Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 66 : Teringat Dia


__ADS_3

Untuk menghindari stress karena tak akan baik bagi sang buah hati, malam ini Aurora memutuskan pergi jalan-jalan bersama Gilang.


Jangan suruh Aurora untuk istirahat karena waktu istirahat sudah lebih dari cukup. Kalau ditambah lagi, ia pasti merasakan bosan.


Aurora yang kini sudah terbalut dengan dress panjang berwarna hijau lumut bermotif bunga-bunga dipadukan juga oleh kardigan berwarna serupa membuat penampilan Aurora tampak berbeda namun, tetap terlihat cantik.


Aurora yang sudah sedikit merias wajahnya dengan make-up tipis dan juga menata rambut pun terlihat siap untuk menemui Gilang yang sudah menunggu di ruang tamu.


Tanpa berlama-lama lagi, Aurora pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini lalu dengan perlahan-lahan dan hati-hati, ia menuruni satu persatu anak tangga.


Meskipun tidak bisa cepat seperti biasanya, Aurora tetap bisa menjangkau ruang tamu yang ada di lantai satu dari rumah ini.


Ketika Aurora sudah tiba di ruang tamu, ia bisa melihat dengan jelas seorang Gilang yang sedang bercengkrama hangat bersama sang ibunda.


Aurora tak berniat menganggu pembicaraan diantara mereka tapi, ia juga harus memanggil Gilang.


"Gilang..."


Panggilan itu langsung membuat Gilang menatap ke arahnya dan berhenti berbincang dengan ibunda Aurora.


"Sudah siap ?" Tanya Gilang yang malam ini terlihat begitu tampan dengan kemeja berwarna hitam yang pada kedua lengannya sengaja digulung.


"Bunda, Rara izin keluar dulu ya." Pamit Aurora yang tak lupa untuk mengecup singkat punggung tangan sang ibunda.


"Hati-hati ya ! Nak, Gilang tolong jaga Rara baik-baik." Pinta sang ibunda.


"Saya pasti akan menjaga Rara dengan baik." Ucap Gilang yang kemudian juga ikut berpamitan.


Karena waktu yang berdetak terus cepat, Gilang dan Aurora pun bergegas untuk menuju ke arah pintu utama.


Di luar dari rumah ini tepatnya pada bagian garasi, sudah terlihat sebuah mobil SUV berwarna hitam yang tampak asing di mata Aurora.


"Ini mobil siapa, Lang ?" Tanya Aurora.


"Mobil gue lah." Jawab Gilang dengan santai.


"Lo punya mobil ?" Tanya Aurora yang merasa terkejut akan hal ini.


"Gak usah kaget gitu dong ! Gue punya mobil cuma gak pernah dipakai aja." Kata Gilang memberikan alasannya.


"Kenapa ?" Pertanyaan yang ambigu keluar dari mulut Aurora.


"Karena gue lebih suka naik motor. Bisa bebas kemacetan." Jawab Gilang.


"Bukan. Maksud gue kenapa sekarang bawa mobil ? Padahal gue pengen naik motor." Ucap Aurora memperjelas pertanyaannya.


"Lah gila... Ya kali gue ngajak cewek hamil naik motor." Kata Gilang sambil membukakan pintu mobil untuk Aurora.


"Masuk, Ra ! Hati-hati kepala." Ujar Gilang dengan tangan yang melindungi bagian kepala Aurora supaya tidak terantuk pada bagian atas pintu mobil.


Sesudah melakukan itu, Gilang pun menyusul Aurora. Ia berlari kecil mengitari mobil lalu masuk ke bagian kursi pengemudi.


Karena mengutamakan keselamatan dalam berkendara, Gilang pun mengenakan sabuk pengaman dan tak pakai berlama-lama lagi, ia mulai mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah menuju jalanan kota malam yang pada malam ini tampak begitu indah.


Bulan purnama bersinar begitu cerah ditambah dengan bintang-bintang yang bergemerlapan pada langit. Aurora sangat menyukai suasana malam ini.


"Kita mau kemana, Ra ?" Tanya Gilang yang sebenarnya tak punya tujuan mau mengajak Aurora pergi kemana.


"Ke pasar malam, cari gulali." Jawab Aurora yang jujur sejak tadi sore ngidam makan gulali.

__ADS_1


"Gulali ?"


"Yang bentuk kek kapas itu loh, Lang. Tadi gue liat video di internet ada orang borong gulali terus pengen." Ujar Aurora sedikit merajuk seperti layaknya anak kecil.


"Ya udah, pasar malemnya ada dimana ?" Gilang bertanya akan lokasi pasar malam yang dimaksud oleh Aurora.


"Di alun-alun kota. Ada pasar malem." Ujar Aurora memberitahu.


Mendengar itu, Gilang langsung mengemudikan mobil ini menuju ke alun-alun kota yang berjarak tak jauh dari lokasinya sekarang. Mungkin hanya butuh waktu sepuluh menit untuk bisa sampai ke sana.


...🥀🥀🥀...


Disalah satu angkringan yang buka pada daerah pasar malam itu, Gilang dan Aurora sekarang sudah duduk lesehan sambil saling berhadapan satu sama lain.


Dikarenakan udara malam kota ini yang bisa dibilang tidak terlalu hangat saat menyapa kulit, Gilang sengaja memesan dua wedang ronde.


"Lo suka wedang ronde kan ?" Tanya Gilang kepada Aurora yang saat ini tengah sibuk menikmati permen gulali.


"Suka." Jawab singkat Aurora.


"Makannya mau apa ?" Tanya Gilang lagi.


"Roti bakar boleh deh. Rasanya coklat sama strawberry." Ucap Aurora.


"Ya udah lo disini, gue pesan ke kasir dulu." Pamit Gilang yang langsung melangkah pergi menuju kasir bermaksud untuk memesan.


Disaat Aurora tengah ditinggalkan seorang diri, tanpa sengaja dari kejauhan Aurora melihat tampak belakang dari seseorang lelaki yang tak asing.


Rasanya ketika melihat tampak belakang dari lelaki itu, Aurora langsung diingatkan akan seorang Pak Dikta.


Meskipun masih belum yakin kalau itu adalah Pak Dikta, Aurora tanpa ragu untuk beranjak dari tempatnya lalu menghampiri sosok lelaki yang menurutnya mirip seperti Pak Dikta.


Aurora mendekati lelaki itu dengan jantung yang mulai berdetak lebih cepat. Sangat berharap kalau lelaki itu memang Pak Dikta.


Dengan perasaan yang tidak yakin, Aurora mulai menyentuh pundak dari lelaki itu lalu menepuknya dengan lembut.


"P-pak Dikta ?" Panggil Aurora dengan nada bicara sedikit bergetar.


Merasakan sentuhan pada pundak serta mendengarkan suara panggilan itu, lelaki itu pun menengok ke arah Aurora dengan tatapan bingung.


Apakah mungkin Aurora terlalu merindukan Pak Dikta ? Sampai mengira orang lain itu adalah sang suami ?


"Maaf." Ucap Aurora yang merasa malu karena salah mengenali orang.


Padahal Aurora mendatangi lelaki itu dengan harapan kalau memang dia adalah Pak Dikta. Namun, harapan itu pupus begitu saja. Lelaki itu hanya mirip dan bukan Pak Dikta.


"Apa kita saling mengenal ?" Tanya lelaki itu bingung.


"Tidak. Saya sepertinya salah orang." Ucap Aurora.


Baru akan pergi meninggalkan lelaki itu, tiba-tiba Gilang datang menyusulnya.


"Siapa, Ra ?" Tanya Gilang langsung setelah tiba.


"Bukan siapa-siapa." Jawab Aurora sambil menundukkan kepala seperti malu.


Gilang menatap pria itu dengan tatapan aneh lalu mengajak Aurora untuk kembali ke angkringan itu.


"Balik aja yuk !" Kata Gilang sambil menggandeng tangan Aurora.

__ADS_1


Bersama dengan Gilang, Aurora kini telah berada kembali ke angkringan tapi, tidak tahu kenapa Aurora berubah. Iya, gadis itu tampak cukup murung tidak seperti tadi.


"Kenapa, Ra ?" Tanya Gilang sambil menyesap wedang ronde.


"Gue kira tadi Pak Dikta tapi, ternyata bukan." Jawab Aurora dengan helaan napas terdengar berat.


"Pak Dikta ? Mana mungkin Pak Dikta ada disini." Kata Gilang sesuai kenyataan.


"Tampak belakangnya mirip sama Pak Dikta." Ucap Aurora lagi.


"Kangen banget ya lo sama Pak Dikta ?" Pertanyaan yang sudah tak perlu ditanyakan lagi.


"Kangen banget, Lang ! Gue pengen gitu sekali aja ngelihat wajah nya meskipun cuma bentar." Ujar Aurora memberitahu soal kerinduannya pada sosok Pak Dikta.


Mendengar itu membuat Gilang tak bisa berkata-kata lagi. Iya, dirinya hanya takut salah berbicara lagi.


"Lang ?" Aurora memanggilnya.


"Iya ?" Sahutnya dengan cepat.


"Kira-kira gue bisa ketemu lagi gak ya sama Pak Dikta ?" Tanya Aurora penuh harap.


"Pasti ketemu dan gue ngerasa sih, dalam waktu dekat." Ucap Gilang yang hanya menebak saja.


"Semua orang bilang begitu tapi, Pak Dikta tetap aja gak pulang." Kata Aurora dengan semua keputusasaannya.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Karena terlalu rindu sampai mengira orang lain adalah Pak Dikta.


Pak Dikta gak lupa kalau masih punya istri kan ?


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2