Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 31 : Penyesalan Yang Terlambat


__ADS_3

..."Aku coba dengan yang baru, kukira hilang bayangmu. Namun, tiap dengan yang baru, rasanya seperti ku berbohong dan curangi mu." ...


...- Tulus, Ingkar....



.......


.......


.......


Wajah tampan Devin terlihat sangat kusut setelah kepergian Aurora - sang mantan pacar. Ia bahkan beberapa kali kedapatan menghela nafas berat.


Jujur, meninggalkan cewek sebaik Aurora adalah hal bodoh yang pernah dilakukannya. Tak memungkiri ini juga akan menjadi penyesalan terbesarnya.


Jika bisa dipertahankan, Devin masih sangat ingin bersama dengan Aurora tapi, ia punya tanggungan akan permintaan terakhir sang kakak sebelum pergi.


Di tengah Devin berada pada pikiran yang masih kacau, hati yang belum ikhlas untuk melepaskan sekaligus kesedihan dan penyesalan, Arin - wanita yang katanya kekasih dari sang kakak, datang menghampiri Devin di tempat kerja.


Dengan perut yang sudah tampak membesar, Arin melangkah mendekati Devin yang masih terduduk dengan kondisi rambut acak-acakan dan wajah kusut.


"Hai..." Sapa Arin sembari memberikan senyuman hangat lalu mengambil tempat duduk tepat berhadapan dengan Devin.


Devin mendongak lalu membalas sapaan itu. Senyuman terpaksa mengembang begitu saja di bibirnya.


"Kenapa Devin ? Ada masalah ? Masih pagi kok mukanya udah kusut ?" Tanya Arin yang menyadari hal sederhana ini.


"Tidak ada." Devin mencoba menutupi semua perasaannya.


"Apa masih soal Aurora ?" Tebak Arin yang langsung membuat Devin menatapnya.


"Rara tadi kemari. Baru saja..." Ujar Devin memberitahu.


"Kamu yang mengundangnya ?" Tanya Arin.


"Iya..." Balas Devin dengan anggukan kepala.


"Lalu ?"


"Aku coba jelaskan semuanya ke dia, tapi..." Untuk sejenak Devin memberi jeda pada ucapannya ini.


"...dia gak percaya sama yang kamu jelaskan ?" Lagi-lagi tebakan Arin benar.


Dengan cepat, Devin mengangguk membenarkan semua itu.


Pembicaraan diantara mereka berdua mendadak menjadi serius. Arin mulai menggenggam tangan Devin sambil menatapnya lekat-lekat.


"Kalau kamu memang sayang sama Aurora, perjuangkan dia ! Abaikan semuanya. Aku sudah sering bilang sama kamu, kalau aku bisa sendiri membesarkan anak ini." Ujar Arin.


"Kamu memintaku untuk mengabaikan amanah terakhir kakak ?"


"It's okay, Devin. Aku hanya tidak mau melihatmu mengorbankan kebahagiaan hanya karena sebuah amanah itu." Tutur Arin.


Devin hanya diam. Semua yang dikatakan Arin membuatnya berpikir kembali.


"Devin..." Panggil Arin.


"Aku yakin Dave juga ingin melihat kamu bahagia," Kata Arin yang berusaha untuk meyakinkan Devin.


"Sebelum semuanya terlambat, selagi kita belum menikah." Sambungnya.


Devin menghela napas berat lalu menatap Arin dengan begitu yakin. Sekarang bagi Devin, sama sekali tak ada jalan untuk kembali. Meskipun sebenarnya dalam hati kecilnya ada keinginan untuk bisa bersama dengan Aurora.

__ADS_1


"Walau sekarang harus mengorbankan kebahagiaan tapi aku yakin akan ada kebahagiaan baru yang menanti,"


"Aku tidak akan mengubah keputusan apapun. Aku akan tetap menikahi kamu, menjagamu dan anak itu sesuai keinginan kakak,"


"Lagipula jalannya juga sudah buntu. Tak bisa kembali meski sangat ingin,"


"Aurora sudah menikah. Dia sudah mendapatkan kebahagiaan barunya." Tukasnya sembari memberikan sebuah senyuman lebar.


"Yakin ?" Arin hanya ingin memastikan saja.


"Iya..." Jawab singkat Devin.


Setelah semua obrolan itu, kini saatnya bagi Arin untuk memberikan bekal makan yang sudah disiapkannya khusus untuk Devin.


Arin sengaja menyiapkan semua ini karena tahu kalau jadwal kegiatan sang calon suami hari ini sangat padat. Pagi sampai sore harus bekerja menjadi barista di cafe lalu dilanjut dengan kuliah sampai malam nanti baru bisa beristirahat.


"Enggak banyak yang aku siapkan. Semoga bisa buat kamu suka." Katanya dengan penuh harap.


"Kamu yang siapin ini ? Sendirian ?" Tanya Devin.


"Dibantu mama dikit." Jawab Arin.


"Makasih ya..." Devin tersenyum. "Nanti pasti aku makan."


...🥀🥀🥀...


Ditatap terus seperti ini oleh Pak Dikta, membuat Aurora tak fokus untuk menyelesaikan tugas hukumannya.


Sebenarnya dengan kehadiran Pak Dikta disini itu lebih menguntungkan atau malah membuntungkan ?


"Pak Dikta ?" Panggil Aurora yang segera mendapat sahutan dari sang suami.


"Kita pulang aja yuk !" Ajak Aurora tiba-tiba.


"Pulang ? Tapi kan kamu belum menyelesaikan tugas hukumannya." Katanya yang mencoba mengingatkan Aurora.


"Kenapa ? Apa kamu menemui kesulitan ?" Tanya Pak Dikta yang tampak bingung.


"Pak Dikta yang membuat saya sulit menyelesaikannya..." Ungkap jujur Aurora.


"Saya dari tadi hanya diam, tidak menganggu kamu sama sekali." Katanya yang masih belum menyadari kesalahannya.


"Pak Dikta terus menatap saya dan itu berhasil buat saya gak bisa fokus."


"Kenapa tidak bisa fokus ? Apa kamu salah tingkah saat saya tatap ?" Goda Pak Dikta yang langsung membuat pipi Aurora memerah karena malu.


"Enggak gitu tapi—" Belum sempat melanjutkan ucapannya tiba-tiba Aurora mendapatkan sebuah panggilan telepon dari sang ibunda. Tak perlu membuat menunggu, Aurora langsung menjawab panggilan itu.


"Halo, bunda ?" Sapa Aurora tanpa basa-basi.


"Sayang, kamu dimana ? Apa masih di kampus ? Bisa datang ke rumah sakit sekarang ?" Kata sang ibunda dengan suara yang terdengar bergetar, seperti ada sesuatu hal yang terjadi.


"Kenapa, bunda ? Apa ada masalah ?" Tanya Aurora yang mulai ikut cemas.


"Ayah kamu tidak sadarkan diri." Sebuah kabar yang kurang baik ini berhasil membuat Aurora terkejut.


"Bunda masih belum tahu kondisinya karena dokter masih memeriksanya." Sambung sang ibunda.


Disaat Aurora masih berbincang via telepon dengan sang ibunda, Pak Dikta juga mendapatkan panggilan dari rumah sakit tempatnya bekerja.


Pihak rumah sakit hanya memberitahukan kabar kalau mereka menerima kedatangan pasien gawat darurat bernama Andreanus Wijaya Saputra.


Sontak kabar ini langsung membuat Pak Dikta merasa harus bergegas ke rumah sakit. Iya, pasien gawat darurat itu tak lain dan tak bukan adalah ayahanda Aurora.

__ADS_1


"Aurora ?" Panggil Pak Dikta yang terlihat terburu-buru.


Aurora yang memang sudah selesai berkomunikasi dengan sang ibunda pun langsung menoleh ke arah sang suami dengan wajah panik.


"Pak Dikta, ayah saya..." Karena terlalu panik, Aurora tak bisa berbicara dengan benar.


"Kamu tenang. Kita ke rumah sakit sekarang." Ajak Pak Dikta lalu menarik tangan Aurora keluar dari ruang perpustakaan ini.


Dengan tergesa-gesa, Aurora yang digandeng erat oleh Pak Dikta melangkah melewati lorong demi lorong dari gedung kampus ini untuk bisa mencapai parkiran.


Meskipun masih banyak mahasiswa, mereka terlihat tak peduli karena sekarang yang ada dipikiran dan sedang dikhawatirkan oleh mereka berdua adalah soal keadaan sang ayah.


"Itu, Pak Dikta sama Rara gandengan ?" Bisik-bisik mulai menyeruak diantara mereka ketika melihat Aurora dan sang dosen kesayangan.


"Keluar dari ruang perpustakaan barengan ?"


"Apa mereka memang sedekat itu ?"


"Perasaan Aurora sangat membenci Pak Dikta."


"Apa yang sedang terjadi disini ?"


"Mommy, calon imam gue lagi gandeng cewek lain."


"Hubungan spesial apa yang mereka berdua punya ?"



Seperti angin yang berhembus kencang, gosip seperti ini juga sama kencangnya tersebar sampai seluruh kampus.


Memang ya, kalau beritanya menyangkut soal Pak Dikta pasti akan ramai. Ya, tahu sendirilah gimana Pak Dikta sangat digandrungi sebagai seorang dosen di kampus ini.


Banyak fans, banyak yang sayang dan banyak yang mengejar-ngejar. Berasa menjadi artis di kampus.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Apa rahasia soal hubungan mereka ini masih bisa disembunyikan dan tertutup rapat atau terbongkar ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2