Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 48 : Kepercayaan


__ADS_3

...Kepercayaan dalam sebuah hubungan itu sangat penting. Apalagi dalam pernikahan. Bukankah seharusnya kita lebih mempercayai suami sendiri ketimbang omongan orang lain diluar sana ?...



.......


.......


.......


Kalau boleh jujur, setelah membaca dan melihat foto yang dikirim oleh akun gosip itu membuat kepercayaan Aurora kepada sang suami sedikit terguncang tetapi, setelah dipikirkan kalau Aurora tak menaruh rasa percaya pada suaminya itu bisa membuat masalah baru.


Aurora sangat tak ingin kalau hanya karena rasa percaya itu bisa membuat kebahagiaan yang baru saja dirasakannya menghilang. Persetan dengan gosip, ia akan tetap mencoba untuk mempercayai Pak Dikta.


Merasa kurang nyaman saat menyantap bakso yang dia pesan karena terganggu oleh mahasiswi lain yang sekarang sedang berbisik-bisik membicarakan soal Pak Dikta dan dokter Tasia. Ayolah, Aurora ingin segera pergi dari kantin ini sebelum amarahnya memuncak dan memaki semua orang yang sudah berani membicarakan atau menjodohkan suaminya itu.


Dengan cepat, Aurora mencoba untuk menghabiskan bakso. Namun, ternyata merasa tak sanggup lagi. Masih terlihat ada banyak sisa di mangkok, Aurora main asal pergi saja dengan wajah ditekuk.


Akan tetapi, sebelum benar-benar pergi dari kantin ini ia menyempatkan diri untuk berhenti tepat di dekat mahasiswi yang sedari tadi bergosip tentang suaminya. Aurora juga tak ragu melemparkan sebuah tatapan tajam nan mengintimidasi dan ini membuat salah satu dari mereka yang menyadari langsung menyinggung.


"Kenapa lihat-lihat ?" Tanya seseorang itu dengan ketus.


"Jangan bergosip di sini ! It's so disgusting." Ujar Aurora memperingati.


"Suka-suka dong. Kan ini tempat umum bukan kantin punya lo." Kata seseorang itu tak peduli akan peringatan dari Aurora.


"Iya ini emang tempat umum tapi, yang jadi bahan gosip lo itu suami gue." Ujar Aurora dengan berani.


"Siapa yang suami lo ? Pak Dikta ?" Tanyanya dengan nada seakan mengejek Aurora.


"Iya. Pak Dikta itu, suami gue." Kata Aurora dengan tegas memberitahu fakta.


Mendengar itu keluar dari mulut Aurora hanya membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Tentu saja, mereka sama sekali tak mempercayai ucapan Aurora itu. Mereka hanya menganggap kalau Aurora sedang menghalu sama seperti yang sering mereka lakukan.


"Kalau lo istri Pak Dikta, gue juga istri keduanya." Ujarnya menggoda.


"Gue istri ketiganya Pak Dikta..." Sahut mahasiswi lainnya sambil menertawai Aurora.


Aurora yang harga dirinya merasa terhina karena semua ejekan itu pun berusaha untuk memberikan bukti kalau semua pengakuannya itu benar. Iya, dia menunjukan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.


"Ini cincin pernikahan gue sama Pak Dikta. Bukti kalau gue ini memang istri sahnya." Ujar Aurora dengan menyakinkan.


Tapi, entah mengapa walaupun sudah diberikan bukti seperti ini mereka malah makin kencang menertawai Aurora.


"Bukannya dulu lo benci banget ya sama Pak Dikta ? Kenapa sekarang bisa mengaku-ngaku sebagai istrinya ?" Tanya mahasiswi lainnya.


"Gak ada gue ngaku-ngaku. Pak Dikta memang suami gue." Balas Aurora dengan tegas.


Karena kesabaran tak selamanya terus ada, salah satu mahasiswi yang saat ini ada persis berhadapan dengan Aurora tanpa ragu mendorong pundak kecil milik Aurora. Dorongan ini berhasil membuat Aurora mundur beberapa langkah.


"Lo gak usah ngaku-ngaku deh ! Pak Dikta gak mungkin mau nikahin cewek kek lo ! Udah gak cantik, body nya kalah seksi sama dokter Tasia." Katanya mengejek apa yang ada pada Aurora.


Aurora kesal karena mahasiswi itu melakukan body shaming terhadap dirinya. Amarahnya sudah berada dipuncak, Aurora tanpa ragu dan berpikir panjang langsung menarik rambut dari mahasiswi itu dengan begitu keras. Ini dilakukannya sebagai bentuk pembalasan karena berani mengejek.

__ADS_1


"Meskipun gue gak cantik tapi, yang dipilih Pak Dikta sebagai istri itu gue bukan dokter Tasia ataupun lo !" Kata Aurora dengan kesal.


Perkelahian diantara mereka berdua terjadi dan ya, ini bukan satu lawan satu melainkan satu lawan lima. Aurora harus berkelahi seorang diri sedangkan mahasiswi itu bersama teman-temannya. Ini tak seimbang tapi, Aurora yakin pasti bisa bertahan.


...🥀🥀🥀...


Berakhir babak belur dan masuk ke ruang dekan. Itulah yang terjadi pada Aurora serta kelima mahasiswi, si tukang ghibah itu. Sudah dibilang dari awal, akan lebih baik kalau Aurora tidak menghiraukan itu pasti, perkelahian ini tak akan terjadi.


"Bisa ceritakan alasan kenapa kalian bertengkar ?" Tanya dekan itu yang butuh jawaban.


"Bukan kami yang memulainya, Pak ! Tapi, Rara... Dia tiba-tiba datang ke kami dan langsung marah begitu saja." Ucap salah satu dari kelima mahasiswi itu yang mencoba membela diri.


"Benar begitu, Rara ?" Tanya dekan itu untuk memastikan.


"Saya cuma bermaksud untuk menegur mereka." Jawab Aurora mulai mencoba mengadukan kelakuan dari kelima mahasiswi itu.


"Menegur ? Kenapa ditegur ? Apa mereka berbuar salah ?"


"Iya. Mereka berbuat salah, Pak ! Berani-beraninya mereka bergosip tentang dosen. Bukankah itu dilarang ?" Aurora mencoba untuk memberi pelajaran lagi kepada kelima mahasiswi itu.


"Apa mereka menjelek-jelekan dosen itu ?" Tanya dekan mencoba mencari tahu permasalahan sebenarnya.


Aurora mengangguk dengan mudah.


"Katanya Pak Dikta itu gak bisa mengajar dengan baik. Kakinya bau terus juga rambutnya banyak ketombe. Oh ya, gak lupa juga mereka menyinggung soal Pak Dikta yang selalu pelit kasih nilai," Aurora mulai mengarang supaya mereka berlima bisa mendapatkan hukuman.


"Pak Dekan tahu sendiri kan kalau semua itu gak bener. Pak Dikta gak seperti apa yang mereka gosip kan. Kalau itu sampai tersebar ke luar kampus bisa-bisa mencemarkan nama baik almamater kita." Tambah Aurora yang dengan berani melontarkan kalimat fitnah.


"Dia bohong Pak ! Kita gak ada ngomong seperti itu. Bagaimana mungkin kita menjelek-jelekan dosen yang sangat kita kagumi ?"


"Udahlah ngaku aja. Jangan ditutup-tutupi ! Kalau memang kalian itu sudah melakukan kesalahan." Ujar Aurora sembari menyeringai jahat.


"Emang lo punya bukti kalau kita menjelek-jelekan Pak Dikta ?" Tanya salah seorang dari mahasiswi itu.


Aurora bingung karena memang tak ada bukti dari semua perkataannya. Ia terlihat tengah mengedarkan pandangannya dan mencoba untuk berpikir.


"Apa kamu punya bukti, Rara ?" Tanya Pak Dekan.


"Saya tidak sempat merekam karena keburu terlibat adu mulut dan perkelahian dengan mereka." Jawab Aurora yang masih tak mau kalah.


"Itu hanya alasan dari Rara saja ! Dia itu tak punya bukti dan hanya memfitnah. Pak Dekan harus percaya sama kita ! Karena semua orang yang ada di kantin adalah bukti yang kita miliki." Ujar salah seorang dari kelima mahasiswi itu yang membuat Aurora langsung keringat dingin.


Aurora tahu kalau semua omongan yang dia adukan itu sama sekali tak benar. Aurora memang nekat bicara seperti itu hanya karena ingin memberi pelajaran kepada mereka berlima yang berani menggosipkan suaminya.


"Sudah, sudah..." Dekan itu menengahi adu mulut yang masih terjadi di antara Aurora dan kelima mahasiswi itu.


"Disini tidak ada yang salah ataupun benar. Semuanya terlibat dalam perkelahian itu yang membuat kalian salah." Ujar Dekan itu berusaha untuk bersikap adil dan tak berpihak pada siapapun.


"Tapi, kalau Rara tidak memulai... Pertengkaran juga tidak akan terjadi." Kata salah seorang dari mereka berlima.


Pak Dekan rupanya tak mau mendengarkan apapun argumen yang dilontarkan oleh mereka. Iya, daripada terlalu lama dan membuat ruangannya menjadi ramai.


"Saya akan langsung memberi hukuman kepada kalian saja." Ujar Dekan itu yang tampak memikirkan tentang hukuman yang pantas.

__ADS_1


Hari-hari Aurora selalu mendapatkan hukuman. Tadi baru saja dihukum oleh Pak Dikta karena kurang fokus sekarang dapat lagi hukuman dari Dekan yang bisa diduga akan menyusahkan.


Aurora hanya bisa menghela napas dan berpasrah dengan hukuman itu. Kalau dirinya mau kabur juga tak bisa lagi.


"Saya mau melihat kalian membersihkan taman kampus." Kata Pak Dekan memberitahu hukuman yang akan dijalani oleh Aurora dan kelima mahasiswi itu.


"Bapak gak salah ? Bukankah itu terlalu berat ?" Protes salah seorang dari kelima mahasiswi itu.


"Taman kampus itu bukan hanya sepetak, sangat luas dan mungkin membutuhkan waktu lama untuk membersihkan." Tambahnya.


"Lantas ?"


"Kita hanya ada enam orang..." Ucapnya lagi mencoba untuk bernegosiasi sedikit.


"Kalau mau cepat selesai, kalian bisa kerjasama dengan baik." Tutur dekan itu seperti tak mau tahu.


Aurora memang tak ingin berdebat atau bernegosiasi lagi dengan dekan. Maka dari itu, Aurora bergegas meninggalkan ruangan ini untuk menuju ke taman kampus. Aurora mendahului kelima mahasiswi itu.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Kalian mengerti kan tentang perasaan Aurora ? Bukankah tidak salah kalau dirinya merasa kesal dan marah karena mendengar banyak orang yang bergosip serta menjodohkan suaminya dengan orang lain ?


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2