
...Bagaimana Aurora tidak dibuat jatuh cinta ? Hampir setiap hari selalu ditatap dan mendapatkan senyuman seperti ini....
.......
.......
.......
Aurora sudah dipenuhi oleh kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia ? Ternyata perasaannya yang kemarin sempat ia utarakan tidak harus bertepuk sebelah tangan karena memang Pak Dikta juga menaruh rasa untuknya.
Kalau seperti ini, Aurora tak akan takut dengan dokter Tasia ā mantan Pak Dikta yang sejak kemarin selalu mengganggunya.
Pak Dikta kini telah sepenuhnya menjadi milik Aurora dan tanpa izin darinya tak ada yang bisa mengambil sosoknya. Siapapun yang berani mendekati Pak Dikta akan langsung berhadapan dengan Aurora !
Bahkan sekarang, Aurora sangat merasa ingin memamerkan ke semua orang tentang pernikahan yang terjadi antar dirinya dan Pak Dikta.
Di kelas pagi yang kebetulan jadwalnya memang diajar oleh Pak Dikta, Aurora terus saja tak bisa fokus pada semua penjelasan yang keluar dari mulut Pak Dikta.
Iya, karena sejak tadi dirinya hanya bisa terus berfokus pada si dosen sambil terus saja tersenyum. Seakan ia tak mau menanggalkan senyuman ini.
"Ra, fokus !" Pinta Keysha yang menyadari soal hal ini.
Aurora terkekeh pelan lalu mulai berbisik kepada Keysha yang memang duduk persis di sampingnya.
"Pak Dikta ternyata ganteng ya, Key..." Ucap Aurora mendadak yang membuat Keysha terkejut. Tak biasanya Aurora memuji seperti ini.
"Ganteng ?"
Aurora mengangguk. "Lihat aja. Waktu dia ngajar, damage nya gak ngotak."
"Ra ?"
"Iya ?"
Dengan berani Keysha menyentuh kening Aurora hanya karena ingin memastikan keadaan temannya itu baik-baik saja.
"Lo sehat kan ?"
"Ya, gue sehat. Kenapa emangnya, Key ?" Tanya Aurora dengan senyuman yang masih terlukis jelas di wajah cantiknya.
"Gak biasanya lo kasih pujian buat Pak Dikta." Keysha masih merasa aneh.
"Harus dibiasakan. Iya, keknya gue bakal tiap hari kasih pujian buat Pak Dikta." Tutur Aurora tanpa ragu.
"Temen gue, emang kalau udah bucin sampai ke tulang." Sindir Keysha yang menyadari kalau temannya itu memang telah menaruh hati pada Pak Dikta.
"Bucin sama suami sendiri kan gak salah." Ujar Aurora yang kemudian kembali fokus untuk memandangi Pak Dikta.
Ya, beginilah kalau orang lagi di mabuk asmara. Berasa di dunia ini hanya ada mereka berdua dan yang lain cuma mengontrak.
...---ooOoo---...
Pelajaran yang disampaikan oleh Pak Dikta hari ini sama sekali tak masuk dengan sempurna diingatan Aurora. Jelas, bagaimana bisa masuk toh, sejak kelas dimulai gadis itu terus berfokus pada dosennya.
Kelas masih berlangsung dan mungkin dalam waktu kurang lebih satu jam akan usai. Aurora terus saja enggan untuk mengalihkan pandangannya. Terus menatap sambil senyum-senyum sendiri.
Pak Dikta yang saat ini ada di depan kelas dan tengah mencoba menyampaikan materi pembelajarannya dengan baik pun menyadari akan hal ini. Iya, dosen itu tahu kalau sedang dipandangi oleh Aurora.
Maka dari itu, Pak Dikta secara mendadak memanggil nama Aurora bukan untuk memperingati tapi, memberikan sebuah soal yang harus dijawab.
"Aurora ?" Panggil Pak Dikta yang langsung membuat semua mata tertuju pada Aurora yang duduk di bangku tengah.
"Iya ?" Balas Aurora semangat. Sepertinya ia merasa senang jika dipanggil oleh Pak Dikta.
"Sedang apa ?" Tanyanya.
"Mendengarkan penjelasan Pak Dikta." Aurora menjawabnya tanpa ragu dan penuh percaya diri.
"Kalau begitu bisakah kamu jelaskan tentang sel darah merah ?" Tanya Pak Dikta yang butuh jawaban.
Misalkan Aurora mendengarkan penjelasan dari Pak Dikta pasti ia akan bisa menjawab dengan mudah pertanyaan itu.
"Harus dijawab ?" Tanya Aurora balik.
"Iya..."
"Kalau saya berhasil menjawab bakal dikasih apa sama bapak ?"
__ADS_1
Pembicaraan mereka berdua terdengar seperti antar seorang suami ke istri bukan dosen ke mahasiswi.
"Tambahan untuk nilai sikap ?"
"Setuju."
Aurora bersiap-siap untuk menjawab. Mungkin tidak sama persis dengan apa yang disampaikan oleh Pak Dikta. Dia hanya akan mengatakan seusai yang diketahuinya.
"Sel darah merah atau eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak yang berfungsi untuk mengikat oksigen." Aurora mulai menjelaskan.
"Lalu ?" Tanya Pak Dikta yang meminta penjelasan lebih detail.
"Hanya itu yang saya tahu. Kalau mau penjelasan lebih tentang sel darah merah bisa buka buku. Di sana pasti menjelaskan semuanya." Balas Aurora dengan santai.
Pak Dikta tersenyum lalu tanpa terduga justru menyuruh Aurora untuk meninggalkan kelasnya. Kenapa bisa setega ini ?
"Kamu bisa meninggalkan kelas saya dan pergi ke perpustakaan untuk mencari materi tentang sel darah merah !" Perintah Pak Dikta.
"Okay." Aurora menyetujui tanpa ada penolakan sedikitpun.
"Saya harap kamu bisa lebih fokus supaya bisa mengikuti kelas saya sampai akhir." Kata Pak Dikta.
Tanpa berucap lebih banyak, Aurora mengambil tasnya lalu beranjak keluar dari kelas ini. Entah mengapa, untuk pertama kali Aurora tetap merasa senang dan tak mempermasalahkan walau harus dikeluarkan dari kelas seperti sekarang ini.
...š„š„š„...
| Mode Chat |
...----------------------...
...Si Resek ā£ļø...
...----------------------...
^^^Aurora :^^^
^^^Saya sudah ada di perpustakaan.^^^
^^^Iya, dikeluarkan oleh suami sendiri karena ketahuan tidak fokus pada pelajarannya.^^^
^^^Ya, maaf...^^^
^^^Kan saya lebih fokus menatap dosennya daripada pelajarannya š^^^
Pak Dikta :
Jangan lupa untuk mencari materi tentang sel darah merah ! Seperti apa yang saya minta.
^^^Aurora :^^^
^^^Pak Dikta mau berbaik hati sama istri sendiri tidak ?^^^
^^^Kalau iya, bisakah mentolerir kesalahan saya ? Cukup hukuman keluar kelas. Jangan ada mencari materi !^^^
Pak Dikta :
Kalau di kampus kamu itu mahasiswi saya bukan istri.
Harus bersikap profesional.
^^^Aurora :^^^
^^^Nyebelin ! Tapi, untung sayang...^^^
Pak Dikta :
Kamu cari dulu materinya.
Nanti, kalau sudah selesai mengajar... Saya pasti akan menemui kamu di perpustakaan.
^^^Aurora :^^^
^^^Mau bantuin ?^^^
Pak Dikta :
Cuma mau nemenin.
...---ooOoo---...
__ADS_1
Pesan singkat itu berakhir dengan Aurora yang hanya memilih untuk membaca saja tanpa memberikan sebuah balasan.Ā
Sebenarnya Aurora masih ingin membalas pesan itu dan lebih lama lagi berbincang lewat pesan dengan suaminya tapi, kalau melakukan itu Aurora tak akan bisa menyelesaikan tugas hukuman dari sang suami.
Maka dari itu, untuk sejenak Aurora meletakan ponselnya dalam tas dan mulai mencari buku yang berisi materi tentang sel darah merah.
Jika sebelumnya, Aurora selalu menggerutu dan memprotes keras saat mendapatkan tugas hukuman maka berbeda dengan sekarang. Iya, Aurora merasa lebih semangat untuk mencari materi itu dan menyelesaikan tugas hukuman.
Tidak memerlukan waktu lama untuk mencari buku, Aurora sudah kembali ke tempat duduknya yang berada pada bagian paling belakang dan sudut dari ruang perpustakaan ini ā tempat favoritnya, dengan membawa kurang lebih tiga buku. Semua buku itu membahas soal sel darah yang ada pada manusia.
Aurora membuka satu buku, lalu dengan seksama dan tentunya fokus membaca buku itu. Meskipun tidak membacanya cepat, Aurora berusaha sebisa mungkin untuk mengerti isinya supaya nanti bisa ia ketik dan menjadi sebuah makalah.
Beberapa menit berlalu, kedua mata Aurora sudah terasa lelah karena membaca buku yang memang isinya terlalu banyak akan tulisan. Aurora sangat ingin istirahat sejenak namun, harus tertunda karena Pak Dikta. Iya, suaminya itu sudah datang menghampiri.
"Akhirnya datang juga..." Ucap Aurora sembari tersenyum bahagia.
"Nunggu lama ?" Tanya Pak Dikta sambil menarik salah satu kursi yang persis berada di samping sang istri.
"Menurut Pak Dikta ? Satu jam itu lama atau cepat ?"
Pak Dikta hanya menanggapinya dengan sebuah tawa kecil lalu mulai bertanya tentang progres tugas hukuman yang tengah dikerjakan oleh istrinya itu.
"Sudah sampai mana ?"
"Tinggal baca satu buku lagi terus baru ketik." Jawab Aurora memberitahu.
"Bagus." Pak Dikta merasa puas dengan apa yang sedang dikerjakan oleh istrinya itu.
"Cuma sel darah merah aja kan, Pak ?" Tanya Aurora hanya untuk memastikan.
"Iya. Tapi, kalau kamu mau saya bisa tambah." Ucap Pak Dikta hanya bercanda.
"Gak mau tugas, maunya uang saku yang ditambah." Kata Aurora tidak serius.
"Mau minta tambah banyak atau dikit ?"
"Banyak."
"Okay."
Tanpa banyak berpikir, Pak Dikta mengambil ponselnya lalu tak lama Aurora mendapatkan sebuah notifikasi dari dompet digitalnya. Iya, gadis itu mendapat transferan masuk dengan nominal cukup banyak dari siapa lagi kalau bukan Pak Dikta.
"Pak, saya cuma bercanda." Ucap Aurora terkejut.
"Tugasnya cuma sel darah merah aja... yang dikasih tambahan cuma uang saku. Nanti, itu bisa buat beli coklat atau apapun yang kamu mau." Kata Pak Dikta.
Tidak bahagia apa hidup Aurora sekarang. Perasaannya dibalas oleh Pak Dikta ditambah dengan mendapatkan saldo uang digital. Padahal, Aurora juga masih memegang kartu kredit milik Pak Dikta. Kurang apalagi coba ? Udah terasa sempurna sekali...
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Hidup sempurna dan bahagia... Mungkin sekarang Aurora sudah merasakannya. Tapi, apakah ini bisa selamanya atau sementara ?
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
__ADS_1
.
^^^Bersambung...^^^