Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 45 : For The First Time


__ADS_3

Sejujurnya, Aurora memang ingin langsung bergegas untuk tidur namun, entah mengapa matanya sama sekali tak mau diajak kerjasama.


Aurora masih terus terjaga sambil memakan cemilan malam yang tadi dibelikan oleh Pak Dikta.


Rasa kantuk yang tadi sempat menyerangnya, sekarang telah menghilang begitu saja bagaikan ditelan bumi.


Suara renyah kripik dari makanan ringan yang saat ini tengah dinikmati oleh Aurora mengisi seluruh kamar ini.


Jujur, semua makanan ringan yang dibawa oleh Pak Dikta sesuai dengan seleranya.


"Suka ?" Tanya Pak Dikta yang sekarang telah ada di atas sofa, bersiap untuk tidur.


"Not bad. Mau coba ?" Aurora menawarkan makanan ringan itu pada suaminya.


"Kamu makan saja." Tolak Pak Dikta yang memang menghindari makanan yang mengandung banyak MSG.


"Kalau udah habis, jangan dicariin !" Kata Aurora memperingati.


"Kalau itu habis, saya bakal beliin kamu lagi." Ujar Pak Dikta menimpali.


Tanpa ragu, Aurora terus saja memakan camilan itu bahkan sekarang ia telah menghabiskan tiga bungkus. Tenang saja, Aurora tak berniat untuk menghabiskan semuanya. Setelah camilan terakhir ini, ia akan berhenti mengunyah.


"Tadi pulang sama siapa ? Gilang ?" Tanya Pak Dikta tiba-tiba.


"Iya. Untung ada dia jadi, gak perlu nunggu angkot." Jawab Aurora.


"Kenapa nunggu angkot ? Biasanya kamu langsung pesan taksi online."


"Ponsel saya mati. Kehabisan daya."


Pak Dikta tak menjawab lagi. Rupanya, lelaki itu saat ini tengah terhanyut pada pikirannya sendiri.


Aurora yang kini telah selesai menghabiskan kurang lebih tiga bungkus camilan yang di bawakan oleh Pak Dikta pun terlihat beranjak dari ranjang. Iya, dia bermaksud untuk membuang semua bungkusnya ke tempat sampah lalu mencuci tangannya yang sekarang benar-benar bau MSG. Tak hanya itu, Aurora juga mau gosok gigi. Kalau mau tidur harus memastikan semuanya bersih.


Tak menghabiskan banyak waktu untuk berada di kamar mandi, Aurora pun akhirnya keluar juga. Sesaat ia selesai dengan urusan kamar mandi dan berniat untuk segera naik ke atas ranjang, tanpa sengaja matanya melihat ke ara Pak Dikta yang kini telah tertidur dengan pulas.


Entah apa yang terjadi pada diri Aurora, bukannya langsung kembali ke tempat tidur, ia malah memilih untuk mendekat ke arah Pak Dikta.


Untuk sesaat, Aurora bisa dengan puas menatap lekat-lekat wajah suaminya yang tetap terlihat tampan meski sedang tertidur.



Jaraknya begitu dekat, bahkan jika Aurora mau dia bisa memberikan belaian lembut pada wajah suaminya itu.


"Kenapa harus Pak Dikta ?" Tanya Aurora tiba-tiba.


"Kenapa harus Pak Dikta yang berhasil mengambil ruang di hati saya ?" Tanyanya lagi kepada sang suami yang masih tertidur.


"Padahal dulu saya berharapnya orang lain supaya bisa cerai dari bapak." Ungkap Aurora jujur.



Aurora masih terus menatap ke arah suaminya tanpa ingin mengalihkan pandangan.


"Saya suka Pak Dikta. Sangat suka sampai takut kehilangan." Tiba-tiba sebuah pernyataan singkat dari Aurora terucap begitu saja dengan lancar dari mulutnya.


"Kira-kira, bapak suka juga gak ya sama saya ?" Tanya Aurora yang langsung mendapatkan sebuah jawaban dari Pak Dikta.


"Saya juga suka sama kamu, kok. Sangat suka sampai mau melindungi kamu terus." Jawab Pak Dikta sambil tersenyum.


Jujur, membuat jawaban itu membuat Aurora sangat terkejut. Tidak disangka kalau suaminya akan bangun. Padahal Aurora memang sengaja mengambil saat seperti ini supaya Pak Dikta tidak tahu.


"Pak Dikta, kok bangun ?" Tanya Aurora tergagap karena saking kagetnya.

__ADS_1


"Gimana gak mau bangun kalau kamu ajak saya bicara terus." Balas Pak Dikta.


"Pak Dikta dengar semuanya ?" Tanya Aurora sambil mencoba untuk membuat jarak. Karena ini, ia tak bisa terlalu dekat dengan Pak Dikta. Aurora tidak mau suaminya tahu kalau sekarang pipinya tengah memerah ditambah dengan bunyi detak jantungnya.


Pak Dikta tersenyum penuh dengan arti. Adakah yang bisa menyelamatkan Aurora sekarang ? Gadis itu merasa sangat malu.


"Lupakan saja. Semua ucapan saya tadi hanya bercanda bukan keseriusan." Pinta Aurora yang kemudian langsung melangkah dengan terburu-buru menuju ke ranjang.


Aurora memang sekarang sangat ingin menutupi wajahnya yang sudah memerah namun, sayang sekali harus terhenti karena Pak Dikta berhasil untuk meraih tangannya.


"Mau kemana ?" Tanya Pak Dikta.


"Tidur." Balas singkat Aurora.


Masih memegang tangan Aurora dengan erat, Pak Dikta pun beranjak dari tempatnya lalu memposisikan dirinya sejajar pada Aurora.


Pak Dikta menatap istrinya itu dengan tatapan hangat dan senyuman termanis yang dia punya.



Aurora masih dengan perasan malu hanya bisa menundukkan kepala tanpa berani untuk menatap sang suami.


"Rara ?" Panggil Pak Dikta dengan suara khasnya.


"I love you..." Katanya yang langsung membuat jantung Aurora semakin cepat berdebar.


Aurora mencoba untuk berani menatap mata suaminya itu. Ia ingin memastikan kalau apa yang baru saja di dengar itu adalah sebuah keseriusan bukan candaan.


Mata mereka saling bertemu satu sama lain dan saling menatap dengan hangat.



"Pak ?"


"Ya ?"


"Saya serius. I love you, Rara..."


Aurora menelan sendiri saliva nya. Lalu, dengan terbata-bata karena saking grogi, ia menjawab itu.


"I love you more..."


Tanpa ragu, Pak Dikta langsung mengecup singkat bibir Aurora. Untuk kali pertama setelah mereka menikah.


Aurora yang memang sudah sangat menyukai Pak Dikta tak memberikan penolakan apapun. Dia justru makin terlarut dalam ciuman itu.


Malam yang begitu panjang terjadi diantara mereka berdua. Bukan dengan paksaan tapi memang dari suka sama suka.


Aurora sudah menerima Pak Dikta sebagai suaminya. Pernikahan tanpa cinta juga telah berubah. Andai saja hal ini yang dijadikan sebagai akhir dari kisah mereka.


...🥀🥀🥀...


Pagi kembali menyapa. Sinar matahari yang masih malu-malu mulai memasuki kamar ini melalui celah yang ada.


Seperti pagi-pagi sebelumnya, Pak Dikta selalu berhasil bangun terlebih dahulu sebelum Aurora.


Pak Dikta yang telah terlihat berpakaian dengan layak pun terduduk di pinggiran tempat tidur sembari terus memandangi istrinya yang masih tertidur sangat pulas sampai tak terlihat tanda-tanda akan bangun.



Waktu terus bergerak dan Pak Dikta masih setia menemani sang istri seperti itu. Menatapnya sambil melindungi dari silaunya matahari pagi, itulah yang dilakukan Pak Dikta sejak tadi.


Sampai akhirnya, ketika waktu sudah menunjukan tepat pukul tujuh pagi, Aurora terlihat perlahan-lahan membuka matanya. Gadis itu terbangun dari tidurnya.

__ADS_1



Tak lagi melihat langit-langit kamar atau jendela, hal pertama yang dilihat oleh Aurora adalah sosok suaminya.


"Selamat pagi..." Sapa Pak Dikta langsung sambil tersenyum lebar.



Ini masih pagi namun, Aurora sudah dibuat diabetes. Bagaimana tidak, paginya langsung disambut oleh sebuah senyuman dari sang suami.


"Selamat pagi juga..." Balas Aurora lalu tersenyum.


Sebenarnya, pagi ini Aurora merasa sedikit malu karena kejadian tadi malam. Aurora hanya seperti tak menyangka jika dirinya akhirnya melakukan hal itu dengan pria yang benar-benar ia sukai.



Malu kalau mengingat kejadian tadi malam, membuat Aurora berusaha sebisa mungkin untuk meminimalkan kontak mata dengan Pak Dikta.


"Ada apa, Rara ?" Tanya Pak Dikta ketika menyadari kalau sang istri berusaha mengalihkan pandangannya.


"Sekarang jam berapa ? Saya gak mau terlambat datang ke kampus." Ucap Aurora.


"Mau bangun sekarang ? Perlu bantuan ?" Pak Dikta menawarkan bantuannya.


"Tidak perlu. Saya bisa bangun sendiri." Tolak Aurora yang merasa masih sanggup.


Aurora berusaha untuk beranjak dari tempatnya tetapi, mendadak Pak Dikta memberikan sebuah kecupan singkat pada pipinya.


Mendapatkan ini secara tiba-tiba di pagi hari, membuat Aurora langsung diam mematung. Jujur, dia belum terbiasa.


"Setelah mandi langsung turun ke meja makan. Saya sudah siapkan banyak makanan untuk kamu dan bunda." Pungkas Pak Dikta yang kemudian berlalu keluar dari kamar ini dan membiarkan Aurora bersiap-siap.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Memang ya, perasaan cinta dan benci itu beda tipis. Makanya jangan terlalu membenci seseorang. Aurora yang dulu benci Pak Dikta justru sekarang sangat menyukainya sampai takut kehilangan.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2