Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 52 : She's Nice


__ADS_3

Baru saja datang dan keluar dari mobil SUV yang dikendarai oleh Pak Dikta, Keysha langsung menghampiri Aurora dengan wajah cemas seakan-akan ada hal penting yang ingin disampaikan olehnya. Tidak tahu tentang apa, karena menurut Aurora semuanya memang masih baik-baik saja


"Akhirnya lo dateng juga..." Kata Keysha yang langsung berjalan di samping Aurora.


"Kenapa, Key ?" Tanya Aurora langsung sambil melihat ke arah temannya itu.


"Lo ada waktu gak ? Ada hal penting yang mau gue omongin." Ujar Keysha.


"Mau ngomong apa ?" Tanya Aurora mulai penasaran.


"Apa ada hubungannya sama yang lo telepon gue pagi-pagi ?" Sambungnya.


Keysha mengangguk.


"Awalnya gue ragu mau kasih tahu lo atau enggak tapi setelah dipikir-pikir lo harus tahu soal ini." Kata Keysha.


Aurora menghentikan langkahnya lalu menatap temannya itu dengan serius.


"Ya udah, sekarang lo bisa kasih tahu gue ada apa ?" Pinta Aurora yang sudah siap mendengarkan.


Dengan cepat, Keysha mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan sebuah gambar hasil screenshoot yang diambilnya.


Keysha menunjukan ini bukan bermaksud untuk membuat hubungan antar suami istri renggang namun, dirinya merasa kalau temannya itu harus tahu.


"Lalu ? Ada apa dengan foto dokter Tasia yang lagi makan itu ?" Tanya Aurora yang belum mengerti akan maksudnya.


"Lo beneran gak lihat apa-apa ?"


Aurora menggeleng.


"Memangnya ada apa dalam foto itu ?"


"Foto ini memang kalau sekilas terlihat biasa saja tapi, sebenarnya ada hal tersembunyi." Tutur Keysha yang malah makin buat Aurora bingung.


"Apa hal yang tersembunyi itu ?" Tanya Aurora lagi yang sudah tak mau basa-basi.


Keysha kembali melihatkan gambar itu dan mulai memperbesar pada bagian yang tersembunyi agar bisa dilihat dengan jelas.


"Lihatlah..." Pinta Keysha.


"Ada siluet wajah Pak Dikta yang terpantul dari gelasnya." Ujar Keysha memberitahu bagian yang tersembunyi itu.


Meskipun Aurora melihatnya, ia tak mau berasumsi terlebih dahulu. Selain sudah berjanji untuk lebih mempercayai suaminya, siluet yang terpantul di gelas juga tak terlalu jelas.


"Bukankah itu bisa orang lain ?" Tanya Aurora.


"Gue harapnya juga begitu tapi..." Keysha berhenti berucap dan menunjukan bukti lainnya.


"Lihat ini, Ra !" Pinta Keysha dengan bukti lainnya.


Belum sempat bagi Aurora untuk menengok dan melihat, ia teralihkan oleh seorang mahasiswi bernama Diandra yang tiba-tiba mendatanginya.


Diandra nampak kesal karena baru saja tiba, ia dengan berani mendorong Aurora. Tak tahu masalahnya apa, Aurora harus bertanya.

__ADS_1


"Kenapa ?" Tanya Aurora yang saat ini sudah jatuh tersungkur di lantai.


"Bisa-bisanya cewek seperti lo nikah sama Pak Dikta. Kalian itu gak pantes, gak cocok !" Ucap Diandra dengan nada bisa meninggi.


Keysha yang masih ada di sana dan telah selesai membantu Aurora untuk berdiri pun ternyata juga ikut tersulut emosinya.


"Lo emangnya siapa, berani banget ngomong kek begitu ?" Keysha dengan berani mendorong mahasiswi itu tapi, tidak sampai jatuh.


"Pak Dikta itu cuma pantas sama Dokter Tasia bukan sama cewek kek lo !" Ucapnya yang memberikan penilaian seenak jidat.


"Lantas ? Kalau takdir Tuhan jodoh untuk Pak Dikta itu Arora, lo mau apa ?" Tanya Keysha dengan nada bicara cukup nyolot.


Tahu kalau saat ini dirinya tengah diserang, Aurora hanya memilih untuk diam. Ia tak ingin memulai pertengkaran karena takutnya akan mendapat hukuman seperti kemarin. Sudah cukup membuat diri sendiri terlibat dalam sebuah permasalahan.


"Keysha, udah... Gak perlu diladeni lagi." Tegur Aurora sembari menggenggam tangan temannya.


"Ini gak bisa dibiarin, Ra ! Berani-beraninya dia ngatur soal kehidupan dan garis takdir punya lo." Ucap Keysha yang masih belum terima.


"Kalau dia gak suka, ya sudah... Kita bisa apa selain menerima ? Toh itu gak akan mempengaruhi hubungan gue ke Pak Dikta." Tutur Aurora.


Aurora bersama dengan Tasia memang ingin pergi namun, Diandra berhasil meraih rambut milik Aurora. Diandra yang penuh dengan kemarahan dan rasa tidak suka, tanpa ragu menjambak rambut Aurora dengan keras.


Ini sangat sakit. Rasanya seperti kepala mau copot. Aurora berteriak kesakitan sambil terus mencoba melepaskan genggaman tangan Diandra dari rambutnya.


"Tolong lepas ! Ini sakit." Mohon Aurora tapi, sama sekali tidak di dengar.


"Kalau lo mau gue lepas, lo harus minta cerai sama Pak Dikta." Ucap Diandra dengan jahat.


Keysha yang ada di sana juga membantu Aurora supaya bisa lepas dari Diandra. Sampai akhirnya...


"Saya tidak akan meminta maaf untuk tamparan itu." Ujar dokter Tasia dengan tegas.


Kedatangan dokter Tasia ini berhasil membuat Diandra melepaskan rambut Aurora. Mungkin, ada beberapa rambut rontok milik Aurora yang tertinggal di tangan Diandra.


"Ini masih di lingkungan kampus, tidak seharusnya ada pertengkaran semacam ini." Tegur dokter Tasia.


"Aurora dulu yang memulai." Fitnah Diandra dengan berani.


"Benarkah ?" Tanya dokter Tasia yang tak mempercayai ucapan Diandra.


"Iya. Aurora yang memulai dulu karena kita menebarkan rumor tentang Pak Dikta." Ucap Diandra tanpa tahu malu.


Keysha sangat tidak bisa terima dengan tuduhan tak berdasar yang dilontarkan oleh Diandra.


"Perlu gue tampar sekali lagi biar lo bisa sadar ?" Tanya Keysha sambil melotot kesal ke arah Diandra.


Dokter Tasia yang menengahi perkelahian ini pun sudah tahu dengan jelas siapa pelaku utamanya. Tanpa mendukung atau menyudutkan salah satu pihak, Dokter Tasia harus melakukan hal ini.


"Kamu..." Tanpa ragu dokter Tasia menunjuk ke arah Diandra.


"Ikut saya ke ruang dekan." Kata Dokter Tasia.


"Loh kok saya ? Aurora yang salah tapi, kenapa saya yang harus dihukum ?" Berontak Diandra yang masih menganggap kalau dirinya benar.

__ADS_1


"Karena kamu benar dan jujur, saya minta untuk kamu jelaskan semua kronologi kejadian kepada dekan." Ucap Dokter Tasia.


Diandra pun menurut. Ia dengan mudah ikut mengekor di belakang dokter Tasia meninggalkan Aurora beserta Keysha. Hal paling mengesalkan lainnya adalah ketika Diandra pergi sambil wajahnya tak ragu untuk meledek ke Aurora dan Keysha.


Bisakah membiarkan Keysha untuk memukul seseorang hari ini ? Seriusan, rasanya Keysha ingin melayangkan sebuah bogem mentah ke arah Diandra.


"Ngeselin banget tuh anak ! Pengen gue tabok rasanya." Ujar Keysha masih dengan amarah yang belum reda.


"Udah Key, udah..." Aurora yang korban justru memilih untuk menenangkan temannya itu.


"Tapi lo baik-baik aja kan, Ra ?" Tanya Keysha yang langsung memastikan keadaan temannya itu.


"Sekarang gue baik-baik aja." Jawab Aurora meyakinkan.


"Untung aja ada dokter Tasia." Ucap Keysha merasa lega karena dokter Tasia datang disaat yang tepat.


"Iya..." Aurora menjawab sambil tersenyum tipis.


"Oh ya, ngomong-ngomong soal dokter Tasia..." Belum sempat melanjutkan ucapannya, Aurora memotong.


"Gak perlu dibahas lagi ya, Key ! Itu cuma rumor tak berdasar dan gue lebih percaya ke suami." Kata Aurora dengan jelas.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Dokter Tasia sudah melakukan hal yang baik. Mari kita percayai itu.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2