Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 68 : Pesan Terakhir


__ADS_3

..."Entah dimana dirimu berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu. Apakah di sana kau rindukan aku ? Seperti diriku yang selalu merindukanmu."...


...- Ari Lasso, Hampa....



.......


.......


.......


Mendapatkan pesan lewat email dari Pak Dikta itu berhasil membuat seorang Aurora terjaga sepanjang malam karena terlalu bersemangat.


Aurora sama sekali tak bisa membendung rasa bahagianya ketika Pak Dikta mengatakan dalam pesan email itu kalau akan pulang sebagai hadiah ulang tahunnya.


Sepanjang malam sampai sekarang ini, saat sang Surya mulai muncul memperlihatkan cahayanya, Aurora hanya berbaring di atas ranjang sambil terus berbincang pada anaknya yang ada di dalam perut.


Aurora mengajak bicara anaknya itu dan memberitahunya kalau sebentar lagi sang ayah yang dinanti-nanti akan pulang.


Aurora benar-benar membagikan perasaan bahagianya itu hanya kepada anaknya yang belum lahir.


"Apa ayahmu akan pulang hari ini ? Pasti hari ini kan ? Sebentar lagi kamu bisa melihat wajah tampan ayahmu." Ucap Aurora sambil terus mengelus perutnya dengan lembut.


Pagi telah datang, matahari sudah menerangi semesta nya kembali menggantikan sang rembulan yang sekarang tengah beristirahat.


Aurora yang memang tidak tidur semalaman pun dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya. Iya, gadis itu harus bersiap-siap mempercantik diri. Siapa tahu kan, Pak Dikta pulang pagi ini ?


Dengan tergesa-gesa, Aurora mengambil handuk yang tersampir di gantungan lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak lama setelah pintu kamar mandi tertutup, terdengar suara pancuran air dari shower. Aurora mulai membersihkan dirinya. Tenang saja, ini tak akan lama. Aurora bukan termasuk orang yang akan menghabiskan banyak waktu di dalam kamar mandi.


.


.


.


Aurora pun keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang terbalut pada tubuhnya. Gadis itu telah selesai melakukan aktivitas rutin harian, membersihkan diri.


Setelah melakukan itu, Aurora pun bergegas untuk menuju ke lemari pakaian. Ia harus memilih pakaian terbaik supaya nanti kalau Pak Dikta pulang, lelaki itu bisa melihat penampilan yang berbeda dari dirinya.


Pilihannya jatuh kepada long sweater berwarna biru yang memiliki bahan cukup hangat cocok dikenakan pada musim hujan seperti sekarang ini.


Tak berselang lama, setelah mengenakan pakaian itu, Aurora pun langsung  merias dirinya. Ia memakai sedikit riasan pada wajahnya yang memang sudah cantik. Bukan hanya wajah yang dirias melainkan rambutnya juga ditata sedemikian rupa supaya terlihat rapi.


Jika sudah seperti ini, Aurora sangat dibuat siap untuk bertemu Pak Dikta. Mau pagi atau siang, dirinya akan siap.


Dengan senyuman dan semangat paginya yang sedang berkobar, Aurora pun keluar dari kamarnya lalu perlahan-lahan menuruni anak tangga. Gadis itu ingin mencari sang ibunda karena berniat untuk menyapa.


Tidak seperti biasanya, pagi ini Aurora berhasil bertemu dengan ibunya bukan di dapur tapi, di ruang tamu dari rumah ini.


Entah mengapa Aurora merasa ibunya berdandan begitu rapi. Seperti seseorang yang akan pergi. Tapi, mau kemana beliau sepagi ini ?


"Bunda, mau pergi ?" Tanya Aurora langsung tanpa sebuah basa-basi.


"Iya... Bunda harus ke rumah tante Agatha. Anaknya lagi sakit jadi, bunda harus jagain." Jawab sang ibunda memberitahu.


"Kenapa harus bunda ? Memang Tante Agatha gak bisa melakukannya ?" Tanya Aurora sedikit bingung.


"Pengasuhnya si Brama masih pulang kampung dan Tante Agatha juga harus kerja. Kamu tahu sendiri kan kalau Tante Agatha ibu tunggal ?"


"Bunda bakal lama atau bentar ?" Tanya Aurora sekali lagi.


"Mungkin sampai Tante Agatha pulang." Ujar sang ibunda yang masih belum bisa memberikan sebuah kepastian karena terlalu dini untuk mengatakan kapan akan kembali.


"Oke deh, hati-hati ya Bunda..." Kata Aurora sambil tersenyum.


Karena sudah terlalu terburu-buru, sang ibunda pun bergegas meninggalkan rumah ini untuk pergi ke rumah tante Agatha yang jaraknya bisa dibilang cukup jauh dari rumah ini.


Sang ibunda pergi dan tak tahu kapan akan kembali, dihari ulang tahunnya, Aurora berada di rumah seorang diri. Tak ada aktivitas yang berarti selain duduk di sofa sambil menonton televisi kalau tidak bermain ponsel — membalas semua pesan singkat yang dikirimkan temannya.


Tiga puluh menit berlalu setelah bundanya meninggalkan rumah, Aurora yang masih setia duduk pada sofa ruang tamu pun dikejutkan dengan suara bel.


Aurora benar-benar mengira kalau itu adalah Pak Dikta. Oleh karenanya, ia bergegas untuk membukakan pintu. Aurora sama sekali tak mau membuat Pak Dikta menunggu lebih lama lagi.


"Welcome home to my—" Kata-kata itu terhenti ketika pintu rumah sudah dibukanya.

__ADS_1


Aurora tak bisa melanjutkan kata-katanya karena memang ternyata yang bertamu bukan Pak Dikta melainkan Dokter Tasia.


Kenapa dokter Tasia ? Padahal yang dia harapkan saat ini bukan dia tapi, Pak Dikta. Aurora hanya ingin melihat Pak Dikta.


Dokter Tasia datang ke rumah dengan membawa sekotak kue ulang tahun dan juga sebuah paper bag dari salah satu toko coklat yang pernah dibeli oleh Aurora dulu waktu masih ada Pak Dikta.


Jujur saja, melihat dokter Tasia ada dihadapannya sekarang ini, rasanya begitu aneh seperti ada sesuatu yang salah dan tidak beres.


"Kak Tasia disini ? Ada perlu apa ya ?" Tanya Aurora yang merasa bingung.


"Boleh aku masuk dulu ? Bukankah lebih enak kalau kita bicara di dalam ?" Pinta dokter Tasia.


"Silahkan, kak..." Aurora mempersilahkan dokter Tasia untuk masuk ke dalam rumahnya.


Mereka berdua kini sudah ada di ruang tamu dan terlihat dengan jelas dari raut Aurora kalau ia sedang begitu bingung.


"Ada apa ya, kak ? Tumben kak Tasia datang kemari." Aurora bahkan tak ingin basa-basi lagi karena saking penasarannya.


"Aku kemari hanya untuk memberikanmu kue ulang tahun dan coklat ini. Bukankah sekarang adalah hari ulang tahunmu ?" Kata dokter Tasia sambil meletakan barang bawaannya di atas meja ruang tamu.


"Kak Tasia kok bisa tahu kalau hari ini aku ulang tahun ?" Tanya Aurora yang merasa makin aneh.


Bagaiman tidak aneh, diantara dirinya dan dokter Tasia masih kenal sebentar. Mana mungkin juga seorang dokter Tasia membuang-buang waktu untuk mengulik tentang Aurora ?


Dokter Tasia hanya tersenyum sambil kedua matanya terus melirik ke sana kemari.


By the way, jika diingat-ingat... Bukankah yang berjanji membawakan kue tart dan coklat adalah Pak Dikta ? Tapi, kenapa justru dokter Tasia yang melakukan ini.


"Kak, bukannya ini—" Dokter Tasia terlebih dahulu memotong ucapan Aurora.


"Akhirnya Dikta pulang juga ke kamu." Potong dokter Tasia sambil memberikan sebuah amplop coklat kepada Aurora.


"Ya ?" Jujur Aurora sangat-sangat tidak paham akan maksudnya.


"Mana ? Rara masih belum ngelihat Pak Dikta." Tanya Aurora sambil mencoba mencari keberadaan Pak Dikta. Siapa tahu kan suaminya itu sedang sembunyi karena mau memberikannya kejutan.


"Ini, Ra..." Dokter Tasia menegaskan lebih lagi.


"Mana, kak ?"


"Ra..."


"Apa ini, kak ?" Tanya Aurora sebelum mengambil amplop itu.


"Dikta sudah pulang tapi, maaf karena hanya bisa lewat sepucuk surat." Ucap dokter Tasia dengan suara mulai mengecil.


"Kenapa pulang lewat sepucuk surat ? Maksudnya gimana sih ? Aku sama sekali gak bisa paham." Kata Aurora yang entah tak mau memahami atau memang benar-benar tak paham.


"Apa yang kamu cari, apa yang kamu tanyakan semua ada pada sepucuk surat itu." Ucap dokter Tasia.


Daripada terus dibuat bertanya-tanya dan bingung, Aurora pun membuka amplop berisi surat yang ditulis begitu rapi dengan tinta berwarna hitam legam.


Belum membaca isi dari surat itu, Aurora bisa tahu dengan jelas kalau pemilik tulisan di suratnya tak lain dan tak bukan adalah Pak Dikta.


...---ooOoo---...


Dari    : Dikta


Untuk : Aurora


Hai Aurora... Maaf ya kalau misalkan karena surat ini saya merusak kebahagiaan di hari ulang tahun kamu. Sebenarnya saya sama sekali tidak berharap kalau surat ini sampai di kamu karena itu berarti saya sudah pergi.


Sesuai yang saya katakan, dihari ulang tahun ini akan memberikanmu kue tart dan juga coklat. Apa sudah di terima ? Apa Tasia mengantarnya dengan selamat sampai pada kamu ? Saya harap sih, sambil baca surat ini kamu bisa sambil makan coklat atau kue tart nya.


Saya tulis surat ini sudah dari jauh-jauh hari karena feeling saya telah menebak akhirnya akan bagaimana.


Aurora, lewat surat ini saya tidak hanya akan mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu tapi, juga akan menjawab semua pertanyaan yang mungkin ada dibenak kamu.


Setelah kamu meminta saya untuk menandatangani surat perceraian, saya tahu dengan jelas kalau kamu membatalkan itu semua dan mencoba untuk mencari saya lewat Tasia. Iya, saya diberitahu oleh Tasia soal hal itu. Sebenarnya bukan itu saja, Tasia memberitahukan saya banyak hal yang terjadi sama kamu selama saya pergi.


Saya memang jahat dan tak berperasaan, sudah tahu dicari oleh istrinya yang sedang mengandung malah memilih untuk tidak menampakkan diri sedikitpun. Maaf, tapi saya juga bisa apa.


Kamu harus tahu Rara, kalau selama ini saya berusaha untuk terus membahagiakan kamu dan saya harap kamu akan bisa mengerti alasan kenapa saya menyembunyikan hal ini dari kamu.


Jantung saya sakit, Rara. Saya mengidap jantung lemah. Persis seperti penyakit yang di derita oleh ayah saya.


Sebenarnya saya tidak mau kamu tahu akan hal ini. Karena saya takut, akan buat kamu sedih dan terlalu berpikir.

__ADS_1


Tujuan saya dari awal menikahi kamu adalah untuk memastikan kalau kamu bisa bahagia tapi, ujungnya tetap saja membuatmu sedih dengan cara seperti ini.


Kalau boleh memilih saya juga tidak mau sakit, saya juga tidak mau pergi terlalu cepat dari kamu. Saya masih ingin sekali lihat kamu tiup lilin dihari ulang tahun, saya ingin datang di hari kelulusan kamu bukan sebagai dosen tapi suami, saya ingin menemani kamu nanti ketika di ruang persalinan. Banyak hal yang ingin saya lakukan sama kamu tapi, saya bisa apa ? Pencipta menyuruhku untuk pulang lebih cepat di saat saya sendiri masih ingin terus berjuang.


Selama ini, saya selalu sibuk dan hampir tak bisa meluangkan waktu untuk menjemput kamu itu karena harus memenuhi jadwal pengobatan. Kamu akhirnya tahu juga kan, alasan saya kenapa tidak makan makanan instan ? Iya, saya berusaha memperpanjang waktu untuk bisa lebih lama sama kamu. Tapi, mie instan buatan kamu yang paling enak. Berharapnya sih setelah sembuh, saya bisa mencicipi mie instan rebus itu lagi.


Saya juga harus memberitahumu soal ini, supaya kamu bisa percaya kalau yang saya sayang itu cuma kamu. Tasia itu hanya seorang dokter. Hubungan kita sekarang tidak lebih dari dokter dan pasien. Dia memang seseorang dari masa lalu tapi, dalam hal ini Tasia begitu berusaha untuk membuat saya kembali pulih supaya bisa kembali lagi pulang kepada kamu.


Tapi, manusia hanya bisa berusaha dan Tuhan yang berkehendak. Tasia sudah banyak membantu sampai dia meninggalkan tunangannya.


Apalagi ya ? Kamu mau tahu apalagi ? Jika masih ada pertanyaan kamu bisa ajukan itu pada Tasia. Sekarang dia akan menjawab semuanya.


Oh ya, hampir saja kelupaan...


Saya benar-benar ingin meminta maaf karena harus mengingkari janji untuk tetap bersama kamu. Sepertinya itu sudah tak mungkin lagi.


Terakhir, sebelum saya tutup surat ini... Boleh saya minta sesuatu sama kamu, Rara ? Saya mintanya tidak aneh-aneh kok...


Saya cuma mau supaya senyuman yang seperti tadi malam, ketika kamu menerima email dari saya tidak hilang selamanya.


Kamu boleh bersedih, Ra ! Saya tidak melarang. Tapi, tolong jangan lama-lama. Kalau kamu sedih terus, anak kita bisa merasakannya.


Segitu dulu ya, cantik suratnya... Saya sudah tak bisa menulis lebih banyak daripada ini karena, dokter Nico menyuruh saya untuk istirahat sekarang.


Sehat-sehat untuk kamu dan anak kita. Saya sayang kalian berdua. Maaf, karena harus meninggalkan kalian.


...---ooOoo---...


Membaca surat dengan tulisan tangan yang begitu rapi milik Pak Dikta itu membuat air mata Aurora luruh begitu saja. Bagaimana ia tidak menangis kalau kenyataannya sepahit ini.


Aurora inginnya kan Pak Dikta Pulang bukan Berpulang...


Jika seperti ini, apakah Aurora benar-benar tak akan bisa melihat Pak Dikta lagi ? Selamanya ?


"Kak ?" Aurora menatap dokter Tasia.


"Aku akan menjawab apapun yang ingin kamu tanyakan."


"Bukan ini yang aku mau dihari ulang tahun ! Rara memang mau kejutan tapi enggak seperti ini." Aurora masih begitu terpukul seperti tak bisa menerima kenyataan kalau memang suaminya itu sudah tiada.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Ini mimpikan ? Tolong siapapun sadarkan Aurora dari mimpi buruk yang menyeramkan ini ?


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


Catatan kecil :


- cerita ini belum tamat ya, karena masih ada kilas balik pada dua bab ke depan.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2