
Waktu berlalu begitu cepat, malam kembali menyapa mereka berempat yang rupanya sudah berada di tempat duduk tepat di depan ruang rawat inap ayahanda Aurora.
Jangan kaget, tidak ada salah hitungan. Mereka memang hanya ada berempat, Aurora, Gilang, Keysha dan Arjuna terkecuali Devin.
Kekasih yang paling disayangi oleh Aurora itu nampaknya tak bisa lebih lama lagi berada di rumah sakit ini karena harus pulang. Katanya sih, ada sedikit problem.
Sebenarnya, Aurora memang sangat ingin kalau sang kekasih bisa lebih lama untuk menemani tapi, Aurora juga tak ingin memaksa apapun karena sepertinya problem yang dimaksud memang harus segera diselesaikan.
"Ra ?" Panggil Keysha tiba-tiba yang membuat Aurora langsung menoleh.
"Apa ?"
"Devin ada masalah apa ? Kok sampai harus pulang duluan ?" Keysha bertanya karena penasaran sekaligus ingin mengutarakan apa yang menggangu pikirannya sejak tadi.
Aurora mengedikkan bahu, pertanda tak tahu pasti tentang masalah yang sedang dialami oleh kekasihnya itu.
"Katanya sih ada problem sama mamanya. Tapi, gak tahu juga jelasnya." Ucap Aurora.
"Lo tahu, Arin itu siapa ?" Pertanyaan pengganggu pikiran mulai dilontarkan oleh Keysha.
"Arin ? Gue gak tahu. Gak pernah denger juga nama itu." Jawab Aurora.
"Lo beneran gak tahu ? Devin gak kenalin atau gimana ?"
Aurora menggeleng dengan mudah. Ia berbicara jujur karena memang tak pernah mengenal seseorang bernama Arin.
"Memangnya kenapa sih, Key ?" Tanya Gilang yang ternyata juga ikut penasaran.
Apakah Keysha harus memberitahu mereka tentang apa yang tadi sempat tak sengaja dilihatnya ?
"Gue tadi gak sengaja ngelihat nama Arin di layar ponsel Devin." Kata Keysha dengan yakin.
"Maksudnya, Devin dapat pesan dari seseorang yang namanya Arin gitu ?" Arjuna juga mulai ikut penasaran.
"Bukan pesanโ" Keysha menggantung ucapannya sejenak, memang sengaja membuat mereka semua penasaran dan bertanya-tanya.
"Terus ?"
"Telepon. Devin dapet telepon terus dari Arin." Sambungnya.
"Maksudnya gimana sih ? Gue kagak paham." Seperti biasa jika soal seperti ini Gilang yang paling lama terkoneksi.
"Yang telepon si Devin mulu itu bukan petugas asuransi tapi, Arin." Keysha lebih memperjelas perkataannya.
Aurora masih terus saja diam, nampaknya gadis itu enggan untuk berkomentar apapun meski jujur saja semua perkataan yang diucapkan oleh Keysha berhasil membuat dirinya overthinking.
"Kamu yakin gak ?" Arjuna hanya ingin memastikan saja kalau kekasihnya itu tak sembarangan bicara ataupun menuduh.
"Yakin lah. Tadi kan, aku duduk di sebelah dia."
Mendengar semua itu membuat Aurora menghela napas cukup berat lalu ia beranjak dari tempatnya.
"Mau kemana, Ra ?" Tanya Gilang.
"Mau lihat bokap, lagi ngobrolin apa sama Pak Dikta kok lama banget." Jawab Aurora tampak santai tapi, pikirannya sudah dipenuhi oleh hawa negatif.
Tanpa berkata lebih banyak lagi, Aurora pun membuka pintu ruang rawat inap itu lalu pergi masuk tanpa mempedulikan teman-temannya. Terserah, kalau mereka mau terus membicarakan soal Arin yang penting sekarang Aurora tak mendengarnya.
__ADS_1
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Sudah berada di dalam ruangan, Aurora sedikit mulai bisa menghela napas lega. Setidaknya disini ia tak akan mendengar nama Arin ya, meskipun ada Pak Dikta sih tapi, no problem.
"Ayah..." Sapa Aurora dengan senyuman.
"Baru saja ayah ingin memanggilmu, eh sudah disini dulu." Kata sang ayah menyampaikan niatnya
"Ayah mau memanggilku ? Ada apa ?" Tanya Aurora lalu melangkah mendekati sang ayah yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Ada yang ingin ayah katakan kepadamu."
Tiba-tiba suasana di dalam ruangan itu terasa serius.
"Ingin mengatakan apa ? Katakan saja, Rara akan mendengarkan."
Entah mengapa, walaupun sang ayah belum mengatakan apapun jantung Aurora sudah berdebar dengan kencang. Rupanya gadis itu tengah gugup.
"Apa teman-temanmu masih berada di luar atau sudah pulang ?" Ayahanda Aurora itu masih terus berbasa-basi.
"Masih di luar. Mereka akan pulang nanti." Tutur Aurora memberitahu.
"Jadi, apa yang ingin ayah katakan ? Apakah membutuhkan teman-teman Rara ?" Tanya Aurora yang merasa takย sabar lagi.
Sang ibunda yang sedari tadi hanya duduk di sofa pun akhirnya berdiri lalu melangkah mendekat ke arah putrinya itu.
"Jangan terkejut ataupun menolak apa yang akan ayahmu katakan ya, sayang." Kata sang ibunda mewanti-wanti.
"Memangnya apa yang ingin dikatakan oleh ayah ?" Aurora dibuat semakin bertanya-tanya.
"Ayah gak tahu bisa bertahan dan menjaga kamu berapa lama lagi,"
Ayah Andre mengatakan semua itu secara perlahan-lahan dan cukup terbata-bata. Ini semua karena selang oksigen yang masih terpasang di hidung membuat beliau sedikit kesulitan.
"Ayah masih bisa bangun bahkan sampai berbicara seperti ini sama kamu pun merupakan sebuah keajaiban dari kebaikan Tuhan." Untuk sejenak ayah Andre berhenti berucap. Beliau harus mengatur napasnya dulu sebelum melanjutkan itu semua.
"Jangan bicara seperti itu ! Aurora yakin ayah akan bisa bertahan dan menjaga Aurora lebih lama lagi." Kata Aurora dengan penuh keyakinan.
"Tak ada yang tahu bahkan bisa memprediksi itu, Rara. Semakin hari berganti, umur ayah juga terus berkurang." Ayah Andre melontarkan perkataan yang membikin Aurora terdiam seperti patung.
"Jadiโ" Rupanya apa yang ingin dikatakan oleh Ayah Andre masih ada kelanjutannya. Mungkin, ini maksud dan bagian terpentingnya.
"โsebelum ayah pergi meninggalkan kamu, ayah sangat ingin menikahkan mu dengan Nak Dikta." Tutur Ayah Andre dengan harapan putrinya itu akan mengabulkan keinginannya.
Keinginan sang ayah itu sangat mustahil untuk dikabulkan. Aurora tak mungkin menikahi seorang pria yang sangat dibencinya bahkan sampai ia juga enggan untuk melihat ataupun melirik.
"T-tapi, ayah tahu kan kalau Rara sudah punya pacar ?" Karena terlalu terkejut, Aurora bahkan sampai tergagap saat bertanya.
Sang ayah mengangguk. "Ayah tahu tapi, dia bukan yang terbaik buat kamu." Ungkapan itu terdengar jujur.
"Kenapa ayah berkata seperti itu ?" Sebelah alis Aurora mulai terlihat terangkat.
"Rara sudah tiga tahun sama dia. Gak mungkin untuk mengakhiri hubungan ini." Kata Aurora dengan argumennya.
"Pacar kamu tak akan bisa menjaga kamu dengan baik. Kalau ayah menitipkan kamu dengan dia, ayah gak akan pernah bisa beristirahat dengan tenang." Tutur sang Ayah.
"Jadi, maksud ayah Pak Dikta yang bisa jaga Rara dengan baik gitu ? Sedangkan laki-laki yang notabene pacar Rara sendiri gak bisa ?" Ucap Aurora dengan suara sedikit meninggi tapi tak marah.
__ADS_1
"Devin akan mengecewakan kamu."
"Enggak ayah ! Mau sampai kapanpun, Rara gak akan menikah dengan Pak Dikta !" Tolak Aurora terdengar cukup tegas.
"Cowok yang boleh menikahi Rara ya hanya Devin, bukan yang lain." Imbuhnya.
"Rara, ini permintaan terakhir dari ayah. Apa kamu gak berniat untuk memikirkannya dulu ?" Bujuk sang ibu.
"Enggak bunda ! Rara gak mau menikah sama Pak Dikta." Aurora dengan kelas kepalanya masih bersikeras pada penolakannya.
"Rara bakal turutin apapun yang ayah mau tapi, gak dengan menikah." Katanya sekali lagi sembari menatap tajam ke arah Pak Dikta.
Pak Dikta yang sedari tadi hanya diam dan menjadi pendengar pun akhirnya bersua juga.
"Om Andre, kalau Rara tidak mau jangan dipaksa. Saya bisa menjaganya dengan cara selain pernikahan." Tutur Pak Dikta menyampaikan pendapatnya.
Aurora mencoba mengontrol emosinya. Ia terlihat berulang kali menarik dan membuang napasnya, hanya untuk mengatur napas yang memburu.
"Akan lebih baik kalau ayah tak memikirkan hal seperti itu untuk saat ini,"
"Ayah hanya boleh fokus pada kesembuhan bukan hal lainnya." Pinta Aurora lalu mengakhiri pembicaraan.
Mau sampai kapanpun, mau dipaksa bagaimanapun, Aurora tak akan mau menikah dengan Pak Dikta ! Keputusan Aurora sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat ! Benarkah ?
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Author bakal spill tipis-tipis jadi, kepoin aja dan pantengin terus IG punya author :)
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Mau bilang seperti biasanya, kalau kalian suka dengan cerita ini bisa diberikan like, vote dan komentarnya supaya author juga bisa semangat untuk updatenya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak ini kawan. Lebih banyak orang bisa makin seru :)
Oh ya, jangan lupa juga untuk follow akun noveltoon author atau kalian bisa gabung di grup. Mari berteman :v
.
.
.
Mau bilang apa sama Aurora ?
Sama Pak Dikta ? Atau Devin ? Atau ayah Andre ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1