
Malam ini, di kamarnya, terlihat Aurora yang tengah terduduk di kursi meja belajar sambil menatap ke arah layar laptop.
Aurora tahu dengan benar, kalau seharusnya dalam kondisi sekarang iaย perlu banyak istirahat tapi, mau bagaimana lagi ? Selain menjadi calon ibu, ia juga merupakan seorang mahasiswi yang mempunyai banyak sekali tugas. Apalagi sekarang dirinya sudah mau memasuki semester akhir.
Tahu sendiri bagaimana sibuknya seorang mahasiswa yang mau akan memasuki semester akhir apalagi sebentar lagi Aurora harus bersiap untuk menjalani KKN dan akhirnya mengerjakan skripsi untuk kelulusan.
Perjalanan Aurora dalam mendapatkan gelar dokter masih begitu panjang dan mungkin sangat melelahkan. Tapi, tidak apa-apa karena usaha tak pernah mengkhianati hasil. Aurora tahu kalau berjuang sekarang, nantinya ia bisa mencapai hasil yang memuaskan.
Karena saking sibuknya dengan tugas, Aurora yang sangat serius berkutat dengan laptopnya pun sangat lupa waktu. Ia bahkan sampai melewatkan makan malam hanya karena tugas.
Sebagai seorang ibu yang baik dan perhatian kepada sang putri, ibunda Aurora pun mengetuk pintu kamar anaknya ditengah malam seperti sekarang ini.
Ibunya datang menghampiri sang putri sambil membawa sebuah nampan yang berisi dengan makanan dan susu. Sengaja diantarkan khusus ke kamar karena sang ibunda tahu kalau putrinya itu belum sempat melakukan makan malam.
Ketukan pintu sudah dibuatnya namun, dari dalam masih belum memberikan responnya. Bagaimana mau merespon kalau sekarang satu-satunya fokus Aurora hanya pada layar laptop.
Karena belum mendapatkan sahutan, ibunya pun kembali mengetuk sampai akhirnya setelah berulang kali melakukannya dan hasilnya masih sama, sang ibunda pun langsung membuka pintu kamar Aurora tanpa menunggu diizinkan oleh sang pemilik kamar.
Pintu kamar ini dibuka dan hal pertama yang dilihat oleh sang ibunda adalah Aurora yang tengah sibuk bergulat pada laptopnya.
Dengan perlahan-lahan, tak bermaksud untuk mengejutkan sama sekali, sang ibunda pun datang mendekat ke arah putrinya.
"Rara, makan dulu. Kamu belum makan malam kan ?" Pinta sang ibunda sambil menaruh nampan berisi makanan dan susu itu tepat di atas meja belajar, dekat dengan laptop Aurora.
"Bunda ?" Aurora terkejut saat tahu kalau ibunya sudah ada di kamarnya.
"Sejak kapan bunda ada disini ? Kenapa Rara gak denger ketukan pintu ?"
"Apa kamu terlalu sibuk dengan tugas sampai ketukan pintu dari bunda tidak bisa di dengar ?" Sindir sang ibunda sembari tersenyum tipis.
"Maaf, bunda." Ujar Aurora yang langsung merasa tidak enak.
"Bunda tahu kalau kamu itu sibuk tapi, masa iya harus sampai lupa makan." Kata ibunya memperingati.
"Kamu harus ingat Aurora, di dalam perut kamu ada seorang bayi yang masih berkembang dan butuh gizi yang cukup." Tambah ibunya.
Aurora tak menanggapi lagi, dirinya hanya diam sambil tersenyum lalu mengambil sendok dan memasukan sesuap nasi serta lauk yang sudah dibawakan oleh ibunya itu ke dalam mulut.
Daripada terus mendapatkan omelan, akan lebih baik kalau Aurora segera menyantap makan malamnya.
"Habiskan, sayang..." Perintah sang ibunda.
Aurora menghentikan sejenak aktivitas pengerjaan tugasnya. Ia harus menghabiskan makannya ini terlebih dahulu kalau tidak ibunya akan terus berada di kamar ini sambil terus memantaunya.
"Bunda tenang aja, Rara pasti habisin kok ! Gak bakal ada sebutir nasi pun yang tersisa." Ucap Aurora sambil terus melahap makanannya.
"Setelah makan langsung diminum susunya." Suruh sang ibunda lagi.
Aurora hanya mengangguk. Rupanya gadis itu mau tak mau harus menurut dengan semua perintah dari sang ibunda tanpa bisa menolak.
Seporsi nasi dengan lauk akhirnya sudah berpindah pada perut. Aurora merasa cukup kenyang namun, tetap saja masih harus meminum susu yang memang khusus untuk ibu hamil.
Untuk menyelesaikan ini dengan cepat, Aurora pun bergegas untuk mengambil segelas susu itu lalu meneguknya secara cepat.
"Pelan-pelan saja minumnya, nanti bisa tersedak." Kata sang ibunda memperingati.
Tak butuh waktu lama, gelas yang berisi susu ibu hamil itu telah kosong. Aurora meletakkan kembali gelasnya pada nampan. Kini, ia benar-benar telah selesai. Perutnya sudah terasa begitu kenyang.
__ADS_1
"Sudah bunda. Terima kasih ya..." Kata Aurora sambil membuat bentuk bulan sabit pada mulutnya.
Aurora memang sudah selesai dengan aktivitas makan malamnya tapi, entah mengapa ibunya masih tetap berada disini, di kamar bersamanya.
Bukannya melarang, akan tetapi kalau ibunya masih ada disini rasanya Aurora tak bisa fokus untuk mengerjakan tugasnya.
"Bunda masih mau disini ?" Tanya Aurora tanpa niat apapun.
"Iya. Memangnya bunda gak boleh ada disini ?"
"Jelas boleh ! Mana berani Rara ngelarang bunda." Ucap Aurora.
Di saat Aurora berusaha untuk kembali fokus pada layar laptopnya, jarum jam terus bergerak begitu cepatnya. Sampai pada jarum jam dan menit saling bertumpu diangka dua belas.
Tengah malam, pertanda kalau hari dan tanggal sudah berganti. Aurora yang masih terlalu sibuk dengan urusan perkuliahan pun melupakan hari terpenting yang ada di hidupnya.
Sebuah hari dimana bisa dibilang sangat spesial dan membahagiakan karena hanya terulang dalam setahun sekali.
Sampai tiba-tiba, tanpa diduga oleh Aurora, sang ibunda memberikannya sebuah kotak terlihat seperti perhiasan. Awalnya Aurora bingung, kenapa sang ibu memberikannya hadiah padahal bukan hari spesial ?
"Happy birthday, sayang..." Ucap sang ibu yang langsung membuat Aurora melihat ke arah kalender yang ada di bagian sudut layar laptopnya. Tanggal 14 Februari adalah hari ulang tahunnya.
Karena sudah ingat, Aurora tak ragu untuk menerima hadiah yang diberikan oleh sang ibunda lalu dengan cepat ia bangkit dari tempatnya dan sebuah pelukan erat sudah berhasil didapatkan oleh ibunya.
"Terima kasih, Bunda..." Kata Aurora terlihat begitu senang.
"Bunda berharap semoga diumur yang baru ini, kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Sambung sang ibunda dengan penuh harap.
Aurora pun melepaskan pelukannya lalu menatap sang ibunda dengan penuh binar.
"Bunda cuma bisa kasih kamu kado sederhana itu. Bunda harap kamu bisa suka."
"Ini kado lebih dari sederhana. Rara suka banget dan pasti akan selalu dipakai. Sekali lagi makasih ya, Bunda..." Ucap Aurora tak hentinya mengucapkan terima kasih.
"Ya sudah, kalau begitu bunda tinggal dulu. Kamu harus segera istirahat, jangan tidur terlalu larut ya, sayang !" Ujar sang ibunda memberikan sebuah peringatan.
"Iya, bunda."
Tak lama setelah semua itu, ibunya pun keluar dari kamar ini meninggalkan Aurora seorang diri yang masih setia duduk di kursi meja belajarnya sambil menatap ke arah kalung pemberian dari sang ibunda.
Melihat kado dari ibunya berhasil membuat Aurora terlarut dalam pikirannya yang saat ini sedang berandai-andai.
Andai saja di ulang tahunnya, sekarang ini Pak Dikta masih ada bersama dia, kado apa yang akan diberikannya ? Atau mungkin kejutan ulang tahun apa yang sudah disiapkannya ?
Aurora bisa membayangkan bagaimana perasaan lengkap dan bahagianya jika Pak Dikta masih ada bersamanya saat ini.
Terus berada dalam dunia perandainnya sampai pada ia harus tersadar oleh sebuah notifikasi email masuk.
Tepat pukul 00:00, Aurora mendapatkan sebuah email dari Pak Dikta. Jujur, perasaan tidak percaya langsung menyelimutinya. Apakah ini awal yang baik atau justru sebaliknya ?
"Pak Dikta ?"
Tidak mau dibuat penasaran dengan isi email itu, Aurora pun bergegas untuk membukanya dan ternyata isinya berhasil membuat Aurora tersenyum bahagia.
| Email |
Dari : Keanu Rajendra Pradikta
__ADS_1
Untuk : Aurora Putri Adinda
Tanggal : 14 Februari 2021 00.00
Hai Aurora, apa kabarnya ? Saya harap kamu selalu dalam keadaan baik.
Maaf karena saya baru sempat menghubungimu sekarang dan mungkin sudah sangat terlambat.
Saya hanya ingin mengucapkan Happy Birthday untuk kamu. Harapan saya, semoga kamu bisa selalu bahagia, sehat dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Karena hari ini kamu ulang tahun, mau minta kado apa dari saya ? Apa ? Kamu minta saya buat pulang ? Iya, saya bakal pulang bawakan kue tart dan juga coklat untuk kamu.
Tapi, sebelumnya saya mau minta maaf lagi sama kamu kalau kepulangan saya bisa merusak hari ulang tahunmu.
Saya pengen lihat kamu tiup lilin, saya pengen lihat kamu potong kue, saya pengen lihat kamu tersenyum di hari ulang tahun. Apakah itu mungkin ?
Sekali lagi Happy Birthday ya, cantiknya saya...
Kamu harus tahu kalau saya selalu ingat akan semua hari penting yang ada dalam hidupmu.
...---ooOoo---...
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Apakah mendapatkan pesan lewat email akan menjadi sesuatu yang baik ? Apakah penantian panjang Aurora sudah usai ? Kini akankah dirinya bisa bertemu dengan sang suami ? Ini kenyataan kan ? Bukan hanya perandaian saja kan ?
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1