Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 35 : Bersamanya


__ADS_3

Tentu saja, Pak Dikta bukan termasuk seseorang lelaki yang pelit. Dia bisa mengeluarkan banyak uang hanya untuk membahagiakan istrinya. Jadi, jangan dikira kalau Pak Dikta cuma membelikan Aurora boneka pinguin saja.


Sekarang mereka berdua telah berada di supermarket yang ada pada gedung pusat perbelanjaan. Di bawa oleh Pak Dikta kemari membuat Aurora kembali bertanya-tanya.


"Kita mau ngapain disini ? Kalau belanja kebutuhan rumah biasanya bunda. Saya gak tahu apa aja yang harus dibeli." Ungkapnya jujur.


"Bukan itu tujuan saya membawa kamu kemari." Bantah Pak Dikta.


"Lalu ? Mau ngapain kemari kalau bukan untuk belanja kebutuhan rumah ?" Aurora semakin dibuat bingung.


"Dengerin saya baik-baik..." Pak Dikta mulai berbicara serius dan Aurora juga tampak sedang mendengarkan dengan baik.


"Kamu bisa ambil apapun. Mulai dari snack, minuman, mie instan, coklat. Pokonya apa yang kamu mau."


"Minuman beralkohol boleh ?" Tanya Aurora lagi yang membuat Pak Dikta tersenyum.


"Terkecuali itu." Larangnya.


"Padahal saya mau borong banyak minuman beralkohol." Goda Aurora sambil merajuk.


"Minuman bersoda saja." Ucap Pak Dikta.


"Beralkohol saja..."


"Bersoda..."


"Alkohol..."


"Soda..."


"Ya udah, kalau gitu kita pulang saja sekarang..." Pinta Aurora tiba-tiba.


"Beli apa saja kecuali minuman beralkohol." Cegah Pak Dikta.


Tak mau menggoda atau berdebat lebih lagi, Aurora pun melangkahkan kaki sambil mendorong keranjang belanjaan yang sudah disediakan oleh supermarket ini.


Bersama Pak Dikta yang sekarang tengah berjalan mengekor di belakang, Aurora mulai terlihat mengambil segala macam makanan, minuman, mie instan yang dia mau.


Kalau dilihat, sepertinya Aurora berniat untuk memenuhi keranjang belanja ini.


"Pak Dikta gak keberatan kalau saya ambil banyak ?" Tanya Aurora hanya memastikan saja.


"Ya, it's okay... Yang penting jangan sampai mubasir." Balas Pak Dikta.


Dengan santai tanpa mempedulikan jumlah uang yang akan dibayarkan oleh suaminya nanti, tangan Aurora terus saja mengambil barang. Lirik, suka, mau mencoba, ambil. Itulah yang dilakukan Aurora sejak tadi.


Pak Dikta yang memang ada dibelakang dan memantau pun sama sekali tidak terlihat khawatir. Wajahnya nampak santai dan biasa saja.


Belanjaan Aurora sudah banyak tapi, Pak Dikta sama sekali tidak ada niat untuk menghentikan istrinya itu.



"Pak Dikta ?" Panggil Aurora.


"Iya ?" Pak Dikta menyahut dengan cepat.


"Sudah sebanyak ini, apa tidak masalah ?" Tanya Aurora.


"Apa masih ada yang ingin kamu beli atau ambil ?" Tanyanya sembari mengamati keranjang belanjaan milik Aurora.


"Pak Dikta gak menyuruh saya untuk memenuhi satu keranjang ini kan ?"


"Kalau kamu mau, saya tidak keberatan."


Mendengar itu membuat Aurora langsung menganga. Aurora hanya tak menyangka bisa berbelanja sebanyak ini bahkan diperbolehkan menambah lagi. Biasanya, kalau sama sang ibunda, ia hanya diizinkan mengambil sesuatu yang memang sedang diperlukan dan diinginkan. Tak boleh sembarangan ambil seperti sekarang ini.


"Tidak..." Tolak Aurora yang merasa cukup dengan keranjang belanjaannya.

__ADS_1


"...ini sudah cukup buat saya." Sambung Aurora.


"Sure ?"


"Ya !"


Karena Aurora telah merasa demikian, Pak Dikta pun mengambil ahli untuk mendorong keranjang belanjaan itu lalu mengarahkannya pada meja kasir.


Melihat belanjaannya mulai dihitung, membuat jantung Aurora berdebar cukup kencang. Pikirannya juga mulai mempertanyakan apakah belanjaan ini tidak terlalu berlebihan atau mungkin sangat berlebihan ?


Pegawai kasir itu telah selesai menghitung semuanya dan pada saat Aurora menengok pada layar kecil untuk memperlihatkan harga, ia begitu terkejut. Tak disangka total belanjaan yang hanya seperti ini hampir mau menyentuh angka dua juta. Apakah ia terlalu banyak mengambil barang mahal ?


Dengan santai, seakan-akan tak terlalu mempermasalahkan soal harga yang harus dibayarnya, Pak Dikta kembali mengeluarkan kartu kreditnya.


"Pasti gara-gara gue, sisa limited di kartu Pak Dikta jadi menipis." Batin Aurora dalam hati.


"Tapi kan, dia sendiri yang nyuruh gue belanja sepuasnya. Gue gak salah kan ya ?" Rupanya dalam diri Aurora sedang terjadi gejolak batin.


"Ya, meskipun dia yang nyuruh tapi, setidaknya gue bisa tahu diri dikit. Gak serakah ambil semuanya."


Aurora terlarut dalam pikirannya sendiri namun, ini tidak akan lama. Satu panggilan dari Pak Dikta membuat Aurora seketika menoleh.


"Rara ?"


"Iya ?"


"Kamu melamun ?" Tanya Pak Dikta yang rupanya menyadari akan hal itu.


"Tidak." Bohong Aurora.


Pak Dikta mengangguk sambil mengambil kartu kreditnya yang ada pada kasir.


"Sudah selesai, Pak ?" Tanya Aurora.


"Sudah." Balasnya singkat.


"Yakin mau pulang sekarang ? Kita bahkan belum menuju food court. Memangnya kamu tidak lapar ?" Kata Pak Dikta yang enggan untuk diajak pulang.


"Tidak." Singkat Aurora.


"Yakin ?" Pak Dikta hanya memastikan saja.


Aurora mengangguk dengan keras. Akan tetapi, ketika permintaan Aurora akan dituruti oleh Pak Dikta, perutnya berbunyi. Namanya juga ucapan yang selalu tak bisa selaras dengan tubuh.


Pak Dikta yang mendengar ini pun langsung menoleh dan tersenyum gemas ke arah Aurora.


"Kita tidak jadi pulang. Mampir makan dulu ya !" Katanya.


Aurora ingin menolak atau melarang tapi, dia benar-benar merasa lapar. Kalau tidak makan sekarang, ia takut penyakit maag nya bisa kambuh. Aurora kan punya riwayat penyakit maag.


"Kamu mau makan apa ?" Tanya Pak Dikta sembari mendorong trolley yang berisi banyak bungkusan belanjaan.


Dengan ragu dan kelihatan malu-malu, Aurora menjawab. "Boleh makan sushi ?"


"Tentu saja." Jawab Pak Dikta menyetujui dengan cepat.


Mereka berjalan bersamaan menuju ke arah restoran sushi yang ada pada bagian food court dari gedung pusat perbelanjaan ini.


Tak membutuhkan banyak waktu, akhirnya mereka sampai juga di salah satu restoran sushi terkenal yang saat ini sangat ramai dengan orang.


Karena restoran ini menggunakan sistem pelanggan bisa mengambil sushi nya sendiri lewat piring yang berjalan, Aurora bersama Pak Dikta langsung mencari tempat kosong.


Setelah mendapatkan tempat duduk, pegawai restoran ini pun menawarkan menu tambahan yang mungkin mau dipesan.


"Untuk sushi bisa diambil sendiri dan untuk harga sesuai dengan warna piring," Pegawai restoran itu mencoba menjelaskan.


"Untuk menu lainnya, bisa dipesan secara tersendiri." Tambahnya sambil memberikan buku menu kepada Aurora dan Pak Dikta.

__ADS_1


"Kamu mau pesan tambahan apa, Rara ?" Tanya Pak Dikta.


"Teh Ocha ?"


"Kalau itu sudah disediakan gratis." Tutur pegawai restoran.


"Saya gak mau teh Ocha dan minta diganti dengan jus jeruk." Ucap Aurora menyampaikan pesanannya.


Dengan cekatan, pegawai itu menulis pesanan Aurora. Apakah hanya minuman yang dipesan gadis itu ?


"Saya juga mau tempura." Tambah Aurora menyampaikan pesanan lanjutan.


"Berapa porsi ?" Tanya pegawai itu.


"Dua." Jawabnya tanpa ragu.


Setelah memesan, Aurora langsung menatap Pak Dikta yang memang sedari tadi terus memperhatikan ke arahnya.


"Sudah selesai. Saya selesai memesan." Kata Aurora lalu tersenyum kepada Pak Dikta.


Mendengar itu membuat Pak Dikta langsung menutup buku menunya dan mengembalikannya pada pegawai. Rupanya tak ada pesanan tambahan dari Pak Dikta.


"Pak Dikta gak pesan ?" Tanya Aurora bingung.


"Tidak. Saya cukup dengan sushi dan teh ocha." Tuturnya sambil mengambil sushi yang tepat berada disampingnya.


Seperti orang yang tidak mempedulikan harga. Pak Dikta terus saja mengambil piring sushi yang berwarna ungu. Perlu diketahui piring berwarna ungu adalah yang termahal.


Aurora yang melihat itu hanya bisa diam sambil terus memperhatikan dan menebak kapan, Pak Dikta akan berhenti mengambil piring ungu itu.


For information, sejak tadi Aurora terus mengambil piring yang berwarna hijau atau kuning. Dirinya terus menghindari warna merah dan ungu.


Kenapa Aurora tidak ikut mengambil sushi yang mahal ? Padahal kan untuk makanan ini yang bayar bukan dia tapi Pak Dikta. Entahlah, Aurora juga tidak tahu kenapa dirinya hanya mengambil sushi dengan harga yang murah.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Andai saja semua kebahagiaan yang ada disini bisa menular pada kehidupan nyata...


Mau ngomong apa sama mereka ? Aurora ? Pak Dikta ?


.


.


.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2