Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 37 : Seseorang Dari Masa Lalu


__ADS_3

Di sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari gedung kampus, terlihat Pak Dikta yang tengah duduk sambil ditemani oleh secangkir kopi.


Keberadaannya di tempat ini pada jam kampus bukan semerta-merta untuk bersantai namun, ia akan bertemu dengan seseorang yang dulu sempat menjadi spesial.


Tak dibuat menunggu terlalu lama, seseorang yang ditunggu oleh Pak Dikta akhirnya datang juga.


Seorang wanita cantik yang mengenakan dress berwarna coklat nude yang dipadukan dengan riasan, aksesoris serta sepatu high heels berwarna senada, membuat penampilan dari wanita itu menjadi sangat cantik dan elegan.


Dengan sebuah senyuman mengembang lebar di bibirnya, wanita bernama Tasia itu pun melangkah mendatangi Pak Dikta yang sedari tadi tengah menunggu kedatangannya.


Apakah ini pertemuan antar mantan pacar yang berakhir dengan baik-baik ?


Tanpa permisi dan tidak ada keraguan, Tasia langsung memeluk erat tubuh Pak Dikta. Wanita itu hanya mencoba untuk menyampaikan rasa kerinduannya kepada Pak Dikta yang sudah cukup lama tidak bertemu.


"Hai Dikta... I miss you so much..." Katanya sambil mengecup singkat pipi dosen itu.


Mendapat kecupan singkat, membuat Pak Dikta langsung membelalakkan kedua matanya. Terkejut karena tiba-tiba.


"How are you, Dikta ?" Tanya Tasia sembari menatap Pak Dikta dengan kagum.


"Ya, i am fine..." Jawab Pak Dikta singkat.


"Sudah lama tidak bertemu, ternyata kamu semakin tampan. Sepertinya aku akan menyesali keputusan dulu." Kata Tasia, sedikit memberikan pujian.


Pak Dikta hanya bisa tersenyum dan sama sekali tak bisa memberikan respon lebih terhadap pujian yang dilontarkan oleh Tasia.


"Tidak mau memesan ?" Tanya Pak Dikta.


Tanpa memberikan jawaban, Tasia langsung saja memanggil pelayan dari cafe ini.


"Satu vanilla latte." Ucap Tasia memberitahu pesanannya tanpa melihat buku menu.


Pelayan itu pun bergegas untuk mencatat pesanan itu. Tapi, apakah Tasia hanya memesan minuman ?


"Apa ada tambahan lagi, nona ?" Tanya pelayan cafe ini.


"Tambah satu honey croffle."


Setelah menerima pesanan itu, pelayan dari cafe ini pun bergegas untuk kembali ke meja kerja. Dirinya harus menyampaikan pesanan ini kepada barista supaya bisa disiapkan.


Sambil menunggu, pembicaraan diantara kedua orang — bekas mantan pacar, terjadi. Mereka kelihatan begitu akrab satu sama lain, tanpa ada rasa canggung.


"Dikta, you must to know..."


"What ?"


"Waktu tiba di Indonesia, aku sempat kecewa sama kamu..." Tasia memberikan jeda sejenak pada ucapannya.


"Kecewa ? Kenapa ?" Tanya Pak Dikta mulai penasaran.


"Aku kira kamu bakal jemput di bandara tapi, ternyata tidak. Baru kali ini seorang Dikta tak bisa menepati ucapannya sendiri." Kata Tasia mengungkapkan semua rasa kecewanya pada Pak Dikta.


"I'm sorry. Aku tidak bermaksud untuk tak menepati tapi, waktunya—" belum sempat melanjutkan ucapannya, Tasia main asal potong.


"Aku mengatakannya bukan untuk membuatmu merasa bersalah. Lagipula, waktu itu kamu sudah mengabari aku. Jadi, aku tak harus menunggu terlalu lama di bandara." Ucapnya mentolerir semua.


Pelayan dari cafe ini kembali lagi kepada mereka berdua dengan membawakan makanan dan minuman yang dipesan oleh Tasia.


"Thank you..." Ucap Tasia.


"Silahkan dinikmati." Kata pelayan cafe ini.

__ADS_1


Setelah mengantarkan pesanan milik Tasia, pelayan cafe ini pun kembali menuju tempatnya untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Dikta..." Panggil Tasia lagi.


Pak Dikta hanya berdehem singkat.


"Hari ini kamu yang traktir ya ! Nanti kalau kita bertemu lagi, aku yang bakal traktir." Ucap Tasia yang langsung mendapat sebuah anggukan dari Pak Dikta.


Tasia terlihat menyesap vanilla latte yang dipesannya serta menyuapkan potongan kecil honey croffle ke dalam mulutnya.


Sambil menikmati semua makanan dan minuman yang mereka pesan. Obrolan akrab terus terjalin tanpa terputus. Sepertinya mereka banyak sekali topik yang bisa dibahas.


Tapi entah mengapa, seusai banyak berbicara dengan Dikta. Raut wajah dari Tasia tampak berubah. Sebuah ekspresi antara kaget, takut, panik seakan bercampur jadi satu.


"Dikta..." Kata Tasia sembari menggenggam tangan Pak Dikta dengan erat.


"Kita adalah sebuah masa lalu yang tak pernah saling membenci. Aku bakal bantuin kamu terus sampai pulih." Sambung Tasia yang langsung mendapatkan sebuah senyuman hangat dari Pak Dikta.


"Makasih ya ! Aku memang butuh bantuan mu dalam hal ini. Masih ada seseorang yang harus aku jaga." Ungkap Pak Dikta.


"Istri kamu ?" Tanya Tasia.


Pak Dikta mengangguk. "Di dunia ini, aku cuma punya dia."


"Tenang aja ya... Semua akan baik-baik." Tasia berusaha untuk menenangkan mantan pacarnya itu.


...🥀🥀🥀...


Awalnya, Aurora tak mau terlalu serius menganggap kabar tentang Pak Dikta dan dokter Tasia yang katanya adalah mantan pacar.


Tapi, ketika Aurora bersama Keysha — temannya, berniat untuk nongkrong di cafe langganan yang berada dekat kampus, tanpa sengaja ia melihat kebersamaan antar suaminya dan dokter Tasia.


"Ra, jadi nongkrong atau mau balik aja ?" Tanya Keysha yang juga melihat kebersamaan antar Pak Dikta dan dokter Tasia.


"Cari cafe lain bisa gak ya ?" Pinta Aurora dengan kedua mata yang masih berfokus memperhatikan kelakuan suami dari luar cafe.


"Mau dimana ?" Tanya Keysha.


"Terserah." Jawab Aurora yang terlihat tak ingin berpikir.


Sebelum Aurora dan Keysha pergi untuk mencari cafe lain yang memang dirasa akan membuat nyaman.


Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan...


"Key..." Panggil Aurora terdengar cukup serius.


"Apaan ?"


"Nanti malem mau pesta ke klub gak ?" Ajak Aurora yang membuat Keysha membelalakkan kedua matanya.


"Setelah sekian lama, lo ajak gue ke klub ?" Keysha yang masih tak menyangka.


"Lo mau gak ? Gue bakal traktir lo minum sepuasnya." Tanya Aurora seperti butuh sebuah kepastian.


"Gue izin ke Arjuna dulu ya ! Lo tahu sendiri kan kalau dia paling ngelarang gue pergi ke klub ?" Jawab Keysha tampak ragu untuk menyetujui ajakan dari Aurora.


Dulu, sebelum dirinya bersama dengan Arjuna, mau diajak pergi ke klub sampai pagi pun tidak akan masalah. Sekarang ? Sedikit susah. Keysha lebih butuh izin dari Arjuna dibanding kedua orang tuanya.


"Lo mau nakal kok pakai minta izin segala." Kata Aurora.


"Gue kan udah habis masanya buat nakal." Timpal Keysha.

__ADS_1


"Jadi, lo mau gak temenin gue ke klub ?" Tanya Aurora lagi.


"Izin ke Arjuna dulu." Jawaban Keysha masih sama.


"Ya udah. Gue pergi sendiri aja ya !" Tukas Aurora yang tak mau ambil ribet.


Aurora pun melenggang pergi dari depan cafe ini. Dirinya juga berhenti untuk menatap keakraban dari Pak Dikta dan dokter Tasia.


Daripada terus seperti ini, akan lebih baik kalau sekarang ia pulang ke rumah dan bersiap untuk nanti malam.


Clubbing, mungkin akan meredakan semua perasaannya yang saat ini tengah campur aduk.


"Gue balik dulu. Mau siap-siap." Pamit Aurora kepada Keysha yang masih ada di dekatnya.


"Lo jadi pergi ke klub ?" Tanya Keysha lagi.


"Jadi. Lagipula udah lama juga gue gak pergi." Kata Aurora.


"Klub biasanya ?" Tanya Keysha namun, tak mendapatkan jawaban dari Aurora.


"Lo kan gak ikut. Jadi, gak perlu tahu gue mau pergi ke klub mana." Balas Aurora tak ingin memberi tahu.


"Kalau gue ikut gimana ?"


"Izin Arjuna dulu. Tapi, gue yakin sih... Arjuna gak bakal izinin."



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Teruntuk Tasia jangan merusak sebuah hubungan yang baru saja dimulai :)


Mau ngomong apa sama mereka ? Aurora ? Pak Dikta ? Atau mungkin Tasia ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2