Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 44 : Falling In Love


__ADS_3

Sebenarnya, Aurora sangat berharap bisa pulang bareng Pak Dikta. Bukan berharap lagi melainkan sangat ingin. Tapi, karena Pak Dikta tak datang untuk menjemput setelah ditunggu sampai tujuh purnama, Aurora mau tak mau harus diantar pulang oleh Gilang.


Padahal awalnya, Aurora berencana untuk mengajak Pak Dikta — suaminya itu, untuk menghabiskan waktu bersama; seperti hangout.


Aurora juga berniat untuk mengambil banyak foto menggunakan ponselnya lalu mengirimnya pada sosial media pribadi dan memberitahu semua orang kalau Pak Dikta adalah suaminya. Sayangnya, semua itu gagal begitu saja.


Motor yang dikendarai oleh Gilang kini telah terlihat berhenti tepat di depan pagar rumah Aurora.


"Sudah sampai, Ra." Kata Gilang memberitahu.


Tak ingin lebih lama lagi berada di atas motor, Aurora pun melepaskan pegangannya dari pinggang ramping milik Gilang lalu dengan cepat turun.


"Makasih ya, Lang." Ucap Aurora sembari berusaha melepaskan helm yang sepertinya sedikit tersangkut.


Tidak bertanya, Gilang yang tahu kalau temannya itu sedang kesusahan untuk melepaskan helm pun tanpa ragu membantu.


"Biar gue bantu." Ujarnya lalu mulai mencoba melepaskan helm yang masih terpasang di kepala Aurora.


"Apa melepaskan helm sesulit itu, hah ?" Sindir Gilang yang telah berhasil melepaskan tautan yang ada pada helm itu.


"Makasih Gilang..." Katanya lagi tapi, kali ini dengan senyuman yang sangat lebar.


"Sama-sama cantik." Balas Gilang yang kemudian mengacak singkat rambut Aurora.


Jujur, meskipun perasaan kecewa masih bisa dirasakannya, Aurora tetap bisa tersenyum lebar kalau ada di dekat seorang Gilang.


"Gue balik ya, Ra. Udah malem, takut ada begal." Tutur Gilang berpamitan.


"Tukang gebuk kek lo, takut sama begal ?"


"Gue gebuk nya pakai tangan kosong sedangkan begal pakai senjata. Ya, jelas gue takut." Kata Gilang memberitahu sesuai kenyataan.


"Kan lo pasti bisa gitu, kek adegan di film... Buang senjata dengan tendangan maut."


Mendengar itu membuat Gilang terkekeh. Tak menyangka kalau temannya menyamakan dunia nyata dengan film.


"Kalau film mah pura-pura, kalau nyata taruhannya nyawa. Mana bisa gue kasih tendangan maut ?!"


"Yang ada sebelum tendangan itu keluar, gue udah kena senjatanya dulu." Kata Gilang sedikit meremehkan tentang kemampuan bela dirinya.


"Lo jago, Lang ! Gue pernah liat lo latihan bela diri dan menurut gue itu keren." Ungkap Aurora memberi sedikit pujian.


"Sejago-jagonya gue kalau lawan begal tetep takut. Mereka mainnya keroyokan trus bawa senjata lagi. Lo mau lihat gue kenapa-napa ?"


"Jangan ! Kalau lo kenapa-napa siapa yang bikin gue senyum ?" Larang Aurora.


"Maka dari itu, gue izin balik sekarang." Tutur Gilang kembali berpamitan.


"Ya udah sana. Hati-hati Gilang..." Kata Aurora sembari mengembangkan senyumannya.


"Gue balik ya, Ra. See you tomorrow or next time..." Katanya.


"Kalau sampai rumah kabarin gue." Pinta Aurora yang langsung mendapat anggukan kepala dari Gilang.


Tak lama, setelah mesin motornya menyala, Gilang menatap ke arah Aurora sekilas lalu langsung mengendarai motornya.


Sosok Gilang sudah semakin menjauh bahkan sekarang tak terlihat lagi. Tak ada alasan bagi Aurora untuk tetap berdiri disini. Dengan langkah tergesa-gesa, Aurora masuk ke dalam rumahnya. Menemui Pak Dikta dan berbincang serius menjadi tujuannya sekarang.

__ADS_1


...---ooOoo---...


Aurora mengedarkan pandangannya. Gadis itu tengah berusaha untuk mencari keberadaan dari Pak Dikta. Hasilnya nihil, Aurora tidak bisa menemukan suaminya.


"Bunda..." Panggil Aurora kepada sang ibunda yang terlihat tengah sibuk memasak di dapur.


"Ada apa, Rara ?" Tanya sang ibunda sembari kedua tangannya sibuk memotong-motong sayuran.


"Pak Dikta, maaf maksud Rara... Mas Dikta udah pulang ?" Aurora langsung menanyakan ini tanpa basa-basi.


"Belum pulang. Memangnya kamu gak sama dia ?"


Tidak menjawab apapun, Aurora berlalu begitu saja menaiki anak tangga dengan langkah sembrono dan terburu-buru. Gadis itu harus menuju kamarnya dan mengisi daya ponselnya supaya bisa mencari tahu tentang keberadaan suaminya sekarang.


...---ooOoo---...


Sudah berada di dalam kamar, Aurora pun bergegas untuk mengisi daya ponselnya lalu menekan tombol power. Ia berhasil menyalakan ponselnya.


Setelah ponsel menyala, Aurora tak ragu untuk langsung menelepon suaminya. Berdering tapi belum mendapatkan jawaban apapun.


Apakah Aurora harus berhenti menghubungi dan menunggu sampai suaminya itu pulang ? Tapi, kapan dia akan pulang ? Aurora juga tidak tahu itu.


Namun, pada saat Aurora ingin menyerah dan meletakkan ponselnya pada meja belajar, Pak Dikta menghubungi balik.


Dengan cepat dan tanpa banyak berpikir, Aurora menjawab panggilan itu. Banyak sekali yang ingin ia sampaikan pada Pak Dikta.


"Pak Dikta kemana aja sih ? Gak tahu apa kalau saya nungguin lama banget di halte ? Katanya mau menjemput tapi kok mengingkari ?" Protes Aurora langsung, tak memberikan ruang bagi Pak Dikta untuk berbicara.


"Maaf." Hanya satu perkataan itu yang bisa Pak Dikta lontarkan. Tanpa adanya penjelasan apapun dan pastinya tak menjawab semua protes dari Aurora.


"Iya..."


Aurora mencoba menguatkan dirinya supaya tak terpancing dengan perasaannya yang campur aduk.


"Pak Dikta memang terlalu sibuk sampai lupa. Bahkan sama sekali tak menghubungi, memberitahu saya kalau memang gak bisa jemput." Kata Aurora dengan penuh kekecewaan.


"Maaf." Lagi dan lagi hanya ini yang bisa Pak Dikta katakan.


Sepertinya memang tidak ada lagi yang perlu dibahas. Tanpa memberitahu, Aurora langsung mengakhiri panggilan itu secara sepihak.


Panggilan berakhir. Aurora meletakkan ponselnya sembarangan. Sekarang ia merasa enggan untuk menjawab panggilan dari siapapun terutama Pak Dikta. Lelaki yang hanya bisa mengucapkan 'maaf' tanpa mau memberikan sebuah penjelasan.


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Daripada dibuat pusing memikirkan Pak Dikta yang jujur sekarang telah mengambil ruang di seluruh pikirannya, Aurora memutuskan untuk segera tidur. Akan tetapi, baru saja ingin naik ke atas ranjangnya, sebuah ketukan pintu terdengar.


Aurora berpikir kalau itu adalah ibunya. Oleh karenanya, Aurora mau membukakan pintu. Kalau misalkan Pak Dikta, mungkin pintu tak akan pernah dibuka.


Hasilnya nihil, setelah membuka pintu yang dilihat oleh Aurora bukan sosok ibunda tetapi, Pak Dikta yang berdiri sambil tersenyum lebar dan membawa satu kantong besar berisi makanan ringan.


"Aurora maaf !" Kata Pak Dikta lagi.


Aurora terlihat memutar bola matanya malas. Rasanya ingin mengabaikan Pak Dikta.


"Rara ?" Panggil Pak Dikta.


"Apaan ?"

__ADS_1


"Maaf !"


Aurora memang sudah dibuat jatuh hati kepada sosok Pak Dikta. Melihat lelaki itu meminta maaf, membuat Aurora merasa tak tega dan ingin segera mentolerir semua kesalahannya.


"Minta maaf untuk apa ?" Tanya Aurora sambil memandangnya dengan malas.


"Karena membuatmu menunggu terlalu lama di halte." Balasnya mengakui kesalahan.


"Kenapa membuat menunggu ?" Tanya Aurora yang penasaran.


Seperti tak mau memberitahu, Pak Dikta mengulang lagi permintaan maafnya.


"Maafkan saya, Aurora. Karena membuatmu menunggu terlalu lama di halte."


Meski masih ada rasa kecewa dan kesal dalam dirinya. Aurora akan mencoba untuk mentolerir semuanya. Ia akan memaafkan suaminya itu yang sama sekali tak mau memberikan penjelasan.


Jatuh cinta, perasaan ini yang telah membuatnya menerima permintaan maaf dari Pak Dikta.


Aurora menghela napas berat lalu melenggang masuk kembali ke kamar dan bersiap untuk tidur. Sepertinya, tak ada lagi yang harus dibahas diantara mereka berdua. Aurora juga merasa sudah cukup akan permintaan maaf Pak Dikta.


Oh ya untuk sekantong makanan ringan yang dibawa Pak Dikta, Aurora telah menerimanya dengan senang hati.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Meskipun hanya permintaan maaf dan tanpa adanya penjelasan. Aurora akan tetap memaafkannya. Iya, dalam hal ini perasaannya yang telah mengambil ahli.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2