
..."Kehilangan sosok ayah adalah hal paling menyakitkan untuk seorang anak perempuan yang memang sedari dulu dekat dengan ayahnya."...
.......
.......
.......
Semua yang ada di dunia ini memang tak bisa selamanya. Semua hanya sementara dan yang kita miliki merupakan titipan dari sang Pencipta.
Kita tidak bisa menjadi sosok yang abadi karena kita hanya manusia yang berasal dari tanah dan nanti juga akan kembali ke tanah.
Hidup itu selalu singkat karena waktu terus bergerak dengan cepat tanpa mau sekalipun melambat. Maka dari itu, setiap momen yang pernah terjadi dalam hidup, entah itu baik atau buruk, harus terus dan tetap diabadikan agar menjadi kenangan dan pengalaman berharga.
Akhirnya setelah menemani Aurora selama kurang lebih 22 tahun dan melawan penyakitnya selama tiga tahun, tepat hari ini, sebulan sebelum hari ulang tahunnya, Ayah Andre harus berpulang kepada sang pencipta.
Berpulangnya ayah Andre berhasil membuat air mata Aurora dan ibunya mulai terjatuh. Kesedihan menyapa mereka berdua. Kehilangan sosok yang sangat disayangi adalah hal paling menyakitkan.
"Ayah gak mungkin pergi ! Ayah masih baik-baik aja kan ? Tadi malam ayah masih bisa teleponan sama Rara." Ucap Aurora yang masih berusaha denial.
"Bunda, dokter pasti salah kan ?" Aurora masih belum menerima fakta menyakitkan tentang kepergian sang superhero kesayangannya.
"Pak Dikta..." Aurora memanggil suaminya yang memang sedari tadi ada tepat disampingnya.
"Tolong periksa ayah ! Kalau Pak Dikta yang periksa, ayah bakal baik-baik saja." Katanya ditengah-tengah air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Belum menjawab apapun, Pak Dikta langsung menarik tubuh Aurora lalu membawanya masuk ke dalam pelukan hangat. Ia hanya berusaha untuk menenangkan dan menguatkan sang istri.
Pak Dikta sangat mengerti rasanya kehilangan orang tua karena ia juga pernah mengalami hal itu.
"It's okay, everything will be fine." Mungkin hanya ini yang bisa dikatakan olehnya untuk saat ini.
Di dalam pelukan ini, Aurora tanpa ragu menangis sejadi-jadinya. Ia tak akan menahan air matanya. Menangis untuk membuat perasaan lebih lega.
Kenapa semuanya harus terjadi saat ini ? Aurora sama sekali belum siap untuk menjalani hari dimana tidak ada sang ayah.
"Ayah janji bakal nemenin Rara terus. Tapi, kenapa ayah justru ingkari janji itu ?" Tanyanya ketika dalam pelukan hangat Pak Dikta.
"Tidak semua janji harus ditepati, Rara. Terkadang janji itu bisa diingkari karena keadaan yang memang tak mendukung." Jawab Pak Dikta.
"Bahkan hari ini, Rara belum sempat berbicara dengan ayah. Setidaknya beri kesempatan sekali saja supaya Rara bisa ucapkan salam perpisahan." Katanya dengan suara sayu.
"Nanti kita ucapkan sama-sama."
...---ooOoo---...
| Flashback On |
~ Sehari sebelum pernikahan Aurora.
Malam ini, dibawah bintang-bintang yang bertaburan dengan indahnya pada cakrawala, Aurora bersama sang ayah tengah terduduk di halaman belakang rumah.
Sepertinya ayah dan anak itu sedang berusaha untuk menghabiskan waktu bersama sebelum pernikahan yang terjadi esok hari.
"Aurora..." Panggil sang ayah yang langsung membuat Aurora menengok.
"Ada apa, ayah ?" Tanya Aurora sembari meneguk secangkir teh hangat.
"Rasanya ayah senang sekali karena tahu kalau kamu besok mau menikah dengan Nak Dikta..." Balas sang Ayah terdengar begitu semangat.
__ADS_1
"Rara mau menikah juga karena ingin menyenangkan ayah." Ujar Aurora.
"Benarkah ? Kalau begitu terima kasih banyak ya, Rara... Kamu berhasil membuat ayah tidak berhenti tersenyum." Kata sang ayah terdengar begitu tulus.
"Ya, meskipun Rara gak terlalu bahagia." Ungkap Aurora jujur.
"Tidak terlalu bahagia ? Kenapa ?" Tanya sang ayah penasaran.
"Ayah kan tahu kalau Rara itu gak suka sama Pak Dikta. Benci malahan..."
"Pak Dikta itu nyebelin banget ! Masa di kampus dia sering kasih nilai jelek ke Rara." Aurora hanya mencoba mengadukan kelakuan buruk yang tidak nyata kepada sang ayah.
"Contohnya makalah kemarin. Itu makalah Rara udah kerjain dengan penuh perjuangan tapi seperti gak dihargai. Makalah Rara ditolak begitu aja..." Ucap Aurora dengan menggebu-gebu.
"Pak Dikta kalau sama mahasiswa lain itu baik tapi, kalau sama Rara seperti punya dendam kesumat." Tukas Aurora.
Mendengar semua keluh kesah itu tak membuat ayah Andre ragu tentang semua kebaikan yang memang ada dalam diri Pak Dikta.
"Ternyata seperti itu sosok Nak Dikta di mata kamu. Sangat beda dengan apa yang ayah lihat." Ucapan ini memang terkesan ambigu.
"See... Masa ayah rela sih putri semata wayangnya yang cantik jelita ini nikah sama orang kek Pak Dikta ?" Aurora sepertinya salah menangkap maksud sang ayah.
"Dari apa yang ayah lihat, Nak Dikta bukan seperti seseorang yang kamu bilang..." Sang ayah mulai membenahi kesalahpahaman dan mengungkapkan maksud yang sebenarnya.
"Menurut ayah, Nak Dikta itu orangnya baik, tegas, pengertian, bijaksana, adil dan pastinya dapat dipercaya," Kata sang ayah yang langsung membuat Aurora melongo. Ayahnya sangat memuji dan bahkan mengagumi sosok Pak Dikta.
"Ayah juga sangat yakin kalau Nak Dikta itu orang paling tepat yang bisa menjaga dan membuat kamu bahagia." Tambahnya.
"Ayah jarang memuji Rara seperti itu !" Protes Aurora keras.
"Sebegitu spesialnya Pak Dikta. Ayah gak mau sekalian angkat Pak Dikta jadi anak ?" Tanya Aurora bermaksud bercanda.
"Angkat jadi mantu aja." Balas sang ayah dengan cepat.
"Anak dan mantu bukan opsi yang tepat. Rara juga gak mau punya kakak kek Pak Dikta." Kata Aurora lagi.
"Kalau kamu sudah menikah sama Nak Dikta..." Ayah Andre menyandarkan kepalanya pada kursi, ia mengambil posisi nyaman untuk melihat bintang-bintang.
"Ayah akan beristirahat dengan tenang." Sambungnya.
"Kata siapa ayah boleh beristirahat ? Meskipun Rara udah menikah sama Pak Dikta, ayah harus tetap ada di samping Rara ! Ayah harus lihat sifat asli yang dimiliki oleh Pak Dikta."
"Ayah akan lihat Nak Dikta terus memperlakukan mu dengan baik."
...🥀🥀🥀...
| Flashback Off |
Rumah peristirahatan terakhir sang ayah sudah terlihat begitu indah dengan diberikan banyak sekali tumpukan kelopak bunga mawar.
Aurora yang masih terpukul dengan kepergian sang ayah ini hanya bisa terduduk di tanah sambil terus menatap kosong ke arah nisan yang bertuliskan nama sang ayah.
Keysha yang memang datang ke prosesi pemakaman ini mencoba membantu Pak Dikta untuk membujuk Aurora supaya mau pulang. Pasalnya, sudah ada sekitar setengah jam Aurora belum ada niat untuk bergerak dari tempatnya.
Sambil merangkul tubuh Aurora, Keysha mencoba untuk berbicara dengan gadis yang pikirannya masih mengenang semua momen kebersamaan dengan sang ayah.
"Rara ?" Panggilan ini sama sekali tak mendapatkan respon apapun.
"Pulang yuk !" Meski tak mendapat respon, Keysha tetap berusaha mengajak temannya untuk pulang.
"Ra ?" Keysha mencoba memanggil lagi dengan harapan kalau temannya itu akan memberikan respon.
"Kita pulang, terus istirahat di rumah." Ajak Keysha lagi.
"Gue gak bisa ninggalin bokap." Tolak Aurora dengan suara pelan namun tetap bisa terdengar.
__ADS_1
"Mau berapa lama lagi lo disini ? Kalau terlalu lama, gue yakin bokap lo juga gak bakal seneng lihatnya." Kata Keysha.
Bujukan dari Keysha tak berhasil. Aurora menghiraukan itu. Sepertinya ia sudah bersikeras untuk berada disini lebih lama.
Keysha menengok ke arah Pak Dikta lalu memberi kode dengan gelengan kepala yang berarti Aurora tak mau diajak pulang.
.
.
.
Matahari sudah semakin terik dan yang masih setia tinggal di pemakaman hanya Aurora bersama Pak Dikta yang sedari tadi memegang payung untuk membuat sang istri nyaman.
"Kalau mau pulang, Pak Dikta bisa pulang..." Usir Aurora tiba-tiba.
"Tidak. Saya masih mau menemani kamu disini." Tolak Pak Dikta.
"Mungkin saya tidak akan pulang." Kata Aurora masih dengan niat keras kepalanya.
"Tidak masalah. Saya juga akan ikut menginap disini." Ujar Pak Dikta.
Aurora menengok ke arah Pak Dikta dengan wajah yang terlihat begitu pucat ditambah mata yang sembab karena dari kemarin terus menangis.
"Pak Dikta, lebih baik pulang seka—" perkataan itu tak berhasil diselesaikan. Aurora jatuh pingsan karena kondisi tubuhnya yang memang begitu lemah.
Sejak kemarin — lebih tepatnya setelah tahu kabar kalau ayah Andre meninggal, Aurora menyiksa diri sendiri dengan terus menangis dan melupakan makan ataupun minum.
Pak Dikta yang memang bergerak sangat cepat langsung menggendong tubuh Aurora dan membawa gadis itu ke mobilnya.
Pulang dan membiarkan Aurora beristirahat adalah hal terbaik untuk memulihkan kondisi gadis itu.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Jangan pernah ajarkan aku untuk hidup tanpa kamu ! Karena itu akan sangat susah dan melelahkan.
Mau ngomong apa sama Aurora atau Pak Dikta ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^