
...!Attention ...
~ Cerita ini di tunjukkan/dipublikasikan hanya untuk sekadar hiburan semata, tidak bermaksud menyinggung ataupun mencemarkan nama baik orang atau tokoh dalam alur cerita, cerita ini murni haluan author, jadi tolong bijak dalam membaca alur cerita, Selamat membaca readers ~
*
*
*
Hari ini adalah jadwal Alina untuk melakukan operasi pada rahimnya
Sekitar 20 menit yang lalu Alina telah dibawa seorang suster ke dalam ruang operasi
Sekarang Alina telah dibawa kembali ke kamarnya
"Bagaimana sus operasi istri saya?" Tanya Vano seraya melirik Alina yang sudah terbaring lemas di tempat tidur
"Alhamdulillah operasi nya lancar pak, tapi saya mendapat informasi dari dokter yang mengoperasi ibu Alina, untuk 2 bulan ini tolong di usahakan ibu Alina jangan sampai hamil dulu, karena kondisi rahimnya sedang lemah, takutnya terjadi hal² buruk pada janinnya" Jelas sang suster
"Baik saya pergi dulu ya, silahkan beristirahat ibu Alina" Setelah kepergian sang suster, Vano masih diam mematung tidak mengatakan apapun
Alina yang merasa aneh dengan sikap Vano pun memutuskan untuk bertanya, "Kenapa Mas?" Alina bertanya seraya meraih pergelangan tangan Vano
Namun tiba² saja Vano menepis tangan Alina
Ia menghela napas kasar, "Alina, kamu dengar sendiri kan kalau kamu baru bisa hamil setelah 2 bulan?!" Vano bertanya seraya meninggikan sedikit intonasi suara nya
Tiba² saja perasaan Alina menjadi tidak enak, "La-lalu?" Tanya Alina dengan terbata-bata
Vano pun kembali menghela napas kasar, "Kamu tidak mungkin lupa kan dengan peringatan dari daddy, kamu harus segera hamil dalam waktu 2 bulan ini Alina"
"Tidak mungkin mas, bukankah suster tadi bilang kalau aku baru bisa hamil setelah dua bulan, rahimku masih lemah mas" Alina berusaha memberi pengertian kepada Vano
"Lalu bagaimana? Hah?! Kamu memintaku untuk merelakan semua aset berharga ku hanya demi kamu begitu? Hah?!" Tanpa sadar Vano membentak Alina
"Apa tidak bisa seperti itu saja mas? Aku yakin tanpa semua harta ini, kita akan hidup bahagia" Lirih Alina
"Tidak bisa, pokoknya tidak bisa. Kalau sampai dalam waktu 2 bulan ini kamu belum hamil juga, maka aku harus menikahi wanita lain" Tegas Vano
"Baiklah, bulan depan aku pasti sudah hamil" Alina mengabaikan peringatan dari sang dokter, hanya demi bisa bertahan dengan Vano
********
Ke-esokkan harinya, Alina sudah di perbolehkan untuk pulang kerumah karena memang operasi yang dilakukan Alina tidak terlalu berat
Di sepanjang perjalanan pulang, Vano ataupun Alina, sama sekali tidak ada yang membuka suara
__ADS_1
Vano masih kecewa dengan Alina yang ternyata tidak bisa segera hamil, sedangkan Alina, ia tidak tau harus berkata apalagi untuk membela dirinya
Hanya satu ketakutan Alina saat ini, yaitu tidak bisa secepatnya memberikan Vano seorang keturunan
"Tapi bagaimana kalo terjadi sesuatu pada anakku nanti?" Batin Alina, ia masih bergelut dengan pikirannya sendiri, tentang bagaimana caranya memberikan keluarga Vano seorang penerus yang terlahir dari rahimnya, sedangkan rahimnya sendiri masih lemah jika harus mengandung seorang anak
Tanpa terasa, mereka pun telah sampai di kediaman Vano
"Turunlah" Vano berkata dengan dingin, ia bahkan tidak peduli dengan Alina yang sedang kesusahan untuk turun dari mobil
"Astaga, mas Vano meninggalkan ku begitu saja?" Gumam Alina dengan kesal
Dengan langkah tertatih-tatih, akhirnya Alina telah sampai di kamarnya
Alina pun merehatkan badannya yang lelah pasca operasi
"Kalau sampai mas Vano menikah dengan wanita lain dan memiliki seorang anak, pasti anak itulah yang nanti nya akan menjadi pewaris keluarga ini" Gumam Alina
"Tidak, tidak boleh, hanya aku yang boleh melahirkan keturunan untuk keluarga ini. Sekalipun aku harus mempertaruhkan rahimku" Lirih Alina
"Tapi bagaimana dengan nasib anak mbak Kinara? Apa jika semua orang tau tentang kebenarannya, maka anak mbak Kinara yang di akui? Apa anak mbak Kinara yang akan di akui sebagai pewaris keluarga mas Vano?" Alina kembali cemas memikirkan tentang anak Kinara
Namun ia berusaha menepis pikiran buruknya, "Tidak tidak mungkin mas Vano tau kalau anak yang dikandung mbak Kinara adalah anaknya" Gumam Alina dengan sedikit ragu
********
1 bulan telah berlalu, tapat hari ini juga Alina sedang merasakan mual pada perutnya, selain itu Alina juga merasakan pusing yang berlebih sehingga saat ini ia sedang terbaring lemah di kasur
"Makan lah dulu Alina, sebentar lagi dokternya akan datang" Vano berkata seraya menyiapkan makanan untuk Alina
"Tidak mau mas, perutku sangat mual, aku tidak bisa makan" Alina menolak makanan yang di berikan oleh Vano, ia justru berbalik membelakangi Vano
"Alinaa, kamu tidak boleh begini. Kamu harus tetap makan agar perutmu tidak kosong" Vano berusaha memberi pengertian kepada Alina agar mau makan
Saat Alina dan Vano sedang asik berdebat kecil, tiba² saja ada orang datang ke kamar Vano
"Tuan, dokternya sudah datang" Ucap orang tersebut dengan ramah. Yup orang tersebut adalah pembantu baru di rumah Vano, Alina meminta Vano untuk menyewakan pembantu, sebagai imbalan bahwa ia telah membantu Vano untuk memperbaiki kembali nama baiknya, dan Vano pun menyanggupinya karena bagi Vano itu tidak terlalu besar
"Suruh dia masuk" Perintah Vano pada pembantu barunya yang bernama bik Siti
"Baik tuan" Setelah menyanggupi perintah tuannya, pembantu Vano pun segera bergegas turun kebawah untuk mempersilahkan sang dokter masuk ke dalam kamar
Sekitar 1 menit, akhirnya sang dokter telah sampai di kamar Alina, ia pun segera memeriksa kondisi Alina yang tampak lemas tak berdaya
"Bagaimana? Ada apa dengan istri saya?" Tanya Vano
Sang dokter pun melepaskan stetoskop nya dan beralih meletakkan ujung jari telunjuk dan tengahnya pada pergelangan tangan kiri Alina
__ADS_1
Setelah dirasa selesai menentukan diagnosa nya, sang dokter pun beralih menatap Vano yang tampak sedikit khawatir
Sang dokter menepuk pelan bahu Vano seraya berkata, "Tidak perlu khawatir pak Vano, istrim anda baik- baik saja"
Vano mengernyitkan alisnya, ia berusaha mencerna perkataan sang dokter
"Ma-maksudnya?" Tanya Vano dengan gugup
"Istri anda sedang hamil pak, usia kandungannya sudah hampir mencapai 2 minggu" Ucap sang dokter
Vano yang mendengarnya pun langsung menutup mulutnya tak percaya dengan berita yang di sampaikan oleh sang dokter
"Apa ini benar dok?" Tanya Vano dengan bahagia
"Untuk apa saya berbohong? Lebih baik besok anda ajak istri anda periksa ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya karena sepertinya dia sangat lemas" Jelas sang dokter seraya menuliskan resep obat yang harus di beli oleh Vano
Setelah selesai menulis resepnya, sang dokter memberikannya kepada Vano, "Ini pak resep obatnya. Kalau begitu saya pergipamit dulu. Permisi" Sang dokter pun pergi meninggalkan kediaman Vano dengan diantar oleh pembantu di rumah Vano
Sedangkan Vano, ia segera memeluk Alina dengan sangat erat dan hangat, ia sangat senang mengetahui bahwa istrinya sedang hamil
"Terimakasih Alina, terimakasih.. akhirnya kamu mewujudkan impian ku untuk menjadi seorang ayah" Vano berkata dengan nada bahagia seraya mengusap lembut rambut Alina
Sedangkan Alina, ia hanya bisa terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apapun, ia tidak tau, ini sebuah berita baik atau sebuah malapetaka, mengingat pesan dokter kandungan yang merawat Alina tempo lalu untuk menunda kehamilannya dulu
********
( Di sisi lain )
Di rumah Gio tampak hangat dan harmonis seperti biasanya
Dalam waktu kurun 1 bulan ini Gio melarang Kinara untuk pergi kemanapun, ia takut akan terjadi sesuatu pada sang adik, mengingat berita fitnah yang di sebarkan oleh Alina masih belum reda
"Mass, aku ingin keluar.." Rengek Kinara pada sang kakak
"Sabar Kinara, 2 hari lagi adalah hasil sidang keputusan tentang perceraian mu dengan Vano. Selain itu, Mas juga akan menyebarkan bukti² tentang berita hoax tersebut" Tegas Gio
"Tapii aku bosan mass" Kinara memanyungkan bibirnya di hadapan sang kakak
"Mengertilah Kinara, aku melakukan ini demi kebaikanmu dan keponakanku, apa kau mau saat keluar nanti tiba² terjadi sesuatu buruk pada dirimu. Itu juga bisa membahayakan bayi mu.." Gio kembali menasehati Kinara
"Baiklah" Kinara pun memilih mengalah dan kembali ke kamarnya, kini kamar Kinara telah di ganti di lantai bawah, karena Gio tidak mau kalau Kinara sampai kecapekkan akibat naik turun tangga
"Tunggu kehancuran kalian berdua" Ucap Gio seraya menyeringai puas, awalnya memang Gio ingin segera menyebarkan bukti² tersebut, tapi rasanya tidak puas jika Vano dan Alina hanya dihujat lewat sosmed. Maka dari itu Gio pun memutuskan akan menyebarkan bukti² nya sebelum persidangan terakhir Kinara dan Vano dimulai, agar Vano ada Alina menjadi bulan-bulanan para wartawan atau awak media saat di persidangan nanti
*
*
__ADS_1
*
Hai guys, ini novel perdananya author, jadi tolong dimaklumi dan di maafkan apabila dalam alur cerita ada salah kata atau mungkin kurang tepat kata-katanya.🙏🙏🙏