
...!Attention ...
~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~
*
*
*
"Mas? Kamu nggak berangkat kerja?" Tanya Alina seraya menautkan kedua alisnya
Vano pun menghela napas panjang, "Perusahaanku mengalami penurunan saham yang lumayan drastis Al" Lirih Vano seraya menijat pelipis matanya
"Maksudnya?" Alina kembali bertanya
"Entahlah, spertinya perusahaan ku hanya tinggal menunggu kebangrutan" Lirih Vano lagi
Seketika Alina pun membulatkan kedua matanya, "Apa tidak ada cara lain Mas?"
Vano pun menggelangkan kepalanya, namun seperdetik kemudian ia langsung menoleh kepada Alina, seraya berkata, "Sepertinya ada satu cara lagi Al"
"Apa?!" Tanya Alina dengan semangat, ia sangat senang mengetahui bahwa ternyata masih ada satu cara lagi untuk menyelamatkan perusahaan suami nya
"Ayahmu bisa menyuntikkan dana ke perusahaan ku atau paling tidak, suruh dia menanam saham di perusahaan dengan nominal yang besar, bagaimana?" Tanya Vano dengan muka berseri-seri
Berbeda hal dengan Alina, wajahnya yang tadi tampak sangat semangat kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pucat lesu
"Mas? A-apa tidak ada cara lain saja? Aku juga tidak yakin ayahku mau membantu mu" Sebenarnya bukan itu alasan utama Alina. Alasan utama Alina adalah, ia tidak mau ayahnya jadi ikut terkena imbasnya ketika membantu Vano. Selama ini Alina memang tau sepak terjang Vano yang cukup handal dalam urusan bisnis, namun situasi saat ini sudah berbeda, nama baik Vano sudah terlanjur tercoreng sehingga tidak ada satu perusahaan pun yang mau bekerja sama dengan perusahaan Vano
"Memang nya kenapa? Kau bisa memaksa ayahmu bukan untuk menyuntikkan dana ke perusahaanku? Kau ini kan anaknya, tidak mungkin ayahmu menolak, lagipula dulu saat perusahaan ayahmu hampir mengalami kebangkrutan, aku lah yang meminjam beberapa dana agar perusahaan ayahmu kembali normal. Dan sekarang saatnya lah untuk meminta kembali dana itu" Jelas Vano dengan santai
"Meminjam kan dana? Untuk apa dulu kamu meminjamkan dana kepada ayahku?" Tanya Alina
"Untuk menikahimu, dulu aku sengaja meminjamkan dana yang cukup besar kepada ayahmu dengan kau sebagai jaminannya" Vano menjelaskan asal mula ia menikahi Alina
"Jadi selama ini kamu menikahi aku hanya sebagai jaminan ayahku? Bukan karena kehendakmu sendiri?" Hati Alina kembali teriris saat mengetahui bahwa selama ini Vano rela menikah dengannya karena dirinya sebagai jaminan
"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa dulu aku menikahi mu, hanya untuk sebagai ibu pengganti"
"Tapi kau tidak pernah mengatakan bahwa aku ini dijadikan istri karena jaminan mas!!!" Alina membentak Vano dengan nada yang cukup keras
Deg...
Entah mengapa tiba² Vano jadi merasa bersalah karena telah mengatakan yang sebenarnya
__ADS_1
Vano berusaha menggapai tangan Alina, namun Alina menepisnya, "Alina, dengarkan aku dulu, semua yang berlalu biarlah berlalu, tidak perlu menangis lagi. Toh tidak ada orang yang tau juga selain kita dan ayahmu, jadi berhentilah menangis" Vano memeluk tubuh Alina yang masih bergetar akibat menangis
"Besok kamu akan menjalankan operasi bukan?" Tanya Vano berusaha mengalihkan pembicaraan
"Hmm" Jawab Alina seraya mengangguk-anggukkan kepala
"Yasudah kamu bersiaplah, aku akan menemani mu kerumah sakit" Ucap Vano dengan nada sedikit lembut
"Baiklah" Lirih Alina, ia pun menaiki anak tangga dan menuju ke kamarnya untuk bersiap
********
Kini Alina dan Vano sudah sampai di rumah sakit
Vano mengikuti kemana arah Alina pergi dengan menenteng tas yang berisikan barang keperluan Alina selama menginap di rumah sakit
"Ayo mas, kita langsung ke kamarnya" Ajak Alina
"Baiklah" Jawab Vano
Vano dan Alina pun menuju ruangan tempat Alina akan dirawat nantinya
Saat memasuki ruangannya, Vano melihat sebuah tulisan di samping pintu masuk tersebut
"Ruang Vip?" Gumam Vano
Vano pun menurunkan tas Alina
"Lalu?" Tanya Vano
"Lalu apa? Sekarang kamu bayar semuanya di tempat administrasi di sana" Ucap Alina seraya menunjukan ruang adiministrasi
Vano pun mengangguk dengan ragu, dan kemudian ia berjalan menuju tempat administrasi
"Selamat sore bapak, ada yang bisa dibantu?" Tanya suster disana dengan ramah
"Sore sus, saya ingin melunasi biaya operasi yang akan di jalankan istri saya" Jawab Vano
"Baik atas nama ibu siapa?"
"Atas nama Alina Arabella"
"Baik pak total biaya operasi 15 juta 350 ribu, ini belum termasuk biaya kamar ya pak. Untuk biaya kamarnya 3 juta 200 ribu. Berarti semua total biayanya 18 juta 550 ribu" Sang suster juga memberikan kertas rincian pembayaran
Vano menelan ludahnya kasar saat mendengar uang yang harus ia keluarkan untuk membiayai pengobatan Alina
__ADS_1
"Ba-baik sus, ini uang nya" Vano memberikan uang cash, untung saja Vano membawa uang cash 20 juta, namun tak pernah terpikirkan oleh Vano bahwa Alina akan menyewa kamar VIP dalam kondisi Vano yang sedang kritis saat ini
"Saya hitung dulu ya pak" Sang suster pun memasukkan uang yang diberi oleh Vano ke dalam mesin penghitung uang
"Baik, uangnya sudah pas. Mari saya antar ke kamar" Sang suster pun menuntun Vano dan Alina untuk masuk ke dalam kamar VIP yang sudah dipesan Alina
"Silahkan istirahat dulu ibu Alina. Saya tinggal dulu ya permisi"
"Baik sus, terimakasih" Jawab Alina
Setelah sang suster keluar, Vano pun beralih pada Alina, dengan tatapan tajamnya
"Kenapa kamu menyewa kamar VIP? Kamu tau kan kalau aku ini sedang mengalami krisis keuangan" Vano sedikit membentak Alina
"Lalu bagaimana mas? Kamu menyuruhku untuk berbaur dengan orang² begitu? Cihh, tidak mau" Setelah selesai mengatakan kalimat pedas tersebut, Alina segera beranjak masuk menuju kamar mandi
"Tapi kamu juga harus mengerti aku Ali~"
Jederr, belum selesai Vano berbicara, Alina segera menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras
Vano yang merasa di acuhkan oleh Alina pun merasa frustasi sendiri
20 menit pun berlalu, Alina pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi dan bersih
Namun saat Alina hendak kembali ke tempat tidurnya, ia tidak menemukan keberadaan Vano
"Dimana Mas Vano? Sudahlah, mungkin dia ada urusan lain" Alina pun kembali mengacuhkan Vano. Ia tidak tau bahwa saat ini Vano sedang marah kepadanya
Alina pun memilih untuk membuka sosial media yang ada di hp nya
"Astagaaa, belum redup juga masalah ini?" Alina menjadi geram sendiri saat melihat tranding topik yang masih membahas Alina sebagai pelakor
"Ckkk, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus membersihkan nama baik ku dengan cara apapun itu"
Saat sedang berpikir cara untuk menyelamatkan nama baiknya, tiba² saja terlintas ide gila di pikiran Alina
"Cihh, lihat saja kamu mbak Kinara, entah setelah ini bagaimana nasibmu"
Alina pun menyeringai penuh kepuasan setelah berhasil membuat fitnah tentang Kinara
*
*
__ADS_1
*
Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏