malu dilihat banyak orang"


"Kenapa hidupku menjadi suram begini Momm" Vano menangis di dekapam sang Mommy


Degg...


Vano memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya


********


3 jam kemudian, setelah operasi Alina sukses, ia segera dibawa ke ruang rawat inap bersama pasien lainnya, Vano sengaja tidak memesan kamar VIP karena ia juga sedang mengalami krisis ekonomi


Perlahan-lahan jari- jemari Alina mulai bergerak, di susul dengan matanya yang terbuka dengan perlahan


"Mas" Lirih Alina memanggil Vano yang duduk di sampingnya dengan bibirnya yang pucat


Vano tidak menoleh apalagi menjawab ucapan Alina, ia melamun seraya memandang lurus ke arah kaca di kamar Alina


"Mas" Panggil Alina sekali lagi dengan lirih, namun tetap saja Vano tidak merespon ucapan Alina


Akhirnya dengan sekuat tenaga, Alina berusaha meraih tangan Vano dan memanggilnya sekali lagi, "Mas?"


Dan berhasil, pandangan Vano beralih pada Alina


Vano pun menatap tangannya yang sedang di sentuh oleh Alina, ia pun menyingkirkan tangan Alina dengan lembut

__ADS_1


"Tidurlah" Ucap Vano dengan nada datar


"Mas, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Alina dengan cemas..


Vano menghela napas berat, daripada istrinya ini banyak biacara, ia pun memilih untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Alina, "Kamu keguguran Alina" Jawab Vano dengan nada dingin


"Apa?!! Apa mas? Aku nggak salah denger kan?" Alina menangis dengan histeris saat mengetahui bahwa dirinya mengalami keguguran


Nyonya Indira yang mendengar suara tangisan dari dalam kamar pun segera masuk


"Alina, kenapa kamu menangis?" Tanya nyonya Indira sedikit risih


"Mom, aku keguruan mom, aku keguguran" Akhirnya dengan terpaksa nyonya Indira pun memeluk Alina dan menenangkannya


"Sudahlah, mungkin ini sudah takdirnya. Tidak perlu menangis histeris seperti ini" Ucap Nyonya Indira


"Tapi anakku Momm~"


"Sudah Alina!! Kenapa kau itu cengeng sekali sih" Karena tidak kuat menahan rasa risihnya, nyonya Indira pun malah membentak Alina


Alina pun melepas pelukannya dan menundukkan kepalanya


"Maaf" Hanya kata itu yang dapat Alina ucapkan


"Alina, mau tidak mau aku harus menikah lagi, Maaf" Lirih Vano dengan samar namun masih bisa terdengar oleh telinga Alina


"Mas? Kenapa kamu menikah lagi? Setelah ini kita bisa mempunya anak lagi Mass" Belum selesai kesedihan Alina tentang kehilangan anaknya, kini bertambah dengan ucapan Vano yang ingin menikah lagi


"Tidak bisa Alina" Vano sedikit tidak tega untuk mengatakan yang sejujurnya karena bagaimanapun kehidupan wanita terletak pada rahimnya


"Kenapa mas kenapa? Toh kalau kamu menikah lagi juga tidak secepat itu kan istri baru mu hamil?" Alina mencekal tangan Vano untuk melampiaskan kesedihan dan amarahnya


"Tidak bisa Alina pokoknya tidak bisa" Vano berusaha menepis tangan Alina


"Kenapa tidak bisa Mass?!!" Alina membentak Vano dengan nada amarah


"Karena kamu sudah tidak punya rahim Alina!!!"


Degg


"A-apa mas?" Alina berusaha memastikan sekali lagi dengan pendengarannya


Vano menghela napas panjang, "Rahim mu sudah di angkat Alina" Lirih Vano


"Aaaaaa.... Tidak mungkinnnn, aku pasti salah dengar kan mass?!!" Alina berteriak seperti orang kehilangan akal


Sedangkan nyonya Indira hanya dapat menghela napas kasar seraya memijat pangkal hidungnya, saat semua orang diruangan tersebut melihat kearah mereka


*


*

__ADS_1


*


Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏


__ADS_2