
Pagi kembali menyapa, dari bawah selimutnya terlihat Aurora yang tengah menggeliat. Gadis itu menggeliat bukan bermaksud untuk bangun namun, hanya berganti posisi tidur.
Biasanya, Aurora tak pernah seperti ini. Dia termasuk kedalam orang-orang yang rajin bangun pagi. Mau begadang sampai jam berapapun, dirinya selalu bangun tepat pukul tujuh. Tapi, sekarang ia malah keasikan berada di alam mimpi tanpa ada pertanda atau niat buat bangun.
Pak Dikta yang sudah rapi dengan setelan kemeja pun berinisiatif untuk membangunkan sang istri. Iya, dia sangat tahu kalau Aurora punya kelas pagi.
"Aurora..." Panggil Pak Dikta mencoba membangunkan tanpa sentuhan.
"Aurora ?"
"Rara, sudah pagi. Kamu tidak mau bangun ?" Pak Dikta berusaha keras tapi, Aurora malah menutupi telinganya dengan bantal.
Rupanya Pak Dikta harus banyak-banyak bersabar menghadapi tingkah dari sang istri. Maklum istrinya itu baru berusia 22 tahun, memiliki perbedaan usia yang terpaut cukup jauh.
"Kalau kamu tidak mau bangun it's okay tapi, saya cuma ingatkan kalau ada kelas pagi yang menunggu kamu." Kata Pak Dikta yang rupanya di dengar oleh Aurora.
Kedua mata Aurora yang tadi terpejam pun langsung terbuka dengan cepat.
"Astaga..." Aurora menepuk jidatnya setelah bangun.
"Saya lupa. Hampir saja saya ketiduran dan terlambat datang ke kelas pagi bersama dosen Dikta." Katanya dengan sedikit penekanan.
Aurora menatap ke arah suaminya itu sambil berkata lagi. "Kalau saya terlambat, bisa-bisa dapat hukuman. Saya gak mau kalau di suruh nulis seratus lembar."
Mendengar seperti itu pagi-pagi tak membuat seorang Pak Dikta marah atau kesal. Dosen itu hanya tersenyum gemas dengan celotehan sang istri.
"Kalau kamu yang terlambat, saya tidak akan beri hukuman seperti itu. Ada hukuman lain buat kamu." Goda Pak Dikta dengan senyuman penuh arti dan langsung berhasil membuat Aurora merinding.
"Lebih baik saya mandi sekarang biar gak dapet hukuman lainnya." Ucap Aurora lalu bergegas beranjak dari atas tempat tidurnya.
Beri waktu Aurora sedikit saja untuk membersihkan diri dan bersiap. Gadis itu tak akan lama memanjakan dirinya di kamar mandi.
...---ooOoo---...
Kini, setelah kurang lebih dua puluh menit berlalu, Aurora akhirnya keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Iya, karena saking terburu-buru, dirinya sampai lupa membawa pakaian ke kamar mandi. Untung saja, saat Aurora keluar dengan keadaan seperti ini, Pak Dikta sudah tak berada di kamar. Kalau itu dosen masih ada pasti, akan terjadi huru-hara dan pengusiran.
Dengan santai, Aurora melangkah keluar menuju ke lemari. Gadis itu, akan memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan pagi ini.
Tak butuh banyak waktu, Aurora sudah menemukan pilihan. Iya, pilihannya jatuh kepada sebuah t-shirt berwarna coklat ditambah dengan rok pendek warna cream.
Menurut Aurora, pergi ke kampus tidak harus melulu memakai celana panjang, sekali-kali pakai rok juga terasa nyaman.
Setelah mengoleskan sedikit lipstik di bibirnya, Aurora merasa telah siap untuk berangkat ke kampus. Gaya pakaian seperti ini sangat membuat dirinya puas. Terlihat santai tapi, tetap cocok dibuat ke kampus.
Dengan penuh kepercayaan diri dan semangat paginya, Aurora mulai berjalan keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga dengan cepat-cepat.
Sesampainya di lantai satu dari rumah ini, Aurora langsung menoleh ke arah meja makan yang hari ini mempunyai tambahan personil.
"Selamat pagi ayah, bunda..." Sapaan pagi itu diucapkan oleh Aurora hanya untuk kedua orang tuanya.
"Kok cuma menyapa orang tuanya sih ? Suaminya gak disapa ?" Tegur sang ayah.
__ADS_1
"Tadi sudah." Bohong Aurora dengan santai sambil menarik kursi yang ada di meja makan.
Meskipun telah memiliki suami, Aurora tetap saja memilih tempat duduk tepat di sebelah sang ibunda. Gadis itu seakan enggan untuk duduk bersebelahan dengan Pak Dikta.
"Kamu kok duduk disini ?" Tanya sang ibunda.
"Duduk disebelah suamimu sana." Suruh sang ibunda yang tak mengizinkan putrinya duduk tepat disampingnya.
"Enakan disini bunda. Lagian, Rara juga udah duduk berhadapan." Tolak Aurora sembari mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.
Tahu tak disapa oleh sang istri, Pak Dikta sama sekali tidak keberatan. Mungkin, dirinya akan terus memaklumi sikap dari Aurora.
"Masakan bunda memang selalu enak, ya..." Puji Aurora langsung setelah memasukan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Enaknya pakai banget ?" Tanya sang ibunda yang segera mendapatkan anggukan penuh semangat dari Aurora.
"Banget ! Bisa-bisa Rara nambah ini." Ucap Aurora.
Sang ibu terlihat tertawa puas sambil menatap ke arah Pak Dikta. Tunggu, kenapa ?
"Rupanya Rara juga suka masakan Nak Dikta." Ucap sang ibu yang berhasil membuat Aurora tercengang.
Rasanya, Aurora tak mau percaya dengan kenyataan kalau memang rasa dari masakan buatan Pak Dikta memang seenak ini. Rasanya hampir sama enak seperti buatan sang ibunda.
"Masa ? Ini masih pagi jangan coba kerjain Rara !" Larang Aurora dengan keras.
"Seriusan Rara. Suami kamu rela bangun pagi hanya untuk membuatkan sarapan ini." Kata sang ibunda memberitahu faktanya.
"Kok Rara gak tahu ? Masa iya Pak Dikta bangun pagi ?" Aurora masih saja belum bisa mempercayainya.
Sebelum tahu kalau semua makanan ini adalah buatan Pak Dikta, Aurora terlihat sangat menikmati makanannya tapi, setelah tahu gadis itu jadi malas untuk melanjutkan aktivitas sarapannya.
"Tapi, lebih enak masakannya bunda. Ini kalah jauh." Mendadak Aurora mengganti penilaiannya.
"Padahal kalau kamu suka, saya berniat untuk masakin kamu terus." Sahut Pak Dikta sembari tersenyum hangat.
"Oh tidak perlu ! Saya tidak mau merepotkan Pak Dikta." Tolak Aurora dengan tegas.
"Hanya membuatkan mu makanan, sama sekali tak merepotkan." Katanya yang merasa baik-baik saja kalau direpotkan.
Dengan senyuman yang terkesan memaksakan, Aurora pun menegaskan kembali. "Saya kan sudah bilang tidak usah jadi, Pak Dikta gak perlu merepotkan diri untuk membuatkan makanan. Lagipula, saya juga bisa masak sendiri."
Pernyataan yang terakhir keluar dari mulut Aurora berhasil membuat sang ayah terkekeh.
"Baru tahu ayah, kalau Rara bisa masak." Tutur sang ayah terdengar seperti meremehkan sekaligus mempermalukannya.
"Rara bisa masak !"
"Coba kasih tahu ayah, kamu bisa masak apa ?" Tanya sang ayah.
"Mie instan." Jawab Aurora singkat namun, berhasil membuat semua orang yang ada di meja makan tertawa.
"Kenapa kalian tertawa ?" Aurora merasa tersinggung dan seperti sedang diledek.
__ADS_1
"Kalau mie instan, ayah juga bisa." Kata sang ayah lagi.
"Tapi, kata Gilang mie instan buatan Aurora tuh yang paling enak," Aurora mulai membanggakan mie instan buatannya.
"Apalagi kalau mie instan rebus. Tambah telur satu biji dan sawi. Itu enak banget." Sambung Aurora.
Memang tadi Pak Dikta ikutan tertawa ketika Aurora mengatakan mie instan tapi, dia sama sekali tak punya niatan untuk mengejek istrinya itu. Baginya, istri yang tidak bisa masak itu bukan masalah besar karena mereka menikah bukan untuk membuka rumah makan namun, membina rumah tangga.
"Nanti, saya mau coba mie instan rebus buatan kamu." Kata Pak Dikta.
"Pak Dikta yakin mau makan mie instan ?"
Pak Dikta hanya mengangguk singkat.
"Di dalam mie instan banyak kandungan zat adiktif loh..."
"Lalu ?"
"Memangnya dokter seperti Pak Dikta juga makan mie instan ?"
"Apa ada larangan kalau dokter tidak boleh makan mie instan ?"
"Bukan gitu, maksudnya Pak..." Aurora belum sempat menjelaskan karena keburu dipotong oleh Pak Dikta.
"Semua boleh makan mie instan hanya saja tidak boleh terlalu banyak,"
"Apa yang berlebihan itu tidak baik termasuk mie instan. Kalau makan terlalu banyak bisa menyebabkan gangguan kesehatan."
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kepoin aja akunnya, nanti author bakal banyak spoiler disana.
...š„š„š„...
Jangan lupa, setelah membaca part ini tolong untuk menekan like, vote dan komentarnya :)
Mari bantu author untuk meramaikan lapak cerita ini yang selalu sepi oleh pembaca. Anjay, belum-belum sudah pesimis duluan š
.
.
.
Suami sempurna menurut kalian itu gimana sih ? Yang kayak Pak Dikta bukan ?
.
.
__ADS_1
.
^^^Bersambung...^^^