Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 53 : Hilangnya Kepercayaan Diri


__ADS_3

Untuk kali pertama dalam hidupnya, Siang ini, disalah satu cafe dekat kampus, ia dengan Dokter Tasia duduk bersama dalam satu meja sambil menikmati secangkir kopi. Aurora dengan karamel latte sedangkan Dokter Tasia dengan vanila latte.


Entah apa tujuannya mereka bertemu, karena tadi saat Aurora akan berkumpul dengan ketiga temannya, ia tiba-tiba dipanggil dan diajak oleh dokter Tasia.


Menganggap kalau kesempatan atau ajakan ini tak mungkin datang dua kali dan bisa dibilang langka, Aurora mengiyakannya tanpa banyak berpikir. Nongkrong sambil menikmati secangkir kopi dengan Dokter Tasia, pasti banyak yang ingin menggantikan posisi Aurora.


Ditempat duduknya dan sambil meneguk karamel latte yang dipesan, pandangan Aurora sejak tadi tak teralihkan dari Dokter Tasia. Gadis itu terus memperhatikan dengan seksama penampilan serta bentuk tubuh yang dimiliki oleh Dokter Tasia.


Tidak heran kalau banyak orang yang mengidolakannya terutama kaum Adam. Dokter Tasia itu benar-benar cantik terlihat seperti seseorang ratu dari negeri dongeng.


Kulitnya putih bersih, hidungnya kecil tapi mancung, bibirnya tidak terlalu tipis, warna matanya coklat, memiliki kelopak mata ganda, bulu matanya lentik, alisnya simetris, rambutnya juga tampak sangat sehat dan tebal, kukunya panjang tapi terawat, bodynya jangan dibahas ! Tentu saja seperti gitar Spanyol.


Bagaimana Aurora bisa tidak insekyur setelah memandangi dokter Tasia dari ujung kaki sampai kepala. Entah mengapa kepercayaan dirinya langsung menurun dengan drastis.


Aurora itu sudah cantik apalagi dia pemilik senyuman termanis tapi, kalau dibandingkan dengan Dokter Tasia, dia akan mengakui kalau kalah saing. The most beautiful woman in the world.


"Ada apa ?" Tanya Dokter Tasia tiba-tiba yang langsung membuat Aurora menyahut.


"Iya ?" Balasnya bingung.


Sambil melirik sekilas, Dokter Tasia kembali berkata. "Sedari tadi kamu memperhatikan aku terus."


"Ah, maaf." Kata Aurora mulai merasa tidak enak.


"Saya mengajak kamu kemari karena ingin mengatakan sesuatu yang penting." Ujar Dokter Tasia yang akan memberitahu maksud dan tujuannya. Jujur, inilah bagian yang terus dipertanyakan dan diketahui oleh Aurora.


"Dokter Tasia katakan saja, saya akan mendengarkan." Ucap Aurora mempersilahkan dengan sopan.


"Jangan Dokter Tasia tapi, Kak Tasia saja itu cukup ! Dengan saya, tidak perlu terlalu formal." Larang Dokter Tasia.


"Iya, kak Tasia." Kata Aurora mengulang dengan sedikit canggung.


"Aku mengajak mu kemari bukan karena niat jahat. Entah mungkin sekarang kamu dalam keadaan sedang membenciku..." Belum selesai dengan perkataannya, Aurora memotong.


"Aku sama sekali tak membenci Dokter Tasia... Eh, maksudnya Kak Tasia." Ujarnya yang terdengar jujur.


"Benarkah ? Meskipun rumor diluar sana yang berhasil menyudutkan kamu sebagai istrinya ?" Tanya Dokter Tasia memastikan.


Seperti apa kata dokter Tasia, rumor tentang hubungan antar Pak Dikta yang bertebaran diluar sana berhasil membuatnya sedikit takut dan merasa resah. Aurora bahkan tanpa sengaja meragukan suaminya sendiri.


Maka dari itu, pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter Tasia sama sekali tak bisa dijawabnya. Aurora hanya bisa diam mematung tanpa bersua sedikitpun.


Dokter Tasia menghela napasnya lalu kembali memulai perbincangan yang serius dengan Aurora.


"Aku hanya ingin memintamu untuk tidak mempercayai rumor itu dan berhantu meragukan Dikta." Pinta Dokter Tasia. Ternyata ini adalah alasan kenapa ia mengajak Aurora untuk duduk bersama di cafe.


"Aku memang sempat meragukannya tapi, sekarang tidak lagi." Ungkap Aurora dengan jujur.


"Nice... Kalau kamu melakukan itu." Kata Dokter Tasia merasa puas karena dirinya tak perlu banyak memberi penjelasan.


"Tapi..." Aurora ingin bertanya satu hal lagi kepada Dokter Tasia selagi ada kesempatan.


"Kenapa Kak Tasia melakukan ini ? Maksud aku, kenapa repot-repot datang kepadaku untuk meminta hal ini ?"


"Bukankah ini yang seharusnya aku lakukan ? Lagipula melakukan ini untuk kepentingan Dikta dan kamu." Kata Dokter Tasia.


"Maksudnya ?" Aurora sungguh tak paham dengan semua ucapan Dokter Tasia.


"Aku gak mau dianggap sebagai perusak hubungan orang. Jujur, status mantan pacar dari Dikta yang melekat itu sangat menyulitkan ku," Ini terdengar seperti sebuah curahan hati.


"Dikta dan aku hanya sebuah masa lalu yang baik. Makannya sekarang masih bisa berteman sedekat ini." Tambahnya.


"Kak Tasia masih punya perasaan sama suami saya ?" Akhirnya pertanyaan yang selama ini sangat menganggu dirinya bisa terucapkan juga.


Dokter Tasia hanya tersenyum penuh arti. Belum sempat menjawab apapun, tiba-tiba sebuah dering telepon berbunyi. Dokter Tasia mendapatkan sebuah panggilan masuk.


"Sebentar." Tuturnya yang meminta Aurora untuk menunggu.

__ADS_1


Dokter Tasia pun beranjak dari tempatnya lalu melangkah sedikit menjauh untuk menjawab panggilan itu. Awalnya, Aurora memang tak terlalu peduli soal sebuah panggilan yang didapatkan oleh Dokter Tasia namun, ketika dirinya mendengar ada nama Pak Dikta disebut, rasa penasaran mulai menggerayanginya.


Haruskah Aurora bertanya setelah Dokter Tasia selesai dengan panggilan itu ?


Tidak meninggalkan Aurora terlalu lama untuk panggilan itu, Dokter Tasia pun kembali lagi kepada Aurora. Kembali bukan untuk melanjutkan pembicaraan tapi, pamit untuk pergi.


"Maaf, sepertinya kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali saja." Ucap Dokter Aurora yang terburu-buru mengambil tasnya.


"Kak Tasia sudah mau pergi ? Tapi..."


"Aku akan menjawab pertanyaannya nanti, kalau kita bertemu lagi. Aku rasa itu akan terjadi dalam waktu dekat." Tukas Dokter Tasia lalu dengan cepat melenggang pergi meninggalkan Aurora.


"Padahal ada hal lain yang ingin ku tanyakan." Gumamnya sambil menatap tak puas ke arah punggung dokter Tasia yang semakin menghilang dari pandangannya.


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


| Mode Chat |


...-----------------------...


...Si Resek ā£ļø...


...-----------------------...


^^^Aurora :^^^


^^^Pak Dikta bisa jemput saya ?^^^


Pak Dikta :


Maaf Rara ! Sepertinya tidak bisa.


^^^Aurora :^^^


^^^Pak Dikta masih sibuk ya ?^^^


Pak Dikta :


^^^Aurora : ^^^


^^^Ya sudah kalau begitu. Selamat bekerja, Pak Dikta !^^^


Pak Dikta :


Saya coba kirimkan kendaraan online buat kamu ya.


Bisa send location untuk saya ?


^^^Aurora :^^^


^^^Tidak perlu.^^^


^^^Saya akan pulang bersama Keysha.^^^


...---ooOoo---...


Aurora meletakan ponselnya begitu saja. Wajahnya terlihat kusut dan tampak tak ada semangat sama sekali.


Bagaimana cara Aurora supaya bisa semangat kalau belakangan ini suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Mungkin, mereka hanya bisa bersama saat malam hari.


"Kenapa, Rara ?" Tanya Arjuna sembari menyesap es jeruk yang dia pesan.


"Pak Dikta gak bisa jemput." Jawab Aurora terdengar lesu.


"Sibuk ?"


Aurora membenarkan itu dengan sebuah anggukan kepala ringan.

__ADS_1


"Belakangan ini selalu sibuk. Bisanya cuma mengantar tapi, kalau pulang selalu gak bisa jemput." Kata Aurora memberitahu.


"Harus sabar. Tahu sendiri kan kalau Pak Dikta memang orangnya super sibuk ?" Arjuna mencoba untuk sedikit menghibur temannya itu.


"Lagian, kalau memang Pak Dikta gak bisa jemput... Gue bisa kok buat anterin lo pulang. Gak cuma gue, Gilang juga bisa melakukannya." Kata Arjuna sembari melirik ke arah Gilang yang masih sibuk bermain ponselnya.


"Bukan masalah itu. Gue tahu kalau bisa nebeng sama kalian tapi, gue tuh juga pengen habis pulang gitu di ajak jajan, makan gitu dipinggir jalan sambil nikmati langit malam. Kek yang ada di drama-drama gitu." Ucap Aurora menceritakan keluhannya.


Arjuna belum sempat menjawab apapun karena sudah keduluan sama Gilang.


"Yuk, Ra... Pulang sama gue, sekalian beli nasi goreng di pinggir jalan." Ajak Gilang tanpa ragu.


"Gak mau ah, nanti gue lagi yang disuruh bayar." Tolak Aurora tidak serius.


"Kan gue yang ngajak, berarti bukan lo yang bayar." Kata Gilang meyakinkan.


"Tuh, Ra... Selagi Gilang ada niat baik. Jarang-jarang kan dia kek begitu." Ucap Arjuna yang sedikit mendesak temannya agar mau menerima ajakan dari Gilang.


"Gue laper, Ra ! Sekalian mau makan dulu sebelum pulang." Ucap Gilang dengan penuh harap.


"Traktir ya, Lang..." Aurora hanya memastikan saja.


"Iya, tenang aja."


Tanpa ada keraguan sedikitpun, Gilang mengulurkan tangannya dan berharap kalau Aurora akan meraihnya.


"Ayo..."


Dengan senyuman, Aurora meraih uluran tangan itu. Lalu bersama dengan Gilang, ia meninggalkan tempat ini duluan.


Lagi dan lagi, selalu pulang sama Gilang. Untuk persoalan loyalitas antar teman, Gilang selalu unggul dan nomer satu. Tidak ada yang bisa menggantikan sosok Gilang untuk hal itu. Dimana pun dan mau bagaimana pun Gilang akan selalu ada buat Aurora.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Sebegitu sibuknya Pak Dikta sampai gak bisa meluangkan sedikit waktu untuk menjemput Aurora.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2