
..."Cintai dan sakiti hatiku kalau itu dapat membawamu kembali ke pelukan ku lagi, aku rela memberi segalanya..."...
...- Rossa, Cintai Aku....
.......
.......
.......
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Aurora tiba juga. Hari Minggu, dimana biasanya satu keluarga selalu kumpul bersama, berbincang dan menghabiskan waktu. Dulu saat masih ada ayahnya, Aurora sering melakukan itu.
Hari Minggu sangat tepat digunakan untuk istirahat sepuasnya serta bersantai sesuka hati. Segala urusan aktivitas yang selalu dilakukan akan diliburkan pada hari ini.
Aurora sangat ingin dan berharap kalau dihari libur ini sang suami ā Pak Dikta, mengajaknya pergi untuk refreshing. Kemanapun asal sama Pak Dikta, Aurora sama sekali tidak masalah.
"Pak Dikta ?" Panggil Aurora kepada sang suami yang saat ini sedang sibuk dengan layar laptopnya.
Aurora juga merasa heran, kenapa dihari libur seperti sekarang sang suami masih saja sibuk akan pekerjaannya ? Tidak bisakah ia beristirahat sejenak ?
"Iya ?" Jawabnya singkat.
"Sibuk ?" Tanya Aurora yang sebenarnya juga takut menganggu.
"Tidak terlalu. Memangnya ada apa Rara ?" Tanya balik Pak Dikta sembari meletakkan laptopnya lalu menatap sang istri.
"Pergi jalan-jalan yuk !" Ajak Aurora yang memang sejak kemarin ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang suami.
"Mau jalan-jalan kemana ?" Tanya Pak Dikta.
"Kemana aja, asalkan sama Pak Dikta." Balas Aurora dan ini bukan sebuah gombalan.
Untuk sekilas, Pak Dikta melihat ke arah luar jendela. Langit luar pada pagi menjelang siang ini terlihat begitu cerah. Haruskah Pak Dikta mengajak istrinya itu untuk pergi jalan-jalan ke taman ?
"Ke taman mau ?" Tanya Pak Dikta memberikan sebuah penawaran.
"Taman ? Di jam seperti ini ?"
Pak Dikta mengangguk. "Apa kamu tidak mau ?"
Aurora tersenyum dengan semangat. Ternyata gadis itu menerima ajakan dari Pak Dikta. Jalan-jalan di taman, bukankah terdengar menyenangkan. Apalagi kalau Aurora diizinkan untuk membeli jajanan kaki lima yang selalu menjadi favoritnya.
"Siap-siap dulu ya..." Ucapnya meminta waktu.
Dengan cepat, Aurora langsung membuka lemari pakaiannya lalu memilih style yang cocok untuk dikenakan ke taman.
Sebuah t-shirt polos berwarna coklat dipadukan dengan celana pendek berwarna putih dan tak lupa juga topi bucket yang senada, menjadi pilihan Aurora. Pakaian yang terlihat santai tapi tetap modis.
Tak memakan waktu lama, akhirnya Aurora siap juga. Style pakaian yang dipilihnya sekarang sudah melekat pada tubuhnya. Aurora sudah sangat siap tapi, Pak Dikta masih saja sibuk dengan layar laptopnya.
"Pak Dikta..." Panggil Aurora lagi sambil memasang sebuah senyuman lebar.
"Ayo !" Tambahnya dengan sebuah ajakan. Jujur saja, meskipun hanya pergi ke taman Aurora merasa sangat tidak sabar.
"Sudah siap ?"
"Sudah."
Pak Dikta pun kembali meletakan laptopnya dengan kondisi mati lalu beranjak dari tempatnya untuk bersiap. Tenang saja, Pak Dikta tak akan lama.
Sangat cepat, tak ada sampai lima belas menit Pak Dikta kembali pada Aurora dengan pakaian yang sudah berganti.
Untuk jalan-jalan ke taman, Pak Dikta hanya mengenakan celana panjang hitam ditambah dengan jaket Hoodie hitam yang memiliki aksen putih.
Meskipun mengenakan pakaian yang serba hitam, Pak Dikta tetap terlihat begitu tampan. Bukankah seorang laki-laki akan terlihat sangat tampan dan gagah ketika mengenakan pakaian bernuansa hitam ? Apalagi kalau yang dikenakan itu kaos polos berwarna hitam.
"Kita berangkat sekarang." Ajak Pak Dikta sembari mengandeng tangan Aurora keluar dari kamar ini.
Dikarenakan di rumah ini yang tinggal bukan hanya ada mereka berdua, Pak Dikta dan Aurora harus meminta izin terlebih dahulu kepada sang ibunda.
"Bunda..." Panggil Aurora dengan penuh semangat dan berhasil membuat sang ibunda yang tengah sibuk membuat kue menoleh.
__ADS_1
"Ada apa sayang ?" Tanya sang ibunda yang rupanya tak ingin berbasa-basi.
"Mau izin keluar dulu. Diajak jalan-jalan ke taman sama Mas Dikta." Ujar Aurora meminta izin.
Sang ibunda tersenyum. Entah mengapa mendengar sang putri meminta izin seperti itu, sungguh menggemaskan.
"Kenapa meminta izin kepada bunda?" Tanya sang ibunda.
"Ya, biar Bunda gak nyariin." Balas Aurora dengan mudahnya.
"Pergi sama suami sendiri, bunda mana bisa melarang. Kalau begitu hati-hati. Nak Dikta, kalau mengemudi jangan terlalu mengebut." Ujar sang ibunda memperingati.
"Tentu saja. Bunda tak perlu khawatir soal itu."
"Titip Rara ya, Nak Dikta. Tolong jaga dia baik-baik."
"Selalu Bunda..."
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan sang ibunda, seperti biasanya setelah mendapatkan izin maka Aurora akan berpamitan dengan benar.
"Rara berangkat dulu ya, Bunda..." Pamitnya yang tak lupa juga untuk mengecup singkat punggung tangan sang ibunda.
"Iya... Hati-hati ya, sayang."
Bersama Pak Dikta, Aurora melangkah menuju ke arah pintu keluar akan tetapi...
Baru mau keluar dari rumah ini, sebuah panggilan mendadak di dapatkan oleh Pak Dikta. Tidak tahu siapa yang menghubungi tapi, firasat Aurora sudah kurang enak.
"Sebentar." Izin Pak Dikta untuk menjawab panggilan itu terlebih dahulu.
Sepertinya, Pak Dikta sedang mendapatkan sebuah panggilan yang begitu penting dan berhasil membuat rasa ingin tahu yang ada dalam diri Aurora bergejolak.
Tak meninggalkan Aurora terlalu lama, Pak Dikta pun kembali setelah selesai berbincang dengan seseorang dari panggilan itu. Apa ini saat yang tepat bagi Aurora untuk bertanya ?
"Siapa ?" Tanya Aurora tanpa ragu.
"Tasia." Jawab jujur Pak Dikta.
"Kenapa dokter Tasia menghubungi ?"
"Di hari Minggu seperti ini ?"
"Iya."
"Apa ada pasien darurat atau hal lainnya ?"
"Hal lain tapi, ini soal pekerjaan." Katanya yang entah mengapa terdengar mencurigakan.
"Jadi ? Kita gak jadi jalan-jalan ?" Tanya Aurora tentang hal yang lebih penting.
"Maaf... Tapi, sepertinya harus kita tunda. Tidak apa-apa kan, kalau batal ?" Pak Dikta merasa tidak enak hati juga saat harus membatalkan ini.
"It's okay." Ucap Aurora yang sama sekali tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Lain kali aku janji akan membawamu pergi jalan-jalan. Kejadian seperti ini takkan terulang lagi." Tutur Pak Dikta terdengar meyakinkan.
Aurora memaksakan senyumannya lalu menjawab dengan suara lesu. "Iya..."
"Aku pergi sekarang." Pamit Pak Dikta yang tak lupa juga untuk mengecup kening sang istri.
Mau bagaimana lagi ? Aurora sangat ingin melarang tapi, kalau memang urusannya penting dan mendesak juga tak mungkin dilakukan.
Setelah mobil yang dikendarai oleh suaminya melaju pergi meninggalkan rumah ini, Aurora pun kembali melangkah masuk dengan sebuah kekecewaan yang terlukis jelas diwajahnya.
"Bunda..."
Karena tidak jadi jalan-jalan, Aurora pun memutuskan untuk membantu sang ibunda membuat kue di dapur. Sekali-kali dirinya belajar memasak.
"Tidak jadi pergi ?" Tanya sang ibunda yang cukup terkejut melihat putrinya masih ada disini.
"Mas Dikta ada urusan."
"Tiba-tiba ?"
__ADS_1
"Urusan mendadak." Kata Aurora memberitahu.
Aurora melepaskan bucket hat yang dikenakannya lalu meletakkan ke sembarang tempat.
"Apa ada yang bisa Rara bantu ?" Tanya Aurora sembari mengikat rambutnya.
"Kamu mau bantu bunda buat kue ?"
Aurora mengangguk. "Daripada Rara gak ada kerjaan."
"Bantu memisahkan putih dan kuning telur." Pinta sang ibunda sembari tersenyum.
Karena memang niatnya untuk membantu, Aurora langsung mengambil enam butir telur yang sudah disiapkan.
Hanya memisahkan putih dan kuning itu bukan hal yang sulit untuk dikerjakan. Aurora bisa melakukannya dengan baik dan benar.
"Bunda mau buat kue apa ?" Tanya Aurora.
"Red Velvet cake... Kesukaan kamu." Jawabnya.
Aurora benar-benar menghabiskan waktunya untuk membantu sang ibunda membuat kue. Dari awal sampai adonan kue itu masuk ke dalam oven, Aurora masih tetap berada di dapur bersama ibunya.
"Setelah masuk loyang baru dipanggang." Kata Aurora yang sebenarnya sudah sangat tahu soal hal dasar seperti ini.
"Apa kamu sudah memanaskan suhu oven nya ?" Tanya sang ibunda yang ingin memastikan.
"Sudah." Balas Aurora sembari mengambil loyang yang berisi adonan kue itu kemudian memasukkannya ke dalam oven dengan hati-hati.
Karena kue itu tak akan matang dengan cepat, Aurora memutuskan untuk ke kamar terlebih dahulu. Iya, Aurora ingin melihat ponselnya siapa tahu ada pesan atau pemberitahuan yang penting.
"Rara ke kamar dulu ya, bunda..." Pamit Aurora sebelum meninggalkan dapur.
"Iya... untuk sisanya bunda bisa urus sendiri. Terima kasih sudah mau membantu." Pungkas sang ibunda.
Setelah diizinkan, Aurora pun melangkahkan kakinya menjauh dari dapur lalu menaiki anak tangga dengan hati-hati.
Sesampainya dikamar, ia langsung menuju ke arah ponselnya yang memang sengaja ditinggalkan karena masih mengisi daya.
Aurora mengambil ponselnya tapi, tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu seperti kertas dari atas meja. Aurora yang menyadari telah melakukan kesalahan itu pun segera untuk membereskan kertas-kertas yang mungkin adalah milik Pak Dikta.
Di saat tengah membereskan itu semua, tanpa sengaja dan terduga Aurora menemukan sesuatu diantara kertas-kertas itu. Dua tiket perjalanan ke Australia untuk hari esok dan yang membuat Aurora kaget tak menyangka, kedua tiket itu atas nama suaminya dan dokter Tasia.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Pak Dikta sedikit berubah gak sih ? Sekarang bukan seperti Pak Dikta yang dulu. Bukannya malah mendekat tapi Aurora merasa kalau suaminya itu semakin jauh.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
__ADS_1
.
^^^Bersambung...^^^