Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 15 : Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Di balik kamar mandi telah terlihat seorang Aurora yang tengah mencoba untuk menyeka wajahnya dengan air. Gadis itu hanya berniat mengembalikan kewarasannya yang tadi sempat hilang karena terlalu frustrasi, susah move on.


Ingatan akan dirinya yang dengan berani dan tanpa malu memaksa Pak Dikta untuk menikahinya terputar dengan lancar bagai sebuah film di dalam kepalanya.


Semakin diingat justru membuat Aurora makin frustrasi karena rasa malu. Sekarang, bagaimana caranya menghadapi Pak Dikta ? Bisakah dirinya menghilang sekarang ?


"Aurora kenapa lo bisa ngelakuin hal memalukan seperti itu !" Decak kesal Aurora kepada diri sendiri.


"Kemana perginya rasa gengsi yang lo punya ?"


"Apa urat malu lo emang udah putus ?"


Aurora mengatakan itu sembari terus memukul-mukul pipinya. Semua yang terjadi adalah kesalahan dirinya karena terlalu berpikir pendek dan terburu-buru dalam mengambil keputusan.


"Lo boleh frustrasi karena putus dari Devin tapi, lo gak boleh mempermalukan diri sendiri apalagi di depan Pak Dikta. Hukumnya haram !" Aurora terus saja tak berhenti menyalahkan diri sendiri.


Dari cermin yang ada di wastafel kamar mandi, Aurora menatap dirinya dengan tajam. Baru kali ini, ia merasa kesal dan membenci dirinya sendiri.


"Lo kalau bego emang kebangetan !" Tuturnya mengatai dirinya.


Sebenarnya Aurora masih ingin menyumpah serapah kelakuan konyolnya namun, untuk sekarang ia harus berhenti sejenak karena mendapatkan sebuah panggilan dari Pak Dikta.


Iya, dosen itu menghubunginya dan membuat Aurora menjadi merasa delima. Antara ingin menjawab atau memilih mengabaikan.


"Aduh, kenapa tuh dosen nelepon gue ?" Aurora dibuat bertanya-tanya.


Dihubungi oleh Pak Dikta adalah sesuatu yang jarang terjadi dalam hidupnya.


Meski masih ragu, Aurora akan memilih untuk menjawab panggilan itu. Ia hanya berpikir, siapa tahu ada sesuatu yang penting, mungkin mengenai kondisi ayahnya ? Aurora berusaha positif.


"Selamat siang, Pak Dikta..." Sapa Aurora memang terdengar hangat.


"Ini dengan Aurora ? Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu ?" Tanya Aurora tanpa perlu banyak basa-basi.


"Bisakah kamu datang ke ruangan saya ?" Pak Dikta juga melakukan hal yang sama. Tak ada basa-basi langsung ke intinya saja.


"Kenapa ya, Pak ?"


Jujur, Aurora belum siap mental kalau harus bertemu dengan Pak Dikta sekarang. Iya, dirinya masih merasa malu.


"Saya akan katakan alasannya ketika kamu sudah ada di ruangan saya." Kata Pak Dikta lewat panggilan telepon itu.


"Harus sekarang datangnya ?" Siapa tahu, Aurora masih bisa mengulur waktu untuk mempersiapkan dirinya yang tengah dirundung oleh perasaan malu.


"Iya..." Jawab singkat Pak Dikta.


"Lima belas menit sampai dua puluh menit lagi, saya akan datang ke ruangan Pak Dikta." Ucap Aurora.


"Tidak masalah. Saya punya banyak waktu untuk menunggu kamu."


"Okay." Tukas Aurora.


Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Aurora secara sepihak mengakhiri panggilan itu.


...---ooOoo---...

__ADS_1


Perasaan Aurora benar-benar campur aduk. Jantungnya berdebar cukup cepat bukan karena jatuh cinta namun, ia merasa gugup karena tak siap untuk bertemu dengan Pak Dikta.


Iya, sudah ada sekitar sepuluh menit, Aurora hanya berdiri diam tepat di depan ruangan Pak Dikta. Sengaja tidak mengetuk karena ragu.


"Boleh gak sih, gue kabur aja ? Beneran dah, gue gak siap buat muncul di hadapan tuh dosen." Ungkap Aurora dalam benaknya.


Ingin mundur tapi, jalannya sudah tak ada lagi. Maka dari itu, Aurora mencoba untuk memberanikan diri dan mengetuk pintu ruangan.


Ketukan pelan sudah dilakukannya dan tak perlu dibuat menunggu terlalu lama pintu ruangan itu pun dibukakan langsung oleh sang pemilik. Sosok Pak Dikta sudah berada di hadapannya sambil tersenyum.


"Apa saya sudah membuat Pak Dikta menunggu terlalu lama ?" Aurora mengambil inisiatif untuk bertanya terlebih dahulu.


"Tidak." Jawab Pak Dikta entah jujur atau bohong.


Aurora pun terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apapun yang lebih dari itu.


"Kamu masuk dulu. Saya akan berbicara di dalam supaya bisa lebih dapat privasi." Suruh Pak Dikta.


Dengan langkah kecil dan nampak seperti malu-malu, Aurora pun masuk ke dalam ruangan Pak Dikta. Sebuah ruangan yang selalu dirasa enggan untuk dikunjungi.


"Silahkan duduk." Ucap Pak Dikta dengan sopan.


Aurora sangat diperlakukan dengan baik tapi, kenapa rasa malu akan kejadian tadi pagi masih terngiang-ngiang ?


"Ada apa ya, Pak ?" Sepertinya Aurora harus segera menyelesaikan supaya bisa cepat keluar dari ruangan ini. Berdua dengan Pak Dikta sangat membuat dirinya merasa tak nyaman.


"Saya memanggilmu kemari bukan untuk membahas tentang urusan kampus tapi -" ucapan itu dipotong langsung tanpa permisi oleh Aurora.


"Pasti soal pernikahan ? Saya tidak akan memaksakannya. Kalau bapak ingin menolak, it's okay." Kata Aurora sembari memperlihatkan sebuah senyuman hambar.


"Ya ?"


"Kamu butuh saya untuk move on kan ?" Pertanyaan itu tiba-tiba membuat Aurora terpaku.


"Pak Dikta tahu itu ?" Tanya Aurora balik.


Pak Dikta mengangguk.


"Beritanya sudah tersebar di seluruh kampus." Katanya.


"Ternyata sampai ke telinga dosen juga." Gumam Aurora sendirian.


"Aurora..." Pak Dikta memanggil lagi.


"Kalau memang cara move on kamu dengan melampiaskan ke orang lain, saya bisa jadi orang lain itu." Kata Pak Dikta terdengar begitu yakin.


Aurora menatap ke arah Pak Dikta. Persetan dengan semua rasa malu tapi, memang saat ini dirinya butuh seseorang untuk bisa move on dan menggantikan posisi Devin.


"Pak Dikta mau nikahin saya, kan ?"


"Tentu saja." Jawab Pak Dikta dengan tegas.


"Ya sudah, ayo kita menikah ! Saya akan menerima lamaran bapak dan menuruti keinginan ayah saya tapi—" Aurora menggantungkan sejenak ucapannya itu.


"Tapi ?"

__ADS_1


"Kalau saya sudah berhasil move on dan menemukan seseorang yang baru, bapak harus siap untuk menceraikan saya."


Ini bukan pernikahan tanpa cinta. Aurora hanya butuh Pak Dikta untuk move on dan membuat seorang Devin menyesal karena selingkuh. Intinya, Aurora mempergunakan pernikahan ini sebagai media membalas dendam kepada sang mantan pacar namun, tidak dengan Pak Dikta. Dosen itu mau menikahi Aurora karena ayah Andre.


Meskipun menikah tanpa adanya sebuah perasaan, Pak Dikta berjanji akan terus ada di samping Aurora, menjaganya dengan baik, merawatnya, memperlakukan seperti seorang ratu sampai nanti, tak bisa selamanya karena dirinya juga manusia yang memiliki waktu hidup di dunia.


"Baiklah." Tutur Pak Dikta sembari tersenyum hangat.


"Seperti yang saya katakan tadi, nanti sore saya akan datang berkunjung ke rumah kamu untuk melamar dengan cara yang baik dan benar sekaligus membahas soal rencananya." Kata Pak Dikta memberitahu.


"Oke, saya akan tunggu." Ucapan ini keluar begitu saja dari mulut Aurora.


"Tapi, saya harus meminta maaf karena saat melamar kamu nanti tidak ada orang tua dari saya yang akan hadir." Pak Dikta mencoba memberitahu soal dirinya yang sudah menjadi anak yatim piatu sejak lima tahun yang lalu.


"It's okay, no problem."


Tak pernah dibayangkan oleh Aurora kalau dirinya akan menjalin hubungan pernikahan dengan dosen yang paling dibencinya.


Jika kondisinya tak seperti ini, Aurora pasti akan memilih untuk menikah dengan Devin. Ia juga sudah punya bayangan untuk hidup bahagia bersama anak-anak kecil bersama Devin nantinya tapi, semua itu harus pupus.


Tokoh yang selama ini dianggap oleh Aurora sebagai yang utama akan segera tergantikan. But it's not Pak Dikta who replaces that position ! Ini yang ada didalam benak Aurora.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kepoin aja akunnya karena di sana bakal banyak spill.


...🥀🥀🥀...


Jangan lupa para pembacaku tersayang untuk memberikan Like, Komentar dan Vote nya...


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan kelanjutannya.


Yuk ! Bantu author untuk meramaikan lapak ini :)


.


.


.


Cinta dan benci itu terlalu beda tipis. Jadi, jangan terlalu membenci seseorang.


Untuk Aurora awas nanti jatuh cinta sama Pak Dikta ! Yang kamu pikir enggak akan itu bisa terjadi. Tahu sendiri kan, kalau semesta selalu punya cara yang unik untuk mempersatukan manusia dengan takdirnya ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2