
Aurora sudah menghabiskan kurang lebih lima jam bersama teman-temannya, berusaha untuk menyelesaikan tugas makalah.
Mereka berempat sudah sangat fokus sejak tadi sore dan sekarang waktunya mereka berhenti. Iya, tugas makalah milik Aurora yang dikerjakan secara bersama-sama itu telah rampung digarap dan hanya tinggal dicetak.
"Akhirnya selesai juga..." Kata Aurora sambil sedikit melakukan peregangan pada tubuhnya yang dirasa sedikit kaku karena terlalu lama duduk.
"Gak kerasa, udah lama banget ya kita disini." Ungkap Gilang sembari terus memakan kentang goreng yang masih tersisa.
"Tumben hari ini, otak Gilang kepakai banyak." Sindir Keysha tanpa maksud apa-apa.
"Jadi, maksud lo biasanya otak gue gak kepakai gitu ?" Tanya Gilang terdengar sedikit meninggi tapi tak marah.
"Bercanda, Lang. Serius amat sih hidup lo." Gurau Keysha sembari tersenyum lebar.
Karena tugas makalah milik Aurora sudah selesai ditambah dengan waktu yang makin malam, mereka bertiga berniat untuk berpamitan pulang.
"Bokap, nyokap lo belum pulang, Ra ?" Tanya Arjuna.
"Belum. Cuci darah kan lama, Jun. Butuh waktu." Jawab Aurora terdengar santai.
Arjuna hanya mengangguk-angguk kepala singkat.
"Ya udah, Ra. Kita balik dulu ya," Keysha mulai berpamitan.
"Loh, mau balik sekarang ? Gak mau agak nanti aja ?"
"Enggak dulu deh, Ra. Nyokap udah nyariin dari tadi." Kata Keysha.
Aurora akan mengerti itu. Ia tak menghalangi teman-temannya untuk pulang.
"Ya udah deh, kalau kalian mau balik hati-hati di jalan,"
"Arjun, lo kalau bawa mobil jangan ngebut-ngebut. Anterin si Keysha pulang dengan selamat." Aurora mulai memberikan petuahnya.
"Itu pasti, Ra. Tanpa, lo bilang gue juga pasti anterin dia pulang dengan selamat tanpa kurang apapun." Ucap Arjuna.
"Bagus deh."
"Buat gue gak ada nih, Ra ?" Kata Gilang ketika Aurora tak mengatakan apapun untuknya.
"Gue gak lo bilangin apa-apa ? Gue juga mau balik loh." Imbuhnya.
"Lo juga hati-hati. Jangan sampai kecelakaan lagi kek waktu itu !"
Beberapa bulan yang lalu, Gilang pernah terlibat dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang bisa dibilang cukup parah. Gilang tanpa sengaja menabrak pembatas jalan.
Sepeda motornya melaju dalam kecepatan tinggi lalu, rasa kantuknya mulai tak bisa di kontrol.
Karena kecelakaan itu, Gilang harus dilarikan ke rumah sakit dan menjalani perawatan intensif selama seminggu.
Tahu kalau teman kesayangannya kecelakaan sampai harus dibawa rumah sakit membuat Aurora sedih bahkan sampai menangis.
Meskipun sikap Gilang ke dirinya terkadang suka kurang baik dalam artian menggoda, Aurora sangat menyayanginya sampai tidak mau kehilangan.
"Iya Aurora. Waktu itu gak sengaja merem dikit." Kata Gilang sembari tersenyum usil.
"Pokoknya, kalau lo udah sampai rumah harus kabarin gue." Perintah Aurora yang harus dilaksanakan.
"Iya..."
Tanpa memperpanjang obrolan, Aurora pun mengantar ketiga temannya itu sampai ke depan pintu pagar dari rumah ini.
Arjuna bersama sang kekasih โ Keysha, sudah nampak berada di dalam mobil.
"Rara..." Panggil Keysha sembari tangannya melambai ke luar jendela.
Aurora pun membalas lambaian tangan itu.
"Gue balik dulu ya. See you tomorrow..." Pamit Keysha.
__ADS_1
"Hati-hati. Kalau sudah sampai rumah kabarin juga ya."
"Okee...."
"Makasih juga buat bantuannya." Pungkas Aurora sebelum temannya itu benar-benar pergi berlalu bersama mobil yang dikendarai oleh Arjuna.
"Sans aja. Gue juga seneng bantuin lo." Ucap Keysha terakhir sembari memberikan sebuah senyuman lebar.
Terdengar bunyi klakson mobil yang memang sengaja di tekan oleh Arjuna. Itu adalah caranya untuk berpamitan. Tak lama, mobil yang dikemudian sendiri oleh Arjuna menyatu bersama kendaraan lain yang ada di jalan raya.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Setelah kedua temannya pergi untuk pulang, kini di kediaman Aurora hanya tersisa Gilang.
Tadinya, memang Gilang berniat juga untuk pulang namun, melihat Aurora sendirian di rumah ia jadi merasa tak tega untuk meninggalkannya.
Gilang akan menemani Aurora sampai kedua orang tuanya pulang ke rumah. Mungkin tak akan lama lagi.
"Gak apa-apa kok kalau lo juga mau pulang,"
"Gue gak masalah kalau di rumah sendiri." Kata Aurora yang sudah merasa tak enak dengan temannya itu.
"Gue mau jagain lo sampai bokap nyokap lo balik." Tutur Gilang sambil menatap Aurora.
"Emang lo gak dicariin ?"
Gilang tersenyum hambar. "Siapa yang mau nyariin gue ? Ibu kost ? Gak mungkin."
Di kota ini Gilang memang hanya seorang anak rantau yang mendapatkan beasiswa. Tinggal sendiri di sebuah kost dekat kampus dan hidup terpisah dengan kedua orang tuanya.
"Disini kan ibu kost udah kek wali buat lo." Ucap Aurora sembari melangkah masuk menuju teras depan rumah.
Tak lagi menimpali, Gilang juga memilih ikut mengekor Aurora. Kini, mereka berdua tengah duduk berdampingan sembari pandangannya menatap ke arah cakrawala yang malam ini terbilang indah.
"Tumben ya, bintangnya banyak banget." Ujar Aurora ketika melihat benda langit itu banyak bertebaran di langit yang sudah menggelap.
"Bulannya juga lagi purnama." Kata Gilang.
"Gilang..."
"Hm ?"
"Makasih ya, hari ini lo udah mau bantuin gue. Lebih tepatnya bantuin tugas gue." Kata Aurora terdengar tulus.
Gilang menoleh lalu mengacak singkat rambut Aurora. "Sama-sama anak cantik."
Aurora tersenyum lebar. Entah mengapa setiap bersama atau berada di dekat Gilang rasanya sungguh membuat nyaman.
"Ra ? Lo, beneran gak mau ada niatan buat putusin Devin ?" Tanya Gilang mendadak yang membuat Aurora langsung membelalak.
"Gak ada kayaknya. Emang kenapa sih, Lang ?"
"Gue pengen ajak lo balikan." Tak ada angin tak ada hujan, perkataan seperti itu keluar dari mulut Gilang.
"Lo bercanda kan ?"
Gilang menatap Aurora lekat-lekat lalu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Iya gue bercanda."
Entah mengapa itu membuat Aurora lega bahkan dirinya bisa tertawa sangat lebar.
"Bercandaan lo gak lucu, Lang !"
"Gue gak mau punya hubungan apapun lebih dari sahabat sama lo." Kata Aurora terdengar tegas.
"Kenapa ? Padahal kan sama gue enak, Ra."
"Enak ? Emangnya lo bisa dimakan ?"
__ADS_1
"Bukan gitu maksudnya...." Gilang menghentikan sejenak ucapannya.
"...gue yakin bisa jagain lo lebih dari semua cowok yang pernah lo kenal. Gue juga bisa bikin lo bahagia." Lanjutnya.
Aurora terkekeh kecil mendengar ucapan dari Gilang.
"Makannya itu, Lang. Gue maunya sahabatan sama lo. Biar nanti kalau ada cowok yang nyakitin, gue masih punya bahu buat bersandar dan rumah untuk pulang." Kata Aurora.
"Cuma sahabatan nih ?"
Aurora mengangguk lalu kembali berucap. "Lagipula waktu SMP kita juga pernah jadian. Ya, walaupun cuma cinta monyet sih."
Gilang tertawa. "Terus gue sok sok an jadi cowok brengsek yang coba-coba selingkuh."
"Kalau waktu itu lo gak selingkuh, mungkin sampai sekarang gue sama lo masih pacaran."
"Nasi udah menjadi bubur, Ra." Kata Gilang dengan suara kecil.
"Maafin gue ya, soalnya pernah nyakitin lo." Tambah Gilang dengan penyesalannya.
"It's okay, mas mantan kesayangan." Canda Aurora.
Suara gelak tawa dari mereka berdua terdengar cukup keras. Malam yang tadinya terasa sunyi kembali riuh karena tawa mereka berdua.
Namun, itu tak berlangsung lama.
Aurora tiba-tiba mendapatkan sebuah pesan singkat dari sang ibu yang isinya langsung membuat Auroraย tertegun.
"Kenapa, Ra ?" Tanya Gilang ketika suara tawa dari Aurora mulai berhenti terdengar.
"Tolong anterin gue ke rumah sakit, Lang !" Pinta Aurora yang nampak cemas.
"Bokap lo, baik-baik aja kan ?" Tanya Gilang hanya ingin memastikan.
Aurora menggeleng. "Masuk ICU."
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akun itu siapa tahu ada spoiler tipis-tipis.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Kawan-kawan ku yang paling baik, author cuma mau bilang kalau kalian suka dengan cerita ini bisa langsung berikan like, vote dan komentar nya.
Jadikan juga cerita ini sebagai favorit supaya kalian bisa dapat notifikasi ketika cerita ini akan di-update.
Ayo bersama ramaikan cerita ini :)
Biar kita bisa halu beramai-ramai.
Mau masuk grup atau follow akun noveltoon author, sangat dipersilahkan. Mari berteman :)
.
.
.
Hubungan kalian sama mantan pada baik enggak ? Hayo ngaku ๐คญ
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^