
Aurora tak tahu bagaimana dan kapan tepatnya harus memberitahu suaminya ā Pak Dikta, mengenai kabar membahagiakan ini.
Kabar bahagia mengenai kehamilannya ini sudah benar-benar dipastikan. Karena setelah mendapat sedikit pemeriksaan dari dokter di klinik, Aurora langsung membeli beberapa testpack dan hasilnya selalu mendapatkan dua garis.
Ibunya dan ketiga temannya sudah mengetahui akan kabar ini dari awal terkecuali dengan Pak Dikta. Iya, suaminya itu sama sekali belum tahu soal kabar membahagiakan ini.
Aurora tak ada maksud sedikitpun untuk menyembunyikan kabar bahagia dari sang suami tapi, memang sejak kepergian Pak Dikta ke Australia entah mengapa, pesan singkat yang dikirimkan oleh Aurora belum mendapatkan jawaban apapun.
Bahkan sampai hari ini ā seminggu setelah kepergian sang suami ke Australia, pesan yang dikirimkan Aurora masih belum dibaca. Hanya ada tanda centang dua bukan centang dua berwarna biru.
Maka dari itu, saat ini Aurora tengah dibuat bingung. Banyak sekali pesan yang sudah dikirimnya ditambah beberapa panggilan masuk tapi, sama sekali tak mendapatkan jawaban apapun.
Pak Dikta memang bilang, sebelum keberangkatannya ke Australia, kalau ia akan meluangkan waktu untuk menghubungi Aurora tapi, kenyataannya tak sesuai dengan apa yang diucapkan.
"Bagaimana, Rara ? Apa sudah bisa menghubungi Nak Dikta ?" Tanya sang ibunda yang ingin mengetahui tentang perkembangannya.
Aurora menggeleng sambil memasang raut wajah ditekuk. Sepertinya gadis itu sudah merasa lelah. Lelah karena Pak Dikta belum juga ada kabarnya.
"Apa Nak Dikta memang sesibuk itu ?" Tanya sang ibunda juga mulai merasa lelah.
"Rara juga tidak tahu. Kemungkinan sih, iya." Ujar Aurora dengan tidak percaya diri.
"Sesibuk apapun pekerjaan yang dilakukan seharusnya bisa meluangkan sedikit waktunya untuk menghubungi istrinya." Kata sang ibunda.
Aurora melirik sekilas ke arah sang ibunda. Tidak tahu benar atau salah, sepertinya ibunya juga tampak sedikit kesal dengan Pak Dikta.
"Kalau begitu, Rara bakal coba buat menghubungi Pak Dikta lagi." Pamit Aurora sembari tangannya mulai menekan nomor sang suami.
Masih sama seperti kemarin, mau ditelepon atau mengirim pesan, Pak Dikta tidak memberikan respon apapun.
Aurora ingin marah tapi, dirinya juga harus bisa sabar. Marah adalah salah satu perilaku yang tidak baik untuk kondisi bayinya. Apalagi usianya baru sangat muda. Aurora kan sangat ingin menjaga bayi ini dengan baik sampai nanti waktunya melahirkan.
Di saat Aurora sedang terus berusaha untuk menghubungi sang suami tanpa sengaja ia melihat salah satu postingan milik dokter Tasia. Postingan yang dikirim sekitar tiga jam lalu.
Sebuah foto yang memperlihatkan dua tangan berbeda dan saling bergandengan. Satu tangan lainnya, memiliki sebuah cincin pada jari manis.
Dokter Tasia juga menambahkan caption dengan kata 'yes', memang singkat tapi itu, memiliki banyak sekali arti dan makna.
Setelah melihat postingan itu, Aurora merasa sangat familiar akan tangan yang sedang di genggam erat oleh dokter Tasia. Aurora memang tak mau berpikir yang tidak-tidak yang bisa menimbulkan salah paham namun, tangan yang ada dalam foto itu sedikit mirip dengan tangan Pak Dikta.
Ternyata, Aurora memang terlambat dalam mencari update akan sesuatu. Karena foto yang dikirim oleh dokter Tasia dalam akun media sosial pribadi, berhasil membuat banyak akun gosip menyebarkan berita yang bukan-bukan.
Banyak yang berasumsi kalau dokter Tasia dengan Pak Dikta tunangan dan soal tangan, mereka bilang kalau itu adalah tangan Pak Dikta.
Paling menganggu dari komentar netizen yang tanpa sengaja dibaca Aurora adalah ketika mereka bilang kalau Pak Dikta telah bercerai dengan istrinya dan memilih menikahi dokter Tasia. Membanding-bandingkan antara dirinya dan dokter Tasia yang memang nyatanya sangat berbeda jauh.
Aurora tak tahu dengan pasti bagaimana cara menyikapi persoalan ini. Apa dirinya harus bersikap bodoh amat dan memilih untuk percaya pada suaminya ?
...š„š„š„...
| Mode Chat |
...-----------------------...
...Gilang...
...-----------------------...
^^^Aurora :^^^
^^^Gilang ?^^^
Gilang :
Iya, Rara ?
Ada apa ?
Ada yang bisa Gilang bantu ?
^^^Aurora :^^^
^^^Lo lagi ngapain ?^^^
^^^Sibuk gak ?^^^
Gilang :
Gue habis main basket.
Jadi, gak terlalu sibuk.
__ADS_1
Memangnya kenapa, Ra ?
^^^Aurora :^^^
^^^Main ke Timezone yuk ?!^^^
Gilang :
Kapan ? Sekarang ?
^^^Aurora :^^^
^^^Ya sekarang, masa tahun depan.^^^
Gilang :
š š š
Ya udah, gue siap-siap dulu.
Terus langsung on the way ke rumah lo.
^^^Aurora :^^^
^^^Gue tunggu ya, Lang ^^^
^^^Jangan lama-lama mandinya !^^^
Gilang :
By the way, tumbenan lo ajak gue jalan keluar.
Ada apa gerangan ?
^^^Aurora :^^^
^^^Gue cuma pengen nyari hiburan biar gak stress aja.^^^
^^^Kalau gue stress kasihan sama bayinya.^^^
Gilang :
Lo beneran mau main disaat keadaan hamil ?
Gak membahayakan ?
^^^Aurora :^^^
...Kalau gue happy, semua bakal baik-baik aja....
Gilang :
Kita cari aman aja ya...
Daripada nanti ada apa-apa.
Lo mau gak kalau nonton aja ?
Terserah deh mau nonton film apa, gue yang bakal traktir.
^^^Aurora :^^^
^^^Nonton horor mau ?^^^
Gilang :
Ok.
...---ooOoo---...
Ini adalah cara Aurora untuk membuat dirinya kembali baik-baik saja. Daripada terus di rumah dan memikirkan tentang pesan yang belum dibalas ditambah dengan berita soal hubungan suaminya dan dokter Tasia, akan lebih baik kalau Aurora main keluar, mencari kesenangan bersama dengan Gilang.
Kenapa Gilang ? Karena satu-satunya teman yang paling mudah diajak hanya Gilang. Lagipula, jalan keluar bersama Gilang rasanya tidak seburuk dengan apa yang dibayangkan.
Sambil menunggu Gilang datang untuk menjemputnya, Aurora pun melangkah dengan hati-hati menuju ke arah lemari pakaiannya. Ia akan memilih baju yang tampak cocok digunakan untuk hangout kali ini.
Aurora sangat menyukai warna kuning apalagi kuning pastel. Aurora sangat dibuat jatuh cinta oleh warna itu. Oleh karenanya, Aurora memilih kaos polos oversize berwarna kuning pastel.
Supaya mendapatkan penampilan santai tapi terlihat trendi, Aurora juga mengambil ripped jeans berwarna biru dongker. Aurora merasa kalau ini adalah perpaduan yang sempurna.
Puas dengan pilihannya, Aurora pun bergegas untuk mengganti pakaian rumahnya dengan pakaian yang telah dipilihnya ini.
Tak butuh waktu lama, sekarang Aurora telah terlihat bagus dengan pakaiannya. Kelihatan seperti seseorang yang belum menikah dan hamil.
__ADS_1
.
.
.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya setelah menunggu cukup lama Aurora bisa mendengar dengan jelas suara deru mesin sepeda motor milik Gilang.
Tahu kalau temannya telah datang untuk menjemput, Aurora dengan cepat-cepat keluar dari dalam kamar lalu menuruni anak tangga. Seperti seorang anak kecil yang mau diajak pergi oleh kedua orang tuanya, Aurora memang nampak seperti itu.
"Eh Rara... Hati-hati sayang ! Perhatikan langkahmu. Kalau jatuh bagaimana ?" Tegur sang ibunda.
"Maaf. Rara hanya terlalu bersemangat." Ucap Aurora mengakui kesalahannya.
"Kamu mau kemana ? Kok terlihat rapi begitu ?" Tanya sang ibunda penasaran.
"Rara mau jalan-jalan. Cari hiburan biar gak penat." Jawab jujur Aurora.
"Sama siapa ? Enggak sendirian kan ?"
"Rara pergi sama Gilang."
"Gilang nya mana ?" Ibunya bertanya karena memang belum melihat sosok Gilang.
Aurora hanya tersenyum, sengaja tidak menjawab. Kenapa ? Ya, karena dia tahu kalau sebentar lagi akan ada seseorang yang menekan bel rumahnya.
"Itu Gilang." Ucap Aurora setelah mendengar suara bel yang begitu jelas memasuki telinga.
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati. Jangan pulang terlalu larut ! Ingat ya Aurora, dalam tubuh kamu itu ada bayi yang harus dijaga. Jangan teledor maupun sembrono !" Tutur sang ibunda memperingati.
"Siap ibu bos." Katanya sambil mencium punggung tangan sang ibunda.
Aurora sudah berpamitan dengan benar dan juga mendapatkan izin untuk pergi.
"Sudah siap ?" Tanya Gilang langsung setelah pintu rumah dibukakan oleh Aurora.
"Siap dong..." Jawabnya dengan senyum sumringah.
"Sudah izin bunda ?" Tanya Gilang lagi ingin memastikan.
"Sudah. Itu hal pertama yang gue lakukan."
"Izin suami ?"
"Suami gak bisa dihubungi jadi, percuma buat izin."
"Kalau gitu lo tunggu di motor dulu, pakai helmnya dengan benar. Gue mau izin ke bunda dulu." Perintah Gilang yang kemudian melangkah memasuki rumah ini.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Pak Dikta, kamu dimana ? Kenapa gak memberi kabar apapun ke Aurora ? Apa kamu tidak mau tahu tentang kabar baik ini ?
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1