
..."Mau dikatakan apalagi, kita tak akan pernah satu. Engkau di sana, aku disini, meski hatiku memilihmu..."...
...- Raisa, Mantan Terindah....
.......
.......
.......
Taksi online yang ditumpangi oleh Aurora telah berhenti tepat di depan dari sebuah cafe. Aurora bisa berada disini karena harus menemui seseorang yang dirasa penting dan perlu ditemui, mungkin ini pertemuan terakhir mereka.
Setelah membayar taksi online, Aurora pun melangkah turun lalu tak lama berjalan memasuki cafe yang masih terpampang dengan jelas tulisan 'Tutup' di pintu depannya.
Pagi ini, Aurora akan bertemu dengan Devin ā mantan pacarnya. Sebenarnya hubungan diantara mereka telah usai tepat sejak sebelum Aurora menikah dengan Pak Dikta namun, disini tujuan Aurora datang dan mau bertemu dengan sang mantan pacar karena ingin mendengarkan penjelasan. Bukankah Devin berhutang penjelasan ?
"Hai..." Sapa Devin yang mengenakan seragam bartender, berdiri dari meja kerjanya sambil tersenyum hangat.
Di dalam diri Aurora masih ada rasa kesal sekaligus kecewa. Maka dari itu wajahnya terlihat malas seperti enggan untuk berlama-lama.
"Katakan saja apa yang ingin lo jelaskan. Gue gak punya banyak waktu." Bahkan dari cara bicaranya sudah berubah.
Devin sangat mengerti tentang perasaan Aurora. Lelaki itu pun berjalan keluar dari meja kerjanya lalu menghampiri Aurora.
"Bicara sambil duduk, mau ?" Tanyanya.
Tanpa menjawab, Aurora langsung menarik kursi yang ada di dekatnya. Ia duduk begitu saja sambil sesekali melemparkan tatapan sinis ke arah mantan pacarnya itu.
"Katakan penjelasan nya !" Pintanya dengan nada bicara terkesan tak sabar.
"Terserah kamu mau percaya atau enggak sama penjelasan yang aku kasih, itu hak dan pilihan kamu." Kata Devin terkesan berbelit-belit.
"Berikan saja dulu penjelasannya." Ucap Aurora memaksa.
"Arin memang hamil tapi, itu bukan anak aku." Devin memberitahu yang sesungguhnya. Benarkah ?
Mendengar penjelasan yang seperti itu membuat Aurora langsung tertawa karena tidak menyangka kalau penjelasan yang diberikan oleh sang mantan pacar hanya seperti ini.
"Lo memang cowok brengsek ya ! Udah berbuat tapi, malah gak mau ngaku." Ujar Aurora terkesan murka.
"Aku tahu kamu bakal gak percaya tapi, ini kenyataannya." Devin terus berusaha meyakinkan Aurora kalau semua yang dikatakannya itu adalah benar.
"Kalau itu bukan anak lo lalu, anak siapa ?" Aurora bertanya karena ingin melihat seberapa jauh sang mantan pacar itu mengelak dan mengarang cerita.
"Anak kakak aku. Iya, Arin itu pacar kakak aku." Ujar Devin.
Dengan wajah serius, Aurora bertanya kembali. "Lalu, kalau memang itu anak dari kakak lo, kenapa yang tanggung jawab mesti lo ?"
Aurora sudah tak bisa berucap aku dan kamu lagi. Karena, pengkhianatan Devin masih membuatnya sakit hati.
"Aku gak tahu kamu lupa, Ra... Kakak aku udah meninggal." Ujar Devin yang mengingatkan Aurora.
Iya, kakak kandung Devin telah meninggal karena kecelakaan tepat disaat akan menikahi Arin. Kalau memang seperti ini nyatanya, Devin sama sekali tak bersalah.
"Ra, aku juga gak mau ninggalin kamu. Kalau bisa, aku tetap mau ada disisi kamu tapi, aku juga gak bisa mengabaikan Arin." Ujar Devin.
"Kenapa gak bisa mengabaikan Arin ? Apa lo lebih sayang sama dia dibanding gue ?" Nada bicara Aurora mulai meninggi.
"Enggak. Aku lebih sayang kamu tapi, aku jauh lebih sayang sama kakak Dave. Kamu juga tahu itu." Kata Devin tulus berasal dari hati.
Penjelasannya sudah cukup ? Aurora kembali tertawa, sekarang apapun yang dikatakan oleh Devin hanya ia anggap seperti bercandaan. Aurora memilih untuk tidak mempercayai penjelasan itu.
"Anak itu sama sekali gak bersalah dan pastinya butuh sosok figur ayah," Aurora memberi jeda pada ucapannya sejenak.
"Entah itu anak kamu atau bukan, kamu harus jadi ayah yang baik untuk anak itu." Sambung Aurora.
Waktu berlalu begitu cepat dan sepertinya, Aurora harus bergegas pergi dari Cafe ini. Iya, kelas paginya akan berlangsung dalam beberapa jam lagi.
"Mau aku antar ke kampus ?" Tanya Devin.
"Tak perlu. Kamu fokus saja bekerja dapatkan banyak uang untuk anak itu dan Arin." Jawab Aurora dengan santai.
...š„š„š„...
Devin kembali mengambil ahli pikiran Aurora. Iya, karena penjelasan dan pertemuan dengan sang mantan pacar, Aurora sama sekali tak bisa berfokus pada mata kuliah yang diberikan oleh Pak Dermawan. Gadis itu seringkali melamun dan terhanyut dalam pikirannya.
"Aurora Putri Adinda..." Panggil Pak Gunawan yang membuat Aurora langsung keluar dari lamunannya.
"Iya, pak ?" Tanyanya dengan cepat.
"Kamu melamun ?"
__ADS_1
"Tidak, pak !" Jawab Aurora menyanggah.
"Benarkah ? Untuk memastikan saja, coba kamu jelaskan lagi materi yang tadi saya sampaikan !" Pinta Pak Dermawan.
Mendengar permintaan itu membuat Aurora langsung memutar bola matanya sambil tersenyum. Iya, Aurora tengah berpikir bagaimana cara menjawab itu.
"Ehm, bapak tadi menjelaskan soal..." Perkataannya terhenti karena jujur saja dirinya tak tahu mau menjawab apa. Iya, Aurora sama sekali tidak mendengarkan penjelasan dari Pak Dermawan.
"Tidak bisa menjelaskan ?" Pak Dermawan terus mendesak.
"Bapak menjelaskan soal Kardiovaskular..." Aurora menjawab asal.
"Sejak kapan mata kuliah saya ada membahas soal Kardiovaskular ?" Kata Pak Dermawan dengan tegas.
"Ra..." Panggil Keysha dengan takut-takut.
"Kardiovaskular itu masuk mata kuliahnya Pak Dikta. Lo fokus dong..." Pinta Keysha berbisik.
"Aurora, karena kamu tidak fokus pada mata kuliah ini, saya minta kamu keluar dan kerjakan makalah tentang gizi." Perintah Pak Dermawan.
Andai saja pikirannya bisa fokus pada mata kuliah ini, dirinya pasti masih ada di dalam kelas dan tak perlu mengerjakan tugas hukuman dari Pak Dermawan. Kenapa harus bertemu dengan Devin di pagi hari ?
...---ooOoo---...
Kini, Aurora berada di perpustakaan. Dia duduk di salah satu kursi paling pojok sambil ditemani oleh buku ensiklopedia.
Berada disini karena niatnya untuk mengerjakan tugas hukuman yang diberikan oleh Pak Dermawan tapi, entah mengapa rasanya membuka buku ensiklopedia saja sudah begitu malas.
Seharusnya kalau ditunda sejenak tidak terlalu masalah. Lagipula Pak Dermawan juga tidak memberikan tenggat waktu yang pasti.
"Gue kesel banget sama pikiran gue sendiri." Pekik Aurora sembari mengajak rambutnya lalu meletakkan kepalanya supaya bisa bertumpu pada meja.
Disaat semua rasa malas karena pikirannya yang masih terus saja berputar pada Devin, sebuah pesan singkat dari sang suami masuk pada pemberitahuan ponselnya.
| Mode Chat |
...--------------------------...
...Si Resek šæ...
...--------------------------...
Si Resek :
Masih di kampus ?
^^^Aurora :^^^
Si Resek :
Masih kelas ?
^^^Aurora :^^^
^^^Enggak.^^^
Si Resek :
Udah selesai ?
^^^Aurora : ^^^
^^^Kelasnya belum selesai. ^^^
^^^Saya dikeluarkan dari kelas š^^^
Si Resek :
Di keluarkan ? Kenapa ?
^^^Aurora :^^^
^^^Gara-gara melamun.^^^
Si Resek :
Apa yang kamu lamun kan ?
^^^Aurora :^^^
^^^Sebenarnya tidak ada. Cuma melamun tapi ketahuan.^^^
Si Resek :
__ADS_1
Sekarang lagi dimana ?
^^^Aurora :^^^
^^^Perpustakaan. Kerjain tugas hukuman.^^^
^^^Kenapa ? Mau bantuin ?^^^
...---ooOoo---...
Pesan terakhir yang dikirimkan oleh Aurora hanya mendapatkan sebuah tanda 'read'. Melihat itu, Aurora langsung meletakan ponselnya lalu, jangan dikira kalau ia mau membuka buku ensiklopedia tentu saja, tidak.
Daripada mengerjakan tugas hukuman, akan lebih baik kalau dirinya tidur karena tiba-tiba rasa kantuk menghantamnya.
Tidak terlalu lama terlelap dalam dunia mimpinya, Aurora harus dibangunkan oleh seseorang yang memiliki suara terdengar tak asing.
Panggilan itu membuat Aurora sedikit demi sedikit membuka matanya. Baru setengah terbangun, Aurora melihat wajah tampan dari Pak Dikta yang tersenyum cukup lebar kepadanya.
"Selamat siang..." Kata Pak Dikta.
Awalnya ia sangat tak mempercayai hal pertama yang dilihat ketika kedua matanya terbuka.
"Pak Dikta..." Balasnya sambil mengelap saliva nya yang keluar.
"Ini perpustakaan, tempat untuk membaca buku bukan tidur." Katanya menegur.
Mendengar itu membuat Aurora jadi salah tingkah. Iya, dirinya dengan cepat-cepat membuka buku ensiklopedia yang masih tertutup tepat di hadapannya.
"Iya, saya emang lagi baca buku tapi, gak sengaja tertidur." Ucapnya mengelak.
"Membaca buku tapi tertutup ?" Tanyanya menciduk.
"Tidak sengaja tertutup." Balasnya sambil meringis menunjukan gigi.
Melihat itu membuat Pak Dikta merasa gemas jadi, tanpa meminta izin ia mengacak singkat rambut Aurora. Untung saja lokasi tempat duduk Aurora berada disudut dan paling jarang orang datang.
"Pak Dikta jangan seperti itu. Ingat ini kampus !" Aurora memperingati sang suami.
"Maaf..." Ujarnya singkat.
Kedatangan Pak Dikta kemari adalah sebuah hal yang tak terduga. Dirinya juga merasa begitu penasaran dengan tujuan sebenarnya Pak Dikta datang kemari. Kalau tidak ada sebab dan tujuan, dosen itu juga tak akan datang kemari.
"Kenapa Pak Dikta datang kemari ?" Tanya Aurora yang sudah penasaran sejak tadi.
"Pak Dikta kan gak ada jadwal mengajar hari ini." Tambah Aurora.
Pak Dikta tersenyum singkat lalu mengambil tempat duduk berhadapan langsung dengan Aurora.
"Saya kemari karena berniat untuk membantumu mengerjakan tugas hukuman dari Pak Dermawan." Kata Pak Dikta.
"Serius ?"
"Membantu menemani kamu supaya tidak kesepian." Ujarnya menegaskan lebih lagi.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Enak banget ya, ngerjain tugas ditemenin sama Pak Dosen tapi, cuma nemenin aja bukan bantuin...
.
.
__ADS_1
.
^^^Bersambung...^^^