Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 73 : Berusaha Mengikhlaskan


__ADS_3

Bersama dengan Gilang, Aurora kini telah berada di sebuah taman pinggir danau. Awalnya tujuan Gilang itu ingin mengajak Aurora pergi menonton atau berbelanja namun, rupanya gadis itu malah memilih dan meminta untuk pergi kesini.


Alasan Aurora mengajak Gilang kemari karena suasana tempat ini cocok untuk dijadikan sebagai healing.


Di saat Aurora tengah duduk di pinggiran danau, untuk kesekian kalinya air mata yang tadi sempat berhenti kembali terjatuh. Kenangan indah bersama Pak Dikta kembali berputar bagaikan sebuah film di dalam ingatannya.


Dulu waktu masih ada Pak Dikta, Aurora juga sempat mendatangi tempat ini. Bersama dengan Pak Dikta yang selalu ada disampingnya, ia duduk dipinggiran danau sambil menikmati terpaan angin sepoi-sepoi yang terasa begitu sejuk mengenai kulit.


"Gue pernah kesini sama Pak Dikta." Kata Aurora tiba-tiba yang membuat Gilang langsung menoleh ke arahnya.


"Lo gak apa-apa kalau kita ada disini ?" Tanya Gilang yang ingin memastikan keadaan Aurora.


"Ya, i'm okay but i miss that moment." Ungkapnya.


"Gue bawa lo pergi dengan harapan bisa liat senyuman di wajah lo tapi, kalau kek gini mendingan kita cari tempat lain aja." Kata Gilang yang tidak mau mengungkit kenangan antar Aurora dan Pak Dikta. Kenapa ? Ya karena Gilang tahu, seindah apapun kenangannya pasti bisa membuat Aurora bersedih.


Mendengar itu membuat Aurora langsung melihat ke arah Gilang dengan sebuah senyuman yang terlukis indah di wajahnya.


"Makasih ya, Lang." Kata Aurora.


"Buat apa ?"


"Buat semua hal yang udah lo lakuin ke gue."


"Gue gak ngelakuin apa-apa. Jadi, gak perlu berterima kasih." Ucap Gilang.


Disaat mereka berdua masih terhanyut pada suasana taman siang ini, tiba-tiba ponsel Aurora berbunyi. Rupanya gadis itu tengah mendapatkan sebuah email dari seseorang yang saat ini tengah dirindukannya.


To       : Aurora


From : Dikta


Hai cantik...


Sedang apa hari ini ? Sudah makan belum ? Aku dengar di dekat taman ada sebuah cafe yang baru buka. Katanya sih, makanan di sana enak-enak. Saya sudah buatkan reservasi untuk kamu. Kalau kamu mau datang, tinggal datang dan pesan sepuas kamu ya !


Membaca email itu membuat senyuman Aurora kembali muncul. Gilang yang sekarang tengah ada disampingnya pun langsung bertanya tentang hal yang berhasil membuat gadis itu tersenyum lagi.


"Kenapa, Ra ? Ada apa ?" Tanya Gilang merasa heran sekaligus penasaran.


"Lo laper gak ?" Aurora malah bertanya balik bukan menjawab.


"Sedikit. Memang kenapa ? Lo mau makan sekarang ?"


"Katanya di sekitar sini ada cafe baru buka. Kita makan di sana yuk !" Ajak Aurora dengan semangatnya.


Karena Aurora yang mengajak jadi, tak ada alasan bagi seorang Gilang untuk menolak.


Gilang pun beranjak dari tempatnya lalu mengulurkan tangannya bermaksud untuk membantu Aurora berdiri. Aurora yang memang merasa butuh bantuan tak ragu untuk meraih uluran tangan itu.


"Thanks, Lang." Ucap Aurora yang kini sudah berhasil berdiri.


Mereka berdua pun melangkah bersama-sama menuju ke arah sepeda motor. Sebenarnya jarak cafe yang dimaksud itu tak terlalu jauh dari taman ini dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, karena kondisi Aurora sedang hamil dan tak mungkin kalau memintanya berjalan jadi, mereka akan naik motor untuk menuju ke cafe itu.


.


.


.


Tak butuh banyak waktu, akhirnya motor yang dikendarai oleh Gilang berhasil berhenti tepat diparkiran yang disediakan oleh cafe itu.


Aurora yang memilih untuk masuk dulu pun langsung mendapatkan sebuah sambutan hangat dari seseorang lelaki.


Lelaki yang masih tampak asing baginya tapi, entah mengapa dia bisa bersikap begitu ramah seakan-akan sudah mengenal dengan baik.


"Selamat datang, aku sudah menunggumu." Kata lelaki itu yang sama sekali tak mendapatkan balasan dari Aurora.


Dengan baik, lelaki itu mengantarkan Aurora menuju ke meja cafe yang tersedia. Menarik kan kursi untuk Aurora dan mempersilahkannya duduk.


"Terima kasih." Ucap Aurora sambil menatap ke arah lelaki itu dengan aneh.


"Mau pesan apa ? Kami menyediakan banyak makanan enak yang mungkin akan kamu suka."

__ADS_1


Tidak tahu kenapa, Aurora merasa kalau lelaki itu memiliki bentuk wajah yang hampir mirip dengan Pak Dikta. Jadi, jangan salahkan Aurora kalau ia tak bisa melepaskan pandangan dari lelaki itu.


"Kenapa menatapku ? Apa ada yang salah ?" Lelaki itu ternyata sadar kalau sedang diperhatikan.


"Tidak ada. Maaf." Ucap Aurora yang kemudian memfokuskan diri pada buku menu.


"Aku dengar dari Kak Dikta kalau kamu begitu suka coklat," ujar lelaki itu sambil melihat Aurora dengan senyuman manis.


"Jadi, aku bisa rekomendasikan coklat mousse untuk kamu." Tambahnya.


Mendengar kalau lelaki itu menyinggung nama sang suami, Aurora langsung dibuat bertanya-tanya.


"Kamu kenal Pak Dikta ?" Tanya Aurora penasaran.


"Dari kecil kami sudah saling kenal." Ucap lelaki itu.


"Teman masa kecilnya ?"


Lelaki itu terkekeh lalu mengulurkan tangannya supaya diraih oleh Aurora. Setidaknya mereka harus berkenalan.


"Dion, adiknya Kak Dikta." Kata lelaki itu memperkenalkan diri.


Pantas saja, setiap melihat ke arah lelaki itu Aurora selalu merasa seperti mirip dengan suaminya. Kalau memang hubungannya adik dan kakak, Aurora tak akan heran.


"Pak Dikta punya adik ? Aku kira dia anak tunggal dari keluarganya."


"Dia memang anak tunggal."


"Lalu ?"


"Aku di adopsi oleh mereka dan sudah dianggap sebagai keluarga. Kak Dikta sangat baik, dia menjadikanku adiknya." Kata lelaki itu.


"Bukan adik kandung ? Tapi, wajah kalian mirip." Aurora tak menyangka akan hal ini.


"Kata orang memang seperti itu."


Disaat perbincangan diantara keduanya masih berlangsung, Gilang yang telah usai akan urusan motornya pun mulai bergabung dan langsung mengambil tempat duduk tepat berhadapan dengan Aurora.


"Sudah memesan ?" Tanya Gilang.


"Ini teman atau pacar baru kamu ?" Tanya Dion dengan maksud bercanda.


Mendengar pertanyaan itu membuat Aurora langsung terkekeh geli. Tak mungkin baginya untuk mencari pacar baru lagi setelah kepergian Pak Dikta.


"Dia Gilang, teman sekampus." Ucap Aurora yang tak ragu memperkenalkan temannya.


"Oh, hai... Aku Dion." Katanya terdengar ramah.


Gilang hanya menanggapinya dengan senyuman saja.


"Apa sudah boleh memesan ?" Tanya Gilang.


"Tentu saja."


Entah mengapa, rasanya disini Gilang sedikit agak galak kepada Dion. Dari nada bicaranya bukan seperti Gilang yang Aurora kenal.


"Chicken Cordon Blue and strawberry milkshake. Masing-masing satu porsi." Tutur Gilang memberitahu pesanannya dan langsung dicatat oleh Dion.


"Lo mau pesan apa, Ra ? Hari ini gue yang traktir."


"Carbonara Pasta, Chocolate Mousses dan orange juice." Kata Aurora.


"Okay, sudah aku catat. Kalian tinggal menunggu saja. Makanan akan diantar sekitar lima belas menit." Ucap Dion memberitahu.


"Makasih ya, Dion." Ujar Aurora tak ragu.


"Oh ya satu lagi, aku lupa memberitahu kalau semua makanan yang kalian pesan gratis. Semua sudah dibayar."


"Siapa yang membayar ?" Tanya Gilang langsung.


"Orang baik. Kalau kalian mau juga, bisa terus datang dan makan sepuasnya tanpa membayar." Tukas Dion yang kemudian berjalan menuju ke arah dapur untuk meminta koki menyiapkan pesanan.


Gilang yang masih ada ditempatnya pun merasa bingung dan terheran. Bagaimana mungkin, bisa makan gratis di cafe yang jelas masih baru buka ? Dan siapa orang baik yang membayarkan makanan mereka ?

__ADS_1


"Kenapa, Lang ?" Tanya Aurora yang sepertinya tahu akan isi pikirannya.


"Gue cuma bingung aja." Jujur Gilang.


"Bingung kenapa ?"


"Apa dia sedang bercanda soal menggratiskan makanan ?"


"Oh, Dion serius tentang itu."


"Siapa orang baik yang membayar ?" Tanya Gilang penasaran.


"Pak Dikta."


"Eh, jangan bercanda Ra ! Ini bukan waktunya." Ucap Gilang yang tak percaya.


"Dion itu adiknya Pak Dikta dan tadi waktu di taman gue sempet dapet email dari Pak Dikta. Dia nyuruh gue buat makan sepuasnya disini."


"Pak Dikta bisa ngirim email ?"


"Ya mungkin, email terjadwal."


Tidak lama meninggalkan mereka, Dion pun kembali dengan membawa dua gelas minuman yang dipesan oleh mereka berdua.


Gilang dan Aurora adalah pelanggan jadi, sebagai pemilik sekaligus orang yang mengurus cafe ini, Dion harus bersikap baik.


"Silahkan dinikmati." Katanya sambil menyajikan dua gelas minuman pesanan mereka.


Gilang yang ada ditempatnya pun melemparkan tatapan menelisik ke arah Dion. Gilang tak bermaksud apapun, dirinya hanya mau memastikan omongan Aurora.


"Tadi, Aurora juga menatapku seperti itu." Sindir Dion yang rupanya tahu kalau sedang ditatap.


"Lo adiknya Pak Dikta ?" Gilang mulai berbicara santai.


"Iya tapi, bukan adik kandung."



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Semesta selalu punya sesuatu yang tak terduga. Contohnya, seperti pertemuan antar Aurora dan Dion.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


Catatan kecil :


- cerita ini belum tamat ya, karena masih ada beberapa bab lagi yang akan di update.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2