Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 34 : Hadiah


__ADS_3

Tiga hari setelah kepergian sang ayah, Aurora masih merasa begitu kesepian dan kosong. Waktu yang katanya bisa menyembuhkan semuanya belum bekerja dengan baik.


Pak Dikta yang tahu kalau sang istri masih terlarut dalam kesedihan yang mendalam karena ditinggal sang ayah pun berinisiatif untuk memberikannya sebuah hadiah.


Hadiah kecil yang mungkin nanti bisa membuat Aurora mengembangkan senyuman lagi. Jujur saja, buat Pak Dikta akan lebih baik kalau Aurora cerewet dan banyak mau daripada bersikap seperti sekarang ini.


"Aurora ?" Panggil Pak Dikta kepada sang istri yang sedari tadi terus duduk di dekat jendela tanpa ada niatan untuk bergerak sama sekali.


"Kalau saya ajak kamu jalan-jalan mau ?" Tanya Pak Dikta yang bermaksud baik.


"Kemana ? Ketemu ayah ?" Tanya Aurora balik nampak semangat.


"Tidak. Tadi pagi kan kita sudah datang berkunjung." Jawaban Pak Dikta berhasil membuat wajah Aurora langsung berubah, semangatnya meredup.


"Kita jalan-jalan, terserah kamu mau kemana. Belanja apapun saya yang belikan atau makan di luar saya yang traktir." Pak Dikta berusaha mencoba memberi penawaran terbaik yang mungkin bisa membuat Aurora tersenyum lagi.


"Jalan-jalan kemanapun ?" Tanya Aurora yang menatapnya penuh harap.


Pak Dikta mengangguk. "Kemanapun yang kamu mau."


"Ke makam ayah. Aurora pengen ke sana lagi." Katanya berharap.


Pak Dikta sebenarnya merasa enggan untuk mengantar Aurora kembali ke makam ayah Andre. Bukan karena melarang atau hal semacamnya, Pak Dikta hanya takut kalau terlalu sering Aurora malah semakin sudah melupakan kesedihannya dan senyumannya menjadi benar-benar hilang.


"Kalau ke tempat lain, Pak Dikta ajak orang lain saja." Ujar Aurora lalu kembali memalingkan wajahnya dari Pak Dikta.


"Saya akan antar kamu ke sana tapi, ini yang terakhir." Kata Pak Dikta terdengar cukup tegas.


Aurora mengangguk mengerti.


"Terakhir kalinya bertemu ayah. Besok saya gak akan minta hal ini lagi." Tukas Aurora.


Tak membuang banyak waktu lagi, Pak Dikta pun mengambilkan jaket yang cukup tebal untuk Aurora.


Jaket yang nantinya akan melindungi kulit Aurora dari sinar matahari yang sedang begitu terik.


"Pakai jaket ya !" Pintanya sambil memasangkan jaket itu.


Dirasa sudah siap, Aurora bersama Pak Dikta pun keluar dari kamar ini. Dengan perlahan-lahan, mereka menuruni anak tangga satu demi satu.


Baru sampai di ruang tamu, langkah mereka di hentikan oleh sang ibunda yang terlihat tengah sibuk melipat kardus ?


"Siang-siang begini, kalian berdua mau pergi kemana ?" Tanya sang ibunda langsung pada intinya.


"Mau mengajak Aurora jalan-jalan, bunda..." Jawab Pak Dikta terdengar sopan.


"Jalan-jalan ? Pasti mau belanja atau main di timezone ? Rara kan suka dengan hal seperti itu." Tebak sang ibunda.


"Rara mau ke makam ayah." Jawab Aurora yang seketika menyalahkan semua tebakan dari ibunya.


"Lagi ? Bukankah tadi pagi kamu sudah pergi berkunjung ke sana ?" Ibunya juga tampak terkejut. Setelah kepergian ayah Andre, Aurora jadi lebih sering meminta untuk pergi mengunjungi makam ayahnya.


"Habisnya Rara udah kangen. Kepergian ayah berhasil buat Rara merasa kosong." Ungkap Aurora jujur dengan perasaannya.


"Bunda tidak melarang kamu pergi tapi, bunda hanya ingin memintamu untuk tidak terlalu sering datang ke makam ayahmu." Sepertinya sang ibunda juga mengkhawatirkan hal yang sama seperti Pak Dikta.


"Ini terakhir."


"Ya sudah kalau begitu. Nak Dikta, titip Rara ya..." Ujar sang ibunda memberi pesan.


"Pasti." Jawa singkat Pak Dikta sembari tersenyum.


Dengan menggandeng tangan Aurora, Pak Dikta pun melangkah keluar dari rumah ini menuju ke arah mobil SUV miliknya yang terparkir dengan rapi pada garasi rumah ini.


"Kamu yakin hanya ingin mengunjungi makam ayah Andre ?" Tanya Pak Dikta sembari membukakan pintu mobil bagian depan untuk Aurora.


"Iya..." Jawab singkat Aurora lalu masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang.


Setelah membuat Aurora masuk, Pak Dikta pun ikut menyusul. Sedikit berlari kecil mengitari mobil, Pak Dikta akhirnya membuka pintu yang langsung tertuju pada kemudi.

__ADS_1


"Sudah pakai sabuk pengaman ?" Tanya Pak Dikta kepada Aurora yang saat ini berada tepat di sampingnya.


Aurora mengangguk kecil.


"Kalau begitu kita bisa berangkat sekarang." Katanya.


Mobil SUV yang dikendarai langsung oleh Pak Dikta melaju meninggalkan rumah ini. Melewati jalanan kota pada siang hari untuk menuju ke rumah peristirahatan terakhir ayah Andre yang letaknya cukup jauh dari rumah.


...---ooOoo---...


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit, akhirnya Pak Dikta bersama dengan sang istri — Aurora, tiba juga di tempat peristirahatan terakhir dari ayah Andre.


Dengan langkah yang tampak terburu-buru, Aurora berjalan terlebih dahulu meninggalkan Pak Dikta dengan membawa bunga tabur dan buket bunga untuk sang ayah.


Sebuah makam baru dengan gundukan tanah yang dipenuhi oleh banyak kelopak bunga mawar sudah mulai bisa terlihat. Aurora kembali mendatangi tempat ini untuk kesekian kalinya.


"Ayah..." Sapa nya lalu tanpa ragu dan berpikir panjang langsung duduk di tanah dan menyentuh nisan yang bertuliskan nama sang ayah.


"Rara kembali lagi kesini. Rasanya kangen banget sama ayah," Ujarnya dengan sebuah senyuman tipis.


"Beberapa hari gak ada ayah di rumah, rasanya begitu sepi. Seperti ada yang kurang," Aurora mulai mencurahkan isi hatinya.


"Ayah, mungkin ini terakhir kalinya Rara datang kemari. Rara sebenernya masih ingin terus datang tapi, Pak Dikta dan bunda gak izinin Rara,"


"But, it's okay... Rara bisa ngertiin apa yang mereka khawatirkan,"


"Rara janji, setelah perasaan ini sudah tenang dan Rara mulai bisa mengikhlaskan kepergian ayah yang serba mendadak ini. Rara, akan datang lagi kemari dengan senyuman."


Ucapannya terhenti karena gadis itu terlihat mulai menaburkan bunga untuk kembali menghias makam sang ayah.


Pak Dikta yang juga sudah ada di sana hanya bisa berdiri dan memberikan ruang lebih untuk Aurora supaya bisa lebih leluasa mencurahkan isi hatinya pada sang ayah yang sudah tak bisa lagi menjawab. Hanya memantau, itulah yang dilakukan Pak Dikta.


"Ayah, istirahat yang tenang ya ! Bahagia juga di sana. Jangan pikirin Rara atau bunda karena kita akan baik-baik saja,"


"Pak Dikta, menantu kesayangan ayah menjaga kami dengan baik." Tutur Aurora sambil tersenyum menatap ke arah nisan.


"Rara sangat senang dan bahagia bisa menjadi putri ayah. Putri satu-satunya yang paling disayangi ayah,"


"I love you more and i miss you..." Tukasnya dengan air mata yang mulai menetes sedikit demi sedikit.


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Walau tak terlalu lama berkunjung ke makam ayah Andre, Aurora sudah sangat puas. Wajah yang tadi ia tekuk terus dan hanya terpancar aura kesedihan seketika berubah. Iya, Aurora tampak lebih sumringah dan wajahnya sangat berseri. Senyuman juga sesekali muncul di bibirnya.


"Sudah ya..." Kata Pak Dikta sembari memutar kemudi supaya mobil ini bisa keluar dari tempat parkir.


"Makasih ya, Pak." Ujar Aurora.


"Sama-sama."


Apakah acara jalan-jalan mereka hanya seperti ini ? Tentu saja tidak. Meskipun Aurora awalnya menolak dan bilang tak ingin, Pak Dikta berencana untuk mengajaknya berkunjung ke pusat perbelanjaan. Iya, Pak Dikta akan membiarkan Aurora berbelanja sepuasnya.


"Pergi ke mall dulu ya." Kata Pak Dikta.


"Gak mau langsung pulang ?" Tanya Aurora.


Pak Dikta menggeleng.


"Ada barang yang mau saya beli." Katanya.


.


.


.


Tak perlu banyak waktu, mobil yang dikendarai oleh Pak Dikta terlihat juga sedang memasuki parkiran dari salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota ini.


Seusai memarkirkan mobilnya dengan rapi, Pak Dikta melepaskan sabuk pengamannya lalu turun terlebih dahulu bermaksud untuk membukakan pintu.

__ADS_1


Pintu mobil sudah dibukakan dan Aurora bergegas turun. Gadis yang mengenakan kaos putih ditambah dengan kardigan rajut berwarna kuning itu terlihat tengah mengembangkan senyuman.


"Kita ke sini dulu baru setelahnya pulang." Kata Pak Dikta.


Supaya menghemat waktu, Pak Dikta pun mengandeng tangan Aurora lalu mengajaknya masuk ke dalam gedung pusat perbelanjaan yang tampak padat akan pengunjung.


"Pak Dikta mau beli apa ?" Tanya Aurora ketika sudah berada di dalam pusat perbelanjaan dan melihat banyak sekali toko.


"Mau beli barang yang mungkin bisa buat kamu senyum." Jawabnya yang kemudian membawa Aurora masuk ke sebuah toko boneka.


Dibawa ke toko boneka membuat Aurora merasa heran sekaligus bertanya-tanya. Tidak mungkin kalau Pak Dikta mau membelikannya boneka ? Bukankah itu terlalu kekanak-kanakan ?


"Kamu suka boneka ?" Tanya Pak Dikta tiba-tiba.


"Kalau lucu, saya suka. Tapi, kalau serem kek Anabelle saya gak suka. Jatuhnya sih, takut." Jawab Aurora.


Pak Dikta hanya tersenyum lalu mengambil sebuah boneka pinguin berukuran kecil namun, terlihat sangat lucu dan menggemaskan.



"Kamu suka ?" Pak Dikta bertanya kembali sambil memperlihatkan boneka pinguin pilihannya.


Aurora mengangguk. Karena memang sedari tadi pandangannya tertuju pada boneka pinguin yang sekarang sedang ada pada genggaman Pak Dikta.


"Lucu..."


Tak pakai pikir panjang, Pak Dikta langsung memberikan boneka pinguin itu pada Aurora.


"Kalau kebanyakan cowok sering memberikan bunga, saya lebih suka memberikan barang. Karena barang bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama." Katanya.


"Ini buat saya ?" Tanya Aurora lagi ketika sudah memegang boneka pinguin.


"Iya... Tapi, setelah dibayar baru boneka itu punya kamu." Ujar Pak Dikta.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Meskipun sederhana tapi, sudah sangat cukup untuk membuat senyuman ini mekar.


Mau ngomong apa sama mereka ? Aurora ? Pak Dikta ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2