Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 65 : My Baby Girl


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat. Lima bulan sudah berhasil dilewati Aurora tanpa kehadiran sosok Pak Dikta.


Kalau ditanya apakah sekarang Aurora sudah bisa terbiasa tanpa kehadiran Pak Dikta ? Aurora akan menjawab, belum sepenuhnya. Ada hal-hal dan kebiasaan yang sering membuat dirinya teringat bahkan membutuhkan kehadiran sosok suami. Contohnya seperti saat ini, ketika mengunjungi dokter kandungan untuk memastikan keadaan sang buah hati.


Seharusnya dirinya datang bersama sang suami bukan dengan ibunya. Apalagi rasa iri selalu muncul ketika Aurora melihat ibu hamil lainnya diantar check up oleh sang suami. Disayang, dijaga, kalau lagi ngidam dituruti. Aurora ingin merasakan semua itu tapi, kondisinya sekarang tak mengizinkan.


"Rara ?" Panggil sang ibunda yang telah selesai melakukan pendaftaran.


"Dapat nomer antrean ke berapa ?" Tanya Aurora.


"Lima sayang. Hari ini poli BKIA tak terlalu ramai." Ucap sang ibunda yang sekarang telah duduk bersebelahan dengan putrinya.


Usia kandungan Aurora sekarang sudah memasuki usia 20 minggu dan iya, perutnya juga mulai membuncit. Banyak perubahan fisik yang terjadi tapi, itu sama sekali tak masalah. Aurora tetaplah Aurora. Mau hamil atau enggak dia tetap cantik. Apalagi kini ketika sedang hamil, pipinya mulai terlihat tembam. Bukankah sangat menggemaskan.


"Bunda..." Panggil Aurora yang langsung membuat sang ibunda menoleh.


"Apa apa sayang ?" Tanya sang ibunda.


"Seharusnya nanti hasil USG nya bisa melihat jenis kelamin dari bayinya ya ?" Aurora bertanya dari yang sudah berpengalaman.


"Iya."


"Rara gak sabar. Penasaran, anak ini cowok atau cewek." Kata Aurora dengan penuh semangat.


"Kalau kamu maunya apa ? Cewek atau cowok ?" Tanya sang ibunda.


"Apapun yang penting anak Rara bisa lahir dengan sehat dan tumbuh dengan baik di dalam perut." Ujar Rara yang tidak terlalu mempermasalahkan tentang jenis kelamin anaknya.


Mau perempuan atau laki-laki, Aurora tak akan mempermasalahkannya. Anak ini adalah berkat dari Pencipta yang harus selalu disyukuri.


.


.


.


Setelah menunggu kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya nama Aurora dipanggil juga oleh perawat. Dengan ditemani oleh sang ibunda, Aurora pun melangkah masuk ke dalam ruangan dokter.


Sebelum melakukan USG, Aurora terlebih dahulu diperiksa kesehatannya. Mulai dari berat badan, lingkar pinggang, tekanan darah dan detak jantung. Kalau sudah memastikan semua itu aman, baru bisa langsung melakukan USG.


"Apa ada keluhan ?" Tanya sang dokter sambil memeriksa detak jantung Aurora.


"Tidak ada dok. Saya merasa sangat sehat." Ucap Aurora.


"Kondisi kamu baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ujar dokter kandungan itu sambil tersenyum.


Tak pakai berlama-lama lagi, Aurora kini sudah tidur dengan nyaman di atas brankar. Perawat yang memang ada di sana pun mulai membuka sedikit baju Aurora, membiarkan perut buncit terlihat.


"Suaminya kok gak pernah ikut mengantar check up ?" Tanya perawat itu sembari mengoleskan krim ke atas perut buncit Aurora.


Entah apa maksud dari perawat bertanya hal demikian, Aurora hanya bisa tersenyum dan memberikan alasan yang selalu ia katakan saat ada yang menyinggung soal itu.


"Suami saya ada, cuma lagi sibuk. Jadi, belum pulang." Kata Aurora.


"Memangnya pekerjaan suami nyonya Aurora itu apa ? Kok istrinya hamil sama sekali tidak mau menyempatkan waktu untuk menemani check up ?" Tanya perawat itu lagi yang jujur membuat Aurora kurang nyaman.


"Dokter." Jawab Aurora tanpa ragu.

__ADS_1


Mendengar itu, si perawat langsung terdiam. Tak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut perawat itu.


"Dokter akan melakukan USG. Nyonya Aurora tunggu sebentar." Pinta perawat itu langsung melangkah pergi meninggalkan Aurora.


Tidak berselang lama setelah perawat itu pergi, dokter kandungan datang dan bersiap untuk melakukan USG.


Dokter itu mengambil alat USG lalu mulai menggerakkannya di atas perut buncit Aurora. Dari layar kecil yang ada, Aurora bisa melihat anaknya yang memang masih belum berbentuk sempurna bergerak-gerak.


"Kondisi bayinya sehat. Semuanya tumbuh sesuai waktu. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap dokter itu memberitahu soal keadaan anaknya yang ada dalam kandungan.


"Jenis kelaminnya apa ya, dok ?" Tanya Aurora yang memang ingin tahu soal ini.


"Sebentar." Ucap dokter yang mulai mengerakkan lagi alat USG itu untuk mencari tahu soal jenis kelamin anak Aurora.


"Perempuan." Kata dokter itu lagi setelah berhasil mengetahui jenis kelamin dari anak Aurora.


"Baby girl ?"


"Iya. Dia akan cantik seperti ibunya." Ucap sang dokter.


Tak hanya itu saja, dokter juga melakukan pemeriksaan organ jantung pada sang bayi. Dokter harus memastikan kalau organ vital itu berfungsi dengan sangat baik.


"Sekarang kita dengarkan detak jantungnya, ya..." Kata sang dokter.


Suara detak jantung dari anak yang masih dalam kandungan itu terdengar cukup jelas. Mendengar ini membuat air mata Aurora menetes. Tak disangka dalam perutnya sekarang ada seorang manusia kecil yang masih dalam proses berkembang sampai nanti siap untuk dilahirkan.


"Detak jantungnya normal." Kata sang dokter lalu menyelesaikan semua rangkaian pemeriksaan.


Seusai melakukan check up rutin yang selalu dilakukannya saat sedang mengandung, Aurora bersama sang ibunda pun melangkah keluar dari ruangan dokter ini.


"Mau pulang sekarang ?" Tanya sang ibunda.


Baru akan menjawab itu, tanpa disengaja Aurora melihat sosok seseorang yang tampak tidak asing baginya.


Iya, dia melihat dokter Tasia setelah sekitar empat bulan tak bertemu. Terakhir bertemu ketika Aurora masih mencari keberadaan Pak Dikta.


"Sebentar bunda..."


Aurora pun melangkah untuk mendekati dokter Tasia. Niatnya hanya ingin menyapa.


"Kak Tasia..." Panggil Aurora yang langsung membuat dokter Tasia menghentikan sejenak segala aktivitas yang masih dikerjakannya.


Melihat Aurora tanpa terduga seperti ini juga berhasil membuat dokter Tasia terkejut. Terakhir kali melihat, perut Aurora belum membuncit.


"Aurora, sedang apa disini ?" Tanya dokter Tasia.


"Check up rutin." Jawab Aurora sambil mengelus lembut perut buncitnya.


"Gimana kondisinya ? Apa ibu dan bayinya sehat ?" Tanya dokter Tasia.


"Puji Tuhan, semuanya sehat." Jawab Aurora sambil tersenyum.


Aurora hanya berniat untuk menyapa tapi, entah kenapa niatnya itu berubah menjadi rasa penasaran dan ingin tahu tentang Pak Dikta.


"Kalau kabar Pak Dikta bagaimana ? Apa dia juga baik ?" Tanya Aurora yang berhasil membuat dokter Tasia terdiam.


"Kabar Dikta, ya..." Dokter Tasia kelihatan gugup.

__ADS_1


"Apa Pak Dikta juga baik ?" Tanya Aurora.


"Iya..." Dokter Tasia memaksakan senyumannya.


"Dikta juga dalam kondisi baik." Tambahnya namun, entah mengapa rasanya begitu tak meyakinkan.


"Ah, syukurlah..." Aurora merasa lega mendengar itu.


"Jadi, apa kak Tasia tahu kapan dia akan pulang ? Aku sudah menunggunya begitu lama." Aurora bertanya lagi dan kali ini seperti meminta sebuah kepastian.


Dokter Tasia memang tidak memiliki jawaban pasti akan pertanyaan ini tapi, dia bisa memberitahu satu hal kepada Aurora.


"Sebentar lagi. Tunggu sebentar lagi dan Dikta akan selesai." Ucap dokter Tasia.


Ucapan itu membuat Aurora yakin dan percaya kalau dalam waktu dekat suaminya akan pulang kepadanya. Jadi, tak heran kalau setelah mendengar itu Aurora memilih untuk tersenyum.


"Aku tidak sabar dengan hari dimana Pak Dikta  pulang. Setelah kembali aku tak akan melepaskannya lagi." Ujar Aurora penuh semangat.


Tidak ada lagi yang bisa diperpanjang dari perbincangan ini, maka dari itu dokter Tasia langsung pamit undur diri dengan cepat.


"Maaf Aurora, sepertinya aku harus pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang untuk diselesaikan." Tutup dokter Tasia yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Aurora.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Aurora sudah berencana, hal pertama yang akan dilakukannya ketika Pak Dikta pulang adalah minta dibuatkan nasi goreng dengan telur setengah matang. Iya, menu sarapan kesukaan Aurora dan pastinya yang paling dirindukan ketika Pak Dikta pergi.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2