Belenggu Pernikahan

Belenggu Pernikahan
Pasrah


__ADS_3

...!Attention! ...


~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~


*


*


*


...Pukul 07.00 ...


Saat ini Kinara sedang membantu kakak iparnya untuk menyiapkan sarapan


Rania memperhatikan Kinara yang sering melamun, ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Kinara


"Kinara? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Rania berkata lembut seraya mengelus punggung Kinara


Kinara yang sedang melamun pun sedikit terkejut ketika sang kakak ipar berbicara, "Eoh Mbak Rani. Tidak, tidak ada kok" Jawab Kinara dengan menundukkan kepalanya


Rania pun menghela napas, "Kinara, jika kamu sedang ada masalah.. ceritakan saja, aku akan senantiasa mendengarkan" Ucap Rania

__ADS_1


Kinara langsung memeluk erat Rania, "Mbak, aku ingin sekali bercerai dengan Vano, tapi aku takut anakku tidak akan memiliki seorang ayah"


Rania pun membalas pelukan sang adik ipar, "Kinara, jangan pernah berpikiran untuk kembali bersama Vano, sudah cukup sampai disini penderitaanmu, jangan biarkan Vano kembali menginjak- injak harga dirimu. Kamu berhak bahagia Kinara, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti mendaptkan laki² yang lebih baik dan bisa menjadi ayah yang baik juga untuk anakmu" Rania menasehati Kinara agar tidak salah langkah lagi


Kinara mengendurkan pelukannya, ia menatap wajah teduh sang kakak ipar, "Aku tidak berharap menikah lagi mbak, aku masih sangat trauma, untuk saat ini biarkan aku menikmati hidup saja, sambil menunggu buah hatiku lahir" Kinara tersenyum hangat seraya mengelus perutnya


"Semua terserah padamu Kinara, Mbak hanya mengingatkan saja, jangan sampai kamu mengambil jalan yang salah" Kinara mengangguk menanggapi ucapan Rania


"Setelah makan, kamu mau ke dokter kandungan kan?" Tanya Rania


"Iya mbak" Jawab Kinara, kemudian merekapun melanjutkan kegiatannya masing- masing


******


"Alina, bagaimana kalau sekarang kita periksa kandungan kamu? Aku ingin melihat perkembangan anakku" Ucap Vano dengan antusias


Alina yang mendengar permintaan Vano pun langsung tersedak makanan, "Uhuk, uhuk" Alina menepuk- nepuk dadanya, Vano pun dengan sigap langsung memberikan segelas air minum kepada Alina


"Astaga, harus beralasan apa lagi aku" Batin Alina


"Alina?" Vano memanggil Alina yang sedang melamun

__ADS_1


"Emm Mas, aku~ "


"Tidak ada tapi² an, pokoknya sekarang kita harus periksa. Sekarang kamu habiskan makananmu lalu bersiap untuk periksa" Vano hendak beranjak dari tempat duduknya namun Alina lebih dulu mencekal tangan Vano


"Mas, aku periksa saja sendiri, kamu berangkat kerja saja" Alina berusaha mecegah Vano untuk pergi ke rumah sakit


Vano memincingkan matanya, "Kenapa? Apa aku tidak boleh melihat perkembangan anakku?" Tanya Vano dengan nada mengintimidasi


"Ti-tidak mas bukan begitu~"


"Pokoknya hari ini kita periksa. Tidak ada bantahan" Vano mengakhir pembicaraan dan pergi menuju kamarnya


Setelah kepergian Vano, Alina terduduk lemas di kursi, "Bagaimana kalau nanti Mas Vano tau, kalau aku tidak hamil. Apa dia akan menceraikan aku?" Gumam Alina seraya menggigit kuku jarinya


"Aku harus mikirin cara buat batalin pemeriksaan ini. Tapi apaa?" Alina frustasi memikirkan cara untuk membatalkan pemeriksaan nya


Akhirnya Alina pun pasrah dengan semua takdirnya, ia tidak tau harus berbuat apa lagi setelah ini


*


*

__ADS_1


*


****Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏****


__ADS_2