Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 43 : Kecewa


__ADS_3

Seperti apa yang diminta oleh Aurora, Pak Dikta sekarang tengah bersiap untuk menjemput sang istri.


Masih di ruangan dokter, Pak Dikta terlihat tengah menanggalkan jas dokter putih dan menggantinya dengan mantel panjang berwarna hitam. Karena musimnya, udara di kota ini terasa begitu dingin. Jadi, untuk menghindari flu akan lebih baik menggunakan pakaian yang hangat.


Disaat Pak Dikta akan keluar dari ruangannya, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Pak Dikta merasa bingung dengan siapa yang mengunjunginya sekarang. Padahal tadi, ia sudah memberitahu perawat kalau akan pulang cepat.


"Masuk." Suruh Pak Dikta.


Tak lama, seorang wanita yang sangat dikenalnya dengan baik muncul dengan sebuah senyuman hangat. Iya, itu adalah dokter Tasia yang datang berkunjung.


"Tasia." Ucap Pak Dikta tampak kaget dengan kedatangan sang mantan kekasih.


"Hai, Dikta..." Sapa nya hangat.


Jika harus mengobrol soal urusan pribadi, Pak Dikta tak memiliki waktu karena ia harus cepat menjemput Aurora.


"Ada apa ? Kenapa kamu kemari ?" Tanya Pak Dikta terdengar tak ingin berbasa-basi.


"Apa kamu mau pergi ?" Tanya dokter Tasia sebelum menyampaikan maksud kedatangannya.


Pak Dikta mengangguk. "Aku mau menjemput Aurora."


"Ah, istrimu." Katanya.


"Memangnya ada apa ?" Tanya Pak Dikta mulai penasaran.


"Aku hanya ingin menyampaikan soal hasil tes." Balas dokter Tasia memberitahu maksud tujuannya.


"Sudah keluar ?"


"Ini." Dokter Tasia menunjukan amplop coklat yang berisi hasil tes kesehatan. Entah punya siapa.


"Bisakah kamu menunggu setelah aku menjemput Aurora ?" Tanya Pak Dikta yang benar-benar tak punya waktu untuk melakukan pembahasan.


"Tentu saja. Tapi, aku juga tak bisa terlalu lama," ujar dokter Tasia.


"Mungkin..." Dia memberi jeda sejenak karena harus memeriksa waktu.


"...aku hanya bisa menunggu sampai jam tujuh. Daniel mau datang." Sambungnya.


"Daniel ?"


"Iya, dia datang karena mengkhawatirkan aku." Jawab dokter Tasia sambil tersenyum malu-malu.


"Oke. Aku akan segera kembali dan menemui mu." Tukas Pak Dikta lalu melangkah keluar ruangan meninggalkan dokter Tasia.


Sebenarnya kalau Pak Dikta mau, dirinya bisa saja tetap disini dan mengobrol dengan dokter Tasia. Tapi, ia tak mau membuat seorang Aurora kecewa dengan menunggu terlalu lama.


Lebih baik membuat dokter Tasia menunggu daripada Aurora. Itu menurut Pak Dikta.


...---ooOoo---...


Di halte depan kampus, sudah terlihat Aurora yang tengah duduk menunggu kedatangan Pak Dikta — sang suami, yang katanya mau menjemput.


Tapi, entah mengapa sudah tiga puluh menit berlalu dari pukul empat sore, Pak Dikta tak kunjung datang.


Aurora mulai merasa bosan karena dibuat menunggu. Apalagi sekarang dia seorang diri berada disini. Tak ada teman yang bisa diajak mengobrol.


"Pak Dikta kenapa lama banget..." Ucap Aurora sambil menengok ke kanan kiri berharap melihat mobil milik Pak Dikta.


Waktu terus berlalu dan langit yang tadi berwarna biru kini telah menjadi kelabu diikuti dengan beberapa kali suara guntur. Aurora yakin kalau sebentar lagi hujan akan turun mengguyur.

__ADS_1


Seharusnya, Aurora bisa menghubungi Pak Dikta untuk bertanya mengenai lokasi keberadaannya sekarang namun, ponsel milik Aurora mati karena kehabisan daya.


Beberapa kali gadis itu terdengar menghela napas. Sudah sangat lama, Pak Dikta belum ada tanda-tanda tiba.


"Ini Pak Dikta kemana ? Apa gak jadi menjemput ?" Tanya Aurora dalam rasa lelah karena menunggu.


Beberapa saat kemudian, ketika Aurora sudah terus mengeluh tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan halte itu. Motor yang kelihatan tak asing.


Untuk sekarang bukan Gilang yang diharapkan oleh Aurora untuk datang.


"Ra ?" Tanya Gilang langsung setelah berhenti dan membuka kaca helm nya.


"Ternyata lo..." Kata Aurora terdengar kecewa.


"Katanya tadi mau pulang, kenapa masih ada disini ? Nungguin siapa ?" Tanya Gilang.


"Jemputan." Jawab Aurora singkat.


"Pak Dikta ?"


Aurora mengangguk keras.


"Tapi dari tadi gue tunggu belum dateng-dateng. Padahal udah gue kasih tahu buat jemput jam empat." Protes Aurora.


"Udah lo telepon ?" Tanya Gilang yang langsung mendapat gelengan dari Aurora.


"Kenapa ?"


"Ponsel gue mati. Gak bawa charger juga jadi, gak bisa telepon." Katanya.


Belum berkata lagi, Gilang pun memarkirkan motornya untuk sejenak lalu bergegas menghampiri temannya itu.


Gilang juga tanpa ragu mengambil tempat duduk persis di samping Aurora.


Aurora menatapnya dan merasa ragu untuk mengambil ponsel itu.


"Ada sambungan internet nya gak ?" Sungguh Aurora hanya bercanda.


"Masih ada 100 mb. Kalau buat telepon sih bisa." Kata Gilang membalas candaan itu.


Aurora mengambil ponsel itu lalu tak ragu untuk langsung menekan nomer telepon Pak Dikta yang disimpan oleh Gilang. Tentu saja, Gilang punya nomer Pak Dikta karena ia juga termasuk salah satu mahasiswanya.


Panggilan Aurora ini tersambung tapi, entah mengapa tak ada balasan apapun. Pantang menyerah, Aurora terus mencoba menghubungi suaminya itu.


Sampai pada panggilan ketujuh, Aurora menyerah. Ia memutuskan untuk tak melanjutkan panggilan itu.


"Makasih ya, Lang." Kata Aurora sembari memberikan ponsel milik Gilang.


"Udah, Ra ?" Tanya Gilang singkat.


"Gak dijawab. Mungkin masih sibuk." Kata Aurora dengan senyum terpaksa.


Gilang sebenarnya mau menawarkan hal ini sejak tadi namun, baru bisa ditawarkan sekarang. Alasannya, siapa tahu Pak Dikta memang datang menjemput Aurora.


"Mau gue antar pulang ? Mumpung belum hujan." Ucap Gilang.


"Kalau Pak Dikta dateng gimana ?" Tanya Aurora yang rupanya masih berharap kalau suaminya itu datang menjemput.


"Lo mau nunggu ?" Tanya Gilang.


"Sebentar lagi ya, Lang..." Pinta Aurora.

__ADS_1


"Oke. Gue bakal temenin lo disini." Ucap Gilang.


Bersama dengan Gilang, Aurora menunggu penuh harap kalau suaminya itu akan datang menjemput namun, sampai hujan turun dengan deras Pak Dikta masih belum kunjung datang.


"Masih mau nunggu ?" Tanya Gilang yang hanya mendapat sebuah tatapan dari Aurora.


Walaupun hanya sebuah tatapan, Gilang sangat paham betul kalau temannya itu masih ingin menunggu.


"Oke, kita tunggu sebentar lagi. Tapi, kalau sampai jam tujuh Pak Dikta belum dateng... Lo harus balik sama gue !" Paksa Gilang.


Karena hujan yang saat ini mengguyur kota dengan begitu lebat, Gilang dengan berani melepaskan jaketnya dan memakaikan itu pada Aurora.


Jaket tambahan untuk membuat badan Aurora terasa hangat. Karena jujur, hujan membuat udaranya begitu dingin.


"Lang, gak perlu ! Gue masih pakai jaket." Tolak Aurora yang tak ingin mengambil jaket milik temannya itu.


"Daripada nanti lo masuk angin." Ucap Gilang yang tak peduli akan penolakan itu.


"Kalau lo yang masuk angin gimana ?" Tanya Aurora.


"Udaranya dingin, Lang ! Lo harus pakai jaket." Pinta Aurora tapi tak dihiraukan oleh Gilang.


"Angin gak bakal bisa masuk. Kan udah gue kasih tulisan larangan." Kata Gilang sedikit bercanda.


Aurora yang sejak tadi memasang wajah lesu dan senyuman terpaksa akhirnya bisa tertawa berkat candaan garing yang dibuat oleh Gilang.


"Jangan minta tanggung jawab, kalau lo masuk angin !" Aurora memperingati.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Sebenarnya Pak Dikta kemana ? Kenapa tidak datang menjemput Aurora ? Kenapa membuat Aurora kecewa dengan menunggu terlalu lama ?


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2